Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Merahasiakan Dari Sophia


__ADS_3

Pagi ini Fani ke sekolah bersama sahabatnya Sophia. Sepanjang jalan Fani hanya diam cemas memikirkan akibat dari perbuatannya kemarin. Memikirkan bagaimana caranya menghadapi kemarahan Sophia nantinya. Sepeda motor Sophia sudah memasuki pekarangan sekolah, dari jauhu terlihat Andry baru saja keluar dari mobil berwarna hitam milliknya.  Fani berusaha menghindar agar Andry tak melihat dirinya.


“ Yuk Sop, gue butru-buru nih. Ada tugas yang belum selesai.” Fani segera turun dari motor dan mengajak Sophia bergegas menuju kelas.


“ Iya sabar dulu dong kampr*t.” Sophia meletak kan helm dan mengikuti langkah kaki Fani.


“ Tunggu dong. Cepat banget sih jalan lo, kayak setan gak nginjak bumi.” Sophia setengah berlari mensejajari langkah Fani.


“ Buruan dong.” Fani menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


Mereka berjalan menyusuri koridor, mempercepat langkah menuju kelas mereka yang berada diujung. Fani semakin mempercepat langkahnya saat mendekati pintu kelas dan segera duduk dikursi miliknya. Nafasnya memburu, tersengal-sengal. Sesekali dia menarik nafas panjang untuk mengatur pernafasannya. Begitupun dengan Sophia, dia langsung berjalan menuju tempat duduknya yang cukup berjarak dengan Fani.


“ Parah lo ya Fan, gue jadi ikutan gak nginjak bumi ni saking buru-burunya.” Sophia menghempaskan bokongnya dikursi kayu itu. Nafasnya juga tersengal-sengal.


“ Ini hidup dan mati gue. Bisa disuruh pulang gue nanti kalau tugas belum selesai.” Fani mengeluarkan sebuah buku dan kotak pensil. Sebenarnya dia sudah menyelesaikan tugasnya dari minggu kemarin. Hanya saja tugas jadi alasannya untuk menghindari Andry saat diparkiran tadi.


“ Tumben seorang Fani gak bikin tugas. Biasanya juga lo yang nyari-nyari tugas.” Ketus Sophia seakan tak percaya. Fani hanya menatap sinis dan mulai berpura-pura menulis diatas buku.


Sophia menatap layar ponselnya, melihat foto-fotonya kemarin. Tiba-tiba Sophia menemukan sebuah foto screenshootan panggilannya dengan Andry. Sengaja dia screenshoot untuk menjadi bukti jika dia telah bertukar kontak dengan pria itu. Pria yang menjadi bahan taruhannya dengann Fani. Sophia menimbang-nimbang apakah ini adalah waktu yang pas untuk menyatakan kekalahan Fani dalam tantangan ini.


“ Udah genap dua minggu nih taruhannya berjalan. Mungkin udah boleh lah ya gue nyataian kalau gue menang dan dia kalah telak.” Gumamnya.


“ Bahkan Sophia yang beruntung ini hanya butuh waktu kurang dari dua minggu untuk menangkap mangsa hehehe.” Sophia terkekeh kecil. Membayangkan reaksi Fani saat dinyatakan kalah telak dalam pertaruhan ini.


“ Yaudah, gue kasih kejutannya nanti ajadeh waktu jam istirahat. Kasian juga tu anak lagi fokus bikin tugas. Nanti malah gak selesai lagi karena meratapi kekalahannya.” Gumamnya sambil tersenyum bahagia.


Tak lama kemudian bel berbunyi dan guru sudah masuk untuk memulai pelajaran. Sophia dan Fani mengikuti proses pembelajaran dengan sangat baik. Mendengarkan dan mencoba memahami semua yang dikatakan guru.


*******

__ADS_1


Bel istirahat sudah berbunyi. Fani bergegas memasukkan barang-barang kedalam tas berwarna pink miliknya. Kemudian melangkah mendekati Sophia untuk mengajaknya kekantin bersama.


“ Buruan. Kantin gak lo?.” Fani mendekati Sophia yang asyik dengan ponselnya.


“ Iya sabar dong.” Sophia beranjak dan mengikuti langkah Fani menuju kantin.


“ Hari ini gue yang traktir ya.” Sophia menurun naikkan alisnya dan tersenyum bahagia.


“ Tumben amat lo traktir. Ada apaan?.” Fani menatap Sophia kebingungan.


“ Karena gue lagi senang hahaha.” Sophia tertawa dan menepuk-nepuk pundak Fani yang ada disebelahnya.


 Fani tak menjawab apapun, hanya menerka-nerka apa yang membuat manusia yang ada disebelahnya begitu bahagia. Sementara Sophia tersenyum layaknya orang gila, dipikirannya hanya ada wajah murung Fani saat dinyatakan kalah dalam pertaruhan ini. Mereka membeli beberapa makanan dan minuman dikantin. Sophia membayar dan mereka segera kembali menuju kelas.


“ Duduk disini ajadeh.” Fani menunjuk kursi miliknya. Sophia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Fani. Mengambil kursi sebelah dan duduk mendekati Fani.


“ Eh Fan, gimana sama taruhan kita?.” Sophia mulai membahas masalah taruhan.


“ Minum dulu. Kok tiba-tiba batuk sih.” Sophia menyodorkan sebotol air mineral kepada Fani.


“ Makanya kalau makan tu baca do’a dulu.” Sophia terkekeh dan memasukkan beberapa kue kedalam mulutnya.


“ Keselek gue.” Fani berdalih. Hanya menunduk dan perlahan menggigit kembali sosis bakar yang ada ditangannya. Seluruh ruang hatinya dipenuhi kecemasan, membayangkan reaksi paling buruk dari Sophia saat mengetahui jika dia dan Andry telah resmi berpacran. Bukan hanya bertukar kontak, namun ini sudah melewati ambang batas pertaruhan mereka.


“ Fan, lo udah siapa terima kenyataan belum?.” Sophia menatap penuh kesombongan. Sebelah bibirnya menyungging keatas dan tersenyum jahat.


" Maksudnya?.” Fani berpura-pura tak tahu dengan maksud Sophia.


“ Ini kan udah genap dua minggu setelah lo menyetujui pertaruhan diantara kita. Jadi gue mau tau lo udah tukeran kontak belum sama kak Andry?.” Sophia mendekatkan wajahnya dengan Fani dan terkekeh.

__ADS_1


“ Hmm.” Fani hanya berdehem. Lalu menunduk kan wajahnya menjauhi wajah Sophia.


“ Hahahaha udah gue duga. Keberuntungan emang berpihak pada orang yang punya rasa.” Sophia tersenyum bahagia. Seolah mengetahui jika Fani memang tak mungkin menang dalam pertaruhan ini.


“ Ini pasti tantangan paling sulit bagi lo ya Fan. Secara lo kan gak suka lihat lelaki yang jadi target taruhan kita.” Sophia kembali terkekeh.


Fani hanyadiam dan tak menjawab sepatah kata pun. Pikirannya luntang-lantung membayangkan kemarahan Sophia yang entah berujung atau tidak nantinya. Pandangannya tertuju pada ponsel yang dia letakkan diatas meja. Pikirnya mungkin akan lebih baik mengaku kalah saja, lalu merahasiakan ini rapat-rapat dari Sophia.


“ Mungkin sebaiknya aku ngaku kalah ajadeh. Aku rahasiakan hubungan gila ini nantinya. Kalau ada waktu yang pas secepatnya aku putusin Andry.” Gumamnya dalam hati.


Sophia berjalan menjauhi Fani, berjalan menuju mejanya dan mengambil ponsel dari tas. Kembali berjalan mendekati Fani yang tengah duduk menikmati makanannya.


“ Sorry ya Fan gue harus bilang sekarang. Seharusnya sih dari beberapa hari yang lalu gue bilang ini ke lo. Tapi kasian lo baru sembuh kemarin.” Sophia duduk mendekati Fani, hampir tak berjarak.


“ Apaan sih?.” Tanya Fani bingung.


“  Ini lihat. Sorry ya Fan gue harus bilang kalau gue udah menang telak.” Mendekatkan ponsel kewajah Fani dan menunjukkan screenshootan panggilannya dengan Andry. Fani tak memberi reaksi apapun, karena sebelumnya beberapa kali Sophia pernah mengatakan jika Andry menelfonnya.


“ Sorry Fan. You lose !.” Sophia terkekeh seolah menertawai kekalahan Fani.


“ Iya gue kalah. Terus lo mau apa sekarang?.” Jawabnya santai.


“ Akhirnya lo ngaku kalah juga hahaha. Coba kalau lo juga suka sama Andry, pasti kemenangan cukup bingung mau hinggap dimana.” Sophia tak henti-hentinya tertawa.


“ Ah ogah!.” Jawabnya ketus.


“ Karena lo kalah, lo harus jajanin gue selama satu  minggu full. Etss taka da bantahan.” Sophia meletkkan jari telunjuknya dibibir Fani. Agar Fani tak berbicara yang menyatakan penolakan.


“ Akhirnya lo bisa kalah juga ya Fan.” Sophia menepuk pundak Fani berkali-kali.

__ADS_1


“ Karena sebenarnya gue juga gak terlalu tertarik sama pertaruhan ini.” Fani menjawab seolah jika dia sengaja mengalah dari sahabatnya itu.


Karena bel sudah berbunyi, Sophia kembali ketempat duduknya sambil tertawa kecil berulang kali. Benar-benar bahagia atas kemenangan yang sebenarnya adalah kekalahan baginya. Sementara Fani terduduk diam, harus menumpuk kebohongan demi menutupi kebenaran. Entah sampai kapan kebohongan ini akan bertahan.


__ADS_2