
Fani tampak cantik dengan gaun berwarna maroon yang melekat
ditubuhnya, wajahnya juga diberi sentuhan sederhana hingga membuatnya tetap
cantik namun masih dalam konsep natural. Rabutnya yang sebahu ditata sedemikian
rupa, dibuat gulungan manja pada bagian ujung-ujungnya. Senyumnya merekah saat
melihat dirinya didepan kaca, sangat anggun sekali. Malam ini Fani akan pergi
kepesta ulang tahun sahabatnya Irma. Meskipun sudah lewat beberapa hari, Irma
baru ingin menggelar pesta malam ini.
“ Perfecto.” Ucapnya dengan membuat gerakan sempurna didepan
kaca. Tersenyum manis menatap dirinya yang sudah lama tidak mengenakan gaun
pergi kepesta.
Drtttt…Drttttt..
Teleponnya berdering, sebuah panggilan dari Endrico
mengagetkan Fani yang tengah bergaya-gaya menatap dirinya didepan kaca. Hari ini
mereka akan pergi kepesta ulang tahun Irma bersama.
“ Aku sudah didepan rumah ni.” Sahut Endrico dari dalam
telepon menyebutkan jika dia sudah berada didepan rumah Fani.
“ Iya kak Endi, tunggu ya.” Jawabnya kemudian memutuskan
sambungan telepon. Bergegas keluar dengan membawa dompet dan sebelah tangannya
membawa bag berisi hadiah untuk diberikan kepada sahabatnya yang tengah
berulang tahun.
“ Bu, yah, aku pergi dulu ya.” Ucapnya tegesa-gesa ketika melewati
keluarganya yang tengah berkumpul diruang keluarga. Hanya melambaikan tangan
dan segera keluar mememui Endi.
“ Huff maaf ya kak jadi nunggu lama.” Ucapnya terengah-engah
ketika sudah duduk dikursi sebelah kemudi.
Endrico hanya ternganga melihat penampilan gadis yang ada
disebelahnya, sebelumnya dia tidak pernah melihat Fani secantik itu. Hanya bisa
diam tidak bergeming melihat orang yang disukainya malam ini berubah drastis
daripada biasanya, padahal Fani hanya memberi sentuhan sedikit saja diwajahnya.
Fani dan Endrico saling menatap, Fani menatap penuh kebingungan sementara
Endrico menatap penuh cinta.
“ Kak ayo jalan nanti kita telat.” Ucap Fani tiba-tiba
menyadarkan Endrico dari lamunannya.
“ Eh iya.” Jawabnya tersentak kaget. Mendadak jadi ling lung
dan tidak tau harus melakukan apa. Kemudian menarik nafas panjang dan segera
melajukan mobilnya menuju rumah Irma. Sepanjang jalan Endrico hanya mengatur
detak jantungnya yang tidak beraturan dan sesekali mencuri pandang melihat
betapa cantiknya gadis yang ada disebelahnya saat ini.
__ADS_1
Cantik banget sih Fan, bikin aku makin cinta tau gak sih.
“ Oh iya kak Endi, terimakasih ya. Aku suka banget buku yang
kak Endi kasih.” Ucapnya tiba-tiba membicarakan tentang buku yang diberikan
Endi beberapa hari lalu saat datang menjenguknya.
“ Hehehe sama-sama Fan. Bagus deh kalau kamu suka.” Jawabnya
cengengesan. Tidak menyangka jika dalam beberapa hari saja Fani sudah selesai
membaca buku yang diberikannya. Jika Fani sudah membacanya hingga selesai itu
artinya sedikit banyaknya Fani sudah mengerti dan bisa menyimpulkan isi dari
buku tersebut. Atau mungkin Fani juga sudah mengetahui maksud Endi memberikan
buku dengan judul itu. Tiba-tiba Endi cemas dan mendadak perasaannya tidak
karuan.
Apa kamu memang sudah mengetahui maksud da nisi dari buku itu? Atau memang benar kamu juga udah tau maksud aku kasih buku itu? Kamu beneran tau kalau aku diam-diam suka kamu?
Endrico menghentikan mobilnya dipekarangan rumah Irma,
tampak sudah banyak tamu-tamu yang datang. Fani dan Endrico bergegas keluar dan
membawa hadiah mereka masing-masing. Fani tampak berjalan anggun dengan tubuh
dibalut gaun merah maroon, mengenakan heels hitam, rambut terurai dan diberi
gulungan diujung. Wajahnya diberi sedikit sentuhan hingga membuatnya sangat
anggun malam ini. Ditangannya juga ada dompet bling-bling yang menambah kesan
mewah dan elegan pada penampilannya malam ini. Sementara Endrico berjalan penuh
wibawa dengan dibalut jas hitam yang lebih terkesan santai, tampak sangat
dengan Fani malam ini. Terlebih lagi perkara buku yang sudah selesai dibaca
oleh Fani membuatnya semakin cemas dan tidak karuan. Sebelah tangannya juga
membawa bag berisi hadiah yang dia beli
tadi siang untuk Irma.
“ Hei Fani, kak Endrico.” Sahut Irma dari kejauhan sambil melambaikan
tangan dan meminta mereka untuk segera mendekatinya.
“ Hai.” Sahut Fani yang juga ikut melambaikan tangan dan
tersenyum kepada Irma. Kemudian berjalan mendekati Irma dan teman-teman lainnya.
“ Hai selamat ulang tahun ya.” Lanjutnya ketika telah
mendekati Irma. Merentangkan tangan kemudian berpelukan, cipika cipiki seperti
sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.
“ Selamat ulang tahun ya Irma.” Sahut Endrico dari belakang.
Kemudian mengulurkan tangan dan bersalaman. Menyerahkan bag yang dibawanya
kepada Irma.
“ Wah makasih ya kak Endri.” Sambungnya tersenyum senang
sambil menerima hadiah dari lelaki tampan yang ada dihadapannya.
“ Ini hadiah dari gue, sekali lagi selamat ulang tahun ya
sahabatku. Berkah umurnya.” Tak mau kalah, Fani juga menyerahkan hadiah yang
__ADS_1
dibawanya untuk Irma. Sambil terus berpelukan dan termenye-menye, tampak
pertemanan mereka penuh dengan drama.
“ Cantik banget sih sahabat gue malam ini. Pertama kali loh
gue lihat lo pakai gaun begini.” Ucap Irma memuji penampilan Fani. Memang Irma
belum pernah melihat Fani mengenakan gaun apalagi berdandan secantik ini.
“ Bisa aja sih.” Jawabnya malu karena dipuji oleh Irma,
meskipun begitu senyumnya tetap merekah.
“ Iyakan kak Endri? Fani cantik banget kan malam ini?.” Lanjutnya
kali ini bertanya pendpaat Endrico.
“ Iya cantik pakai banget malahan.” Jawabnya sambil tertawa,
terkesan seperti cemoohan. Padahal dalam hatinya dengan tulus memuji penampilan
Fani yang sejak tadi membuat perasaannya tidak karuan.
“ Tu kan. Kak Endri aja bilang cantik, pokoknya gue mau kita
banyak-banyak mengabadikan foto malam ini. Apalagi lo belum pernah dandan
secantik ini sebelumnya.” Sambungnya mengambil ponsel dan mengangkat
kehadapannya. Mengajak Fani berselfie dan mengabadikan moment mereka malam ini.
Berkali-kali memotret dan berkali-kali menggani gaya wajahnya. Tampak cantik
kedua-duanya.
“ Kak Endri juga tampan banget malam ini, perfect.” Ucapnya lagi.
kali ini beralih memuji penampilan Endri yang memang sangat tampan. Berhasil menarik
perhatian tamu-tamu yang lainnya sejak awal dia datang hingga saat ini.
“ Hehehehe bisa aja sih, jadi malu dipuji begini.” Jawabnya cengengesan.
Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Malu karena mendadak
dipuji, terlebih lagi didepan Fani.
“ Iya kan Fan. Kak Endri ganteng banget gak sih?.” Seperti menjebak
dua manusia ini. Irma malah bertanya kepada Fani.
“ Iya kak ganteng banget, rapi pula.” Jawab Fani dengan tulus
dan tersenyum manis. Kemudian Mengangkat jempolnya dan mengedipkan mata. Seolah
mengatakan jika Endrico benar-benar keren dan tampan malam ini.
Endrico semakin gugup setelah mendengar jawaban Fani
barusan. Perasaannya semakin tidak karuan, detak jantungnya semakin tidak
beraturan. Sangat senang ketika dipuji oleh wanita yang disukainya. Namun juga
kesal melihat Irma yang seolah-olah sengaja menjebaknya pada suasana yang
canggung. Seolah Irma mengetahui jika dirinya diam-diam menyukai Fani. Endrico
bingung harus marah, kesal atau berterimakasih kepada Irma. Perasaannya campur
aduk, senang dan malu. Hanya bisa cengengesan sambil menunduk malu dan
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ini Irma kenapa sih? Sengaja banget jerumusin gue kedalam suasana canggung. Gue kesal tapi juga senang. Gue malu tapi gue suka. Ah bingung harus berterimakasih atau marah.
__ADS_1