
Sophia masih asyik mengobrol dengan Andry. Bertanya tentang liburan hingga rencana Andry kedepannya, ingin kuliah dan kerja dimana. Sophia tampak asyik mengobrol seolah tanpa beban dan kebencian. Fani masih diam mendengarkan, sesekali mengangguk jika Andry butuh pembenaran. Sophia yang merasa suasana sudah aman langsung beralih kepada Fani yang sejak tadi hanya diam tak bergeming.
“ Gimana liburan lo Fan? Pasti seru dong ya.” Tanya Sophia sambil memutar badannya menghadap Fani yang masih tertunduk diam.
“ Eh iya Sop, seru kok.” Jawabnya gugup. Tangannya semakin dingin, semakin kuat mencekam satu sama lain. Hatinya mulai merasa ada yang tak beres dengan Sophia, pasti sesuatu yang buruk akan dilakukannya.
“ Liburan lo dikampung gimana? Wah pasti seru banget ya. Gue belum pernah nih main dihamparan sawah yang luas.” Lanjutnya semakin sok asyik.
Apa ini Sophia? Apa ini benar kau? Baru saja tadi kau menatapku penuh kebencian lalu sekarang kau sibuk sok asyik menanyakan tentang liburan.
“ Lain kali gue ajak lo main kekampung gue deh.” Jawabnya tersenyum pias.
Sophia terus saja mengajukan pertayaan-pertanyaan yang semakin lama semakin mendekati intinya. Sesekali dia menggigit sosis bakar miliknya, menatap Fani yang tampak cemas karena kehadirannya. Hatinya tertawa puas, belum membongkar semuanya namun Fani sudah pucat tak berdarah. Ingin dia tertawa lepas melihat wajah yang pucat ketakutan itu. Sophia juga menatap Andry yang tampak santai menikmati makanannya. Menunggu waktu yang paling tepat untuk mengajukan pertanyaan inti.
“ Oh iya Fan, gimana sama taruhan kita?.” Sophia langsung menyerang dengan pertanyaan yang mematikkan.
Deg, Fani merasa jantungnya dipanah tepat dibagian tengah. Pertanyaan mematikan ini dilontarkan Sophia tepat dihadapan Andry sang bahan taruhan mereka. Keringat mulai membasahi wajahnya, bibirya pucat bak orang sakit parah. Fani hanya menunduk takut dan enggan menjawab. Pertanyaan Sophia seolah membombardir isi tubuhnya, terurai terburai. Tak sanggup membayangkan jika Andry mengetahui semuanya, sudah pasti sangat miris nasibnya.
“ Taruhan? Kalian taruhan apa?.” Tanya Andry keheranan. Menatap kedua gadis yang ada diihadapannya, yang satu tampak tersenyum riang dan yang satu tampak pucat ketakutan.
“ Gimana Fan? Gue harus bayar pakai apa ni? Kan lo yang menang.” Lanjut Sophia. Fani belum mejawab pertanyaan yang tadi, namun dia kembali merajam dengan pertanyaan-pertanyaan lagi.
__ADS_1
“ Gak nyangka kalau lo bisa bertahan sejauh ini. Lo memang pemenang sejati.” Lagi-lagi Sophia menyudutkan Fani. Membuat gadis itu semakin mati ketakutan, perlahan-lahan mengatakan apa yang harus dia katakana.
“ Tunggu. Ini ada apa sih? Taruhan apa?.” Tanya Andry semakin ingin tahu, pasalnya taka da yang menjawab pertanyaan darinya.
“ Kak Andry bakal tau kok kita taruhan apa.” Jawabnya tersenyum tipis. Menyenggol Fani yang masih tertunduk ketakutan, tangannya saling mencekam. Kemudian tersenyum dan menurun naikkan alisnya kepada Fani.
“ Ini ada apa sih. Kenapa jadi berbelit-belit gini.” Semakin tak mengerti maksud dua wanita ini.
Fani mencekan tangannya kuat, menggigit bibirnya ketakutan. Pernyataan apa yang harus dia katakan kepada lelaki yang sangat dicintainya saat ini. Perlahan Andry mendekat dan menarik dagu Fani agar menatapnya. Seolah Andry ingin tahu rahasia antara dirinya dan Sophia. Menatap wajah bingung Andry dan kemudian beralih menatap wajah bahagia Sophia karena berhasil membuatnya kembali dalam masalah. Tak menyangka jika Sophia akan melakukan sampai sejauh ini.
Kau berhasil mendorongku kedalam masalah yang lebih besar. Memang akulah yang sebenarnya salah, menerima tantangan mu.
“ Awalnya aku buat tantangan ini karena Fani sangat tidak menyukai sosok kak Andry yang cuek dan dingin.” Lagi-lagi dia menjelaskan dengan wajah yang senang. Menatap Fani yang semakin ketakutan dan Andry sang korban yang semakin penasaran.
“ Terus?.” Tanya Andry tak sabar dan semakin serius mendengarkan.
“ Nah terus, sebenarnya kau buat tantangan ini juga karena aku suka sama kak Andry. Aku ajak dia bertaruh agar aku semakin pede mendekati kak Andry.” Sambungnya mengakui.
Fani yang hanya mendengarkan pembongkaran aib ini pun dibuat geram dengan pernyataan Sophia barusan. Mengatakan alasan sebenarnya mengapa ia membuat taruhan ini. Fani semakin mencekam tangannya, bibir dan giginya mengatup geram saat mengetahui alasan sesungguhnya. Andai dia mengetahui alasan dibalik tantangan ini, pasti dia akan menolak dan tak akan menerima tantangan menjijikkan ini.
Apa? Kau bahkan masih sempat-sempatnya mengungkapkan perasaan dalam kondisi yang mencekam begini. Andai aku tau sejak awal alasan kau bawa aku dalam taruhan ini, aku pastikan tak akan aku iyakan.
__ADS_1
“ Ha? Karena lo suka gue?,” Tanya Andry semakin tidak mengerti.
“ Terus setelah Fani menerima tantangan ini, aku semakin gencar mencari kontak kak Andry. Begitu juga dengan Fani.” Sambungnya sambil menggigit kembali sosis bakarnya. Mengunyah dengan perlahan sambil menikmati suasana yang mencekam.
“ Gue gak ngerti. Tolong lo jelasin lagi.” Pinta Andry.
“ Jadi intinya kita itu taruhan buat tukeran kontak sama kak Andry. Tapi aku juga gak nyangka kalau Fani bakal jalan sejauh ini sampai jadian sama kak Andry. Besandiwara hingga beberapa bulan ini, membohongi kak Andry. Tapi aku akui dia memang pemenangnya. Layak mendapatan hadiah yang dia inginkan.” Sambunngnya mengakhiri penjelasan.
“ Jadi maksudnya lo berdua permainin gue? Lo jadiin gue bahan taruhan lo?.” Andry meninggikan suaranya. Wajahnya memerah karena kesal, terlebih ketika menatap Fani yang hanya diam ketakutan ketika Sophia membongkar kebohongan dan sandiwaranya.
“ Emang awalnya aku yang salah kak. Tapi hanya sebatas bertukar kontak, bukan sampai jadian apalaggi bersandiwara dan membohongi kak Andry. Itu bukan bagian dari taruhan kita kak.” Sophia mengakui kesalahan, namun tetap menjelaskan jika Fani lah orang yang paling patut disalahkan.
“ Kenapa kamu diam? Jelasin !.” Andry menarik dagu Fani yang masih tertunduk dan diam membisu. Matanya berkaca-kaca seolah tak sanggup lagi membendung air mata.
“ Oh iya Fan lo kasih tau aja ya mau hadiah apa. Gue cabut dulu ya kak Andry.” Sophia menghabiskan minumnya dan segera beranjak ingin pergi meninggalkan dua insan yang sebentar lagi akan berperag ini.
“ Sekali lagi selamat ya atas kemenangan lo Fan.” Sambungnya tersenyum senang dan melangkah meninggalkan Andry dan Fani yang penuh ketegangan. Sophia tak henti-hentinya tergelak tawa setelah berhasil membuat Fani mati ketakutan. Terlebih lagi membongkar semua sandiwara dan kebohongan Fani. Sophia juga tak sabar ingin melihat Fani yang harus menanggung caci maki dan tatapan kebencian dari Andry. Tertawa dan terus tertawa sepanjang langkahnya.
Hahahahaha aku puas sekali menatap kau yang mati ketakutan Fani. Rasanya kesakitan yang aku tahan selama
ini seketika terbalaskan. Selamat atas kemenangan mu Fani. Aku harap kau pun dapat hadiah dari Andry, tamparan dan caci maki. Habislah kau perempuan sialan. Pengkhianat.
__ADS_1