Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Mencekam


__ADS_3

Andry merampas ponsel milik Fani, keningnya


mengkerut maksimal. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, foto dirinya dan


Sophia yang sangat mesra.


 


“ Apa? Ini kan foto yang waktu itu.” gumamnya Andry.


Dia mengingat ketika Sophia beberapa kali mengajaknya untuk berfoto bersama,


dengan alasan akan mengirimkan pada Fani.


 


“ Hah akhirnya mengaku juga ya.” Ketus Fani menatap


dengan sinis. Seolah menang dalam lempar melempar kesalahan ini.


 


“ Iya, Sophia beberapa kali mengajakku berfoto


bersama katanya kamu yang meminta, foto ini akan dikirimkan padamu.” Andry


menggeser-geser layar ponsel yang ada ditangannya, melihat beberapa foto dirinya


dengan Sophia.


 


“ Hah? Aku yang memintanya? Sejak kapan? Bahkan kak


Andry tau jika aku dimusuhi oleh Sophia atas tuduhan merebut kak Andry


darinya.” Fani membantah pernyataan yang dilayangkan oleh Andry padanya, sama


sekali dia tidak pernah meminta Sophia untuk mengirimkan fotonya apalagi


bermesraan dengan kekasihnya, ah gila saja.


 


“ Lalu dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?.”


Tanya Andry lagi. Dia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


 


“ Aku melihat dari status yang diunggah oleh Sophia,


beberapa kali dia mengunggah moment mesra bersama kekasihku dulu. Bahkan ada


suatu ketika kekasihku rela menjemputnya pagi-pagi dan kesekolah bersama. Hah!


Apa-apaan ini, berani-beraninya memamerkan kemesraan dengan kekasih orang


lain.” Ucap Fani penuh kekesalan. Bola matanya berputar-putar dan bibirnya


berkali-kali menjungkit kedepan. Menjadi geli jika membayangkan seperti apa


bangganya Sophia memamerkan kemesraan dengan kekasihnya. Sampai-sampai ingin


rasanya memecahkan layar ponselnya.


 


“ Ha? Status yang diunggah Sophia? Kapan dia


mengunggahnya? Kenapa aku tidak melihatnya?.” Andry terus bertanya sesuatu yang


masih belum dimengerti olehnya.


 


“ Pura-pura tidak melihatnya. Padahal kalian berdua


sangat mesra, bahkan tanpa malu mengunggahnya disosial media. Apakah yang orang


lain pikirkan tentangku, aku siwanita bodoh yang bisa diduakan sesukanya.” Fani


menghela nafas panjang, menjelaskan sesuatu yang menyakitkan benar-benar


menguras energinya.


 


“ Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang


kamu katakana. Status yang diunggah Sophia dan sebagainya.” Andry menggaruk


kepalanya yang tidak gatal, benar-benar membingungkan.


 


“ Bisa kah kamu jelaskan yang lebih detail tentang


apa yang membuatmu tiba-tiba meninggalkan ku? Apa yang membuatmu seolah sangat


membenciku?.” Andry memohon agar Fani menjelaskan semua yang terjadi agar dia


tidak lagi kebingungan.


 


“ Baiklah. Karena kamu pura-pura tidak tau, aku akan


menjelaskan sedetail-detailnya. Agar kamu menyadari semua kesalahanmu. Sudah


bukan waktunya lagi menyembunyikan penyebab sakit hati ini, berhubung


penyebabnya sudah ada didepan mata. Aku akan meneruskannya.” Fani tersenyum


paksa, menatap Andry yang masih kebingungan dengan ucapan Fani.


 


“ Hari itu, beberapa waktu setelah aku pindah keluar


kota. Aku kaget melihat unggahan Sophia untuk pertama kalinya, foto mesra


dirinya dan kekasihku. Bersandar didada kekasih yang sudah beberapa waktu aku


tinggalkan. Hari itu aku masih sabar. Kemudian beberapa hari lagi, aku lihat


Sophia mengunggah foto dengan orang yang sama. Hanya saja waktu dan tempatnya


berbeda. Sebenarnya menyakitkan sekali, tapi aku masih bisa menahannya. Aku


berusaha untuk tidak berpikiran buruk. Apalagi Sophia memang memusuhiku sejak


kita resmi memiliki hubungan, itu semua disebabkan karena kecemburuan. Namun


ketika aku bangun pagi, berangkat kesekolah dan melihat video yang diunggah


oleh Sophia, itu benar-benar membuatku seolah ditusuk berkali-kali dibagian


dada. Nafasku sesak, memburu tak menentu. Aku ingin berteriak, menangis


sejadi-jadinya tapi aku mengendalikan diri karena disekolah. Video mesra yang


diunggah Sophia, kamu menjemputnya dan pergi kesekolah bersama-sama, saling


tertawa ria. Apa? Sebahagia itukah dengan dia? Kalau begitu baiklah. Aku


biarkan kalian bersama, aku yang mengalah.” Tanpa sadar Fani sudah berurai air


mata. Sudah tidak dapat lagi membendung tangisnya, mengingat itu membuat


nafasnya sesak, rasanya hanya ingin berteriak dan mencaci maki orang-orang yang


menyakitinya. Fani menunduk menangis tersedu-sedu.


 


 


Sementara Andry hanya menatap dengan bingung setelah


mendengarkan cerita panjang bagaimana awal mula dia memutuskan hubungan mereka.


Ternyata bukan karena perselingkuhan, tetapi karena Sophia yang


memprovokasinya. Andry berusaha menenangkan Fani, memeluknya dengan hati-hati.


Ternyata ini semua hanya kesalah pahaman saja, bukan karena Fani yang berulah.


Akhirnya Andry mengerti penyebabnya, tapi Fani belum. Sebab dia yang selama ini


merasa jadi korban kecurangan Andry, padahal semua itu hanya usaha Sophia yang


ingin menghancurkan hubungan mereka.


 


 


“ Jadi kamu mengira aku punya hubungan dengan


Sophia? Kamu cemburu?.” Ucap Andry sembari tersenyum dan mengelus pelan rambut


Fani.


 


“ Tentu saja. Wanita mana yang tahan jika melihat


kekasihnya bermesraan dengan orang lain. Kalau memang kamu menyukainya kenapa


tidak katakan saja, aku pasti relain kamu kok. Apalagi awalnya memang dia yang


menyukaimu duluan, aku hanya orang yang terlambat datang.” Ucap Fani


tersedu-sedu. Sesekali tangannya menyeka sudut matanya. Pulang kembali kekota


lama, bermain dipantai kesukaannya hari ini adalah titik kelemahannya. Semua


ditumpahkan, menderu seperti ombak pantai.


 


“ Yakin kamu bakal relain aku sama Sophia?.” Andry

__ADS_1


terkekeh geli melihat Fani yang menangis tersedu-sedu. Hanya karena miss


communication mereka harus kehilangan status hubungan mereka. Benar-benar


menyedihkan.


 


“ Apa kamu tau betap kagetnya aku ketika mendapat


paket darimu? Padahal besoknya aku akan berangkat menyusulmu, memberi kejutan


dan menemuimu. Tapi karena kamu mengatakan ingin putus, aku mengurungkan niatku


untuk terbang menyusulmu. Karena aku tidak punya petunjuk, aku kehilangan semua


kontakmu. Kamu, Joo dan telepon rumah sama sekali tidak bisa dihubungi.” Andry


tersenyum menatap Fani.


 


“ Apa kamu tau seberapa frustasinya aku setelah


membaca surat darimu? Kamu menginginkan putus, tapi tidak memberi tahu


alasannya. Aku hampir gila menerka-nerka, beberapa hari yang aku lalui terasa


kejam. Aku ingin sekali menemuimu, menggenggam bahumu menatap matamu dan


memintamu untuk menjelaskan semuanya. Tapi aku tidak bisa, aku kehilangan


arah.” Lanjutnya. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. Hari ini Andry


menceritakan bagaimana kehidupannya setelah ditinggal Fani, bagaimana


perjuangannya untuk mendapatkan kembali cintanya.


 


“ Apa kak Andry tau seberapa patah hatinya aku? Aku


menangis seharian dikamar, aku terpaksa melakukan. Berhari-hari aku memikirkan,


memantapkan keputusan hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kak


Andry. Bukan hanya bagi kak Andry, ini juga menyakitkan bagiku.” Fani menatap


wajah  Andry. Suasana semakin mencekam,


desir angin yang kencang tidak sanggup mendinginkan masing-masing hati yang


tengah bermain emosi ini.


 


Andry membawa Fani semakin jauh kedalam pelukannya,


masalah ini tidak seburuk yang dia kira. Bagaimanapun caranya, hari ini masalah


ini harus tuntas. Tidak ada lagi yang mengganjal dihati mereka, semua harus


terbuka, saling menceritakan keluh kesah.


 


“ Lalu bagaimana hubunganmu dengan lelaki itu? Kamu


mencintainya?.” Andry mengalihkan pembicaraan, fokus utamanya adalah hubungan


yang baru dibangun Fani bersama pria lain. Apakah salah jika Andry ingin


merebut kembali cintanya? Apalagi ini hanya masalah salah paham, bukan


kesalahan fatal.


 


“ Endrico?.” Tanya Fani memastikan. Andry hanya


menjawab dengan anggukan mengiyakan, dia tidak ingin menyebutkan nama lelaki


lain yang sudah merebut kekasihnya.


 


“ Aku baru saja menjalin hubungan dengannya. Ya,


memang awalnya hanya untuk pengobat luka.” Fani berdiri, menjauh dari Andry.


 


“ Lalu bagaimana sekarang? Apakah kamu


mencintainya?.” Tanya Andry mempertegas, dia ingin mendengar jawabannya dengan


cepat, ingin mendengarkan jika Fani sama sekali tidak mencintai Endrico.


 


“ Kenapa menyudutkan ku? Harusnya aku yang bertanya.


Bagaimana hubunganmu dengan Sophia?.” Fani balik bertanya. Sejak tadi Andry


terus yang bertanya, sekarang gilirannya.


 


“ Aku? aku gak pernah punya hubungan apa-apa dengan


Sophia. Ya mungkin dia menyukaiku, tapi aku tidak. Memang beberapa waktu lalu


dia memintaku untuk menjadi pacarnya, tapi aku tidak mau.” Andry menepis


tuduhan yang dilemparkan oleh Fani.


 


Ha?


Gadis murahan, beraninya meminta lelaki untuk menjadi kekasihnya. Aahhh bukan,


dia bukan temanku.


 


“ Beberapa waktu lalu aku pergi ke Pontianak untuk


mencarimu. Sudah berhari-hari, sudah banyak tempat yang aku datangi, tapi aku


tidak bisa menemukanmu. Aku hanya datang bermodalkan keberanian dan cinta,


selebihnya aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya petunjuk apa lagi alamatmu,


aku juga tidak punya nomor teleponmu.” Tukas Andry melanjutkan cerita tentang


seberapa keras perjuangannya dalam mengejar cinta.


 


 


“ Ha? Jadi kak Andry ke Pontianak buat cari aku?


Bukan survei universitas?.” Fani berjalan mendekat, menatap Andry yang masih


terduduk santai.


 


Jangan


bilang kau berbohong. Sini aku lihat matamu, adakah benih-benih kebohongan


disana?


 


Fani menatap manik mata Andry dalam, mencari-cari


dimana Andry menyembunyikan kebohongan. Namun dia tidak menemukan apa-apa,


hanya ada tatapan sendu dari lelaki yang ditatapnya.


 


“ Kak Andry beneran datang ke Pontianak buat cari


aku?.” Tanya Fani sekali lagi, belum yakin jika lelaki seperti Andry ini rela


jauh-jauh keluar kota hanya untuk mencari seorang wanita. Padahal di Jakarta


juga banyak yang mau sama dia.


 


“ Hem,” Andry mengangguk kemudian kembali menatap


pantai. Mengenakan kembali kacamata hitam untuk menutupi kesedihan. Andry


menjauh dari Fani, memberi jarak agar mereka saling bisa memahami tentang


kenyataan yang rumit ini.


 


 


“ Pertama kali aku gagal berangkat karena paket yang


kamu kirimkan. Kedua aku berangkat kemarin persis setelah ujia, bahkan aku


tidak sanggup menunggu walau hanya sekedar berpesta sederhana bersama


teman-teman. Aku juga mencarimu keseluruh sekolah dipusat kota, namun tidak ada


satupun yang mengenali Fani Almaera. Aku terus mencari, hingga aku lelah dan


ingin menyerah. Aku juga sudah mencoba mengoraka-arik semua sosial media,


mencari nama-nama temanmu yang mungkin bisa memberi petunjuk tapi lagi-lagi


semuanya nihil. Sampai suatu ketika aku melihat Joo di salah satu pusat

__ADS_1


perbelanjaan, mungkin bersama pacarnya. Aku melihat kembali ada harapan, tapi


karna kelengahanku aku kehilangan jejak. Joo menghilang entah kemana, dan


harapanku ikut pergi bersamanya.” Andry berdiri mendekati bibir pantai. Kedua


tangannya dimasukkan kedalam saku celana, membiarkan rambut-rambutnya diterpa


angin kesana kesini.


 


 


“ Jadi?..” Fani berdiri dan mendekati Andry. Belum


sempat dia menyelesaikan ucapannya, Andry sudah menyela hingga Fani tidak lagi


bisa mengatakan apa-apa.


 


 


“ Iya. Aku terus mencari, kurang lebih seminggu


disana. Pernah suatu ketika aku ditelepon oleh Sophia, dia mengatakan bahwa dia


mengetahui dimana alamat kamu secara pasti. Aku mencoba merayunya, meminta agar


dia memberitahuku. Namun sayang, ternyata dibalik tawarannya ada syarat yang


tidak bisa aku iyakan.” Lanjut Andry menjelaskan.


 


 


“ Syarat apa?.” Tanya Fani yang sudah berdiri tepat


disebelah Andry. Fani mendengarkan dengan sekasama, cerita Andry tentang


perjuangannya benar-benar menarik perhatiannya.


 


 


“ Syaratnya adalah aku harus menjadi pacarnya.


Bagaimana mungkin aku bisa menerima tawarannya. Sementara yang aku pinta adalah


alamat kekasihku, lalu aku menerima tawaran untuk menjadi kekasihnya. Hah


laki-laki macam apa aku.” Andry terkekeh geli.


 


 


“ Oooo aku tau. Aku ingat. Aku mengerti sekarang.”


Sahut Fani tiba-tiba. Entah apa yang dimengertinya, entah seberapa sulit


perjuangan Andry dalam mengejar cintanya atau yang lainnya.


 


 


“ Apa yang kamu tau? Apa yang kamu mengerti?.” Andry


balik bertanya kepada Fani. Penasaran dengan apa yang diketahui oleh wanita


ini.


 


 


“ Waktu itu akun atas nama mama Sophia pernah


menghubungiku. Awalnya hanya bertanya kabar biasa, lalu akhirnya menanyakan


alamat juga. Awalnya udah curiga sih kalau itu bukan akun milik mamanya, tapi


aku masih berusaha kayak ya positif thinking aja. Eh ternyata bener ya, semua


ini ulahnya. Wanita itu adalah dalang dari semua masalah.” Gumam Fani kesal.


Tangannya mengepal keras.


 


 


“ Ha? Ternyata dia sudah merencanakan sebaik mungkin


ya.” Sahut Andry sambil terkekeh geli.


 


 


“ Sampai suatu saat aku terpaksa balik ke Jakarta,


ada keadaan darurat yang mau tidak mau harus membawaku untuk pulang. Bunda


sakit, aku dapat kabar malam dan keesokan paginya langsung berangkat. Namun ada


sesuatu yang membuat perjuanganku seolah tidak ada artinya, aku berjuang sendirian


mencari tau tentang kebenaran, penjelasan dan kejelasan tentang hubungan. Tapi,


wanita yang aku cari sama sekali tidak berjuang. Jangankan berjuang, mengenang


pun enggan.” Andry menarik  nafas


panjang. Seumur hidupnya ini adalah obrolan terpanjang dan terlama dari


dirinya. Biasanya hanya singkat dan beberapa patah kata saja, tapi hari ini dia


berpidato dihadapan mantan kekasihnya.


 


 


“ Hah bunda sakit? Sakit apa?.” Fani hanya mencerna


kata-kata bagian yang menyatakan jika bunda sedang sakit saja. Pasti sakit


parah hingga memaksa Andry untuk pulang secepat mungkin.


 


 


“ Shuuuttttt.” Andry mengentikan Fani agar tidak


lagi berbicara. Hari ini biar dia saja yang berbicara tentang perjuangannya,


sedangkan tugas Fani hanya diam mendengarkan dan menilai apakah dirinya


benar-benar bersalah atau tidak.


 


 


“ Dibandara aku tidak sengaja menabrak seorang


lelaki yang wajahnya tidak asing bagiku. Aku mencoba mengingat siapa dia, dan


ternyata dia adalah orang yang dekat denganmu. Karena aku rasa dia bisa menjadi


petunjuk bagiku, aku mengejarnya, aku mencarinya. Cukup lama aku mencari, turun


naik tangga bandara dan akhirnya aku menemukan lelaki yang bisa menjadi


petunjuk itu. Aku menemukannya bersamaan dengan orang yang selama ini aku cari,


aku melihat lelaki itu menyentuh wanita yang masih aku anggap kekasih. Kedua


manusia yang aku cari berdiri dalam keramik yang sama. Mengagetkan.” Ucap Andry


panjang lebar sambil tertawa. Tidak tau lagi harus mengekspresikan diri seperti


apa.


 


 


“ Siapa?.” Tanya Fani polos. Matanya berkedip-kedip


menatap Andry seolah penasaran dengan jawabannya. Sok lugu banget deh ya.


 


 


“  Ya kamu lah


sama tuh cowok, sok-sok gak tau pula.” Andry gemas melihat tampang polos Fani.


Tangannya mendorong kening Fani hingga siempunya badan terdorong kebelakang.


 


 


“ Ih seriusan? Kenapa kak Andry gak panggil aku aja.


Kan perjuangan kak Andry jadi ada hasilnya di akhir, gak sia sia deh.” Fani


terkekeh geli. Benar-benar menggemaskan dan juga bikin naik pitam.


 


 


“ Terus kalau aku sapa kalian berdua, siapa yang

__ADS_1


jadi obat nyamuk? Aku atau dia? Atau kamu.” Ketus Andry kesal dan meninggalkan


wanita yang menyebalkan itu dipinggir pantai.


__ADS_2