Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Penghuni Pantai


__ADS_3

Andry melajukan


mobilnya dijalanan, menuju tempat makan favorite gadis yang ada disebelahnya.


Sejak mobil bergerak, mereka tidak terlalu banyak bicara. Hanya sesekali saja itupun


Andry yang memulainya, menanyakan hal yang sederhana. Masing-masing dari mereka


hanya sibuk dengan kecamuk-kecamuk hatinya. Andry sibuk memikirkan bagaimana


caranya agar Fani tidak merasa sedih ketika dia meninggalkannya, sedangkan Fani


sibuk memikirkan siapa yang akan dia pilih antara dua lelaki yang tengah


mengejar cintanya. Ingin memilih salah satu, namun hatinya juga tidak rela


melepas salah satunya. Malah Fani berencana mewujudkan ide gila batinnya tadi,


apalagi kalau bukan memacari Andry dan Endi sekaligus. Sinting!.


“ Habis ini kita


kepantai mau gak?.” Tanya Andry memecah keheningan antara mereka berdua.


“ Hmm.” Fani hanya


menjawab dengan deheman dan anggukan tanda mengiyakan.


“ Kenapa? Kamu gak suka


ya? capek? Atau habis makan kita pulang aja?.” Tanya Andry sedikit khawatir


melihat raut wajah Fani. Terlihat seperti sedang tidak bersemangat, pikir Andry


mungkin sedang lelah dan tidak enak badan. Padahal sebenarnya hanya tidak


konsentrasi saja, sebab pikiran Fani masih berjibaku dengan ide-ide gila yang


ingin dia wujudkan.


“ Gak kok, aku gapapa


kok kak.” Sahut Fani dengan wajah santai. Gak apa-apa tapi wajahnya mengatakan


ada apa-apa.


“ Yakin?.” Andry


menurunkan kecepatan mobil, menatap wajah Fani dan memastikan jika sang kekasih


benar tidak apa-apa.


“ Aku gapapa kok kak,


beneran deh. Jangan lihatin gitu ah, kan jadi malu.” Fani menampar pelan wajah


Andry agar berhenti menatapnya dalam. Kemudian tersipu malu dan memalingkan


wajah.


“ Hih kenapa malu sih,


masa dilihatin pacar sendiri malu.” Andry semakin bersemangat menggoda Fani


yang tampak malu-malu.


“ Ih apa sih, udah ah.


Mending jalan deh, fokus nyetirnya jangan lihat kesini terus nanti bahaya.”


Fani semakin memalingkan wajahnya, sebagian tubuhnya sudah dibawa kearah


samping. Berusaha menyembunyikan wajah malunya.


“ Duh kalau malu-malu


gitu makin lucu ya, jadi pengen gigit heheheh.” Andry terkekeh geli, sebelah


tangannya dipakai untuk menggoda Fani. Tangannya merayap-rayap mengambil jari


jemari Fani, dipegang dan digenggam erat.


“ Kalau dipegang gini


juga malu?.” Tanya Andry terus menggoda sang kekasih yang sudah memerah


wajahnya.


“ Udah ah, nyetir yang


bener biar selamat sampai tujuan.” Fani menepis tangan Andry hingga terlepas,


kemudian miring kearah jendela. Memejamkan mata dan pura-pura tidur adalah cara


paling ampuh agar Andry berhenti menggodanya.


“ Hem, baiklaah.


Sekarang kamu aku lepaskan, tapi nanti aku gak janji deh ya lepasin kamu atau


enggak.” Andry melirik Fani dengan tatapan nakal, kemudian kembali fokus


menatap jalanan.


**


Seperti biasa, Fani


selalu penuh semangat ketika melihat pantai. Sesedih apapun dia, jika sudah


dihadapkan dengan indahnya pantai seketika sedih dan amarahnya langsung memudar


bersama pasir pantai. Belum sempat Andry mematikan mesin mobil, Fani sudah


berlari menghambur keluar dan penuh semangat menyapa indahnya pantai, tanpa


menunggu Andry.


“ Dasar


kekanak-kanakan.” Andry tersenyum melihat tingkah Fani yang masih saja seperti


anak kecil.


“ Hei tunggu aku.”


Teriak Andry agar Fani berhenti berlari-lari.


“ Cepetan kesini,


mumpung sepi.” Fani membalas dengan berteriak dan menjentikkan jari jemarinya


meminta agar Andry segera datang mendekat.


Pantai yang sering


mereka kunjungi ini termasuk pantai yang jarang didatangi orang lain. Meskipun


tampak tidak terurus pantai ini tetap indah tanpa campur tangan manusia


didalamnya.


“ Hei tunggu aku.”


Teriak Andry lagi, namun Fani tidak menyahut. Sibuk dengan diri sendiri.


“ Hufffh seperti tidak


pernah kepantai saja, padahal baru beberapa hari yang lalu aku ajak kesini.”


Gumam Andry, perlahan berjalan mendekati Fani yang sibuk menendang pasir-pasir


pantai.


Selama mereka bersama,


hal lain yang menjadi favorite Andry adalah menatap Fani yang tersenyum riang


bermain dipantai dengan rambut yang berantakan diterpa angin kencang. Fani


tampak cantik, natural, menjadi dirinya sendiri. Ini alasan kenapa Andry suka


mengajak Fani bermain dipantai. Sebab semarah dan sesedih apapun Fani, disini


dia tetap menjadi seorang gadis yang riang.


“ Kak sini,” Fani


berbalik dan menjentikkan jari meminta Andry mendekat.


“ Hmm.” Andry hanya


berdehem, berjalan pelan dengan kedua tangan nangkring disaku celana pendeknya.


Kemeja tipis yang dipakainya diterpa angin hingga membentuk lekuk tubuh


gagahnya. Benar-benar tampan disemua situasi.

__ADS_1


Andry berjalan


mendekati Fani yang berdiri dibibir pantai dengan kakinya yang dibiarkan


menyalam debur ombak. Kedua tangan dilipat didada, pandangannya terpaku pada pantai


yang luas, indah dengan desir-desir ombak manja. Andry mendekat, mendekap Fani


dari belakang, penuh kasih sayang. Berharap sang kekasih merasa nyaman dalam


pelukannya. Andry memeluk erat, menggenggam kedua tangan Fani, dan bersama-sama


menatap indahnya pantai. Tanpa bersuara, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Seolah mereka benar-benar menikmati kebersamaan, menikmati kasih sayang yang


mereka adukan, berpelukan, saling merasakan.


“ Aku mencintaimu.”


Ucap Andry berbisik ditelinga Fani, membuat siempunya bergidik merinding.


Bibirnya menyentuh pelan daun telinga Fani, membuat bulu roma berdiri.


“ Aku juga


mencintaimu,” Balasnya kemudian bergelayut manja didada Andry. Matanya


terpejam, menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak dia rasakan.


“ Jangan pergi lagi,


jangan tiggalkan aku lagi. Cukup kemarin, sekali saja. Aku tidak ingin lagi


menghadapi situasi yang sama kedepannya.” Pinta Andry lirih, terdengar


benar-benar tulus dari hati. Bukan hanya sekedar ucapan saja.


Fani terdiam mendengar


permintaan Andry barusan. Baru saja gundah gulana hatinya hilang, tiba-tiba


Andry mengingatkan. Seolah Andry memberi kode agar Fani segera memberi


kejelasan, menegaskan jika dia benar-benar sudah putus hubungan dengan Endrico.


“ Jangan tinggalin aku


lagi ya, apapun kondisinya. Kalau aku salah kamu harus tegur kesalahan aku,


kalau kamu dengar sesuatu yang buruk tentang aku kamu harus tanya kepastiannya


sama aku. Jangan hanya mengandalkan telinga, kamu juga harus menggunakan mata.


Jangan lagi mengambil keputusan sendiri, tapi yang merasakan sakitnya kita


berdua.” Ucap Andry dengan sangat bijak. Wajahnya sendu, semua ucapan tulus


dari hatinya.


Fani terdiam, masih


berkecamuk dengan pikirannya. Siapa yang harus dia pilih, Andry atau Endi.


Meskipun Endi baru saja menghuni hatinya, tetap saja Fani tidak rela melepaskan


Endi begitu saja. Benar-benar menjadi wanita yang serakah.


“ Sayang? Kamu kenapa


diam? Gapapa kan? Ngelamunin apa sih?.” Andry perlahan memutar tubuh Fani agar


menghadap dirinya. Menatap lekat wajah Fani yang tampak sedang mengkhawatirkan


sesuatu, cemas.


“ Kamu kenapa? Lagi


mikirin apa sih? Apa yang mengganggu pikiranmu?.” Tanya Andry lagi. Tidak sabar


ingin mengetahui apa yang mengganggu pikiran sang kekasih.


“ Gapapa kok kak, aku


Cuma kepikiran salah aku aja. Bisa-bisanya aku memutuskan kak Andry tanpa


penjelasan apapun, pasti sangat menyakitkan bagi kak Andry. Maafkan aku kak,


apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesakitan yang selama ini kak Andry


rasakan.” Fani berdalih, lagi-lagi menumpuk kebohongan demi menutupi kebenaran.


rasakan? Padahal itu tidak sedikitpun melintas dipikirannya.


“ Hem, sudah lah. Yang


lalu biarlah berlalu, dengan bertemu kamu dan kembalinya kamu sudah cukup untuk


membayar penderitaan yang aku rasakan selama ini.” Andry berbicara dengan


lirih, semua dia katakana dengan santai namun tulus dari hati yang paling


dalam.


Fani menggigit bibir


bawahnya, tidak tau lagi apa yang harus dikatakannya. Sejak kemarin sudah


banyak sekali kebohongan-kebohongan yang ditumpuknya. Ini baru sehari,


bagaimana jika seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Bisa-bisa kebohongan yang


ditumpuknya setinggi gunung Himalaya.


Mati


aku, apa lagi yang harus aku katakana. Maafkan aku harus berbohong sayang, tapi


aku benar-benar tidak bisa menentukan pilihan sekarang. Semakin kau berbicara


baik begini semakin aku merasa bersalah. Maafkan aku, maafkan aku.


“ Sudah-sudah, jangan


lagi bahas yang sedih-sedih. Kan kita kesini buat senang-senang, kenapa


tujuannya jadi berubah sih.” Andry menarik Fani kedalam pelukannya, memeluk


dengan erat, mengelus rambut indah Fani yang diterpa angin.


“ Sekarang ayo kita


berfoto bersama, mari kita abadikan moment-moment indah untuk dikenang dimasa


yang akan datang. Bukti yang bisa kita tunjukkan pada anak cucu kita nantinya.”


Lanjut Andry dengan penuh percaya diri. Pikirannya sudah jauh, bahkan sudah


sampai menua bersama.


Andry meraih ponsel


dari saku celananya, merangkul Fani dan mengangkat tinggi ponselnya berselfie.


Senyum merekah dari wajah Andry, tampak sangat senang hari ini. Sudah lama


mereka tidak mengambil foto berdua, sudah lama pula tidak mencetak polaroid


untuk digantungkan dikamarnya. Fani awalnya tampak kaku, bukan kaku sih tapi


seperti banyak pikiran gitu. Namun lama-kelamaan melihat Andry yang riang Fani


juga ikutan riang. Mereka berbahagia, seolah dunia memang milik berdua.


Merangkul, berpelukan, saling pandang, wajah manis hingga dengan bibir monyong


sudah mereka abadikan. Mungkin hampir seratus kali Andry mengambil foto selfie


mereka. Ah senangnya.


“ Sekarang jadi model


dadakan ya sayang, aku jadi photographer dadakannya hehehe. Udah lama enggak


kan.” Andry mendorong Fani pelan, mendekati bibir pantai.


“ Berdiri disini, tatap


kearah sana dan biarkan wajah datar.” Lanjutnya mengatur gaya sang model. Sudah


seperti photographer handal saja.


“ Ternyata beberapa


bulan berpisah kamu makin jago didunia perfotoan ya.” Fani mulai menggoda


Andry, kemudian dia terkekeh geli.

__ADS_1


“ Hem udah jangan


ngomong lagi, sekarang ikuti semua yang aku katakan. Lihat kearah sana, wajah


datar dan sedikit mendongak.” Lanjut Andry kembali mengatur posisi Fani.


“ Baiklah, baiklah.”


Fani pasrah dan menurut saja, namun ketika Andry hendak memotret dia malah


tertawa terbahak-bahak.


“ Hei kenapa ketawa


sih, kan udah bagus tadi. Tinggal cekrek doang padahal.” Andry menggerutu


kesal, padahal pose Fani sudah pas hanya tinggal cekrek saja.


“ Ih kamu apaan sih,


kan udah keren banget loh tadi. Malah ketawa.” Andry terus saja menggerutu,


wajahnya masam dan tidak lagi bersemangat. Sedangkan Fani terus saja tertawa,


menggoda Andry hingga lelaki yang menjadi photographer dadakan itu merajuk bak


anak kecil.


“ Aaaa jangan ngambek


dong anak kecil.” Fani merentangkan kedua tangannya, berjalan mendekat seolah


ingin memeluk Andry yang tengah bermasam muka.


“ Cup, cup, cup. Jangan


marah ya, photographer pintar gaboleh marah hehehehe.” Fani bergelayut manja


didada Andry. Meskipun tengah kesal, Andry tetap tidak bisa menahan diri.


Apalagi Fani membujuk rayu dirinya, bermanja-manja dengannya. Ah sudahlah


marahnya pun tak ada lagi artinya.


“ Hem, serius dong


sayang. Kan aku mau ambil foto kamu, biar keren, bier kek model-model gitu.”


Sudah tidak marah lagi, Andry menyambut pelukan Fani dengan senang hati.


“ Oke, sekarang kita


ulangi lagi ya. Tapi jangan becanda dong, serius ya. Fotonya mau aku cetak


terus dibawa nantinya.” Andry mencubit manja hidung Fani yang tengah bermanja


dengan dirinya itu.


“ Humm, tapi masih


pengen..” Fani masih tertarik untuk menggoda Andry, kebahagiaan tersendiri


baginya jika melihat Andry yang tiba-tiba tersipu malu jika digoda.


“ Pengen apa, pengen


aku peluk terus?.” Belum sempat Fani menyelesaikan ucapannya, Andry sudah


menyela. Tau jika Fani tengah menggoda dirinya.


“ Kalau emang beneran


pengen berdua-duaan, bermanja-manjaan, peluk-pelukan, dengan senang hati aku


akan membawamu ketempatnya.” Andry menatap Fani dengan tatapan nakal, dia malah


berbalik menggoda Fani.


Fani tiba-tiba


melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Andry barusan, seolah Fani paham


maksud dari ucapan Andry itu. Matanya membelalak sempurna, tangannya


disembunyikan dibelakang, tidak lagi ingin menyentuh lelaki genit yang ada


dihadapannya. Awalnya dia yang ingin menggoda Andry, inginnya melihat Andry


tersipu malu. Eh nyatanya malah dia yang digoda oleh mangsanya. Senjata makan


tuan sih ini.


“ Eh enggak, enggak.


Yuk sekarang kita foto aja.” Fani bergegas pergi, menjauh dari Andry adalah


yang paling tepat saat ini. Daripada nanti Andry malah benar-benar khilaf dan


mengiyakan ucapannya.


“ Eh tunggu dulu.”


Andry dengan cepat menarik pergelangan tangan Fani, menghentikan gadis yang


ingin melarikan diri ini.


“ Eh tunggu dulu dong.”


Andry menarik Fani hingga berbalik dan berada tepat dihadapannya, hanya


beberapa centi saja.


Cuppp…


Andry mendaratkan


sebuah kecupan dikening Fani, sudah lama dia tidak memberi kecupan penuh kasih


sayang pada gadis yang dicintainya ini. Fani hanya terdiam tidak bergeming,


tidak ada penolakan darinya sama sekali.


Cupppp..


Sekali lagi Andry


mendaratkan kecupan dikening Fani, kemudian menatap dalam manik mata gadis yang


ada dihadapannya ini. Penuh kasih sayang, penuh cinta. Kemudian tanpa berbicara


sepatah katapun, Andry beralih  mengecup


kedua pipi Fani secara bergantian. Berkali-kali, berulang-ulang, penuh kasih


sayang.


“ Dah, ini kan yang


kamu mau.” Andry mencubit kedua pipi Fani yang masih tampak bengong.


“ Mau lagi?.” Andry


terkekeh geli, sedangkan Fani dengan cepat menggeleng-geleng mengatakan tidak.


“ Enggak.” Jawabnya


ketus, menatap Andry seperti menatap musuh.


“ Hahahahhaha.” Andry


tertawa puas melihat wajah  Fani yang


sok-sok-an, padahal wajahnya merah padam menahan malu karena habis dihujani ciuman.


Fani menatap Andry


sinis, mencoba menghentikan tawa lelaki yang ada dihadapannya ini hanya dengan


menatap tajam. Bukannya takut, Andry malah semakin terkekeh geli melihat


tingkahnya. Tatapan tajam, kedua tangan melipat didada, wajah datar dan bibir


menggeram sama sekali tidak membuat Andry goyah. Padahal Fani sudah tidak tahan


menahan tawanya, ingin ikut tertawa tapi tetap ingin membuat Andry takut pada


dirinya.


Cuupppp..


Giliran Fani yang


mendaratkan sebuah kecupan dipipi kiri Andry. Seketika Andry terdiam dan


terbelalak. Ternyata ini adalah cara paling ampuh untuk membuat Andry diam dari


tawanya. Fani terkekeh, kemudian mencium lagi pipi kanan Andry. Tidak mau

__ADS_1


kalah, Fani juga menghujani Andry dengan ciuman-ciuman penuh cinta.


__ADS_2