
Setelah semua jelas dan tak ada lagi sesuatu yang dirahasiakan diantara mereka berdua, Andry mengajak sang kekasih untuk pulang agar segera bisa beristirahat dirumah. Fani tampak sangat lelah karena menangis cukup lama. Tangannya tak henti-henti menyeka wajah Fani yang sembab dan menggenggam erat Fani. Andry menyalakan mesin dan segera melajukan mobilnya. Senyumannya yang sempat luntur kembali lagi menemani perjalanan ini. Fani pun tampak senang dan sudah tak ketakutan lagi. Hatinya merasa lega setelah mengeluarkan semua racun yang disimpannya selama ini.
“ Maafkan aku ya.” Ucap Fani masih menyesali semua kesalahannya. Menatap Andry yang tersenyum senang.
“ Iya sayangku. Sudahlah jangan minta maaf lagi atau aku akan marah karena kau terus-terusan minta maaf.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang tampak mulai ramai dengan kendaraan.
“ Aku mencintaimu.” Fani mengatakan sesuatu yang membuat senyuman lelaki itu semakin lebar. Andry menatap Fani dan menggenggam sebelah tangannya. Mengangkat dan kemudian mencium punggung tangan Fani dengan penuh kasih sayang.
“ Aku lebih mencintaimu. Mari lupakan masalah ini, kita mulai semua dari awal.” Jawabnya tersenyum. Fani hanya mengangguk mengiyakan.
Karena kelelahan sehabis menangis, Fani merasa kantuk yang tak tertahankan. Akhirnya dia memilih untuk memejamkan mata dan tertidur. Andry hanya menatap gadis manisnya itu. tersenyum dan mengelus rambutnya agar tertidur lebih pulas. Menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai kerumah Fani. Kasihan melihat kekasihnya yang sudah sangat kelelahan karena menangis ini.
Apa kau lelah setelah menangis histeris tadi? Aku bahkan tak tega mlihatmu menangis sekencang tadi, hingga kau ingin muntah. Aku tak akan membiarkan mu menangis seperti itu lagi. Bisa rusak marwahku jika aku membuatmu menangis tersedu-sedu seperti tadi. Maafkan aku yang belum bisa menceritakan tentang niat buruk ku padamu. Mungkin ini belum saat yang tepat. Aku takut kau yang akan berbalik marah hingga meninggalkanku. Aku tak mau itu terjadi, aku mencintaimu gadis tengil.
Fani kaget saat merasa ada yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ternyata dia sudah sampai dirumah, dan Andry mencoba membangunkannya. Fani menggeliat dan membuka matanya, tampak memerah dan bengkak. Dengan segera dia meraih tas dan turun dari mobil berwarna hitam itu. Mengajak Andry untuk masuk namun Andry menolak, katanya ada urusan yang harus diselesaikan. Fani hanya mengangguk mengiyakan. Andry pamit dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah kekasihnya. Fani masih berdiri dan menunggu kepergian Andry, melambaikan tangan hingga mobil hitam itu hilang tak terlihat lagi.
Aaa aku lega sekali. Beruntung tuhan masih memberiku kesempatan mencintai.
Fani berjalan gontai menuju kamarnya. Mengedarkan pandangannya keseluruh isi rumah, mencari penghuni yang lain. Tak didapatinya siapapun, rumah tampak sepi tanpa penghuni.
__ADS_1
“ Ibu..” Teriak Fani lemas.
“ Ibu.” Lagi-lagi berteriak memanggil ibunya yang belum terlihat sejak dia masuk kedalam rumah.
“ Ini pada kemana sih? Ah ngantuk mending tidur aja.” Sambungnya mempercepat langkah menuju kamar.
Akhirnya Fani memilih masuk kedalam kamar dan melanjutkan tidurnya. Merasa sangat lelah setelah menangis sekuat tenaga. Fani mengganti pakaian sekolah dengan kaos longgar dan segera merebahkan tubuhnya.
“ Aaaa ternyata menangis pun menguras tenaga. Sangat melelahkan.” Gumamnya sambil memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya. Tidur tanpa beban masalah dikepalanya, sangat lega.
Mulai hari ini dia mulai hidup tenang tanpa perasaan bersalah yang biasanya selalu memenuhi rongga kepalanya. Dengan penuh keberanian dia mengakui semua kesalahan dan menjelaskan dengan lugas kepada Andry tentang awal mula dia menerima cinta lelaki itu. senyumnya seolah enggan luntur, masih terukir jelas diwajahnya yang sembab karena menangis tadi.
“ Hahahahaha apakah kalian masih bertengkar sekarang?.” Gumamnya sambil menatap foto mesra Andry dan Fani. Tak bisa menahan gelak tawa saat membayangkan Fani yang menangis tersedu-sedu karena rahasianya terbongkar. Membayangkan Fani yang ketakutan karena kemarahan Andry. Senyumnya tak luntur, hatinya tak
berhenti tertawa. Sophia memang menyukai situasi ini. Merasakan kepuasan tersendiri ketika melihat Fani yang mengkhianatinya sekarang menjemput karma nya.
“ Selamat menikmati caci maki dan tatapan kebencian dari Andry hai gadis pegkhianat.” Gumamnya kesal. Mulut dan giginya terkatup menggeram.
“ Sayangnya aku gak bisa menikmati siaran langsung pertengkaran kalian. Pasti seru jika melihatnya langsung.” Sambungnya sambil terkekeh membayangkan pertengkaran hebat itu.
__ADS_1
“ Pasti sebentar lagi semua foto-foto mesra yang penuh sandiwara ini akan segera kau hapus dari akun sosial media mu.” Sophia benar-benar merasa puas dengan drama yang dibuatnya hari ini. Sudah sekian lama dia
menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendamnya kepada Fani, akhirnya dia berhasil. Tidak ada lagi rasa kesal yang membengkak diruang hatinya, sudah dia leburkan bersama kata-kata pernyataannya tadi.
Sudah cukup lama Sophia memantau akun sosial media Fani, namun tak kunjung telihat tanda-tanda Fani akan menghapus semua postingan ini. Sophia terus menunggu hingga sore hari, layar ponselnya tak berubah. Masih terpampang beranda Fani yang dipenuhi foto-foto Fani bersama Andry.
“ Kenapa masih belum dihapus juga sih? Apa mereka masih bertengkar?.” Tanya Sophia dalam hati. Mengingat sejak pulang sekolah higga sesore ini dia masih memantau akun sosial media Fani.
“ Kok lama-lama jadi kesel sih. Niatnya mau lihat tu anak hapus postingan-postingan ini. Tapi malah nyesek sih lihat mereka yang mesra. Meskipun sekarang mereka lagi perang dunia cinta, tapi aku tak sabar menunggu foto-foto
ini hilang dari peredaran.” Gumamnya menatap foto-foto itu kesal. Menggerutu kenapa Andry dan Fani lama sekali bertengkar.
“ Atau jangan-jangan sekarang Fani lagi menangis dibawah bantal. Mengunci kamarnya dan mogok makan.” Tiba-tiba pikirannya sampai kesana. Lalu tertawa seperti orang gila.
“ Kasihan banget sih nasib lo Fan.” Sambungnya masih menertawakan Fani.
Padahal orang yang dibayangkannya tengah asyik menikmati tidur dan lega tanpa beban pikiran. Semua yang dibayangkannya berbanding terbalik dengan kenyataan. Berharap semua yang dilakukakannya hari ini memberi
efek jera dan pelajaran paling berharga untuk Fani. Karena lelah menunggu, Sophia tertidur dalam posisi tubuh yang duduk menyandar di ranjang. Tenggelam dalam mimpinya yang indah dan berharap saat bangun dia sudah mendapat kabar yang menyenangkan.
__ADS_1