Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Ditumpangi Andry


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sudah 3 hari Andry dan Fani tidak saling mengabari. Terhitung sejak perdebatan besar mereka kemarin. Sebenarnya Andry sama sekali tidak kesal lagi, hanya saja dia sengaja membiarkan Fani tanpa kabar hingga nanti dipenghujung minggu. Ingin memberi kekasihnya kejutan dengan kedatangan dirinya. Meskipun jari-jemarinya memberontak ingin menghubungi dan mengirim pesan kepada Fani, namun sekuat mungkin dia mencoba menahan diri. Demi kejutan untuk sang kekasih hati. Seminggu tanpa kabar? Sedangkan sehari saja


rasanya suram. 3 hari sudah dia lewati, masih tersisa 3 hari lagi. waktu yang lama, waktu berputar cukup lama.


“ Aaaa aku rindu.” Gumamnya menatap layar ponsel. Sudah 3 hari pula Fani tidak mengunggah kisah sehari-harinya, semakin menyiksa.


“ Aku tak tahan lagi. 3 hari terasa sangat lama.” Sambungnya, mendengus kesal. Menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi dengan gantungan-gantungan kerinduan. Bimbang antara harus menahan diri hingga 3 hari kedepan atau menyerah saja, tetap menghubungi meskipun nanti kejutannya tidak maksimal.


“ Aku telepon atau gimana ya.” Masih bingung harus melakukan apa, benih-benih kerinduan yang ada dalam hatinya sudah tumbuh dan berkembang, memberontak ingin segera dipertemukan.


“ Aaaa sayang, kenapa kau tak pernah memposting tentang kehidupan mu lagi sih. Aku kan jadi makin kangen.” Batinnya bersedih. Berharap Fani akan memposting apapun yang berhubungan dengan keadaannya sekarang, setidaknya akan mengurangi kerinduan Andry.


“ Aku ingin tidur rasanya, bangun-bangun udah sabtu aja.” Gumamnya lagi, memejamkan mata dan memeluk ponselnya yang terpampang wajah kekasihnya.


Malamnya dilalui dengan siksaan kerinduan, tidur lebih cepat dari biasanya. Memilih untuk tertidur dan memimpikan kekasihnya, anggap saja sebagai penangguhan sebelum bertemu didunia nyata.


**


“ Duh kenapa tugasnya susah banget sih.” Gumam Fani sembari menggigit-gigit pensilnya. Menggaruk kepala yang pusing memikirkan jawaban dari soal-soal yang ada dihadapannya.


“ Setiap hari ada tugas, bahkan tiap mata pelajaran diberikan tugas. Bisa keriput nih otak.” Sambungnya semakin kesal. Beberapa hari ini dia disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk, hingga tidak ada waktu untuk bermain atau sekedar menonton tv. Semua waktunya tersita untuk sekolah dan mengerjakan tugas-tugas.

__ADS_1


“ Ya tuhan tolong, gak sanggup lagi rasanya. Pagi sampai sore sekolah, malamnya bikin tugas hingga larut. Ah waktu tidurku hampir setengahnya tersita.” Gumamnya mengeluh. Merasa benar-benar lelah dengan tugas-tugas yang diberikan. Sesekali juga menyumpah serapahi gurunya.


“ Udah ah malas deh ngerjainnya, bikin pusing.” Menutup semua buku. Berjalan menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Menghamburkan badan diatas ranjang, tengkurap dan menyatu dengan kasur yang nyaman. Kemudian berbalik dan menatap langit-langit, merenung dan merindu. Mengutuki Andry yang sampai saat ini masih enggan menghubunginya, entah apa salahnya yang jelas pembicaraan terakhir mereka adalah perdebatan. Meskipun yang mematikan telepon waktu itu adalah dia, Fani tetap saja gengsi dan enggan menghubungi Andry duluan. Rindunya kalah besar dengan gengsinya.


“ Kenapa sih sampai sekarang masih belum kasih kabar? Masih marah ya? Apa karena aku mematikan telepon tiba-tiba? Ah itu kan hanya masalah kecil, kenapa marahnya selama ini?.” Gumamnya membuka room chat dengan Andry. Terakhir kali tanggal 20 April, sedangkan sekarang sudah tanggal 23 April. Menarik layar ponsel kebawah berkali-kali, membaca kembali history chat yang dulu-dulu. Manis dan romantis, sosok lelaki yang lembut dan penuh kejutan. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang berubah menjadi sosok pencemburu dan curigaan? Kadang-kadang omongannya pun kelewatan, emosinya sudah tidak bisa diredam.


Hei kau ! Apa semua laki-laki didunia ini seperti mu? Manis diawal, menebar umpan dan jeratan. Sekarang mangsamu sudah kelabakan, lalu kau bermasam muka, curiga dan murka. Ah ingin ku kutuk saja.


Hingga larut malam Fani masih saja mengutuki sang kekasih hati, masih berharap ponselnya berdering dan mendapati pesan atau telepon yang menyenangkan hati. Mungkin jika dia tetap mengerjakan tugas-tugas sekolahnya pasti sudah selesai sejak tadi. Hampir berjam-jam merenung meratapi dan menunggu hal yang tidak pasti. Beberapa kali juga mulutnya menguap menahan kantuk, matanya memerah namun masih enggan untuk tidur. Harapannya masih bergelantungan dilangit-langit kamar bersama gumpalan-gumpalan kerinduan.


“ Aku sudah mengantuk. Membuang waktu berjam-jam untuk menunggu telepon atau sekeder pesan sapaan darimu. Kau kemana hei lelaki menyebalkan! Jangan bilang kau sedang senang-senang dengan Sophia. Ah tidak, tidak. Aku tak akan merusak pikiranku dengan hal yang bukan-bukan.” Gerutunya. Kepalanya menggeleng-geleng. Enggan lagi memikirkan yang bukan-bukan, takut jika hal itu benar-benar kejadian.


semakin memerah, kantuknya sudah tidak tertahankan lagi dan akhirnya dia tertidur dengan ponsel yang masih melekat ditangan.


Gini nih kalau cinta kalah saing sama gengsi, kacau.


**


“ Bun aku sarapan disekolah aja ya, buru-buru nih.” Ucap Andry sembari berlari menuruni anak tangga.


“ Kenapa buru-buru gini sih.” Tanyanya keheranan melihat anaknya seperti dikejar setan.

__ADS_1


“ Ada tugas yang belum selesai bun, aku pamit dulu ya. Bye.” Tanpa mendekati meja makan, hanya berlalu dan melambaikan tangan.


“ Eleh paling juga mau sarapan bareng pacar hahahaha.” Ejek Devi kakaknya yang sibuk menyantap sarapan dimeja makan.


Andry berlari menuju garasi, menyalakan mesin mobil dan segera melaju membelah jalanan yang masih tampak sepi. Masih pagi-pagi sekali. Andry menghentikan mobilnya ketika melihat sosok wanita yang berhenti dipinggir jalan. Motornya tampak kempes karena bocor ban. Rasa kasihan yang menghentikannya, terlebih lagi sosok itu adalah Sophia, sahabat dari Fani kekasihnya. Ya meskipun dia tau jika Sophia yang membocorkan rahasia pertaruhan antara mereka, Andry masih menganggap mereka berteman baik seperti sebelumnya. Sakit hati sih karena Sophia juga merupakan oknum dalam pertaruhan itu, terlebih bahan taruhan dua wanita itu adalah dirinya sendiri. Apalagi Sophia pernah menyatakan jika dia menyukai Andry, namun sebenarnya dia sudah melupakan


masalah ini sejak kemarin-kemarinn. Memaafkan Fani saja dia mampu, kenapa Sophia enggak, pikirnya.


“ Hei Sophia, motor lo kenapa?.” Tanyanya dari jendela, mobilnya berhenti tepat disebelah motor Sophia.


“ Eh kak Andry, gak tau ni mungkin bocor.” Ucapnya. Ingin melonjak-lonjak rasanya karena kesenangan.


“ Oh.” Sahutnya singkat. Kemudian turun dan mendekat dengan Sophia. Mengecek kondisi motor tersebut, benar saja ban nya bocor.


“ Wah iya bocor nih. Yaudah lo kesekolah bareng gue aja.” Tawarnya sambil mendorong motor Sophia mendekat dengan pos satpam yang menjaga komplek perumahan.


“ Bang titip ya nanti sepulang sekolah saya ambil.” Uccapnya kepada salah seorang satpam yang berjaga.


“ Yuk Sop, gue buru-buru nih.” Pintanya. Mempercepat langkah kakinya menuju mobil, sementara Sophia hanya mengangguk dan tersenyum senang sembari mengikuti langkah Andry.


Aaaa mimpi apa gue tadi malam? Nyesal deh tadi marah dan mengutuki motorku yang malang, kalau tau gini kan aku bakal senang dan berharap bocor terus-terusan.

__ADS_1


__ADS_2