
Andry berjalan kembali menuju meja dimana teman-temannya berada. Dengan wajah yang dipenuhi senyuman bahagia dia tampak sombong dan membusungkan dada. Menghambur duduk dikursi dan mengangkat kerah baju dengan sebelah tangannya. Seolah mengatakan lihatlah Andry yang hebat ini sudah berhasil mengajak kencan gadis yang kalian pilih itu. Sangat mudah sekali bagiku untuk menyelesaikan tantangan ini.
“ Wah gileee, bahagia banget deh kayaknya.” Ucap Ardi ketika Andry sudah mendekat dan duduk diantara mereka.
“ Lo gagal atau berhasil ni.” Sahut yang lainnya. Masih berani-beraninya meremehkan lelaki yang dikenal anti wanita ini.
“ Remeh banget deh lo semua ya. Ya gue berhasil dong.” Ketusnya. Sangat menyombongkan diri. Mengangkat kerah bajunya berulang-ulang, terus saja menyombongkan. Memang dirinya adalah lelaki anti wanita, tidak jago merayu dan menggombal. Tapi jangan salah dia paling jago dalam hal kejujuran, buktinya dia berhasil mengajak kencan gadis itu hanya bermodalkan kejujuran.
“ Ah gak percaya gue.” Sahut Ardi menggeleng melihat kesombongan sahabatnya itu. Mencoba meminta bukti jika dirinya benar-benar telah berhasil mengajak kencan gadis itu.
“ Ini, gue udah tukeran kontak sama tu cewek, Namanya Alea.” Ucapnya sambil meletakkan ponsel diatas meja. Tampak dilayar ponselnya kontak bernama Alea, ah benar saja dia telah berhasil mengajak kencan gadis cantik itu.
“ Hahahaha ini belum sepenuhnya berhasil bro. Lo kencan dulu, terus jangan lupa minta foto berdua. Lo kirim deh ke kita baru kita akui kalau lo berhasil dalam tantangan ini.” Ucap salah satu temannya. Menambah lagi bebannya, kali ini harus foto bersama.
“ Yah jangan pake foto berdua dong, gak enak dong bro.” Protesnya menolak. Tidak berani jika harus mengajak gadis itu berfoto bersama. Jangankan mengajak berfoto, mengumpulkan keberanian untuk mendekat saja dia harus menghabiskan waktu yang lama.
“ Kalau lo gak foto bareng tu cewek berarti lo gagal dalam tantangan ini. Bisa aja kan lo Cuma bohongin kita, lo nyogok tu cewek barusan tapi lo gak ajak dia kencan.” Sambungnya masih yakin jika Andry hanya mencoba menipu mereka. Bisa aja Andry hanya meminta kontak tapi tidak mengajak gadis itu berkencan.
__ADS_1
“ Iya bener juga sih, bisa aja kan lo Cuma ngibulin kita.” Sahut Ardi yang merasa jika semua yang dikatakan temannya benar. Memaksa Andry untuk mengiyakan permintaan mereka semua, agar menjadi bukti jika Andry benar-benar berkencan dengan gadis itu.
“ Iyadeh iya. Besok gue spam foto deh kekalian semua biar kalian percaya dan puas.” Ucapnya mengiyakan. Tidak ingin lagi mendengarkan ocehan-ocehan temannya yang terus saja memaksa.
Setelah puas mengerjai Andry, mereka kembali memainkan permainan yang menyebabkan Andry terjebak dalam tantangan yang rumit ini. Terus bermain, semakin banyak rahasia-rahasia dari mulut mereka terbongkar. Semakin banyak hal-hal aneh yang mereka lakukan. Tidak hentinya tertawa dan saling menertawakan. Beruntunglah suara music keras, hingga tidak ada yang benar-benar terganggu dengan suara tawa mereka yang sangat keras.
“ Ah capek nih gue. Bubar aja yuk.” Ucap Ardi membuat yang lainnya berhenti tertawa.
“ Ah cemen banget sih lo. Masih jam berapa ini, ayok main lagi.” Sahut temannya tidak ingin berhenti dan meminta
“ Udah malam banget nih.” Lanjut Ardi. Sudah tidak tahan lagi, perutnya sudah keram karena terlalu banyak
tertawa. Matanya juga sudah merah karena menahan kantuk.
“ Yaudah yuk bubar aja.” Ucap Andry sembari menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 12 malam. Meskipun masih ramai namun tetap saja ini sudah larut malam, terlebih kasihan dengan Ardi yang sudah sangat lelah dan tidak dapat menahan kantuk.
“ Yah. Yaudah deh bubar aja. Besok-besok kita main beginian lagi ya biar makin banyak rahasia kalian yang
__ADS_1
terbongkar.” Sahut temannya. Kemudian mereka semua beranjak berdiri dan saling mengakhiri dengan salam persahabatan.
Andry dan Ardi sudah masuk kedalam mobil, segera Andry melajukan mobilnya menuju rumah Ardi. Menyusuri jalanan yang masih ramai, padahal sudah larut malam. Begitulah kehidupan kota yang seolah tiada matinya. Andry fokus mengemudi sambil sesekali menyahut pembicaraan Ardi.
“ Eh lo yakin mau kencan sama tu cewek?.” Tiba-tiba Ardi menyanyakan hal ini. Seolah tidak yakin jika Andry berani dan benar-benar akan pergi berkencan dengan gadis yang dipilih teman-temannya.
“ Yakin lah.” Sahutnya singkat, pandangannya tidak beralih dari jalanan. Hanya mendengarkan pertanyaan Ardi dan kemudian menjawab.
“ Lo gak takut cewek lo marah?.” Lanjut Ardi bertanya. Lagi-lagi dia menyinggung masalah hubungannya dengan Fani yang sudah tidak jelas statusnya.
“ Gak sih. Lagian ini juga Cuma tantangan kan, dia pasti ngerti lah.” Jawabnya dengan sangat santai. Padahal dalam hatinya sednag mencoba melupakan sejenak tentang hubungannya yang kacau dan tidak jelas statusnya.
“ Yaudah bro. Gue minta lo hati-hati aja, jangan sampai lo suka sama tu cewek hahahaha.” Sambung Ardi terdengar mengejek. Meskipun begitu ada benarnya juga semua yang dikatakan Ardi. Bagaimana jika nantinya dia suka dengan gadis yang diajaknya kencan itu. Apalagi sekarang posisinya dia sedang kacau, hubungan tidak jelas, Fani pun menghilang tanpa kabar, tanpa kejelasan.
Andry tidak menjawab lagi apa yang dikatakan oleh sahabatnya Ardi. Hanya fokus mengemudi dan menyegerakan sampai dirumah Ardi. Ingin segera kembali kerumahnya dan segera mengistirahatkan tubuh dan fikirannya. Tidak ingin lagi membahas masalah Fani dan hubungannya hingga satu minggu kedepan. Ingin saling membiarkan diri mereka tenang, nanti setelah seminggu lagi baru Andry akan mencoba menghubungi Fani kembali. Mungkin saat ini suasana hatinya sedang rumit dan kacau hingga Andry harus mencoba mengerti dan memberi waktu untuk Fani sendiri.
Aku biarkan kau berdiam diri seminggu ini. Nanti setelah lebih dari seminggu aku akan kembali menghubungi dan segera menghubungimu. Semoga waktu senantiasa memberi luang dan kita memberi sempat untuk bertemu. Istirahat lah hatimu, istirahatlah hei hatiku. Nanti kita bahas masalah ini setelah membunuh rindu.
__ADS_1