
Mantari bersinar cerah pagi ini, secerca cahaya masuk dari celah-celah jendela, mengetuk kelopak mata Fani, memaksanya untuk bangun dan menyapa dunia. Hingar dan bingar kicauan burung menghiasi langit biru hari ini. Perlahan Fani membuka mata dan meregangkan otot-otot tubuhnya. Beranjak dan membuka hordeng kamarnya, menatap suasana pagi yang indah dan nyaman. Menyejukkan, berbeda dengan rumah lamanya. Disini lebih dingin dan asri, meskipun sama-sama ditengah kota namun rumah barunya lebih rindang karena banyak pepohonan. Fani menghirup udara bebas, menatap langit terang, libur yang cukup menyenangkan.
“ Duh mau main kemana ya hari ini biar gak bosan.” Berjalan dan duduk dimeja rias, menatap wajah bangun tidurnya. Masih kusam dan sembab, berminyak dan gelap. Kedua tangannya menyentuh pipi, meraba-raba wajah yang kusam dan berminyak itu, dahinya mengerut dan terkekeh geli. Beranjak menuju kamar mandi. Hanya butuh waktu 10 menit untuk Fani menyelesaikan mandi, bergegas keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Bibirnya bergetar kedinginan, dengan cepat dia mengenakan pakaian.
“ Telepon Irma aja deh.” Melangkah dan duduk dimeja rias, mengambil ponselnya yang sejak tadi malam dia letakkan diatas meja. Menyalakan, terlihat beberapa panggilan dan pesan dari sang lelaki yang ditunggu-tunggunya sejak tadi malam. Fani Memilih untuk mengabaikan pesan dan memulai panggilan dengan Irma. Irma Adarna adalah teman dekatnya disekolah, meskipun baru beberapa minggu disini Fani sudah sangat akrab dengan Irma. Selain Endrico, Irma juga adalah tetangga satu komplek Fani. Sehingga mudah untuk mereka bertemu dan bermain bersama.
“ Hallo, dimana? Bosen nih, kita jalan-jalan yuk.” Sahutnya ketika telepon terhubung.
“ Hallo, gue dirumah aja nih baru banget bangun tidur hehehe.” Jawabnya dari dalam telepon.
“ Hem mau kemana sih? Gue mandi dulu deh, kemananya nanti aja dipikirin kalau gue udah sampai dirumah lo.” Sambungnya mengakhiri telepon.
“ Oke aku tunggu ya, bye.” Memutuskan sambungan telepon. Kembali fokus menatap kaca dihadapannya, mengeringkan rambut dan menyisir pelan. Meraih kembali ponsel yang diletakkannya diatas meja, memeriksa pesan-pesan dari Andry yang sempat dia abaikan tadi. Meskipun tadi malam dadanya dipenuhi rasa kesal, pagi ini dia seolah sudah bisa melupakan dan memaafkan.
__ADS_1
Ku kira sudah lupa sama pacarnya. Hihihi sudah lama dia gak nyepam sebanyak ini, aaa kangen.
Fani membaca satu-persatu pesan dari Andry, berisi permintaan maaf dan ucapan selamat malam. Diakhir ada kata cinta dan gambar hati yang melengkapinya, seketika wajahnya tersenyum malu, berubah menjadi merah merona. Kesalnya mendadak hilang setelah membaca pesan-pesan manis dari sang pangeran.
“ Aaa kau manis sekali, aku kan jadi makin kangen.” Gumamnya senyum tersipu malu, masih menatap layar ponselnya yang dipenuhi pesan-pesan dari Andry.
“ Jadi pengen balik kesana lagi.” sambungnya lirih. Wajahnya tampak sedih, matanya berkaca-kaca kala mengingat kenangan-kenangan lama. Berlaih ke menu galeri, membuka foto-foto kebersamaannya dengan teman-teman sekolah, paling banyak foto bersama Sophia. Pagi yang cerah berubah menjadi sendu, harusnya pergi bersenang-senang malah menjadi kilas balik kenangan. Satu persatu ditatap dengan tenang, matanya semakin berlinang. Semua foto-foto kekonyolan dirinya dan Sophia saat awal masuk sekolah, tanpa malu dan tanpa kata canggung. Namun sekarang hanya bisa diingat, entahlah mungkin bisa diulang.
Sophia, aku rindu. Kenapa kau jauhi bahkan paling sadis kau memusuhiku hanya karena masalah lelaki. Aku rindu, entahlah ini bisa diulang kembali.
Aku juga rindu kau hei si lelaki sok kegantengan, aku benci tapi aku juga cinta. Aa aku kangen sekali, apa kita masih bisa terus menjalin temu meskipun sudah berbeda kota?
Dalam sedih harunya menatap foto-foto bersama Andry dan bersama Sophia, tiba-tiba Fani teringat dengan sesuatu yang menyulut emosinya tadi malam. Dengan lincah jempolnya menggeser dan beralih keakun sosial media dimana terdapat foto mesra Andry dan Sophia yang diunggah sang pemilik akun. Harunya seketika berubah menjadi gerutu yang seolah tiada habisnya. Mengutuk Sophia yang berani bersender dibahu Andry, mengutuki Andry yang tersenyum bahagia didepan kamera.
__ADS_1
“ Menyebalkan kalian berdua, apa yang terjadi antara kalian ha? Atau jangan-jangan selama ini aku yang menjadi korban permainan kalian berdua? Ini drama atau nyata sih?.” Gerutunya menekan-nekan kuat layar ponselnya.
“ Aaaa kesal, kesal kesal!.” Sambungnya melemparkan ponsel kesudut ranjang, beranjak keluar kamar dan memilih untuk menyantap sarapan yang ada dimeja makan. Meskipun wajahnya ditekuk kesal, Fani tetap masih berselera makan.
**
Sophia bangun kesiangan hari ini, tidak ada yang membangunkan. Kedua orang tuanya keluar kota sejak kemarin, jadi hanya ada dia sendiri dirumah. Kedua tangannya diangkat dan ditarik kuat keatas, meregangkan otot-otot tubuhnya yang lelah tertidur semalaman. Sophia meraih ponsel yang dilempar menjauh darinya tadi malam. Meskipun masih tersisa kesal dan sesal dihatinya, Sophia tetap memberanikan diri mengecek ponselnya.
“ Kalau buka ni hp jadi malu, kesal. Kira-kira Ardi ngomong sama Andry gak ya soal yang tadi malam?.” Gumamnya. Menyalakan ponsel dan membuka kembali unggahannya. Awalnya Sophia sudah putus asa jika postingannya tidak akan dilihat oleh mantan sahabatnya, namun ketika dia ingin menghapus unggahan tersebut Sophia kaget karena ada satu penonton. Senyumnya seketika mekar, jika ada penonton sudah dipastikan itu alah Fani. Benar saja, Fani telah melihat postingannya.
“ Aaaa ternyata kau sudah melihatnya. Ternyata kau masih menyimpan kontak ku, aaaaa senangnya.” Sambungnya sembari tersenyum gembira dan melompat-lompat diatas ranjangnya, seperti anak kecil yang senang dibelikan mainan.
“ Kalau tau gini sih gak perlu aku tanyain ke Ardi tentang lo Fan. Kan aku jadi malu. Hemm kira-kira Ardi kasih tau ke Andry gak ya tentang pesan aku yang tadi malam?.” Seketika menghempaskan bokongnya hingga terduduk diranjang, cemas jika Ardi memang mengatakan sesuatu kepada Andry.
__ADS_1
“ Hufhh tenang-tenang Sophia, anggap saja Ardi tidak mengatakan apa-apa. Jangan rusak kesenanganmu pagi ini.” Ucapnya mencoba menenangkan diri dan diakhiri tawa bahagia.
Aahahaha apa kabar lo Fan? Sedih? Marah? Cemburu? Atau kau sedang menangis dan memukul-mukul ranjang sejak tadi malam. Aku pikir aku yang akan menangis tersedu-sedu karena misi ku gagal. Aku harap kau marah melihat foto ini, eh baru satu ya, aku masih punya beberapa lagi. Tunggu saja kejutan-kejutan selanjutnya, aku pastikan darahmu mendidih marah.