
Sudah 5 menit berlalu, namun Sophia belum juga kembali. Suasana semakin canggung antara dua manusia ini. Atmosfer diruangan itu serasa berubah, tegang dan canggung. Fani membuang pandangan nya kesebelah, sementara Andry hanya menggulung-gulung kain diujung bantal.
" Kenapa gue malah terjebak dalam suasana canggung begini sih." Batin Andry sambil tangannya tetap menggulung-gulung tepi bantal.
" Temennya juga kok belum balik ya." Sambungnya.
Didalam hati Fani merasa bingung dengan semua ini. Bertanya-tanya mengapa Andry begitu perhatian dengannya, pikiran menjalar entah kemana-kemana. Batinnya bergejolak seakan-akan tak terima dengan akhir dari pikirannya.
" Wah apa jangan-jangan dia sengaja mau pegang-pegang gue."
" Wah apa jangan-jangan dia suka sama gue." Batinnya semakin memberontak tak terima.
Aaaaaa tidaaakk.. Kenapa jadi gini sih? Ya tuhan aku cuma ingin kontaknya kemarin, tapi kenapa kau beri hatinya sekalian. Aku tak butuh ya tuhan. Fani membulatkan matanya dan seketika langsung mengerutkan keningnya. Seolah tak terima semua yang dibatinkannya barusan. Lupa jika sang lelaki yang dia batinkan ada disebelahnya, Andry menyaksikan dengan jelas semua tingkah laku dan ekspresi dari wajah Fani. Heran,apa mungkin bagian dari gejala maag, pikirnya.
" Kamu kenapa Fan?." Andry menggenggam tangan Fani dan memndekatkan wajahnya dengan Fani.
" Eh.. Hmmm gapapa kok kak." Fani yang kaget menjawab dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Oh iya makasih ya kak udah bawa aku ke UKS. " Timpalnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya sama-sama Fan." Jawab Andry tersenyu simpul.
Fani dan Andry kembali terjebak dalam suasana canggung. Andry sibuk bermain ponsel sambil menunggu bel tanda pelajaran akan dimulai.
" Ini kenapa terjebak disuasana canggung sampai berkali-kali sih." Gerutunya dalam hati.
" Jangan ge er deh lo cewe tengil ! Gue ngelakuin ini juga biar lo jatuh cinta dan bertekuk lutut sama
" Selamat datang didunia permainan gue cewe tengil. Gue bikin lo jatuh cinta sama gue, setelah itu gue tinggalin lo." Andry tertawa didalam hati.
Fani menggeliat gelisah. Sebenarnya dia tak tahan berada dalam suasana canggung seperti ini. Batinnya terus menerus memanggil Sophia, berharap sahabatnya itu agar cepat kembali.
" Kenapa sih Sophia lama banget. Gue risih tau ditinggal berdua doang disini." Batin Fani kesal.
Bel tanda jam pertam dimulai sudah berbunyi. Andry beranjak daari tempat duduknya untuk kembali kekelas. Bel ini juga mengakhiri kecanggungan antara dua manusia yang saling memangsa ini.
__ADS_1
" Aku kembali ke kelas dulu ya Fan." Andry memegang tangan Fani.
" Kamu cepat sembuh ya. Jangan lupa makan dan istirahat yang banyak." Andry beranjak dan mengusap lembut kepala Fani, kemudian segera melangkah mennjauhi Fani.
" Hahahaha bentar lagi klepek-klepek dah lo sama gue cewe tengil." Gumamnya sambil bergegas menuju kelas.
Sementara dibalik tirai pembatas, Fani bergidik geli mengingat perlakuan Andry padanya barusan. Tak habis fikir kenapa lelaki ini begitu berusaha mendekatinya. Rasa penyesalan pun mengikuti, menyesal telah menerima tantangan dari sahabatnya Sophia. Karena kedekatan Andry sekarang adalah bentuk karma dari niat buruknya menjadikan Andry sebagai bahan taruhan.
" Ih apa-apaan sih dia, main pegang-pegang aja." Protesnya.
" Jangan-jangan beneran suka sama gue deh tu cowok." Fani bergidik geli.
" Aaaaa andai aja aku nolak tantangan Sophia, pasti hidupku tenang tanpa lelaki itu." Gerutunya menyesal.
" Gue nyerah ajadeh, tapi kan gue udah menang. Apa aku bilang aja sama Sophia kalau aku udah tukeran kontak sama Andry sejak kemarin." Gumamnya.
" Kalau udah diakui menang kan gue juga bisa bernafas dengan tenang. Tanpa Andry, tanpa karma." Fani tersenyum senang. Merasa idenya barusan bisa membebaskan nya dari bayang-bayang Andry.
__ADS_1