Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Berangkat Menemui Fani


__ADS_3

Andry bergegas menuju garasi, sebelah tangannya membawa kotak berwarna pink yang diberikan Fani beberapa waktu lalu. Sebelah lagi membawa koper berisi pakaian dan barang-barang keperluannya yang lain. Melangkah dengan penuh semangat dan harapan. Sama sekali tidak membawa rasa ragu dalam dirinya, hanya ada kepercayaan diri yang berlebihan.


 “ Bun, yah. Aku berangkat dulu ya. Aku akan kembali seminggu lagi.” Ucapnya sembari mendorong koper menuju luar rumah.


Setelah berpamitan dan meminta sejumlah uang, Andry bergegas melajukan mobilnya menuju bandara. Mobil akan dia tinggalkan diparkiran bandara saja. Masih sangat pagi sekali, jalanan pun masih tampak sunyi. Andry sengaja mengambil penerbangan pagi agar dia segera sampai dan bisa langsung mengeksekusi misi. Bergegas mendorong koper memasuki bandara. Setelah menyelesaikan semuanya Andry duduk menunggu ditempat yang sudah ditentukan.


“ Ah aku sungguh tak sabar, menyapa kota dan mencari salah satu penghuninya.” Ucapnya tersenyum cengengesan. Tangannya mengibas-ngibaskan boarding pass. Lagi-lagi pikirannya sudah terjebak dalam imajinasi dan halusinasi. Membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti setelah berhasil menemukan Fani. Berlari mengejar dan memeluk Fani erat-erat. Menumpahkan semua rasa rindu yang sudah dia tahan selama ratusan hari dan ribuan jam.


 “ Hei jangan melamun, malah senyum-senyum sendiri pula.” Ucap lelaki yang ada disebelahnya. Membuat Andry tersentak kaget dan langsung ling-lung menatap sekelilingnya. Ingin marah karena lelaki itu mengganggu dirinya yang tengah berkhayal yang indah-indah, namun juga ingin berterima kasih karena kalau tidak dikagetkan bisa saja lamunan ini berkelanjutan dan kemungkinan terburuknya adalah ketinggalan penerbangan.


“ Eh iya bang.” Sahutnya sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Terlebih lagi merasa malu dengan orang-orang yang ada disekitar, setidaknya ada beberapa pasang mata yang sedari tadi  memperhatikan dirinya yang senyum-senyum bak orang gila.


 Andry meraih ponselnya, kemudian mulai memotret tiketnya. Mengunggah disosial media. Ternyata dibalik sosoknya yang cuek dan gengsian, Andry juga bisa alay seperti manusia pada umumnya. Andry mengunggah disosial medianya dengan disertai tulisan yang benar-benar membuat orang-orang yang melihatnya jadi menggeleng-gelengkan kepala.


 Sampai bertemu kekasihku. Meski kau memaksaku untuk melakukan petualangan, aku tetap akan lakukan. Bersembunyilah sepuasnya, karena nanti setelah aku menemukanm kau tidak akan bisa kemana-mana. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas saja kau harus meminta izin.


 Ha? Apa? Selama ini Andry adalah orang yang sangat jarang mengunggah apapun kesosial media. Hanya sesekali, itupun momen yang penting saja. Namun kali ini sisi lain Andry lagi-lagi terungkap, sosok yang dikenal cuek dan mementingkan gengsi ini tiba-tiba menjadi pujangga yang pandai merangkai kata dan lihai merayu wanita. Ini akan menjadi bom kaget bagi orang-orang yang melihat unggahannya, atau mereka tidak akan percaya jika sosok yang mengunggah itu adalah Andry. Mungkin akan tercengang dan terbelalak kaget, apalagi jika yang melihat adalah wanita yang tau jelas seperti apa dirinya.


 “ Ha itu nomor penerbanganku.” Ucapnya tiba-tiba setelah mendengar nomor penerbangannya. Andry bergegas menuju pesawat yang akan ditumpanginya. Senyum seolah tak hentinya terpancar dari wajahnya yang tampan. Tak sedikit wanita yang dilewatinya terbelalak kagum melihat ketampannya.


 Andry duduk dikursi yang telah ditentukan, duduk sembari menunggu pesawat lepas landas. Menatap orang-orang yang berdatangan dan memenuhi kursi-kursi penumpang. Namun pandangan Andry enggan lepas dari jendela sebelah kanannya, menatap lapangan luas dan langit biru muda. Awan yang memutih dilengkapi dengan sinar matahari yang cerah, sejuk dan indah dimata. Untaian do’a dan harapan pun dia haturkan bersamaan dengan hembusan nafas, semoga selamat sampai tujuan.


 **


 “ Ha? Mau kemana kak Andry?.” Sophia membelalakkan matanya. Telunjuk dan jempol tangannya bersamaan menjauh dan mendekat. Melihat dengan teliti kemana Andry akan pergi.


“ Ujian baru saja selesai, hari ini dia sudah berangkat pergi.” Lanjutnya sambil terus melihat tulisan kecil dan buram dari foto yang diunggah Andry.


 “ Hei ini kan kota tempat tinggal Fani yang baru. Jangan-jangan dia memang ingin menemui Fani. Cihh cinta sekali sampai-sampai langsung terbang untuk menemui.” Sophia menekuk wajahnya. Bibirnya menggerutu tidak jelas. Cemburu dan kesal bercampur aduk menjadi satu kesatuan. Terlebih melihat Andry yang rela terbang hanya untuk


sang pacar.

__ADS_1


 “ Kenapa mereka masih baik-baik aja sih? Kan aku udah berkali-kali menyulut emosi. Apa Fani tidak peduli, atau dia sudah tau jika selama ini hanya rencanaku, hanya misi balas dendamku. Ah menyebalkan.” Sophia menghentakkan kakinya kelantai, melempar ponsel yang ada ditangannya keatas ranjang coklat yang tampak berantakan.


 Sophia mengambil foto-fotonya bersama Andry yang telah dicetaknya dan diletak menjadi pajangan.  Meskipun sudah berbulan-bulan berlalu, Sophia tetap saja menyimpan dendam. Bagaimanapun caranya Andry dan Fani harus hancur bersamaan dengan pembalasan dendamnya.


 “ Huh lihat saja, kau belum sampai tapi kekasihmu sudah menolak bertemu denganmu.” Sophia menghambur keatas ranjang bersamaan dengan foto-foto yang ada ditangannya. Meraih ponsel yang tadinya dia lemparkan. Wajah yang semula ditekuk seketika berubah cerah dihiasi senyum yang mekar.


 Sophia memotret foto-foto yang telah dia cetak. Senyuman seolah tak redup diwajahnya, terus ceria dan sesekali diiringi tawa. Sophia kembali memanfaatkan akun atas nama sang ibu, menyamar menjadi ibunya. Sudah tidak sesuai dengan tujuan awal akun tersebut dibuat, bukan hanya untuk mencari informasi saja namun saat ini juga akan digunakan sebagai akun provokator.


 “ Hehehehe kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tau ah.” Sophia terkekeh geli.


 Kali ini Sophia menggunakan akun keduanya untuk menyulut kembali emosi Fani. Bagaimanapun caranya Fani harus termakan isu hoax. Inginnya Fani marah dan tidak akan menemui Andry. Namun belum sempat melancarkan aksinya, Sophia tiba-tiba teringat dengan Andry yang beberapa waktu sebelumnya sempat menanyakan alamat Fani padanya.


 “ Apa kak Andry udah tau alamat Fani disana ya? Padahal baru kemarin rasanya dia meminta bahkan sampai menyuruhku mencari tahu dimana alamat kekasihnya.” Sophia berbalik dalam posisi tengkurap. Mulai menerka-nerka seperti apa keadaan hubungan dua manusia yang menjadi sasaran misinya. Wajahnya tampak serius, ponsel yang sebelumnya menggenggam ponsel sudah beralih menjentik-jentik dahinya pelan. Niat provokasinya sudah diurungkan dan memilih untuk memikirkan seperti apa hubungan Fani dan Andry sekarang. Apakah waktu itu mereka pernah bertengkar karena postingannya atau tidak sama sekali. Tapi kenapa Fani mendadak mengganti nomor hingga mengganti baru semua akun sosial media nya.


 “ Eh tunggu. Apa sebelumnya rencanaku sudah berhasil? Apa sebenarnya kak Andry dan Fani sudah pernah terjebak dalam hubungan yang rumit. Aku baru ngeuh kalau kak Andry pernah meminta alamat baru Fani. Dia kan pacarnya, kenapa tidak tanya langsung. Malah tanya sama aku.” Batinnya terus mengingat-ingat kejadian yang sudah lewat.


 “ Ih Sophia kenapa baru sadar sekarang sih. Atau jangan-jangan waktu itu mereka sudah sempat putus?.” Lanjutnya sembari mengerutkan kening. Menyesal karena baru menyadarinya sekarang, padahal jika waktu itu dia tau hubungan Andry dan Fani dalam masalah, pasti dia akan semakin memprovokasi hingga benar-benar berpisah.


 Sophia mengurungkan niat awalnya, sekarang bergegas mengetik beberapa pesan dan dikirimkan kepada Andry. Bermula dari membalas story Andry hingga menimpuk beberapa pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya. Sebenarnya Sophia agak ragu, kali ini pertanyaannya cukup lancang. Namun Sophia mencoba memberanikan diri demi rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya.


 “ Apa ini lancang sekali? Ah tidak terlalu, aku kan hanya bertanya apakah dia sempat putus dengan Fani kemarin, apakah dia sudah mengetahui alamat Fani saat ini. Itu kan bukan pertanyaan yang menyinggung.” Gumamnya sembari menatap ponsel menunggu jawaban dari Andry. Hampir 10 pesan yang dia kirimkan, semuanya memiliki jawaban yang sangat dia ingin tahu dari Andry.


 “ Hei kenapa dia hanya membaca pesanku? Kenapa kau tidak membalas pesanku Andry sayang.” Ketusnya ketika melihat pesannya sudah centang biru dan berarti sudah dibaca oleh Andry.


 “ Oh tidak. Apa dia sengaja mengabaikan pesanku karena saat ini tengah bersama Fani? Aaa tidak tidak tidak. Aku tidak ingin membayangkan apa yang terjadi dengan mereka.” Sophia berteriak frustasi. Kedua tangannya menutup daun telinga, matanya terpejam seolah ketakutan. Didalam fikirannya tampak jelas jika Andry memeluk Fani dengan sangat erat, mereka menumpahkan kerinduan yang sudah lama mendesak. Senyum dan tawa berulang kali terpancar dari wajah Andry dan Fani, membuat Sophia merasa kesal walau hanya sekedar membayangkan saja.


 “ Ini tidak bisa aku biarkan. Aku harus berusaha lebih keras agar mereka berpisah, bahkan kalau bisa mereka saling membenci.” Gumamnya menggeram. Otaknya dipaksa berfikir keras untuk menemukan ide brilian yang ampuh untuk memisahkan kedua targetnya.


 Sophia mengambil ponselnya, menatap foto-foto yang diambilnya tadi. Percuma otaknya diputar keras, nyatanya ide awal lah yang dipakainya. Memanfaatkan akun atas nama sang mama, mencoba menyamar dan membuat Fani semakin tersulut emosi. Bener-bener anak yang gak ada ahlaq ni si Sophia. Geram dan kesal, seketika ingin dengan cepat melancarkan aksinya, Kalau bisa saking marahnya hingga Fani enggan menemui Andry. Biarlah Andry datang sia-sia kekota tempat tinggalnya. Hahaha itulah yang ada didalam bayangan Sophia hingga membuatnya senyum terkulum. Selalu optimis jika rencananya akan berhasil.


 “ Eh nak Fani, tante mau tanya sesuatu sama kamu boleh gak?.” Sophia menekan tombol panah, sebuah pesan terkirim kepada  Fani melalui instagram sang ibu yang telah dia buat khusus untuk meraup informasi-informasi tentang Fani.

__ADS_1


Sophia menghempaskan tubuhnya dengan kedua tangan yang merentang. Senyuman bahagia terpancar dari wajah chubbynya. Membayangkan betapa panasnya Fani ketika mendapati pesan dari akun atas nama mama Sophia. Ya, tentu saja wajah Fani merah padam dan menggeram kesal. Mimic wajah yang mungkin menjadi favorit Sophia saat ini. Dendam yang tak berkesudahan membuatnya menjadi orang yang kejam dan tidak pandai lagi menghargai perasaa. Kalau kata Sophia sih, semua ini memang wajar dilakukan terhadap Fani. Sebab dialah yang pertama kali tidak pandai menghargai persahabatan dan menghargai perasaan sahabat.


 


**


Andry sudah keluar dari bandara X, bersama dengan taxi yang dia tumpangi. Melaju kesebuah hotel yang akan dia tinggali untuk beberapa hari kedepan hingga proses pencariannya ini selesai. Pencarian cinta yang tidak jelas arah dan letaknya. Mengambang dan hanya membayang. Andry mencoba melihat suasana sepanjang perjalanan sembari sesekali membaca pesan-pesan yang masuk. Namun hanya beberapa pesan yang sangat penting saja yang dia balas, sisanya hanya diabaikan.


 “ Pak, seberapa besar kota ini?.” Andry mencoba membuka suara, khawatir jika dia akan gagal menemui Fani dikota ini. Mendadak rasa percaya diri yang membuatnya tergesa-gesa terbang kekota ini hilang melebur bersama deru angin. Yang ada hanya rasa gelisah dan takut akan gagal dalam misi pencarian ini.


“ Saya gak tau berapa luasnya secara detail, yang jelas kota ini cukup besar. Memangnya mas mau kemana?.” Sahut bapak-bapak paruh baya yang duduk dibelakang setir kemudi itu, sesekali matanya melirik kearah Andry yang duduk termenung sambil menggigit jari telunjuk.


 “ Saya datang kesini mau cari seseorang pak. Tapi sayangnya saya gak tau dimana alamatnya.” Lanjut Andry benar-benar tampak bingung. Keberaniannya menciut bersama pandangannya yang menyapu jalanan kota, ramai dan cukup padat.


“ Loh mau mau cari seseorang tapi gak tau alamatnya. Ndak salah itu mas? Coba hubungi dulu, biar ndak susah muter-muter dikota ini.” Jawab supir itu. Kali ini berbicara dengan logat khas kota tersebut.


“ Masalah yang lebih buruknya lagi pak, saya udah gak bisa lagi menghubungi kontak orang yang saya cari. Karena itu makanya saya sampai kesini pak. Saya gak punya saudara atau kenalan disini, jadi saya harus meraba-raba seluruh bagian kota ini pak.” Andry menjelaskan dengan nada lirih. Tatapannya tampak kosong menatap jalanan, hanya mulutnya yang berkomat kamit menjelaskan, bersama telinga yang fokus mendengarkan ucapan sang lawan bicara.


 “ Waduh jadi mas datang kesini Cuma bermodalkan uang dan keberanian. Susah juga sih mas, apalagi mas gak tau dimana alamat jelasnya. Dikota ini ada kabupaten, ada kecamatan, ada desanya juga, ada rt/rw pula lagi. Kalau meraba-raba seluruh isi kota mungkin butuh waktu berbulan-bulan mas.” Sambungnya.


 “ Iya gitulah kira-kira pak. Kemarin saya punya modal keberanian, tapi gak tau kenapa saya mendadak jadi ciut dan takut begini.” Andry menghela nafas panjang, ternyata apa yang dia pikirkan salah. Tidak semua yang mudah dalam bayangan juga mudah dalam kenyataan. Ingin menyesal tapi percuma, ingin kembali tapi masih tersisa sedikit kepercayaan diri.


 “ Terkadang mencari alamat yang sudah jelas saja masih ada kesalahannya, apalagi seperti mas yang mencari alamat tidak jelas. Sebaiknya pikirkan baik-baik mas, jangan buang-buang waktu.”


 Hei kekasihku, aku kehilangan lebih dari setengah kepercayaan diriku. Tolong buat aku sangat-sangat percaya diri untuk menemukanmu. Jangan biarkan waktu dan mimpiku terbuang sia-sia bersama sulitnya menapaki arah. Aku harap kita bertemu, bertatap muka dan berbicara secara terbuka. 


 


**


Hallo pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan. Udah lama banget aku gak up ya, hehehehe maaf ya semua pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan. Semoga bulan ini aku rajin up ya hehehehe. Semoga tetap setia membaca dan mendukung karyaku yang tidak seberapa. Jangan lupa like, coment dan vote ya. Semoga kalian semua suka ya.

__ADS_1


Loveyou guys, sending love and flying kiss :*


__ADS_2