
Andry merampas ponsel milik Fani, keningnya
mengkerut maksimal. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, foto dirinya dan
Sophia yang sangat mesra.
“ Apa? Ini kan foto yang waktu itu.” gumamnya Andry.
Dia mengingat ketika Sophia beberapa kali mengajaknya untuk berfoto bersama,
dengan alasan akan mengirimkan pada Fani.
“ Hah akhirnya mengaku juga ya.” Ketus Fani menatap
dengan sinis. Seolah menang dalam lempar melempar kesalahan ini.
“ Iya, Sophia beberapa kali mengajakku berfoto
bersama katanya kamu yang meminta, foto ini akan dikirimkan padamu.” Andry
menggeser-geser layar ponsel yang ada ditangannya, melihat beberapa foto dirinya
dengan Sophia.
“ Hah? Aku yang memintanya? Sejak kapan? Bahkan kak
Andry tau jika aku dimusuhi oleh Sophia atas tuduhan merebut kak Andry
darinya.” Fani membantah pernyataan yang dilayangkan oleh Andry padanya, sama
sekali dia tidak pernah meminta Sophia untuk mengirimkan fotonya apalagi
bermesraan dengan kekasihnya, ah gila saja.
“ Lalu dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?.”
Tanya Andry lagi. Dia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“ Aku melihat dari status yang diunggah oleh Sophia,
beberapa kali dia mengunggah moment mesra bersama kekasihku dulu. Bahkan ada
suatu ketika kekasihku rela menjemputnya pagi-pagi dan kesekolah bersama. Hah!
Apa-apaan ini, berani-beraninya memamerkan kemesraan dengan kekasih orang
lain.” Ucap Fani penuh kekesalan. Bola matanya berputar-putar dan bibirnya
berkali-kali menjungkit kedepan. Menjadi geli jika membayangkan seperti apa
bangganya Sophia memamerkan kemesraan dengan kekasihnya. Sampai-sampai ingin
rasanya memecahkan layar ponselnya.
“ Ha? Status yang diunggah Sophia? Kapan dia
mengunggahnya? Kenapa aku tidak melihatnya?.” Andry terus bertanya sesuatu yang
masih belum dimengerti olehnya.
“ Pura-pura tidak melihatnya. Padahal kalian berdua
sangat mesra, bahkan tanpa malu mengunggahnya disosial media. Apakah yang orang
lain pikirkan tentangku, aku siwanita bodoh yang bisa diduakan sesukanya.” Fani
menghela nafas panjang, menjelaskan sesuatu yang menyakitkan benar-benar
menguras energinya.
“ Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang
kamu katakana. Status yang diunggah Sophia dan sebagainya.” Andry menggaruk
kepalanya yang tidak gatal, benar-benar membingungkan.
“ Bisa kah kamu jelaskan yang lebih detail tentang
apa yang membuatmu tiba-tiba meninggalkan ku? Apa yang membuatmu seolah sangat
membenciku?.” Andry memohon agar Fani menjelaskan semua yang terjadi agar dia
tidak lagi kebingungan.
“ Baiklah. Karena kamu pura-pura tidak tau, aku akan
menjelaskan sedetail-detailnya. Agar kamu menyadari semua kesalahanmu. Sudah
bukan waktunya lagi menyembunyikan penyebab sakit hati ini, berhubung
penyebabnya sudah ada didepan mata. Aku akan meneruskannya.” Fani tersenyum
paksa, menatap Andry yang masih kebingungan dengan ucapan Fani.
“ Hari itu, beberapa waktu setelah aku pindah keluar
kota. Aku kaget melihat unggahan Sophia untuk pertama kalinya, foto mesra
dirinya dan kekasihku. Bersandar didada kekasih yang sudah beberapa waktu aku
tinggalkan. Hari itu aku masih sabar. Kemudian beberapa hari lagi, aku lihat
Sophia mengunggah foto dengan orang yang sama. Hanya saja waktu dan tempatnya
berbeda. Sebenarnya menyakitkan sekali, tapi aku masih bisa menahannya. Aku
berusaha untuk tidak berpikiran buruk. Apalagi Sophia memang memusuhiku sejak
kita resmi memiliki hubungan, itu semua disebabkan karena kecemburuan. Namun
ketika aku bangun pagi, berangkat kesekolah dan melihat video yang diunggah
oleh Sophia, itu benar-benar membuatku seolah ditusuk berkali-kali dibagian
dada. Nafasku sesak, memburu tak menentu. Aku ingin berteriak, menangis
sejadi-jadinya tapi aku mengendalikan diri karena disekolah. Video mesra yang
diunggah Sophia, kamu menjemputnya dan pergi kesekolah bersama-sama, saling
tertawa ria. Apa? Sebahagia itukah dengan dia? Kalau begitu baiklah. Aku
biarkan kalian bersama, aku yang mengalah.” Tanpa sadar Fani sudah berurai air
mata. Sudah tidak dapat lagi membendung tangisnya, mengingat itu membuat
nafasnya sesak, rasanya hanya ingin berteriak dan mencaci maki orang-orang yang
menyakitinya. Fani menunduk menangis tersedu-sedu.
Sementara Andry hanya menatap dengan bingung setelah
mendengarkan cerita panjang bagaimana awal mula dia memutuskan hubungan mereka.
Ternyata bukan karena perselingkuhan, tetapi karena Sophia yang
memprovokasinya. Andry berusaha menenangkan Fani, memeluknya dengan hati-hati.
Ternyata ini semua hanya kesalah pahaman saja, bukan karena Fani yang berulah.
Akhirnya Andry mengerti penyebabnya, tapi Fani belum. Sebab dia yang selama ini
merasa jadi korban kecurangan Andry, padahal semua itu hanya usaha Sophia yang
ingin menghancurkan hubungan mereka.
“ Jadi kamu mengira aku punya hubungan dengan
Sophia? Kamu cemburu?.” Ucap Andry sembari tersenyum dan mengelus pelan rambut
Fani.
“ Tentu saja. Wanita mana yang tahan jika melihat
kekasihnya bermesraan dengan orang lain. Kalau memang kamu menyukainya kenapa
tidak katakan saja, aku pasti relain kamu kok. Apalagi awalnya memang dia yang
menyukaimu duluan, aku hanya orang yang terlambat datang.” Ucap Fani
tersedu-sedu. Sesekali tangannya menyeka sudut matanya. Pulang kembali kekota
lama, bermain dipantai kesukaannya hari ini adalah titik kelemahannya. Semua
ditumpahkan, menderu seperti ombak pantai.
“ Yakin kamu bakal relain aku sama Sophia?.” Andry
__ADS_1
terkekeh geli melihat Fani yang menangis tersedu-sedu. Hanya karena miss
communication mereka harus kehilangan status hubungan mereka. Benar-benar
menyedihkan.
“ Apa kamu tau betap kagetnya aku ketika mendapat
paket darimu? Padahal besoknya aku akan berangkat menyusulmu, memberi kejutan
dan menemuimu. Tapi karena kamu mengatakan ingin putus, aku mengurungkan niatku
untuk terbang menyusulmu. Karena aku tidak punya petunjuk, aku kehilangan semua
kontakmu. Kamu, Joo dan telepon rumah sama sekali tidak bisa dihubungi.” Andry
tersenyum menatap Fani.
“ Apa kamu tau seberapa frustasinya aku setelah
membaca surat darimu? Kamu menginginkan putus, tapi tidak memberi tahu
alasannya. Aku hampir gila menerka-nerka, beberapa hari yang aku lalui terasa
kejam. Aku ingin sekali menemuimu, menggenggam bahumu menatap matamu dan
memintamu untuk menjelaskan semuanya. Tapi aku tidak bisa, aku kehilangan
arah.” Lanjutnya. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. Hari ini Andry
menceritakan bagaimana kehidupannya setelah ditinggal Fani, bagaimana
perjuangannya untuk mendapatkan kembali cintanya.
“ Apa kak Andry tau seberapa patah hatinya aku? Aku
menangis seharian dikamar, aku terpaksa melakukan. Berhari-hari aku memikirkan,
memantapkan keputusan hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kak
Andry. Bukan hanya bagi kak Andry, ini juga menyakitkan bagiku.” Fani menatap
wajah Andry. Suasana semakin mencekam,
desir angin yang kencang tidak sanggup mendinginkan masing-masing hati yang
tengah bermain emosi ini.
Andry membawa Fani semakin jauh kedalam pelukannya,
masalah ini tidak seburuk yang dia kira. Bagaimanapun caranya, hari ini masalah
ini harus tuntas. Tidak ada lagi yang mengganjal dihati mereka, semua harus
terbuka, saling menceritakan keluh kesah.
“ Lalu bagaimana hubunganmu dengan lelaki itu? Kamu
mencintainya?.” Andry mengalihkan pembicaraan, fokus utamanya adalah hubungan
yang baru dibangun Fani bersama pria lain. Apakah salah jika Andry ingin
merebut kembali cintanya? Apalagi ini hanya masalah salah paham, bukan
kesalahan fatal.
“ Endrico?.” Tanya Fani memastikan. Andry hanya
menjawab dengan anggukan mengiyakan, dia tidak ingin menyebutkan nama lelaki
lain yang sudah merebut kekasihnya.
“ Aku baru saja menjalin hubungan dengannya. Ya,
memang awalnya hanya untuk pengobat luka.” Fani berdiri, menjauh dari Andry.
“ Lalu bagaimana sekarang? Apakah kamu
mencintainya?.” Tanya Andry mempertegas, dia ingin mendengar jawabannya dengan
cepat, ingin mendengarkan jika Fani sama sekali tidak mencintai Endrico.
“ Kenapa menyudutkan ku? Harusnya aku yang bertanya.
Bagaimana hubunganmu dengan Sophia?.” Fani balik bertanya. Sejak tadi Andry
terus yang bertanya, sekarang gilirannya.
“ Aku? aku gak pernah punya hubungan apa-apa dengan
Sophia. Ya mungkin dia menyukaiku, tapi aku tidak. Memang beberapa waktu lalu
dia memintaku untuk menjadi pacarnya, tapi aku tidak mau.” Andry menepis
tuduhan yang dilemparkan oleh Fani.
Ha?
Gadis murahan, beraninya meminta lelaki untuk menjadi kekasihnya. Aahhh bukan,
dia bukan temanku.
“ Beberapa waktu lalu aku pergi ke Pontianak untuk
mencarimu. Sudah berhari-hari, sudah banyak tempat yang aku datangi, tapi aku
tidak bisa menemukanmu. Aku hanya datang bermodalkan keberanian dan cinta,
selebihnya aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya petunjuk apa lagi alamatmu,
aku juga tidak punya nomor teleponmu.” Tukas Andry melanjutkan cerita tentang
seberapa keras perjuangannya dalam mengejar cinta.
“ Ha? Jadi kak Andry ke Pontianak buat cari aku?
Bukan survei universitas?.” Fani berjalan mendekat, menatap Andry yang masih
terduduk santai.
Jangan
bilang kau berbohong. Sini aku lihat matamu, adakah benih-benih kebohongan
disana?
Fani menatap manik mata Andry dalam, mencari-cari
dimana Andry menyembunyikan kebohongan. Namun dia tidak menemukan apa-apa,
hanya ada tatapan sendu dari lelaki yang ditatapnya.
“ Kak Andry beneran datang ke Pontianak buat cari
aku?.” Tanya Fani sekali lagi, belum yakin jika lelaki seperti Andry ini rela
jauh-jauh keluar kota hanya untuk mencari seorang wanita. Padahal di Jakarta
juga banyak yang mau sama dia.
“ Hem,” Andry mengangguk kemudian kembali menatap
pantai. Mengenakan kembali kacamata hitam untuk menutupi kesedihan. Andry
menjauh dari Fani, memberi jarak agar mereka saling bisa memahami tentang
kenyataan yang rumit ini.
“ Pertama kali aku gagal berangkat karena paket yang
kamu kirimkan. Kedua aku berangkat kemarin persis setelah ujia, bahkan aku
tidak sanggup menunggu walau hanya sekedar berpesta sederhana bersama
teman-teman. Aku juga mencarimu keseluruh sekolah dipusat kota, namun tidak ada
satupun yang mengenali Fani Almaera. Aku terus mencari, hingga aku lelah dan
ingin menyerah. Aku juga sudah mencoba mengoraka-arik semua sosial media,
mencari nama-nama temanmu yang mungkin bisa memberi petunjuk tapi lagi-lagi
semuanya nihil. Sampai suatu ketika aku melihat Joo di salah satu pusat
__ADS_1
perbelanjaan, mungkin bersama pacarnya. Aku melihat kembali ada harapan, tapi
karna kelengahanku aku kehilangan jejak. Joo menghilang entah kemana, dan
harapanku ikut pergi bersamanya.” Andry berdiri mendekati bibir pantai. Kedua
tangannya dimasukkan kedalam saku celana, membiarkan rambut-rambutnya diterpa
angin kesana kesini.
“ Jadi?..” Fani berdiri dan mendekati Andry. Belum
sempat dia menyelesaikan ucapannya, Andry sudah menyela hingga Fani tidak lagi
bisa mengatakan apa-apa.
“ Iya. Aku terus mencari, kurang lebih seminggu
disana. Pernah suatu ketika aku ditelepon oleh Sophia, dia mengatakan bahwa dia
mengetahui dimana alamat kamu secara pasti. Aku mencoba merayunya, meminta agar
dia memberitahuku. Namun sayang, ternyata dibalik tawarannya ada syarat yang
tidak bisa aku iyakan.” Lanjut Andry menjelaskan.
“ Syarat apa?.” Tanya Fani yang sudah berdiri tepat
disebelah Andry. Fani mendengarkan dengan sekasama, cerita Andry tentang
perjuangannya benar-benar menarik perhatiannya.
“ Syaratnya adalah aku harus menjadi pacarnya.
Bagaimana mungkin aku bisa menerima tawarannya. Sementara yang aku pinta adalah
alamat kekasihku, lalu aku menerima tawaran untuk menjadi kekasihnya. Hah
laki-laki macam apa aku.” Andry terkekeh geli.
“ Oooo aku tau. Aku ingat. Aku mengerti sekarang.”
Sahut Fani tiba-tiba. Entah apa yang dimengertinya, entah seberapa sulit
perjuangan Andry dalam mengejar cintanya atau yang lainnya.
“ Apa yang kamu tau? Apa yang kamu mengerti?.” Andry
balik bertanya kepada Fani. Penasaran dengan apa yang diketahui oleh wanita
ini.
“ Waktu itu akun atas nama mama Sophia pernah
menghubungiku. Awalnya hanya bertanya kabar biasa, lalu akhirnya menanyakan
alamat juga. Awalnya udah curiga sih kalau itu bukan akun milik mamanya, tapi
aku masih berusaha kayak ya positif thinking aja. Eh ternyata bener ya, semua
ini ulahnya. Wanita itu adalah dalang dari semua masalah.” Gumam Fani kesal.
Tangannya mengepal keras.
“ Ha? Ternyata dia sudah merencanakan sebaik mungkin
ya.” Sahut Andry sambil terkekeh geli.
“ Sampai suatu saat aku terpaksa balik ke Jakarta,
ada keadaan darurat yang mau tidak mau harus membawaku untuk pulang. Bunda
sakit, aku dapat kabar malam dan keesokan paginya langsung berangkat. Namun ada
sesuatu yang membuat perjuanganku seolah tidak ada artinya, aku berjuang sendirian
mencari tau tentang kebenaran, penjelasan dan kejelasan tentang hubungan. Tapi,
wanita yang aku cari sama sekali tidak berjuang. Jangankan berjuang, mengenang
pun enggan.” Andry menarik nafas
panjang. Seumur hidupnya ini adalah obrolan terpanjang dan terlama dari
dirinya. Biasanya hanya singkat dan beberapa patah kata saja, tapi hari ini dia
berpidato dihadapan mantan kekasihnya.
“ Hah bunda sakit? Sakit apa?.” Fani hanya mencerna
kata-kata bagian yang menyatakan jika bunda sedang sakit saja. Pasti sakit
parah hingga memaksa Andry untuk pulang secepat mungkin.
“ Shuuuttttt.” Andry mengentikan Fani agar tidak
lagi berbicara. Hari ini biar dia saja yang berbicara tentang perjuangannya,
sedangkan tugas Fani hanya diam mendengarkan dan menilai apakah dirinya
benar-benar bersalah atau tidak.
“ Dibandara aku tidak sengaja menabrak seorang
lelaki yang wajahnya tidak asing bagiku. Aku mencoba mengingat siapa dia, dan
ternyata dia adalah orang yang dekat denganmu. Karena aku rasa dia bisa menjadi
petunjuk bagiku, aku mengejarnya, aku mencarinya. Cukup lama aku mencari, turun
naik tangga bandara dan akhirnya aku menemukan lelaki yang bisa menjadi
petunjuk itu. Aku menemukannya bersamaan dengan orang yang selama ini aku cari,
aku melihat lelaki itu menyentuh wanita yang masih aku anggap kekasih. Kedua
manusia yang aku cari berdiri dalam keramik yang sama. Mengagetkan.” Ucap Andry
panjang lebar sambil tertawa. Tidak tau lagi harus mengekspresikan diri seperti
apa.
“ Siapa?.” Tanya Fani polos. Matanya berkedip-kedip
menatap Andry seolah penasaran dengan jawabannya. Sok lugu banget deh ya.
“ Ya kamu lah
sama tuh cowok, sok-sok gak tau pula.” Andry gemas melihat tampang polos Fani.
Tangannya mendorong kening Fani hingga siempunya badan terdorong kebelakang.
“ Ih seriusan? Kenapa kak Andry gak panggil aku aja.
Kan perjuangan kak Andry jadi ada hasilnya di akhir, gak sia sia deh.” Fani
terkekeh geli. Benar-benar menggemaskan dan juga bikin naik pitam.
“ Terus kalau aku sapa kalian berdua, siapa yang
__ADS_1
jadi obat nyamuk? Aku atau dia? Atau kamu.” Ketus Andry kesal dan meninggalkan
wanita yang menyebalkan itu dipinggir pantai.