
Fani dan Irma asyik bermain dan berlari-lari dipantai. Meskipunccahaya matahari tanpa ragu menyengat tubuh mereka. Yang terpenting adalahcbahagia menikmati suasana. Angin yang bertiup kencang juga menyeimbangkan teriknya matahari, panas namun juga ada angin yang menyejukkan. Fani memang sangat menyukai pantai, bagian yang paling dia sukai adalah berjalan dibibir pantai dengan ombak yang sesekali menerjang.
“ Ir, sini fotoin aku dong.” Menjentikkan tangan meminta sahabatnya untuk mendekat. Mengambil ponsel dan menyerahkan kepada Irma. Tidak afdol jika kepantai tanpa mengabadikannya.
“ Hem.” Irma hanya berdehem, meraih ponsel yang disodorkan Fani.
“ Bentar pakai kacamata dulu.” Ucapnya diiringi tawa dan meraih sebuah kaca mata dari tas kecilnya. Meskipun kecil tampaknya menampung banyak sekali barang-barang yang dibutuhkan pemiliknya. Berpose anggun dan konyol, mulai dari tersenyum depan kamera hingga candid katanya.
“ Nih gantian dong.” Ucap Irma yang tak kalah dengan Fani. Menyerahkan ponsel kepemiliknya dan mengambil posisi untuk berpose juga.
“ Oke.”
“ Yang bagus ya fotonya, jangan sampai kelihatan gemuk.” Sambungnya banyak pinta. Berpose dengan gaya-gaya tak kalah narsis dengan Fani sebelumnya.
“ Yah dari sudut mana pun tetap kelihatan gemuk loh Ir.” Ucapnya mengejek setelah banyak kali mengambil gambar.
“ Ih gak mau, ulang sampai aku kelihatan kecil.” Protesnya tidak terima, lagi-lagi berpose sebagus mungkin agar tubuhnya tidak terlihat gemuk.
“ Hahahahahah.” Hanya gelak tawa sebagai jawabannya, menatap sahabatnya yang masih saja berpose minta difoto.
“ Ogah.” Lanjutnya, melangkah menjauh meninggalkan Irma yang masih berdiri dibibir pantai.
“ Parah lo ya, awas aja.” Gerutunya kesal, mengambil air dengan tangannya dan melemparkan kepada Fani yang terus saja melangkah meninggalkannya.
“ Faniiiiii.” Teriaknya kesal. Fani hanya berbalik dan mengejeknya.
__ADS_1
Setelah puas bermain dan berfoto-foto dipantai, mereka memutuskan untuk pulang. Meskipun baru pukul 3 sore, namun mereka sudah merasa kelelahan. Berjalan pelan sambil bersenda gurau, menuju parkiran dan tak sabar ingin mendinginkan badan.
“ Buruan, panas.” Pinta Irma sembari mengibas-ngibaskan tangannya. Mempercepat langkah mendahului Fani yang masih asyik menendang-nendang pasir pantai.
“ Iya.” Sahutnya tetap memainkan pasir lembut itu dengan kakinya.
Irma menyalakan mesin dan melajukan mobilnya, tidak sanggup lagi menahan laparnya. Sudah hampir sore namun mereka belum makan siang. Mencari tempat makan yang paling dekat dari pantai, merasa cacing-cacing perutnya sudah meraung-raung minta makan.
“ Makan dulu deh Fan, sumpah lapar banget.” Ucapnya sembari tangannya memutar kemudi, belok dan berhenti disebuah rumah makan sederhana.
“ Hahahaha oke Ir.” Lagi-lagi hanya bisa tertawa melihat ekspresi lucu sahabatnya. Turun dan mengikuti langkah Irma yang sudah jauh didepannya. Menggeleng-gelengkan kepala melihat Irma berlari masuk saking laparnya.
“ Wah selapar itu ternyata, untung aku udah sarapan tadi dirumah.” Ucapnya diakhiri tawa kecil.
Irma dengan terburu-buru melahap makanan yang ada dihadapannya, sementara Fani hanya memesan segelas jus segar. Masih kenyang katanya. Fani meraih ponsel, menggeser layar sambil menatap foto-foto yang diambil oleh Irma. Cukup bagus, tak kalah bagus dengan foto-fotonya dipantai yang diambil oleh kekasihnya Andry. Senyum tipis terukir diwajahnya, teringat masa-masa indah mereka. Bermain dan bersenang-senang dipantai.
“ Woi Fan, kok melamun aja sih.” Ucap Irma mengagetkan Fani yang tanpa sadar sudah tenggelam dalam lamunannya.
“ Eh. Ngagetin aja.” Terperanjak kaget. Tangannya langsung melepaskan ponsel yang semula digenggamnya.
“ Hahahaha siapa suruh ngelamun.” Tawanya mengejek Fani yang terperanjak kaget.
Fani hanya menatap sinis, mengambil kembali ponselnya yang terjatuh diatas meja. Memilih dua foto dan mengunggahnya distory akunnya. Foto dirinya sendiri, membelakangi kamera, sebelah tangannya agak merentang terbuka, seperti pose waktu dia berdua saling menggenggam tangan dengan kekasihnya. Seperti kode kalau tangannya minta digenggam oleh seseorang, berharap Andry peka dengan kodenya. Kedua adalah foto selfie bersama Irma, sebagai bukti jika dia memang tengah bersama Irma, bukan dengan Endrico seperti yang dituduhkan oleh Andry tadi.
“ Yuk Fan, kita pulang.” Ucap Irma beranjak dan melangkah mendekati meja kasir. Fani hanya mengangguk dan mengikuti langkah Irma.
__ADS_1
Bergegas menuju mobil dan kembali melanjutkan perjalanan pulang. Menyalakan musik dengan volume keras, berjoget dan bernyanyi bersama. Memang sebaik-baiknya tempat meluahkan kegilaan adalah sahabat terbaik kita.
**
Andry baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk berwarna coklat masih melilit ditubuhnya. Tangannya mengibas-ngibaskan rambut yang basah. Mengambil kaos longgar dan celana pendek dari lemarinya. Berhubung sampai saat ini belum ada agenda keluar, Andry memilih untuk bermalas-malasan dan bersetubuh dengan kasur empuknya.
“ Huffhh bosan juga ya kalau dirumah seharian.” Gumamnya. Berdiri didepan kaca dan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.
“ Tapi dari pada keluar gak jelas mending malas-malasan dengan kasur dan bantal.” Sambungnya tersenyum dan berlari menghempaskan tubuhnya diatas ranjang berukuran king miliknya.
“ Mau ngapain ya? Main game atau lanjut tidur aja?.” Bertanya dalam hati. Memilih untuk mengambil ponsel dan bermain game saja. Andry menyalakan ponsel dan membuka akun sosmednya, melihat kekasihnya baru saja mengunggah kisah. Dengan cepat dibukanya, tampak dua foto yang diunggahnya.
“ Tadi katanya dimall, kenapa unggahannya dipantai.” Gumamnya bingung. Menggeser layar dan melihat foto lain, foto Fani bersama seorang wanita yang tidak dia kenali sama sekali. Mungkin ini yang namanya Irma, batinnya.
“ Hem, gak tau deh ya ini foto hari ini atau foto-foto sebelumnya. Bisa jadi hanya pengalihan isu agar aku tak semakin curiga.” Lanjutnya setengah tidak percaya. Masih tersisa pikiran buruk tentang kekasihnya, ketidakpercayaan dan kecurigaan yang berlebihan. Kembali kemenu utama dan membuka menu game yang ada diponselnya, memilih mengabaikan tentang unggahan kekasihnya. Membiarkan Fani melakukan apa saja yang diinginkannya, dia pun melakukan apa yang diinginkannya.
“ Terserahh aja deh, lagi malas mikir.” Batinnya mengabaikan. Tangannya dengan lincah memainkan game, pandangannya fokus tak beralih dari layar 5 inci yang dipegangnya. Tiba-tiba terbayang-bayang unggahan Fani yang pertama, foto membelakangi kamera. Dahinya mengernyit, seolah ada yang aneh dari foto tersebut. Keluar tanpa menyelesaikan gamenya, beralih kembali melihat unggahan Fani yang bergelayut dipikirannya.
“ Seperti gak asing dengan foto ini.” Batinnya membesar dan mengecilkan foto yang diunggah Fani. Cukup lama pandangannya terfokus pada foto itu, menatap tangan Fani yang merentang seolah sedang saling menggenggam dengan seseorang. Namun, tak ada sosok siapapun bersamanya, hanya tunggal.
“ Oh aku tau, ini seperti foto kita berdua dipantai waktu itu.” Seketika teringat dengan foto lamanya. Beralih kemenu galeri dan mencari foto yang dimaksudnya, mencoba memastikan jika fotonya hampir sama. Tentu saja, mirip sekali. Bedanya difoto lama itu mereka berdua dan saling menggenggam, sementara foto yang barusan hanya Fani seorang.
“ Oh kau sedang mencoba memberiku kode ya. Baiklah minggu depan kupastikan tangan kosongmu akan ku genggam. Foto rumpangmu akan kusempurnakan.” Ucapnya tersenyum dengan unggahan Fani yang seolah menjadi teka-teki untuknya.
“ Ah aku rindu, semoga hari-hari lekas berlalu.” Ucapnya mencium layar ponselnya yang terpampang wajah Fani. Kekasih yang sudah beberapa bulan tak dia temui.
__ADS_1
Hai pembaca setia novel ini. Jangan lupa like, komen dan vote ya agar aku rajin update.
Thankyou guys.