
Tok .. tok .. tok…
Devi mengetuk pintu Andry. Tadi saat makan siang bersama semua membahas masalah Andry yang akan pergi menemui Fani, namun tidak satupun melihat Andry berangkat atau pun izin. Tidak izin kepada ayah dan bundanya. Karena merasa ada yang kurang beres akhirnya Devi berinisiatif untuk melihat dan mengecek kamar Andry entah-entah dia tidak jadi pergi.
“ Apa dia sudah pergi ya?.” Gumam Devi merasa ragu untuk mengetuk kembali pintu kamar Andry. Namun karena rasa penasaran, Devi tetap mengetuk lagi. Pasalnya sejak tadi dia sudah mencoba menghubungi Andry namun tidak aktif dan berada diluar jangkauan. Itu yang menyebabkan kekhawatiran ayah, bunda dan juga dirinya.
“ Kemana sih ni anak? Masa sih pergi gak izin sama ayah bunda. Mana ponselnya mati lagi.” Lanjutnya terus mengetuk pintu kamar Andry.
Melihat tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, Devi akhirnya menekan handle pintu dan memilih untuk langsung masuk saja kedalam kamar, memastikan dimana keberadaan adiknya yang sejak tadi membuat bingung satu keluarga. Namun baru saja membuka pintu Devi sudah dibuat kaget dengan kamar Andry yang berserakan. Ada bantal dan guling dimana-mana. Ada jam, buku, robekan kertas hingga ponsel yang mendarat dilantai. Seperti baru saja kemalingan, semua berserakan memenuhi ruangan kamar.
“ Ya tuhan, ada apa ini. Apa yang terjadi dengan kamar ini? Kenapa semua berserakan seperti baru saja kemalingan.” Ucap Devi menggereutu melihat kamar Andry yang sangat berantakan. Berjalan langkah demi langkah, mengabmbil satu persatu barang dan meletakkan kembali pada tempatnya. Kemudian beralih mengambil ponsel Andry yang terlempar jauh hingga kesudut kamar, mencoba menerka-nerka apa yang terjadi hingga dia
membanting semua barang-barang yang ada dikamarnya.
“ Hei bangun.” Devi mendekati Andry yang bergulung dan bernaung didalam selimut. Mencoba memastikan keadaan sang Adik, takut terjadi apa-apa padanya. Melihat dari kamarnya yang begitu berantakan, karena Andry tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Sudah berkali-kali Devi menggoyang-goyangkan tubuh Andry dan memanggil-manggilnya, namun Andry tak kunjung bangun. Hanya menggeliat kesana-sini seperti Devi menimang-nimang agar tidurnya semakin nyenyak. Devi menyapu pandangannya menyusuri seisi ruangan, menatap apa saja yang ada dikamar Adinya. Namun pandangannya tiba-tiba terfokus pada lembaran-lembaran kertas yang tampak seperti robekan-robekan. Devi beranjak dan mengambil robekan-robekan kertas yang mendarat dibeberapa barang-barang dalam kamar. Mencoba melihat apa isi kertas tersebut, betapa terperangaknya Devi ketika mendapati kertas tersebut adalah tiket pesawat milik Andry. Masih bingung kenapa sang adik merobek tiket dan tidak jadi pergi menemui Fani.
“ Apa yang terjadi hingga dia merobek tiket ini? Apa dia membatalkan penerbangannya? Ah tidak mungkin. Melihat dari bentuk kamarnya yang berantakan saja aku sudah bisa menilai jika dia sedang berkelahi dengan kekasihnya hingga dia sefrustasi ini? Tapi ini beneran Andry adek gue kan? Sebelumnya dia tidak pernah begini, apa karena ini pertama kalinya dia punya kekasih?.” Gumamnya dalam hati. Mencoba mengumpulkan beberapa asumsi yang menujukkan kebenaran dibalik kejadian yang sebelumnya tidak pernah terjadi ini.
__ADS_1
Devi kembali mendekati Andry, terus membangunkan hingga Andry tersadar dan membuka matanya pelan. Tampak wajah Andry yang sangat kelelahan, matanya memerah dan tampak lingkar hitam. Seperti orang yang begadang dan bekerja keras semalaman. Andry hanya menatapnya kosong, sementara Devi menatap sang adik penuh dengan rasa kebingungan. Seolah meminta jawaban ini ada apa? Ini kenapa? Kenapa kau masih disini? Bukankah harusnya kau sudah pergi menemui Fani? Lihatlah tubuhmu masih menempel dengan kasur.
“ Hei, lo baik-baik aja kan? Lo gak lagi kesambet kan? Lo gak sakit kan?.” Ucap Devi menyerang Andry dengan
pertanyan. Mumpung matanya sudah terbuka, dia tidak sabar ingin mendengarkan alasan dibalik kamarnya yang berantakan.
“ Hei. Lo kenapa sih? Lo masih Andry kan?.” Lanjutnya terus mengoceh dan bertanya. Sementara Andry hanya diam menatap Devi dengan tatapan kosong.
“ Wah kesambet ni. Gue harus panggil ayah dan bunda, atau nanti anak laki-lakinya sudah dibawa kedunia lain.” Ucapnya kali ini terdengar cemas. Beranjak dan ingin segera meninggalkan Andry, ingin memanggil kedua orang tuanya dan meminta mereka untuk melihat keadaan anak laki-lakinya. Namun baru saja hendak melangkah, tangan Devi tiba-tiba dipegang dan digenggam kuat oleh Andry yang masih diam dan tidak bergeming. Menambah ketakutan dalam diri Devi, semakin kuat dan erat Andry menggenggam tangan sang kakak. Devi hanya bisa diam dan menggigil ketakutan, kakinya mencoba melangkah namun Andry semakin kuat menggenggam hingga tidak sanggup lagi akhirnya Devi berteriak kencang hingga memenuhi seisi ruangan bahkan seisi rumah.
“ Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa tolong.” Ucapnya berteriak kencang. Tidak ingin menatap Andry yang disangkanya sedang kesurupan.
“ Huffhhh lo ih bikin gue takut aja.” Ketusnya kesal. Berbalik dan mengelus-elus dadanya pelan. Mengatur nafasnya yang memburu kencang. Sudah hampir mati ketakutan.
“ Ngeselin tau gak sih.” Lanjut Devi yang kemudian memukul-mukul Andry yang beranjak dari ranjang. Berjalan menuju kamar mandi untuk buang air.
“ Ah berisik lu.” Jawabnya tak kalah ketus. Terus melangkah meninggalkan sang kakak dan masuk kedalam kamar mandi.
“ Kenapa kamar lo berantakan gini sih dek?.” Teriaknya. Tidak tahan lagi jika harus menunggu sang adik keluar dari kamar mandi, dia harus mendapatkan jawaban segera.
__ADS_1
“ Hei lo masih hidup kan? Atau lo kesurupan didalam kamar mandi?.” Lanjutnya berteriak lebih kencang, semakin kesal karena sang adik lagi-lagi mengabaikannya.
Devi menunggu Andry keluar dari kamar mandi, sambil mengambil barang-barang yang berserakan dilantai. Kemudian juga merapikan tempat tidur Andry yang sangat berantakan, sudah bukan seperti manusia normal. Sembari berkemas-kemas, Devi memilah beberapa pertanyaan yang paling tepat untuk diajukan kepada Adiknya nanti. Tidak ingin terkesan kepo, tapi ingin tahu juga. Mencari cara agar sang adik secara tidak langsung terbuka dan bercerita semua kejadian yang sebenarnya.
Hihihihi pasti kau ada masalah dengan Fani kan? Makanya kau menjadi segila dan sefrustasi ini.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, tampak sosok Andry berjalan mendekat dan kembali menghamburkan tubuhnya diatas ranjang. Menarikk nafas panjang dan memarahi sang kakak yang tiba-tiba ada dikamarnya.
“ Ngapain lo dikamar gua? Sana lo keluar.” Ketusnya mengusir Devi agar segera keluar dari kamarnya. Menatap
dengan tatapan sinis dan kemudian kembali bernaung dibawah selimut, ingin melanjutkan tidurnya.
“ Heh lo ya udah gue bantuin beresein kamar lo bukannya bilang terimakasih malah lo ngusir gue, huh dasar tidak tau diri.” Ketusnya kesal karena diusir oleh Andry, padahal dia kesini juga untuk memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.
“ Udah deh sana lo keluar, jangan ganggu gue.” Lanjut Andry tetap mengusir sang kakak agar segera pergi dari kamarnya. Namun dia tetap bernaung dibalik selimut dan enggan menatap sang kakak yang membangunkan tidurnya.
“ Heh bukannya jadwal keberangkatan lo jam 7 pagi ya? Terus kenapa lo masih malas-malasan disini? Lo reschedule?.” Ucap Devi sembari mendekat dan duduk dipinggir ranjang. Mulai bertanya untuk mengorek informasi dari adiknya. Berharap Andry akan terbuka dan menceritakan semua keluh kesahnya.
“ Mau tau aja lo urusan gue, udah sana keluar.” Ketus Andry. Kali ini dia bangun dan mendorong-dorong sang kakak agar keluar dari kamar. Meskipun Devi enggan namun Andry tetap memaksa dan mendorong sang kakak hingga keluar dari kamar, kemudian mengunci agar tenang dan tidak lagi diganggu oleh manusia menyebalkan.
__ADS_1
“ Andry bukaa.” Sahut Devi sambil mengetuk-ngetuk pintu. Terus saja mengetuk pintu dan memanggil Andry agar membukan pintu. Tidak digubris, Andry mengabaikan dan memilih menutup telinga dengan bantal dan meneruskan tidurnya yang sempat terputus.