
Hari ini adalah jum’at, itu artinya besok Andry akan berangkat menemui sang kekasih. Hari ini dia bangun pagi-pagi sekali, dengan semangat yang membara Andry berangkat kesekolah. Wajahnya tersenyum sepanjang jalan, sesekali pandangannya dialihkan kepada layar ponsel yang terpampang mesra fotonya dengan sang kekasih hati. Andry mengemudi pelan, menghirup udara disepanjang jalan, masih sangat sunyi, udara bahkan belum terkena polusi. Jari-jemarinya sudah tidak sabar ingin menghubungi Fani, mengatakan jika dirinya sudah sampai dikota dimana kekasihnya tinggal. Dia akan berangkat dengan penerbangan pagi-pagi sekali. Rasa rindunya memaksanya untuk mengambil penerbangan paling pagi.
“ Hufhh gak sabar banget sih nunggu besok pagi.” Gumamnya menatap layar ponselnya.
“ Aaaa kalau ketemu nanti habislah kau kucubit-cubiti.” Sambungnya menggemas. Tangannya membuat gerakan seolah ingin mencubit Fani yang ada dilayar ponselnya.
Andry tersenyum sepanjang jalan, sebelumnya tidak pernah sebahagia dan penuh semangat seperti ini semenjak ditinggal Fani pindah keluar kota. Dalam pikirannya bergelayut beberapa benda yang harus dia bawa saat menemui kekasih hatinya. Dia akan membeli semua barang-barang yang akan dibawa nanti setelah jam sekolah selesai. Karena terlalu asyik membayangkan pertemuan dramatisnya esok, Andry sampai tidak sadar kalau sebentar lagi dia akan sampai dipagar sekolah. Mobilnya dibawa masuk kedalam pekarangan dan terparkir rapi pada tempatnya.
“ Hei kak Andry, tumben sekarang pagi-pagi udah disekolah.” Ucap Sophia yang entah datang darimana, mengagetkan Andry yang baru akan keluar dari mobil.
“ Eh iya Sophia, udah jarang begadang makanya bangunnya udah agak pagi sekarang.” Ucapnya menoleh kepada sosok yang mengagetkannya.
Suasana sekolah terbilang masih sepi, hanya tampak beberapa siswa yang berkeliaran. Bahkan hanya ada satu orang satpam yang berjaga dipagar depan. Andry menatap jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, masih pukul setengah tujuh pagi. Sejarah baru dalam hidup Andry, sudah berada dilingkungan sekolah satu jam sebelum proses belajar mengajar dimulai.
“ Waw ternyata masih pukul setengah tujuh pagi.” Gumamnya tertawa tidak percaya dengan sejarah baru dalam hidupnya ini.
“ Biasanya paling cepat aku datang 20 menit sebelum proses belajar mengajar dimulai.” Sambungnya terus tertawa. Sementara Sophia yang sudah berada disebelahnya hanya bisa menggaruk-garuk kepala keheranan dengan sosok lelaki yang ada disebelahnya. Baru kali ini dia melihat Andry tertawa lepas hingga memegang-megang perutnya. Selama ini yang dia tau Andry adalah sosok lelaki dingin yang cuek dan sombong, jarang menyapa apalagi tertawa.
__ADS_1
“ Kak Andry baik-baik saja kan?.” Ucapnya menyunggingkan bibir heran. Andry masih saja belum berhenti tertawa, padahal hanya perkara terlalu cepat kesekolah tapi tawanya seperti ada yang sangat menggelitik perutnya.
“ Hahaha aku gapapa kok Sophia, hanya kaget aja sama diri sendiri. Belum pernah secepat ini sebelumnya.” Jawabnya menghentikan tawa, namun diujung bibirnya masih tampak garis-garis bekas tawa puasnya.
Apa? Hanya perkara terlalu cepat kesekolah saja dia sampai terkekeh begini. Tolong pak guru, buk guru beri dia penghargaan siswa terajin semester ini.
“ Aku duluan ya Sophia, mendadak aku kebelet ingin ketoilet.” Ucapnya melangkah menjauhi Sophia. tangannya menyandang tas warna hitam berukuran sedang. Sesekali masih tampak jika dia terkekeh pelan menertawai dirinya yang sangat rajin hari ini.
“ Wah ini tanda-tanda orang stress diusia dini gak sih?.” Gumam Sophia masih keheranan melihat tingkah Andry. Hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena tidak mengerti dengan apa yang baru dilihatnya barusan.
“ Ternyata ini sisi lain dirimu ya. Rugilah wanita-wanita yang tidak pernah melihatmu tertawa, apalagi terkekeh seperti tadi. Jadi bolehkan aku nobatkan diriku sebagai wanita yang beruntung?.” Sambungnya tersenyum simpul. Rasa senang menghampiri dirinya, ini adalah pertama kalinya dia melihat Andry tertawa hingga terkekeh begitu. Sebelumnya hanya bisa melihat senyum tipis dan tertahan Andry, itu pun terbilang sangat jarang sekali.
begitu dia tetap enggan mengakui jika selama ini dia bergantung kepada Fani.
“ Huffhhh capek ya lari-lari dari parkiran keruang kelas.” Ucapnya ketika sudah duduk dikursi. Nafasnya tersengal-sengal. Pandanganya menyapu seisi ruang kelas, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
“ Terus aku buru-buru kesini ngapain? Gak ada manusia disini selain aku.” Gerutunya ditengah-tengah nafasnya yang tersengal. “ Kan tujuan aku datang pagi-pagi untuk meminta contekan. Terus mau contek dari siapa? Dari setan?.” Sambungnya menggerutu kesal.
__ADS_1
Sophia meraih ponselnya, bermain ponsel hingga siswa-siswi yang lain datang. Menunggu teman yang biasa dia mintai tugas selama tidak bertegur sapa dengan Fani. Sophia memasang heaset ditelinganya, kemudian
menyalakan musik pelan. Sophia bernafas santai sembari mendengar musik dengan sedikit cahaya matahari yang menembus celah-celah jendela. Tiba-tiba teringat dengan Fani dan status video yang diunggahnya. Sudah hampir 24 jam. Sebelum statusnya hilang dia harus cepat-cepat memastikan apakah targetnya sudah melihat video yang diunggahnya atau belum.
“ Aaaa akhirnya untuk kedua kalinya aku berhasil menjebakmu hei gadis bodoh.” Ucapnya kesenangan. Wajahnya tersenyum bahagia, tangannya menggenggam menahan rasa senang. Seisi ruang kelas dipenuhi suaranya yang sumbang, berkali-kali berteriak senang.
“ Akhirnya, sebentar lagi misiku akan berhasil. Akan kubuat kau menderita hei pengkhianat.” Sambungnya menggeram tapi juga menahan tawa senang.
Senyum masih mekar diwajah Sophia, tangannya gemetar menahan senang. Jari-jemarinya bersemangat mencari foto yang beberapa hari lalu dia ambil. Foto dibangku taman bersama Andry, menjulurkan lidah sembari bersandar
dibahu Andry. Sedangkan Andry tampak tersenyum manis menatap kamera. Seolah mereka benar-benar pasangan yang bahagia. Untuk ketiga kalinya Sophia mengunggah status bersama Andry, status yang sengaja dia posting hanya kepada Fani. Target dan sasaran utamanya dalam misi kali ini, misi balas dendam dan misi pembalasan pengkhianatan.
“ Haa, akan aku beri kau pukulan yang ketiga kalinya. Lihatlah aku hanya membalasmu tanpa menyentuhmu, kutampar kau lewat postinganku. Ahahaha selamat meratapi kemalanganmu hei pengkhianat.” Ujarnya tertawa puas. Air matanya sampai berlinang karena terlalu banyak tertawa. Meskipun begitu Sophia belum merasa puas dengan pembalasannya. Masih ingin melihat Fani menderita lebih dari ini, kalau bisa sampai dia setengah frustasi.
“ Lihatlah betapa tampannya Andry didalam foto ini.” Ucapnya sambil menatap layar ponselnya.
“ Ha selamat menikmati hadiah pra ulang tahun dariku Fani yang malang.” Sambungnya tertawa. Meskipun sedang tidak bertegur sapa namun dia tetap mengingat hari ulang tahun Fani yang hanya tinggal beberapa hari lagi.
__ADS_1
Kurang baik apa aku? Meskipun kau mengkhianatiku tapi aku tetap memberimu hadiah, bahkan sebelum kau ulang tahun. Ah Sophia, kau memang manusia yang baik hatinya.