Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Liburan Dirumah Nenek


__ADS_3

Fani dan keluarganya sudah tiba dirumah neneknya. Fani segera mengangkay barang dan meletakkan dikamar. Fani berlari memeluk nenek yang sudah berapa bulan tak ia temui. Semua berkumpul dirumah berukuran besar itu. Nenek menyambut mereka semua dengan makanan-makanan kampung.


“ Nek, aku mau ke sawah yang diujung kampung ya.” Ujar Fani sambil menyantap makanan kampung buatan nenek yang enak.


“ Iya, nanti nenek antar.” Sahut wanita tua disebelah Fani.


“ Gak usah nek. Nenek dirumah aja aku bisa pergi sendiri kok. Sekalian mau lihat-lihat keadaan kampung.” Sambungnya tetap menyantap makanan.


“ Ikut gak bang?.” Tanya Fani kepada Joo. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mengunyah makanan.


Setelah selesai makan dan membersihkan piring-piring, Fani berjalan mengelilingi pekarangan rumah. Menikmati udara perkampungan yang segar dan nyaman. Duduk dikursi yang berada dihalaman belakang rumah nenek, melihat hamparan sawah yang hijau dan menenangkan.


“ Loh gak jadi kesawah yang diujung kampung Fan?.” Suara nenek mengejutkan Fani.


“ Iya nek, bentar lagi.” Jawabnya tersenyum.


“ Jangan lupa kunjungi rumah paman mu. Pasti dia sangat rindu. Ada Rafi juga disini.” Sambung wanita tua itu.


“ Bang Rafi ada disini nek?.” Berdiri dan bertanya dengan girang. Neneknya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


“ Aaaa aku pergi dulu ya nek.” Dengan wajah girang berlari meninggalkan nenek dan pemandangan indah itu.


“ Lah malah kesenengan.” Menggeleng melihat tingkah cucu wanita satu-satunya itu.


Fani sudah berlari cukup jauh, nafasnya tersengal-sengal dan melemah. Memutuskan untuk berjalan pelan saja sambil menikmati hamparan sawah yang luas. Mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar yang keren, kemudian mengirim pada kekasihnya.


“ Sayang? Indah kan?.” Tulisnya menemani foto yang dikirimnya itu.

__ADS_1


“ Aku tunggu ya, kamu harus menikmati keindahan perkampungan.” Tulisnya lagi.


Fani berjalan sambil sesekali berhenti dan mengambil gambar yang ia sukai. Mulai dari hamparan sawah, burung yang berterbangan dilangit, petani yang menyemai dan sebagainya. Pemandangan yang tak pernah dia lihat diperkotaan. Fani juga menyapa semua orang yang ditemuinya dijalan, meskipun tidak kenal Fani tetap tersenyum sopan. Fani mempercepat langkahnya saat mengingat sosok lelaki yang disebutkan neneknya tadi. Fani berhenti disebuah rumah berwarna coklat dan cukup besar. Melirik-lirik apakah ada penghuninya atau tidak. Fani mengelilingi rumah berwarna coklat itu, namun tak melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Fanimencoba mengetuk  pintu berulang kali dan memanggil si pemilik rumah. Nihil, sama sekali tidak ada jawaban.


“ Aaaa udah capek lari-lari malah yang dicari gak ada dirumah.” Berjalan dengan muka kesal dan ditekuk. Berharap kedatangannya akan membuat Rafi terkejut, nyata nya hanya sekedar harapan.


“ Yaudah pulang ajadeh. Udah mau sore juga.” Melangkah menjauhi rumah berwarna coklat itu. Berjalan menyusuri jalanan kampung yang miskin polusi. Kadang berdecak kagum saat melihat beberapa orang menyemai, ada pula yang menanam.


“ Duduk disini ajadeh.” Berhenti disebuah gubuk milik warga. Menikmati angin sepoi-sepoi yang menyegarkan dan menatap sejuk hamparan sawah yang hijau. Fani benar-benar mencintai pemandangan ini.


“ Video call Andry aja deh. Mau pamer bentuk sawah.” Gumamnya sambil terkekeh. Pikirnya pasti Andry belum pernah melihat hamparan sawah yang seluas ini.


“ Hai sayang.” Sahut Andry saat panggilan video terhubung.


“ Kamu lagi dimana?.” Tanya Andry lagi saat Fani mengarahkan kamera ke sawah yang terbentang luas.


“ Eh maaf ya. Aku udah pernah lihat yang begituan.” Protesnya tak terima diejek Fani.


“ Bohong. Kamu kan anak kota. Dikota gak ada hamparan sawah yang luas begini.” Lagi-lagi dia tertawa dan mengejek Andry.


“ Ga percaya ya udah.” Jawab Andry terdengar kesal. Fani tak bisa menahan gelak tawanya saat melihat Andry menekuk wajahnya kesal. Biasanya dia yang dibuat kesal, sekarang malah dia yang buat kesal.


“ Gemesh.” Menirukan gaya bicara Andry ketika merasa gemas dengan dirinya. Kemudian diikuti tawa yang lebih keras. Suaranya yang keras terbawa angin entah kemana.


“ Kamu kapan mau kesini sayang?.” Sambungnya bertanya. Tak lagi memnertawakan lelaki yang tampak kesal itu.


“ Gak mau. Aku gak jadi kesana. Udah ya bye.” Andry terdengar mengingkari janjinya dan ingin mengakhiri telepon.

__ADS_1


“ Ih kok malah gak jadi sih?.” Gerutunya berbalik kesal.


“ Gak tau. Udah ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Fani lagi, Andry langsung memutuskan sambungan.


Fani semakin menggerutu kesal, niatnya ingin membuat Andry kesal tapi malah jadi senjata makan tuan. Menghentak-hentakkan kakinya kesal karena Andry mengingkari janjinya. Fani beranjak dan kembali melangkah pulang menuju rumah nenek yang cukup jauh. Mukanya ditekuk karena kesal, namun ketika bertemu warga Fani langsung mengubah mimik mukanya. Kembali tersenyum manis dan sopan.


“ Awas aja kalau aku udah balik ke kota ya. Aku pastikan kamu yang memohon-mohon minta ketemu.” Gumamnya kesal dan berniat memberi pelajaran kepada kekasihnya itu.


Langkah kaki Fani semakin pelan, padahal rumah nenek hanya tinggal beberapa 100 meter lagi. Fani menyeret tubuhnya pelan, benar-benar tak tahan lagi. Fani mencoba menarik nafas dan mempercepat langkah kakinya.


“ Hufhh udah lama gak jalan kaki, capek banget.” Duduk ditangga depan rumah nenek. Menghela nafasnya yang tersengal-sengal. Hembusan nafasnya berpacu dengan kicauan burung dipersawahan depan. Fani beranjak dan masuk kedalam kamar.


“ Gerah juga ya jalan kaki pakai mode kesal. Bisa cepat kurus kalau begini terus nih.” Gumamnya menyalakan kipas dan tertidur diranjang. Kakinya merasa pegal karena berjalan cukup jauh, matanya pun mulai mengantuk. Fani memejamkan mata nya dan memilih untuk tertidur. Melupakan rasa lelah dan kesal yang dibawanya.


**********


Andry tak dapat menahan gelak tawanya setelah sandiwara tadi. Selalu saja berhasil membuat Fani kesal. Dia berulang kali mengelus perutnya yang sakit karena terlampau banyak tertawa.


“ Maafkan aku sayang. Kau terlalu menggemaskan.” Gumam nya sambil menatap foto Fani.


Andry mencari kontak Joo dan mengirim pesan. Mengatakan jika dia akan berkunjung ke rumah nenek dan memberi Fani kejutan. Andry juga meminta Joo untuk merahasiakan hal ini. Tak lupa dia juga menceritakan kejadian lucu barusan. Gadis kecil yang malang, alih-alih membuat orang kesal malam dia yang kesal. Kedua lelaki itu saling tertawa terbahak-bahak saat menceritakan tentang Fani yang menggemaskan. Andry mengakhiri obrolan dan menutup sambungan telepon.


“ Tunggu kejutan dari aku sayang.” Gumamnya sambil menatap wajah Fani yang menjadi wallpappernya.


“ Aku akan menggigitmu.” Andry menggeram sendiri membayangkan betapa menggemaskan wajah Fani ketika sedang kesal.


“ Aku bawa apa ya besok.” Andry duduk dipinggir ranjangnya dan mulai berfikir akan membawa apa besok.

__ADS_1


Memikirkan beberapa opsi untuk dibawanya mengunjungi kekasih keluarganya itu. Tentu saja juga memikirkan tentang sebuah kejutan untuk membuat kekasihnya tersenyum senang.


__ADS_2