
Sudah hampir 10 menit mereka saling diam tak bergeming, Andry mulai melirik gadis yang ada disebelahnya. Tampak Fani sedang mengelupaskan lumpur yang sudah mengering ditangannya. Wajahnya ditekuk kesal, mulutnya maju beberapa centi. Seolah mulutnya sedang menggerutu dan mencaci kesal. Andry yang awalnya kesal malah jadi tersenyum saat melihat wajah menggemaskan kekasihnya itu. Tak bisa menahan diri karena gemas, Andry langsung mendekati gadis itu dan mencubit bibirnya. Tangannya merangkul pundak wanita yang menggemaskan itu. Seketika kesal dalam diri mereka berubah jadi rasa bahagia.
“ Udah jangan gemesin terus. Nanti aku jadi gak mau balik kekota lagi deh.” Andry mencubit pipi Fani dan merangkulnya lebih kuat.
“ Kamu sampai kapan disini?.” Sahut gadis yang sudah ada dalam pelukan Andry itu.
“ Aku pulang nanti malam.” Andry menjawab santai.
“ Kok buru-buru sih.” Protesnya sambil memasang wajah cemberut lagi.
“ Hehehehe enggak kok aku pulangnya besok.” Mencubit mulut yang maju beberapa centi itu.
“ Aaaaa asyikkk.” Fani melonjak-lonjak senang. Dengan cepat dia beranjak dan menarik tangan Andry. Melangkah dengan cepat menuju tempat dia bermain lumpur tadi.
“ Eh, eh mau kemana sih?.” Andry mencoba mempercepat langkahnya mengikuti langkah Fani.
“ Udah ayok ikut. Kamu harus senang-senang disini. Puas-puasin main disawah.” Mempercepat langkahnya dengan tangan terus menarik tangan Andry.
“ Aaa aku gak mau. Kan kotor itu banyak lumpurnya.” Mencoba menolak namun Andry tak dapat menolak. Tangannya ditarik kencang dan memaksanya untuk melompat kedalam lumpur.
“ Aaa kan kaki aku jadi kotor.” Protesnya lagi. Bergidik jijik saat melihat kakinya sudah tenggelam dalam lumpur.
“ Apa kaki kamu kotor?.” Tanya Fani seolah memastikan ucapan Andry. Menggenggam lumpur ditangannya dan melemparkannya kepada Andry. Tak dapat mengelak, seluruh baju Andry kotor karena lumpur yang dilempar Fani. Lagi-lagi Andry protes dengan yang dilakukan Fani, terlebih merasa jijik karena belum pernah menyentuh lumpur seperti ini.
__ADS_1
“ Kamu apa-apaan sih.” Gerutunya kesal. Tangannya mencoba membuang lumpur yang menempel dibaju dan celananya. Mengangkat sendalnya yang sudah tenggelam hingga kedasar lumpur.
“ lihat nih sandal aku jadi kotor.” Mengangkat sandal yang tertutup oleh lumpur itu.
Fani hanya tertawa melihat Andry yang berulang kali melayangkan protes padanya. Fani kembali menjahili Andry dengan mengambil segenggam lumpur dan berlari mendekati Andry. Melumuri seluruh wajah Andry dengan lumpur hingga tak dapat dikenali lagi. Gelak tawanya sudah tak dapat ditahan lagi, Fani tertawa keras hingga terduduk dilumpur. Dari kejauhan paman hanya ikut menertawai wajah Andry yang dipenuhi lumpur itu. Diikuti oleh tawa Joo dan Rafi.
“ Kamu kok usil banget sih.” Gerutunya kesal, mencoba membuang lumpur yang menutupi wajah tampannya. Kesal melihat Fani yang sejak tadi tertawa tak henti, Andry berbalik menjahili. Diambilnya lumpur dikedua tangannya dan kemudian berlari mengejar Fani. Melemparkan lumpur itu ketubuh Fani yang kecil. Lumpur dibaju Fani yang semula kering kembali basah karena dilempari lagi.
“ Wek gak kena.” Ejek Fani sambil berlari. Padahal bajunya sudah dipenuhi lumpur dari Andry.
“ Wah kamu nantangin aku ya.” Ucapnya sambil menggeram melihat tingkah Fani. Andry berlari mengejar Fani ditengah-tengah sawah. Mencoba menangkap gadis itu kedalam pelukannya. Lumpur yang cukup lengket menyebabkan keterbatasan gerak Andry. Apalagi ini pertama kalinya dia bermain dilumpur seperti ini.
“ Ayo kejar aku.” Ejek Fani semakin menantang sosok lelaki yang susah melangkah didalam lumpur itu.
“ Awas ya, aku tangkap kamu.” Sahutnya tak mau kalah.
“ Akhirnya kena juga.” Menangkap dan menarik Fani dalam pelukannya. Nafas mereka terdengar saling memburu. Keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Sejenak mereka berhenti dan menikmati hangatnya pelukan.
“ Kangen.” Ucap Fani singkat dan membalas pelukan Andry.
Andry yang merasa mangsanya sudah jatuh kedalam perangkap yang dibuatnya. Dengan cepat dia menunduk hingga pelukannya terlepas. Menggenggam lumpur dan langsung melumuri wajah Fani dengan lumpur yang ada ditangannya. Wajah Fani sudah tak dapat dikenali lagi, hanya mata dan giginya yang terlihat putih. Selebihnya berwarna abu tua kehitam-hitaman. Andry tertawa puas melihat wajah jelek Fani. Merasa puas ketika sudah berhasil membalas dendam. Fani hanya bergumam kesal dan mengutuki perlakuan Andry.
“ Awas ya, berani-beraninya bikin rusak mukaku. Nanti aku jadi jelek gimana?.” Protesnya tak terima dengan yang dilakukan Andry. Padahal dia yang duluan menjahili dan melumuri wajah Andry dengan lumpur.
__ADS_1
“ Terus kalau muka aku jelek gimana?.” Andry berlari menjauh
dan berbalik mengejek Fani.
Merasa tidak terima dengan pembalasan dendam Andry, Fani berbalik mengejar dan menghujani Andry dengan lemparan-lemparan lumpur. Beberapa kali Andry bisa mengelak, sisanya lumpur bermukim disekujur tubuhnya. Namun Andry masih bisa tertawa melihat singa yang mengejarnya. Padahal dia akan segera dimakan ketika singa itu menerkamnya.
“ Ayo kejar lagi.” Pintanya sambil mengejek saat melihat Fani berhenti dan menghela nafasnya yang tersengal-sengal.
“ Aaa aku capek.” Fani menunduk dan mengehala nafasnya yang tersengal-sengal. Wajahnya tampak kelelahan dan dipenuhi buliran keringat.
Karena sudah cukup sore, paman bergegas naik dan berkemas untuk pulang. Diikuti Joo dan Rafi dibelakang. Meninggalkan dua orang yang masih enggan pulang.
“ Fan, kita pulang dulu ya.” Sahut Joo dari kejauhan.
“ Puas-puaslah bermain lumpur disawah. Kasihan orang kota gak pernah turun kesawah.” Sambungnya sambil melirik Kearah Andry yang asyik bermain lumpur.
“ Kita balik dulu ya An.” Sahut Rafi dan melambaikan tangan. Mereka berjalan pelan meninggalkan persawahan dan sepasang manusia yang kekanak-kanakan.
“ Iya bang, bye.” Fani membalas lambaian tangan Joo dan Rafi yang melangkah menjauh.
Fani dan Andry tampak berdiri saling menghela nafas masing-masing. Sekujur tubuh mereka dipenuhi lumpur, wajah pun tertutup lumpur. Fani kembali mengejar Andry yang tampak kelelahan, berharap bisa langsung
menerkam. Benar saja, Fani berhasil menangkap Andry yang sedang berdiri diam. Andry tak dapat menopang tubuhnya ketika Fani menghambur padanya. Keseimbangan nya kacau dan akhirnya mereka berdua ambruk kedalam lumpur. Seluruh tubuh mereka diselimuti lumpur yang kotor. Andry mencoba berdiri dan membantu menarik Fani. Gelak tawa pun pecah, mereka saling tertawa ditengah sawah.
__ADS_1
“ Udah ah capek nih.” Ucap Andry menyerah dan duduk dipinggiran sawah. Fani berjalan mendekat dan duduk disebelah Andry. Saling menatap dan tersenyum, sambil menghela nafas. Mereka menatap langit yang mulai gelap, saling berpegangan tangan dan tersenyum bahagia.
Andry dan Fani berjalan menyusuri jalanan yang sunyi. Langit yang mulai gelap menemani langkah mereka kembali kerumah. Sesekali tawa mereka melenyapkan kesunyiaan jalanan. Kebahagiaan terpancar dari dua insan yang tengah berkasih sayang, meski sekujur tubuh dipenuhi lumpur yang kotor. Enggan pulang, enggan melupakan.