Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Menghubungi Joo


__ADS_3

Andry terus saja berusaha  menghubungi Fani, namun sama sekali tidak bisa. Masih diluar jangkauan, terus saja diluar jangkauan. Tidak terfikir jika Fani telah mengganti nomor teleponnya. Andry juga terus mengintai sosmed Fani, menunggu sampai dia aktif. Hanya menanti sambil menikmati langit malam dari jendela kamarnya, menerka-nerka kemana Fani pergi. Mengapa mendadak menghilang setelah mengirimkan semua barang-barang ini. Berjalan mondar-mandir dan berhenti tepat didepan foto-foto polaroid yang bergelantungan didinding. Bagian yang membuat kamar Andry seperti kamar wanita, ya bahkan juga ada lampu tumblr, pasti ini adalah ide dan kelakuan Fani kekasihnya. Tangannya menyentuh satu persatu foto-foto itu, sembari mengingat kenangan dan kilas balik saat mengambil foto itu.


“ Hai aku rindu, mari kita bermain-main lagi dipantai.” Gumamnya sembari tersenyum pilu. Mengelus pelan foto-foto itu.


“ Kemana kau? Apa yang kau lakukan? Coba kau jelaskan dulu, kita adalah pasangan lalu kenapa kau tidak ingin berdiskusi?.” Sambungnya menjentik foto Fani pelan. Kesal dengan apa yang dilakukan gadis ini padanya.


“ Atau kau sengaja menghilang setelah kau mengirimkan barang-barang ini? Lalu bagaimana aku akan menemuimu besok? Kau belum pernah memberiku alamat dimana kau tinggal sekarang? Haruskah aku mencarimu diseluruh penjuru kota?.” Gumamnya kembali bersedih. Padahal semua sudah dia persiapkan sedemikian rupa. Berusaha menemui sang kekasih hatinya. Namun, entah apa penyebabnya Fani tiba-tiba menghancurkan semua rencananya.


Andry kembali duduk menghadap jendela, meratapi nasib percintaannya. Fani adalah cinta pertamanya, meskipun dia bangun dengan niat buruk awalnya, namun dia sudah menyesal dan saat ini benar-benar mencintai gadis yang dulu dibencinya. Mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan agar tetap bisa menemui sang kekasih hati meskipun nanti atau hingga besok Fani tetap tidak bisa dihubungi. Andry menatap layar ponselnya, mencari dan melihat-lihat siapa yang bisa dia hubungi untuk menemukan solusi. Seketika pandangannya berhenti pada kontak lelaki yang padahal sangat bisa membantu dirinya. Siapa lagi jika bukan lelaki yang tinggal serumah dengan kekasihnya, Joo. Seolah baru saja mendapatkan harta karun, Andry tersenyum bahagia dan dengan bersemangat segera menelepon lelaki itu.


Ah memang semesta berbaik hati padaku, aku bahagia. Sangat bahagia, bahkan melebihi kebahagiaan orang yang mendapatkan harta karun.


Andry mencoba menghubungi, berdering namun tidak tersambung. Joo tidak menjawab teleponnya. Sekali lagi Andry mencoba menghubungi, tetap sama, tidak ada jawaban dari pemilik nomor tersebut. Andry menjambak rambutnya seperti frustasi, namun tidak menyerah dia terus mencoba menelepon Joo hingga akhirnya telepon pun tersambung.


“ Hallo.” Sahut Joo dari dalam telepon.

__ADS_1


“ Hallo Joo, ini gue Andry masih ingat kan?.” Jawabnya bersemangat ketika telepon akhirnya tersambung juga.


“ Hei An, apa kabar? Udah lama gak ketemu ya.” Sahutnya lagi dan bertanya. Berbicara seperti biasa.


“ Kabar baik, gimana lo sekeluarga sehat kan?.” Lanjutnya juga basa-basi. Tidak mungkin langsung pada inti dan tujuannya menelepon, terlebih mereka sudah lama tidak mengobrol.


“ Baik kok. Disini awalnya gak enak sih tapi lama kelamaan jadi nyaman kok.” Ya elah si Joo malah curhat deh.


“ Hahahaha pasti seru dong ya tinggal disana, jauh dari riuhnya kota.” Jawabnya juga sok asyik. Padahal lidahnya sudah gatal dan memberontak ingin bertanya dimana kekasihku? Apa yang sedang dilakukannya? Kenapa dia tidak melihat ponselnya? Aku khawatir mencarinya.


“ Ya lumayan sih. Makanya kalau ada waktu main-main kesini dong.” Ucapnya. Meminta Andry untuk berkunjung kerumah barunya.


“ Eh Joo, Fani mana?.” Lanjutnya sudah bertanya langsung pada maksud dan tujuannya.


“ Oh Fani ada dikamarnya, dia lagi sakit. Bentar ya gue kekamarnya.” Jawab Joo sembari melangkah menuju kamar Fani dan melihat apa yang sedang dilakukan adiknya itu.

__ADS_1


Andry hanya berdiam diri dan tidak berbicara lagi, menunggu Joo hingga sampai kekamar Fani. Sambil dirinya memikirkan dan menyusun rencana apa yang akan dilakukannya besok, seperti apa dan bagaimana. Terdengar sebuah suara handle pintu ditekan dan pintu didorong, kemudian terdengar pula suara Joo memanggil Fani pelan seperti berbisik. Andry hanya diam mendengarkan, menguping apa yang abang dan adik itu bicarakan.


“ Dek.” Suara Joo terdengar berbisik pelan.


“ Fan, hei dek.” Sambung Joo masih berbisik. Setidaknya masih bisa mendengar suara Joo yang berbisik, namun tidak dengan suara Fani.


Andry terus mendengarkan bisikan-bisikan dari dalam telepon. Suara Joo yang memanggil Fani berulang-ulang, kemudian entah apa yang mereka bicarakan. Dahinya mengkerut dan mencoba memfokuskan pendengaran agar mendengar apa yang diucapkan oleh kekasihnya, namun sama sekali tidak bisa dia dengarkan. Saat asyik menguping tiba-tiba telepon dimatikan, entah siapa yang mematikan, yang jelas Andry tidak menekan tombol apapun.


“ Hei ini kenapa mendadak mati? Siapa yang mematikan teleponnya? Apakah Joo? Atau aku sendiri?.” Gumamnya sambil bertanya. Menatap layar ponselnya yang sudah lagi tidak ada panggilan yang sedang berlangsung.


“ Apa aku yang matikan? Tapi jari-jemariku saja tidak menyentuh layar. Hanya telinga saja yang kudekatkan dengan layar. Atau daun telingaku yang menekan tombol merah hingga panggilan berakhir? Ah telinga sialan.” Sambungnya menggerutu. Masih memikirkan siapa yang mematikan teleponnya tiba-tiba.


Andry kembali mencoba menghubungi Joo, namun tiba-tiba nomor Joo juga sedang berada diluar jangkauan. Dahinya mengkerut kebingungan, baru saja mereka melakukan panggilan tapi sekarang  tiba-tiba sudah diluar jangkauan saja. Andry terus mencoba menelepon Joo, meskipun tetap sama, masih berada diluar jangkauan. Hanya Joo satu-satunya harapan Andry untuk bisa tetap berangkat besok pagi.


“ Atau jangan-jangan kau yang melakukannya ya.” Tiba-tiba giginya menggeram ketika mengingat sosok Fani. Mengira ini semua adalah ulah Fani, pasti Fani yang memaksa Joo untuk  mematikan teleponnya.

__ADS_1


“ Kau! Ah. Aku sedang berusaha mencari cara agar aku tetap bisa menemuimu besok. Sudah bersusah payah tapi kau tetap saja menggagalkan rencanaku. Apa sebenarnya yang kau mau? Awas saja jika aku bertemu denganmu, setidaknya kau meringis untuk membalas perbuatanmu.” Lanjutnya semakin geram. Merasa kesal dengan Fani yang menghancurkan semua rencananya. Sekarang tidak ada lagi tempat Andry untuk bertanya. Bahkan tidak ada yang tau alamat pasti selain keluarga mereka sendiri. Merasa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menemui kekasihnya besok, semua yang sudah dia persiapkan tidak berguna, uangnya hanya akan terbuang sia-sia.


Kalau bisa aku menghilang, saat ini juga aku datangi kau yang menyebalkan. Ku buat kau meringis karena ulahmu, ah kau menyebalkan. Aku sedang berusaha memberi sempat, namun kau yang tak memberi luang.


__ADS_2