
Andry melajukan
mobilnya dijalanan, menuju tempat makan favorite gadis yang ada disebelahnya.
Sejak mobil bergerak, mereka tidak terlalu banyak bicara. Hanya sesekali saja itupun
Andry yang memulainya, menanyakan hal yang sederhana. Masing-masing dari mereka
hanya sibuk dengan kecamuk-kecamuk hatinya. Andry sibuk memikirkan bagaimana
caranya agar Fani tidak merasa sedih ketika dia meninggalkannya, sedangkan Fani
sibuk memikirkan siapa yang akan dia pilih antara dua lelaki yang tengah
mengejar cintanya. Ingin memilih salah satu, namun hatinya juga tidak rela
melepas salah satunya. Malah Fani berencana mewujudkan ide gila batinnya tadi,
apalagi kalau bukan memacari Andry dan Endi sekaligus. Sinting!.
“ Habis ini kita
kepantai mau gak?.” Tanya Andry memecah keheningan antara mereka berdua.
“ Hmm.” Fani hanya
menjawab dengan deheman dan anggukan tanda mengiyakan.
“ Kenapa? Kamu gak suka
ya? capek? Atau habis makan kita pulang aja?.” Tanya Andry sedikit khawatir
melihat raut wajah Fani. Terlihat seperti sedang tidak bersemangat, pikir Andry
mungkin sedang lelah dan tidak enak badan. Padahal sebenarnya hanya tidak
konsentrasi saja, sebab pikiran Fani masih berjibaku dengan ide-ide gila yang
ingin dia wujudkan.
“ Gak kok, aku gapapa
kok kak.” Sahut Fani dengan wajah santai. Gak apa-apa tapi wajahnya mengatakan
ada apa-apa.
“ Yakin?.” Andry
menurunkan kecepatan mobil, menatap wajah Fani dan memastikan jika sang kekasih
benar tidak apa-apa.
“ Aku gapapa kok kak,
beneran deh. Jangan lihatin gitu ah, kan jadi malu.” Fani menampar pelan wajah
Andry agar berhenti menatapnya dalam. Kemudian tersipu malu dan memalingkan
wajah.
“ Hih kenapa malu sih,
masa dilihatin pacar sendiri malu.” Andry semakin bersemangat menggoda Fani
yang tampak malu-malu.
“ Ih apa sih, udah ah.
Mending jalan deh, fokus nyetirnya jangan lihat kesini terus nanti bahaya.”
Fani semakin memalingkan wajahnya, sebagian tubuhnya sudah dibawa kearah
samping. Berusaha menyembunyikan wajah malunya.
“ Duh kalau malu-malu
gitu makin lucu ya, jadi pengen gigit heheheh.” Andry terkekeh geli, sebelah
tangannya dipakai untuk menggoda Fani. Tangannya merayap-rayap mengambil jari
jemari Fani, dipegang dan digenggam erat.
“ Kalau dipegang gini
juga malu?.” Tanya Andry terus menggoda sang kekasih yang sudah memerah
wajahnya.
“ Udah ah, nyetir yang
bener biar selamat sampai tujuan.” Fani menepis tangan Andry hingga terlepas,
kemudian miring kearah jendela. Memejamkan mata dan pura-pura tidur adalah cara
paling ampuh agar Andry berhenti menggodanya.
“ Hem, baiklaah.
Sekarang kamu aku lepaskan, tapi nanti aku gak janji deh ya lepasin kamu atau
enggak.” Andry melirik Fani dengan tatapan nakal, kemudian kembali fokus
menatap jalanan.
**
Seperti biasa, Fani
selalu penuh semangat ketika melihat pantai. Sesedih apapun dia, jika sudah
dihadapkan dengan indahnya pantai seketika sedih dan amarahnya langsung memudar
bersama pasir pantai. Belum sempat Andry mematikan mesin mobil, Fani sudah
berlari menghambur keluar dan penuh semangat menyapa indahnya pantai, tanpa
menunggu Andry.
“ Dasar
kekanak-kanakan.” Andry tersenyum melihat tingkah Fani yang masih saja seperti
anak kecil.
“ Hei tunggu aku.”
Teriak Andry agar Fani berhenti berlari-lari.
“ Cepetan kesini,
mumpung sepi.” Fani membalas dengan berteriak dan menjentikkan jari jemarinya
meminta agar Andry segera datang mendekat.
Pantai yang sering
mereka kunjungi ini termasuk pantai yang jarang didatangi orang lain. Meskipun
tampak tidak terurus pantai ini tetap indah tanpa campur tangan manusia
didalamnya.
“ Hei tunggu aku.”
Teriak Andry lagi, namun Fani tidak menyahut. Sibuk dengan diri sendiri.
“ Hufffh seperti tidak
pernah kepantai saja, padahal baru beberapa hari yang lalu aku ajak kesini.”
Gumam Andry, perlahan berjalan mendekati Fani yang sibuk menendang pasir-pasir
pantai.
Selama mereka bersama,
hal lain yang menjadi favorite Andry adalah menatap Fani yang tersenyum riang
bermain dipantai dengan rambut yang berantakan diterpa angin kencang. Fani
tampak cantik, natural, menjadi dirinya sendiri. Ini alasan kenapa Andry suka
mengajak Fani bermain dipantai. Sebab semarah dan sesedih apapun Fani, disini
dia tetap menjadi seorang gadis yang riang.
“ Kak sini,” Fani
berbalik dan menjentikkan jari meminta Andry mendekat.
“ Hmm.” Andry hanya
berdehem, berjalan pelan dengan kedua tangan nangkring disaku celana pendeknya.
Kemeja tipis yang dipakainya diterpa angin hingga membentuk lekuk tubuh
gagahnya. Benar-benar tampan disemua situasi.
__ADS_1
Andry berjalan
mendekati Fani yang berdiri dibibir pantai dengan kakinya yang dibiarkan
menyalam debur ombak. Kedua tangan dilipat didada, pandangannya terpaku pada pantai
yang luas, indah dengan desir-desir ombak manja. Andry mendekat, mendekap Fani
dari belakang, penuh kasih sayang. Berharap sang kekasih merasa nyaman dalam
pelukannya. Andry memeluk erat, menggenggam kedua tangan Fani, dan bersama-sama
menatap indahnya pantai. Tanpa bersuara, tanpa berbicara sepatah kata pun.
Seolah mereka benar-benar menikmati kebersamaan, menikmati kasih sayang yang
mereka adukan, berpelukan, saling merasakan.
“ Aku mencintaimu.”
Ucap Andry berbisik ditelinga Fani, membuat siempunya bergidik merinding.
Bibirnya menyentuh pelan daun telinga Fani, membuat bulu roma berdiri.
“ Aku juga
mencintaimu,” Balasnya kemudian bergelayut manja didada Andry. Matanya
terpejam, menikmati kebersamaan yang sudah lama tidak dia rasakan.
“ Jangan pergi lagi,
jangan tiggalkan aku lagi. Cukup kemarin, sekali saja. Aku tidak ingin lagi
menghadapi situasi yang sama kedepannya.” Pinta Andry lirih, terdengar
benar-benar tulus dari hati. Bukan hanya sekedar ucapan saja.
Fani terdiam mendengar
permintaan Andry barusan. Baru saja gundah gulana hatinya hilang, tiba-tiba
Andry mengingatkan. Seolah Andry memberi kode agar Fani segera memberi
kejelasan, menegaskan jika dia benar-benar sudah putus hubungan dengan Endrico.
“ Jangan tinggalin aku
lagi ya, apapun kondisinya. Kalau aku salah kamu harus tegur kesalahan aku,
kalau kamu dengar sesuatu yang buruk tentang aku kamu harus tanya kepastiannya
sama aku. Jangan hanya mengandalkan telinga, kamu juga harus menggunakan mata.
Jangan lagi mengambil keputusan sendiri, tapi yang merasakan sakitnya kita
berdua.” Ucap Andry dengan sangat bijak. Wajahnya sendu, semua ucapan tulus
dari hatinya.
Fani terdiam, masih
berkecamuk dengan pikirannya. Siapa yang harus dia pilih, Andry atau Endi.
Meskipun Endi baru saja menghuni hatinya, tetap saja Fani tidak rela melepaskan
Endi begitu saja. Benar-benar menjadi wanita yang serakah.
“ Sayang? Kamu kenapa
diam? Gapapa kan? Ngelamunin apa sih?.” Andry perlahan memutar tubuh Fani agar
menghadap dirinya. Menatap lekat wajah Fani yang tampak sedang mengkhawatirkan
sesuatu, cemas.
“ Kamu kenapa? Lagi
mikirin apa sih? Apa yang mengganggu pikiranmu?.” Tanya Andry lagi. Tidak sabar
ingin mengetahui apa yang mengganggu pikiran sang kekasih.
“ Gapapa kok kak, aku
Cuma kepikiran salah aku aja. Bisa-bisanya aku memutuskan kak Andry tanpa
penjelasan apapun, pasti sangat menyakitkan bagi kak Andry. Maafkan aku kak,
apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesakitan yang selama ini kak Andry
rasakan.” Fani berdalih, lagi-lagi menumpuk kebohongan demi menutupi kebenaran.
rasakan? Padahal itu tidak sedikitpun melintas dipikirannya.
“ Hem, sudah lah. Yang
lalu biarlah berlalu, dengan bertemu kamu dan kembalinya kamu sudah cukup untuk
membayar penderitaan yang aku rasakan selama ini.” Andry berbicara dengan
lirih, semua dia katakana dengan santai namun tulus dari hati yang paling
dalam.
Fani menggigit bibir
bawahnya, tidak tau lagi apa yang harus dikatakannya. Sejak kemarin sudah
banyak sekali kebohongan-kebohongan yang ditumpuknya. Ini baru sehari,
bagaimana jika seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Bisa-bisa kebohongan yang
ditumpuknya setinggi gunung Himalaya.
Mati
aku, apa lagi yang harus aku katakana. Maafkan aku harus berbohong sayang, tapi
aku benar-benar tidak bisa menentukan pilihan sekarang. Semakin kau berbicara
baik begini semakin aku merasa bersalah. Maafkan aku, maafkan aku.
“ Sudah-sudah, jangan
lagi bahas yang sedih-sedih. Kan kita kesini buat senang-senang, kenapa
tujuannya jadi berubah sih.” Andry menarik Fani kedalam pelukannya, memeluk
dengan erat, mengelus rambut indah Fani yang diterpa angin.
“ Sekarang ayo kita
berfoto bersama, mari kita abadikan moment-moment indah untuk dikenang dimasa
yang akan datang. Bukti yang bisa kita tunjukkan pada anak cucu kita nantinya.”
Lanjut Andry dengan penuh percaya diri. Pikirannya sudah jauh, bahkan sudah
sampai menua bersama.
Andry meraih ponsel
dari saku celananya, merangkul Fani dan mengangkat tinggi ponselnya berselfie.
Senyum merekah dari wajah Andry, tampak sangat senang hari ini. Sudah lama
mereka tidak mengambil foto berdua, sudah lama pula tidak mencetak polaroid
untuk digantungkan dikamarnya. Fani awalnya tampak kaku, bukan kaku sih tapi
seperti banyak pikiran gitu. Namun lama-kelamaan melihat Andry yang riang Fani
juga ikutan riang. Mereka berbahagia, seolah dunia memang milik berdua.
Merangkul, berpelukan, saling pandang, wajah manis hingga dengan bibir monyong
sudah mereka abadikan. Mungkin hampir seratus kali Andry mengambil foto selfie
mereka. Ah senangnya.
“ Sekarang jadi model
dadakan ya sayang, aku jadi photographer dadakannya hehehe. Udah lama enggak
kan.” Andry mendorong Fani pelan, mendekati bibir pantai.
“ Berdiri disini, tatap
kearah sana dan biarkan wajah datar.” Lanjutnya mengatur gaya sang model. Sudah
seperti photographer handal saja.
“ Ternyata beberapa
bulan berpisah kamu makin jago didunia perfotoan ya.” Fani mulai menggoda
Andry, kemudian dia terkekeh geli.
__ADS_1
“ Hem udah jangan
ngomong lagi, sekarang ikuti semua yang aku katakan. Lihat kearah sana, wajah
datar dan sedikit mendongak.” Lanjut Andry kembali mengatur posisi Fani.
“ Baiklah, baiklah.”
Fani pasrah dan menurut saja, namun ketika Andry hendak memotret dia malah
tertawa terbahak-bahak.
“ Hei kenapa ketawa
sih, kan udah bagus tadi. Tinggal cekrek doang padahal.” Andry menggerutu
kesal, padahal pose Fani sudah pas hanya tinggal cekrek saja.
“ Ih kamu apaan sih,
kan udah keren banget loh tadi. Malah ketawa.” Andry terus saja menggerutu,
wajahnya masam dan tidak lagi bersemangat. Sedangkan Fani terus saja tertawa,
menggoda Andry hingga lelaki yang menjadi photographer dadakan itu merajuk bak
anak kecil.
“ Aaaa jangan ngambek
dong anak kecil.” Fani merentangkan kedua tangannya, berjalan mendekat seolah
ingin memeluk Andry yang tengah bermasam muka.
“ Cup, cup, cup. Jangan
marah ya, photographer pintar gaboleh marah hehehehe.” Fani bergelayut manja
didada Andry. Meskipun tengah kesal, Andry tetap tidak bisa menahan diri.
Apalagi Fani membujuk rayu dirinya, bermanja-manja dengannya. Ah sudahlah
marahnya pun tak ada lagi artinya.
“ Hem, serius dong
sayang. Kan aku mau ambil foto kamu, biar keren, bier kek model-model gitu.”
Sudah tidak marah lagi, Andry menyambut pelukan Fani dengan senang hati.
“ Oke, sekarang kita
ulangi lagi ya. Tapi jangan becanda dong, serius ya. Fotonya mau aku cetak
terus dibawa nantinya.” Andry mencubit manja hidung Fani yang tengah bermanja
dengan dirinya itu.
“ Humm, tapi masih
pengen..” Fani masih tertarik untuk menggoda Andry, kebahagiaan tersendiri
baginya jika melihat Andry yang tiba-tiba tersipu malu jika digoda.
“ Pengen apa, pengen
aku peluk terus?.” Belum sempat Fani menyelesaikan ucapannya, Andry sudah
menyela. Tau jika Fani tengah menggoda dirinya.
“ Kalau emang beneran
pengen berdua-duaan, bermanja-manjaan, peluk-pelukan, dengan senang hati aku
akan membawamu ketempatnya.” Andry menatap Fani dengan tatapan nakal, dia malah
berbalik menggoda Fani.
Fani tiba-tiba
melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Andry barusan, seolah Fani paham
maksud dari ucapan Andry itu. Matanya membelalak sempurna, tangannya
disembunyikan dibelakang, tidak lagi ingin menyentuh lelaki genit yang ada
dihadapannya. Awalnya dia yang ingin menggoda Andry, inginnya melihat Andry
tersipu malu. Eh nyatanya malah dia yang digoda oleh mangsanya. Senjata makan
tuan sih ini.
“ Eh enggak, enggak.
Yuk sekarang kita foto aja.” Fani bergegas pergi, menjauh dari Andry adalah
yang paling tepat saat ini. Daripada nanti Andry malah benar-benar khilaf dan
mengiyakan ucapannya.
“ Eh tunggu dulu.”
Andry dengan cepat menarik pergelangan tangan Fani, menghentikan gadis yang
ingin melarikan diri ini.
“ Eh tunggu dulu dong.”
Andry menarik Fani hingga berbalik dan berada tepat dihadapannya, hanya
beberapa centi saja.
Cuppp…
Andry mendaratkan
sebuah kecupan dikening Fani, sudah lama dia tidak memberi kecupan penuh kasih
sayang pada gadis yang dicintainya ini. Fani hanya terdiam tidak bergeming,
tidak ada penolakan darinya sama sekali.
Cupppp..
Sekali lagi Andry
mendaratkan kecupan dikening Fani, kemudian menatap dalam manik mata gadis yang
ada dihadapannya ini. Penuh kasih sayang, penuh cinta. Kemudian tanpa berbicara
sepatah katapun, Andry beralih mengecup
kedua pipi Fani secara bergantian. Berkali-kali, berulang-ulang, penuh kasih
sayang.
“ Dah, ini kan yang
kamu mau.” Andry mencubit kedua pipi Fani yang masih tampak bengong.
“ Mau lagi?.” Andry
terkekeh geli, sedangkan Fani dengan cepat menggeleng-geleng mengatakan tidak.
“ Enggak.” Jawabnya
ketus, menatap Andry seperti menatap musuh.
“ Hahahahhaha.” Andry
tertawa puas melihat wajah Fani yang
sok-sok-an, padahal wajahnya merah padam menahan malu karena habis dihujani ciuman.
Fani menatap Andry
sinis, mencoba menghentikan tawa lelaki yang ada dihadapannya ini hanya dengan
menatap tajam. Bukannya takut, Andry malah semakin terkekeh geli melihat
tingkahnya. Tatapan tajam, kedua tangan melipat didada, wajah datar dan bibir
menggeram sama sekali tidak membuat Andry goyah. Padahal Fani sudah tidak tahan
menahan tawanya, ingin ikut tertawa tapi tetap ingin membuat Andry takut pada
dirinya.
Cuupppp..
Giliran Fani yang
mendaratkan sebuah kecupan dipipi kiri Andry. Seketika Andry terdiam dan
terbelalak. Ternyata ini adalah cara paling ampuh untuk membuat Andry diam dari
tawanya. Fani terkekeh, kemudian mencium lagi pipi kanan Andry. Tidak mau
__ADS_1
kalah, Fani juga menghujani Andry dengan ciuman-ciuman penuh cinta.