
Setelah selesai makan malam, Fani bergegas menuju kamarnya. Meraih ponsel dan mencari referensi diinternet tentang hadiah yang bagus untuk pacar. Meski hanya pacar dadakan dan pelarian, Fani tetap harus memberi hadiah sebagai tanda terimakasih sudah menjadi pelariannya. Walaupun Andry yang dijadikan pelarian tidak menguntungkan dan malah hanya menambah rumit masalah. Fani tetap ingin berterimakasih pada Andry.
“ Duh mau beli hadiah apa ya. Ini pertama kalinya aku beli hadiah buat pacarku. Ya sekalipun dia hanya pacar pelarian.” Fani menaik turunkan layar ponselnya melihat-lihat beberapa situs yang menyajikan informasi yang dicari Fani.
“ Aku beli kaos sama jaket ajadeh.” Gumamnya.
“ Eh engga deh. Aku beli sepatu aja.” Sambungnya.
“ Aaaa ternyata punya pacar itu rumit juga ya. Bahkan masalah mau kasih hadiah apa aja harus bingung dulu.” Gumamnya menggerutu.
“ Yaudah deh besok lihat-lihat ditoko dulu deh. Daripada pusing.” Sambungnya malas memikirkan.
Fani beralih mengambil selembar kertas berwarna kuning dan sebuah pena dari atas meja belajarnya. Menulis ucapan selamat ulang tahun untuk pacar pelariannya itu. Seorang pria yang awalnya tak dia sukai sama sekali. Namun sekarang dia harus menulis sebuah ucapan ulang tahun yang romantis.
“ Aaaa bahkan aku juga harus memikirkan tentang ucapan ulang tahun yang romantis.” Gerutunya sambil menepuk kepalanya pelan.
“ Ini masih pacaran terpaksa, gimana kalau pacaran emang karena cinta. Pasti lebih rumit.” Sambungnya menggerutu.
Fani mencoba berfikir kata-kata apa yang harus dituangkan dikertas berwarna kuning itu. Beberapa kalimat terlintas dipikirannya, namun seketika Fani langsung bergidik geli. Kalimat-kalimat yang berlebihan dalam penyampaian sebagai pacar terpaksa.
“ Ih gak gak. Itu sih berlebihan.” Gumamnya tiba-tiba. “ Malah jatuhnya alay sih.” Sambungnya terkekeh.
Hanya tinggal beberapa jam lagi menjelang pergantian usia pacar terpaksanya. Setidaknya Fani pun harus mengucapkan melalui telepon. Karena malas berfikir, Fani mengambil laptop yang sudah beberapa hari tak disentuhnya itu. Menyalakan dan mulai menonton drama favoritenya. Melupakan tentang ucapan ulang tahun untuk pacar pelariannya itu.
“ Fan, jangan tidur larut malam.” Sayup terdengar suara ibu dari luar.
“ Iya bu.” Sahutnya setengah berteriak.
Sudah pukul 11 malam, Fani masih menonton drama favoritenya. Sama sekali tak menghiraukan kertas kuning dan sebuah pena disebelahnya. Beberapa kali dia menyeka ujung matanya yang mengeluarkann bulir air mata. Sedih karena menonton drama percintaan yang penuh pengkhianatan dan kerumitan. Padahal drama percintaannya lebih menarik dan menyedihkan.
“ Sedih banget sih.” Gumamnya smabil menyeka ujung matanya.
__ADS_1
“ Gak sanggup kalau jadi mereka, pasti sedih banget.” Sambungnya bergumam.
Saat sibuk menyeka ujung matanya, tiba-tiba ponselnya bordering. Ternyata Joo baru pulang dan minta dibukain pintu. Fani langsung bergegas keluar kamar dan menuju pintu utama.
“ Lama banget lo pulang bang. Habis dari mana aja?.” Tanya Fani saat mendapati sosok Joo berdiri didepan pintu.
“ Biasa anak laki.” Jawab Joo sambil berlalu meninggalkan Fani.
“ Belum tidur? Udah larut ni. Hampir pukul 12.” Joo balik bertanya.
“ Belum. Masih nonton.” Fani mempercepat langkahnya kembali menemui laptop dan drama sedihnya.
Fani melirik jam dinding, ternyata benar sudah hampir pukul 12 malam. Dalam hitungan menit pacar terpaksanya resmi berganti usia. Fani menekan tombol pause dan menunggu detik-detik pergantian usia Andry. Menyalakan ponsel dan mencari kontak Andry. Fani akan menekan tombol panggil saat pukul 12 tepat. Matanya tak beralih dari sudut atas ponsel yang menunjukkan pukul berapa.
“ Andry udah tidur belum ya?.” Batinnya bertanya.
“ Takutnya kalau aku telfon malah ganggu tidur nyenyaknya.” Sambungnya membatin.
“ Hallo.” Suara Andry terdengar serak khas bangun tidur.
“ Eh kak Andry udah tidur ya. Maaf ya aku ganggu.” Ujarnya merasa bersalah.
“ Gapapa kok Fan. Kamu kenapa belum tidur?.” Andry balik bertanya.
“ Hehehe belum ngantuk kak.” Jawabnya cengengesan.
“ Jangan tidur larut malam, gak baik buat kesehatan.” Andry terdengar peduli.
“ Hehehe iya kak. Oh iya, selamat ulang tahun ya kak. Selamat 17 tahun. Semoga yang baik-baik menyertai kak Andry. Aamiin.” Ucap Fani.
“ Kok selamat ulang tahun kak Andry sih. Harusnya kan selamat ulang tahun sayangku.” Andry terkekeh dari kejauhan.
__ADS_1
Dug. Seketika nafas Fani terhenti mendengar ucapan Andry. Kata yang tak pernah terfikir untuk dia ucapkan dalam hubungan terpaksanya ini. Hatinya terasa luntang lantung memikirkan kata-kata itu. Apakah harus dia ucapkan?.
“ Kok diam sih. Mau dengar dong dipanggil sayang.” Sambung Andry terkekeh.
“ E.e.eh iy.iya kak.” Jawab Fani terbata-bata. Jantungnya masih berdetak kencang mendengar permintaan Andry.
“ Masa selama pacaran belum pernah panggil aku sayang sih?.” Andry terdengar mengiba.
Eh kau juga belum pernah memanggilku sayang. Dasar lelaki tak adil.
“ Hehehe. Selamat ulang tahun ya sayangku.” Fani tersenyum paksa saat mengucapkan kalimat ini.
“ Hehehe gitu dong. Terimakasih ya cintaku sayangku.” Jawab Andry. Ucapannya barusan benar-benar mengobrak abrik isi hati Fani. Perasaan bahagia bercampur geli saat mendengar ucapan itu. Untuk kali pertamanya mereka mengucapkan kata-kata yang ada dalam hubungan resmi.
“ Yaudah kamu tidur ya. Jangan begadang, walaupun besok libur.” Sambung Andry.
“ Iya kak.” Jawabnya singkat.
“ Hem.” Andry berdehem seolah tak suka dengan panggilan kakak.
“ Eh iya sayang.” Ucap Fani cengengesan.
“ Na gitu. Jangan panggil kak Andry lagi ya. Mulai sekarang panggil aku sayang.” Andry tertawa kecil.
“ Oke siap bos.” Fani menegaskan suara dan membuat gerakan hormat.
“ Yaudah tidur ya. Selamat malam kasihku. Love you.” Ucap Andry mengakhiri obrolan.
“ Love you too.” Jawab Fani singkat. Kemudian dengan cepat dia memutukan panggilan.
Fani memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Matanya terbelalak mengingat kejadian barusan. Dia mengucapkan kata-kata yang ada didalam kamus resmi berpacaran. Apakah detakan jantungnya menandakan dia mulai punya rasa kepada Andry? Yang jelas sekarang dia merasa gugup sekaligus bahagia dengan percakapan tadi. Merasa jika hatinya sudah mulai bisa menerima Andry dengan lapang hati. Bukan karena terpaksa dan pelarian lagi. Semua ketidaksukaannya pada sosok Andry dulu sudah mulai memudar dan berubah menjadi rasa nyaman.
__ADS_1
Aku bahkan benar-benar terjebak dalam permainanku sendiri. Apa ini wujud karma? Memutarbalikkan ketidaksukaanku menjadi sebuah rasa yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Memang hukum alam tiada yang tau. Hari ini aku benar-benar merasa nyaman dengan lelaki yang ku anggap pelarian, mungkin esok bisa jadi aku dipenuhi rasa cinta.