Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
perdebatan 2


__ADS_3

Andry masih belum menyelesaikan obrolannya, namun  Fani sudah mengakhiri sambungan telepon. Masih mencoba berbicara meskipun bunyi tutt..tuutt..tuttt… mendenging ditelingannya. Belum puas rasanya berdebat dan memaksa Fani untuk mengakui semua yang diasumsikannya. Mulutnya mengatup kesal, kedua tangannya mengepal dan memukul-mukul bantal. Bangun tidurnya langsung disuguhkan dengan perang tuduhan.


Pasti kau sedang bersama lelaki sialan itu kan. Kau bukan lagi Fani yang kukenal, sekarang kau sudah kelewatan. Kau sengaja mematikan telepon karena takut ketahuan kan? Lihat saja, aku akan membuktikan semua yang aku katakana.


Mencoba menelepon Fani lagi, melanjutkan perdebatan yang belum usai. Amarahnya semakin tak tertahankan ketika Fani berani menolak panggilan, rasanya ingin langsung menyusul dan menangkap basah Fani yang tengah berduaan dengan lelaki lain. Curiganya semakin merambat entah kemana-mana, curiga meracuni pikirannya, semakin jauh membayangkan yang bukan-bukan.


“ Kalau bisa udah aku susul sekarang, aku tanggap basah kau yang sedang berkencan. Tapi keadaan belum memungkinkan.” Gumamnya mengepalkan kedua tangan, menggenggam kuat selimut tebal yang masih menutupi tubuhnya.


“ Awas saja kau, minggu depan aku akan datang tanpa memberi kabar. Ku pastikan kau mati ketakutan kalau aku menangkapmu berduaan dengan lelaki lain.” Sambungnya. Giginya bergetar menahan kekesalan. Berulangkali tangannya kembali memukul-mukul ranjang.


Sementara ditempat lain Fani mencoba menenangkan diri, meredam emosi setelah perdebatan konyol tadi. Seleranya berbelanja mendadak hilang seketika, membiarkan Irma tetap sibuk memilih baju-baju yang


diinginkannya. Fani terduduk disebuah sofa, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya menekan kedua sisi kepala. Masih tak habis fikir dengan Andry yang akhir-akhir ini selalu curiga padanya. Kecemburuan dan kecurigaan Andry semakin berlebihan semenjak mereka menjalani hubungan jarak jauh. Ini adalah perdebatan terbesar mereka selama menjalin hubungan. Meskipun cemas dengan hubungannya, Fani juga tetap merasa kesal. Bagaimana tidak, Andry selalu saja menudingnya punya hubungan dengan Endrico. Padahal dia pun sama, mungkin juga punya hubungan dengan mantan sahabtanya yaitu Sophia.


“ Kau menuduhku, padahal kau yang bermain dibelakangku. Memang menuduh sebelum ketahuan adalah cara paling sering digunakan sipenjahat dalam hubungan.” Gerutunya menatap layar ponsel. Terpampang fotonya dengan Andry saling menatap dan bergandeng tangan. Karena kesalnya sudah tak tertahankan, Fani langsung mengganti wallpaper ponselnya dengan gambar lain. Enggan melihat wajah Andry meskipun dilayar ponsel.


Merusak pemandangan saja. Lebih baik ku lihat latar hitam dari pada wajahmu sekarang, hanya menambah kekesalan.


Dari kejauhan Irma menatap sahabatnya yang duduk dikursi sofa, menerka-nerka apa yang sedang terjadi sebenarnya. Menatap wajah murung itu, ingin mendekat tapi takut jika Fani sedang ada masalah yang berat. Akhirnya Irma mengurungkan niat dan tetap memilih-milih pakaian yang ada dihadapannya. Meskipun pikirannya meminta untuk mengabaikan masalah Fani, namun hatinya tetap tidak tenang ketika melihat wajah Fani yang muram. Irma berjalan mendekat, meletakkan kembali baju yang sudang dipegangnya tadi. Yang paling utama saat ini adalah menanyakan apa yang terjadi dengan Fani.

__ADS_1


“ Kamu kenapa Fan?.” Mendekat dan duduk disebelah Fani. Mengelus pundak Fani yang masih menunduk, tampak seperti orang yang dalam masalah besar. Hanya gelengan yang didapatnya sebagai jawaban. Mendongak pun Fani enggan.


“ Kenapa Fan? Kamu sakit? Kita pulang aja ya.” Sambungnya khawatir jika Fani mendadak sakit. Tangannya masih mengelus pundak Fani.


“ Gak apa-apa kok Ir, kamu udah selesai belanjanya?.” Jawabnya masih tertunduk. Akhirnya dia bersuara juga.


“ Gak jadi Fan, kita pulang aja ya. Kamu sakit kan? Istirahat aja Fan, ayo kita pulang.” Mencekam punda Fani dan membantunya untuk berdiri.  Tak ada jawaban apapun dari mulut Fani, hanya mengikuti instruksi dari sahabatnya. Berjalan pelan menuju parkiran, meninggalkan pusat perbelanjaan dan keramaian.


“ Kita pulang ya.” Ucap Irma sambil menyalakan mesin dan melajukan mobilnya pelan. Keluar dari area parkiran dan melaju dijalanan. Irma juga menyalakan musik dengan volume keras seperti waktu mereka dijalan mau pergi tadi. Berharap perasaan Fani menjadi lebih baik dan bersedia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


“ Ir, kita gak usah pulang deh. Aku masih ingin jalan-jalan.” Pintanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang ramai. Irma hanya menatap raut wajah wanita yang ada disebelahnya itu, kemudian menjawab dengan anggukan.


“ Duh ini matahari pas diatas kepala Fan, panas. Kamu kan lagi sakit, kita pulang aja ya. Kepantainya lain kali atau minggu depan deh.” Menunjuk matahari yang bersinar terang, terasa panas saat cahaya dari kaca menyentuh kulitnya. Kemudian diakhir memberi penawaran untuk kepantai minggu depan.


“ Gak kok, aku gak sakit Ir. Aku lagi bete aja, jadi pengen lihat yang adem-adem biar balik lagi mood aku.” Sahutnya, memberitahu jika alasannya diam sejak tadi adalah bete bukan sakit.


“ Lah bete kenapa Fan? Serius kamu gak lagi sakit?.” Tanya Irma memastikan keadaan. Takut jika Fani memang tengah sakit, kalau pingsan dipantai kan bikin susah aja.


“ Iya, udah deh jangan banyak tanya kita langsung kepatai aja.” Jawabnya dengan nada yang kesal karena banyak sekali pertanyaan Irma.

__ADS_1


“ Iya iya.” Dengan cepat tangannya memutar setir mobil, berbalik arah dan melajukan mobilnya menuju pantai sesuai keinginan gadis muda yang ada disebelahnya. Tidak ada pembicaraan lagi antara mereka, hanya suara musik dengan volume keras yang menemani perjalanan mereka hingga 45 menit kedepannya.


Irma sangat fokus menyetir, hingga tak sadar jika Sahabatnya sudah tertidur pulas. Mengurangi kecepatan mobil karena sudah mendekati area pantai, memarkirkan mobil dan membangunkan Fani yang tengah tertidur entah sejak kapan.


“ Woi bangun Fan, udah sampai ni.” Kedua tangannya menepuk pelan wajahh Fani yang dipenuhi riasan. Sudah berkali-kali dibangunkan, Fani tak kunjung sadar.


“ Ahh tidurlah kau sampai sore Fan. Yang penting sudah kubawa kau kepantai, meskipun hanya didalam mobil dan tertidur yang penting diarea pantai.” Gumamnya keluar dan meregangkan semua otot-otonya yang tegang. Hampir 10 menit Irma sudah berdiri diluar, angina kencang berkali-kali menghantam badannya yang agak berisi. Kembali lagi kedalam mobil dan membangunkan Fani yang masih saja tertidur pulas.


“ Woii Fani, bangun….” Tidak lagi menepuk dengan pelan, kali ini Irma berteriak ditelinga sahabatnya. Memang ampuh, sekali teriakan saja membuat Fani terperanjak dan membuka mata lebar.


“ Aaa setan.” Teriaknya latah, kaget karena teriakan Irma. Matanya terbelakak, dan mengedarkan pandangan kesekeliling, melihat-lihat dimana mereka sekarang.


“ Udah sampai ya Ir?.” Tanyanya sembari mengucek-ucek matanya, membuka pintu dan segera berlari keluar. Tidak sabar ingin menyapa lambaian pohon kelapa dan panggilan ombak pantai.


“ Parah sih ya, perjalanan 45 menit doang lo sampai ketiduran.” Sahutnya mengikuti Fani yang sudah sampai dibibir pantai.


“ Aaaa bagus sekali pantainya.” Ucap Fani sembari merentangkan tangan dan menghirup dalam udara segar. Pantai memang tempat yang paling disukainya, indah, nyaman dan tenang. Seketika kesalnya berubah kembali  menjadi ceria.


Ketika kau mengobrak-abrik perasaanku, semesta dengan segera memperbaikinya. Kembali utuh seperti semula, ceria dan bahagia. Semoga kau juga ya.

__ADS_1


__ADS_2