
“ Bahkan dalam keadaan yang tanpa harapan meskipun secerca, kecamuk-kecamuk hati ini bisa terangkai indah menjadi kata-kata.” Batin Andry. Sesekali memijat keningnya, kepalanya terasa pusing tiba-tiba.
Andry sudah mendarat dikota Jakarta, bergegas melangkah menuju parkiran dengan tas disandang dan sebuah kotak dijinjing. Perasaannya mulai lega, meskipun belum bertemu bunda. Setidaknya saat ini dia sudah sampai dikota, dan sesegera mungkin bisa bertemu dengan keluarga.
“ Hallo kak, iya aku udah sampai ni.” Ucapnya ketika telepon tersambung dengan Devi.
“ Bagus deh, langsung kerumah sakit aja ya soalnya bunda udah nungguin dari tadi.” Pinta Devi dari dalam telepon.
“ Hem,” Jawab Andry singkat. Kemudian memutuskan panggilan.
“ Hum harum kok walaupun keringetan wkwkwkw.” Andry terkekeh setelah mencium bau badannya sendiri. Tubuhnya berkeringat karena mengejar Endrico dan Fani tadi, beruntung bau parfum melampaui bau keringatnya.
Setelah hampir seminggu tidak menikmati macetnya kota, hari ini Andry terpaksa menyerahkan dirinya. Perjalanan yang seharusnya hanya 40 menit saja menjadi hampir 2 jam. Seperti biasanya, macetnya jalanan akan membuat Andry menggerutu berkepanjangan. Entah kapan kemacetan ini punya solusi, kendaraan bisa berjalan kencang tanpa harus menjadi kura-kura seketika.
“ Enak di Pontianak mang. Kotanya tertata rapi, bersih dan juga gak semacet Jakarta. Apalagi udaranya, wah mantep banget mang. Sejuk.” Andry mengacungkan jempol seolah menunjukkan betapa kagumnya dia dengan kota yang baru saja dia tinggali.
“ Wah enak ya mas. Kita yang hidup disini setiap hari menghirup polusi, gak ada segar-segarnya kecuali semua kendaraan mati total.” Sahut mang Ujang yang menanggapi ucapan Andry dengan sangat baik.
“ Mang buru-buru ya kerumah sakit. Udah gasabar pengen ketemu bunda.” Andry tersenyum cengengesan sambil menatap Ujang yang ada disebelahnya.
“ Asiiyaappp mas An, meluncurrrr.” Jawabnya kemudian ikut tertawa. Mereka berdua terlihat akrab meski jarang berada dalam mobil yang sama.
**
“ Aku berangkat dulu ya ma, pa. Jangan lupa bulan depan jenguk aku ya.” Endrico memeluk kedua orang tuanya. Haru biru antara mereka, apalagi ibu Endrico yang sejak tadi tidak dapat menahan tangis. Bagaimana tidak, putra bungsu yang biasanya manja disayang-sayang hari ini harus pergi merantau jauh kenegeri orang. Anak yang biasanya semua kebutuhannya disiapkan, bahkan disuapkan. Namun hari ini harus pergi sendirian, memandirikan diri yang sama sekali belum tau apa arti kemandirian.
“ Iya nanti awal bulan papa dan mama akan mengunjungimu. Anak nakal sekarang kamu udah dewasa ya, biasanya diketek mama tapi sekarang udah harus berjarak.” Goda sang papa, Endrico hanya bisa tersenyum malu. Perpisahan ini dibuat semanis mungkin, agar sang mama tidak menangis dipojok ranjang malam ini.
“ Ma, jangan nangis lagi dong. Kan pergi untuk pulang, bukan pergi tanpa ingin kembali. Nanti setiap hari mama boleh video call 3 kali sehari hehehhee.” Endrico balik menggoda sang ibu yang sejak tadi menyeka air mata yang membasahi pipinya.
“ Tapi kan mama belum pernah jauh-jauh dari kamu. Apalagi dalam waktu yang lama, kalau mama gak jadi jenguk bulan depan berarti kita bakal ketemu satu tahun lagi.” Ibu Endrico semakin tak kuasa menahan tangis, menghambur memeluk Endrico yang tampak santai tanpa rasa sedih.
“ Mama aja yang sedih, sementara kamu enggak sama sekali.” Lanjutnya. Tangisnya pecah, tersedu-sedu dan tangannya menjelalah mencubit tubuh Andry.
“ Anak nakal. Anak durhaka. Kamu senang banget ya mau ninggalin mama, biar bisa bebas kan? Biar kamu gak mama marahin kalau pulangnya malam? Biar kamu bisa kemanapun dengan siapapun, mama gak tau.” Tangisnya terhenti. Namun berganti menjadi celotehan-celotehan yang membuat Endrico mengernyitkan dahi, sedih yang berkesinambungan dengan celotehan.
“ Ma, anaknya belum pergi kok malah udah dicurigai gitu sih. Kan gak baik ma.” Endrico memeluk erat sang ibu yang sedang menatapnya sinis.
“ Hem baiklah. Jangan pernah melewati batas atau mama akan bawa kamu pulang secara paksa.” Ucapnya terdengar mengancam. Namun dengan mengancam membuatnya merasa lebih tenang, tidak lagi berurai air mata.
“ Iya siap boss.” Endrico terkekeh dan membuat gerakan hormat pada sang ibu.
Endrico beralih mendekati Fani yang sejak tadi hanya diam memperhatikan drama perpisahan antara keluarga ini, kadang merasa haru kadang merasa lucu. Sebagai seorang kekasih yang baru saja menyandang status, Fani hanya bisa mengikuti jalan drama ini. Dirinya bisa dibilang masih orang asing, apalagi baru bertemu orang tua Endrico kemarin.
“ Hem. Ini yang paling berat nih. Harus ninggalin orang terkasih.” Endrico beralih menggoda Fani yang sejak tadi hanya diam tak bergeming.
“ Ih apa sih.” Fani membalas dengan beberapa cubitan dilengan Endrico. Namun bahagia karena kata-kata barusan tidak bisa dia sembunyikan, senyum terkulum dan tampak malu-malu.
__ADS_1
“ Ah satu tahun cukup banyak menggerus rindu, bolehkah aku membawamu ikut bersamaku hei kesayanganku?.” Endrico terus saja menggoda Fani yang ada dihadapannya. Bahkan tanpa rasa malu dan segan Endrico berani menggenggam erat tangan Fani. Sedangkan gadis itu? Hanya terdiam sembari menunduk menahan malu, wajahnya merah padam. Endrico benar-benar lihai dalam mengorak-arik perasaan wanita.
“ Udah ah, malu sama orang tua kamu.” Fani mencoba menepis tangan Endrico, namun lelaki itu semakin mengeratkan genggamannya. Bukan melepas tangan Fani, Endrico malah merangkul pinggang Fani dan berbalik menghadap kedua orang tuanya.
“ Ma, pa? Gak masalah kan kalau aku mencintai wanita ini berlebihan? Ini calon menantu kesayangan mama kan?.” Endrico menanyakan hal yang hampir tidak masuk akal, alisnya turun naik seolah meminta jawaban. Bagaimana bisa dia mengatakan jika Fani adalah calon menantu kesayangan orang tuanya, padahal mereka baru saja bertemu kemarin malam. Lain hal jika ternyata selama ini Endrico sering menceritakan tentang Fani kepada kedua orang tuanya.
“ Hem, kenapa tidak. Tapi mama marah, masa sih kamu Cuma mau bawa kekasih kamu sedangkan mama enggak.” Sang ibu menjawab dengan nada ketus dan mata yang menatap sinis, meskipun hanya candaan tapi ini terlihat seperti keseriusan.
“ Heheheh.” Endrico terkekeh geli melihat tingkah sang ibu, kemudian menarik wanita yang sedang merajuk itu dalam pelukannya bersama dengan Fani juga.
“ Hem.” Fani berdehem pelan, tangannya mencoba melepaskan pelukan Endrico. Alih-alih dilepaskan, Endrico malah memeluknya semakin kencang.
“ Ma, selama aku kuliah tolong jagain Fani ya. Kalau dia nakal mama boleh cubit dia sebanyak-banyaknya.” Endrico semakin terkekeh, namun dalam tawanya ada perintah dan peringatan. Dalam artian selama dia pergi Fani tidak sepenuhnya bebas, dia ada dalam pengawasan calon mertuanya (anggap saja begitu).
“ Baik, semua bisa diatur hehehe. Tapi kamu bisa nakal diam-diam.” Ibu Endrico menyahut perintah dari sang raja. Namun tiba-tiba dia tertawa ketika melihat wajah Endrico yang sudah berubah menjadi muram durja.
“ Heeheh gak kok, jangan murung. Lagian mau nakal gimana sih? Baku hantam sama orang? Maling ? Begal?.” Awalnya menenangkan, tapi akhiran kalimatnya malah membuat Endrico semakin kesal. Fani tak ingin ketinggalan, dia juga ikut menertawakan sang pacar.
“ Bukan. Kamu jangan selingkuh. Kalau kamu selingkuh aku bunuh kamu.” Endrico mengatakan dengan nada kesal, namun dia membubuhi ancaman. Entah itu serius atau tidak, tapi itu terdengar seram.
Fani terdiam mendengar ucapan Endrico yang cenderung terdengar seperti ancaman, rasa cemas menggelayut dipikirannya. Apalagi dia belum sempat mengenal Endrico lebih jauh, belum bisa membaca karakter Endrico, entah dia hanya bergurau atau serius.
Wadidaw seram juga ya, sekalipun itu hanya candaan. Duh merinding nih gue, ngebayanginnya bikin ngilu.
“ Hehehe kamu apaan sih. Itu namanya gak percayaan.” Fani tertawa cengengesan.
“ Hem,” Endrico bergumam, enggan melepaskan genggaman tangannya. Endrico masih belum puas menatap wajah sang kekasih yang sebentar lagi akan dia tinggalkan dalam waktu yang lama.
“ Pergilah.” Fani mendorong tubuh Endrico lebih kuat, membuat siempunya tubuh mundur kebelakang.
“ Bagaimana kalau aku tidak mau?.” Bukannya kesal karena Fani mendorong-dorong tubuhnya, Endrico malah menggoda Fani dengan senyum jahatnya. Endrico menggigit bibir bawahnya, tersenyum ala smirk dan menatap Fani dengan tajam. Benar-benar menggoda dalam konteks dewasa, ah gila. Padahal orang tuanya berada tidak jauh dari mereka berdua.
“ Habislah kamu.” Endrico mendekat dan berbisik ditelinga Fani, hembusan nafasnya membuat Fani merinding geli.
“ Ih apaan sih. Kamu gila ya, ini kan tempat umum. Apalagi ada orang tua kamu. Udah ah buruan sana, nanti kabari kalau kamu sudah berangkat.” Fani mendorong wajah Endrico yang hampir menempel dengan wajahnya. Semua perlakuan Endrico membuatnya risih, bahkan begidik geli.
Gila! Aku gila. Beruntung kau akan pergi jauh kebelahan Dunia lain. Jika kau tetap disini bisa-bisa aku habis kau gerogoti.
“ Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Tunggu sampai aku pulang, kamu bahkan tidak boleh berkencan dengan lelaki selama aku pergi.” Endrico menarik Fani kedalam pelukannya. Mencium rambut Fani berulang kali, kemudian mencium pipi kiri dan kanan silih berganti hingga dia merasa puas.
“ Ah sudah, berhenti menciumku atau kamu akan gagal berangkat.” Fani mengelak, menoleh kearah lain agar Endrico berhenti menciumnya.
“ Kalau boleh aku ingin disini saja.” Endrico terus saja menggoda.
“ Ah sudah, berhentilah jadi anak manja. Pergi secepatnya atau kamu akan terlambat.” Sahut Ibu Endrico dari belakang, kemudian menarik-narik lengan Endrico agar segera beranjak pergi.
“ Hum, baiklah jika kalian semua memaksa. Aku pergi sekarang, jangan lupa bulan depan datang dan bawa sesuatu sebagai kejutan.” Endrico memeluk Fani sekali lagi, kemudian beralih memeluk kedua orang tuanya.
__ADS_1
“ Daaa, sampai ketemu.” Endrico melambaikan tangan, sedangkan mereka yang tersisa membalas lambaian sampai sosok Endrico benar-benar hilang dari pandangan.
**
“ Bundaaaa…” Andry berlari menghambur memeluk sang bunda yang duduk lemah diranjang rumah sakit.
“ Ih anak bunda udah pulang.” Wanita yang terduduk lemah diranjang itu merentangkan kedua tangan menyambut pelukan sang anak yang sudah hampir seminggu tidak dilihatnya.
“ Aaaa kangen banget sama bunda. Bunda gapapa kan? Bunda cepat sembuh dong. Aku janji kalau bunda sembuh aku bakal nemenin bunda kemanapun selama seminggu hehehe.” Andry menggelayut manja ditubuh sang bunda yang lemah tak berdaya. Hari ini dia menunjukkan jika dia adalah anak yang manja, bahkan tanpa malu Andry melakukan ini didepan orang lain.
“ Heem, mentang-mentang Cuma bunda yang sakit terus ayah gak disapa.” Sebuah protes meluncur dari mulut sang ayah yang sejak tadi berada dalam ruangan yang sama tapi tidak disapa oleh anaknya.
“ Hem iya, sampai-sampai kakaknya yang segede ini gak kelihatan.” Sahut Devi juga ikut melayangkan protes pada sang adik yang bermanja-manja dengan sang bunda.
“ Eh hehehe, gak kelihatan. Hai ayah, hai kak. Ah rindu kalian semua.” Andry melambaikan tangan tanpa beranjak dari pelukan sang bunda, benar-benar anak kecil yang manja.
“ An, ikut gue yuk beli makan siang. Biar ayah yang jagain bunda.” Devi menjentikkan jari meminta Andry mengikutinya. Namun bukan hanya sekedar mengajak keluar untuk membeli makan, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
“ Dah bunda. Ayah jagain bunda ya, jangan sampai bunda kenapa-napa.” Telunjuknya mencacar kearah sang ayah yang duduk santai bermain game.
“ Huh anak ayah udah besar ya, udah bisa ngancam ayah pula.” Menjawab dengan santai dan tawa geli melihat tingkah sang putra.
Andry melajukan mobilnya dijalanan, disebelahnya duduk Devi yang ingin meluncukran beberapa pertanyaan.
“ Hampir lupa cara mengemudi hahahhaa.” Andry terkekeh menatap sang kakak. Tampak bahagia seolah-olah tidak ada beban dipundaknya. Padahal sang kakak tau bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
“ Lo belum ketemu Fani?.” Devi mulai meluncurkan pertanyaan, menatap sang adik dengan penuh rasa iba meskipun dia belum tau apa kejadian yang sebenarnya. Namun dari gelagat Andry, Devi bisa menyimpulkan jika Andry sedang berusaha menyembunyikan kesedihan.
“ Lo belum ketemu Fani atau kehadiran lo yang gak diterima Fani?.” Devi mengulangi pertanyaannya, Andry tidak menjawab sama sekali. Wajahnya gugup seperti ada yang dia tutupi, benar saja.
“ Jujur aja gak usah bohong. Gue tau kok kalau lo belum ketemu Fani, lo lagi berusaha menyembunyikan kesedihan lo kan?.” Devi terus memaksa Andry untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“ Gak perlu takut. Lo boleh cerita sama gue. Gue gak bakal ngejek lo atau apapun, gue tau lo lagi sedih.” Lanjutnya sembari memegang tangan sang adik yang terdiam dan mengatur nafas.
“ Hufffh iya gue belum ketemu Fani. Gue udah keliling berhari-hari, udah datang kesekolah-sekolah dikota, udah menyusuri jalanan juga. Namun sayang, semesta belum mengizinkan gue buat ketemu dia disaat gue lagi berjuang.” Andry mengembuskan nafas kencang. Matanya berkaca-kaca, ternyata sekuat apapun dia berusaha dia tidak bisa menutupi sedihnya.
“ Dengar kabar bunda sakit gue pikir ini cara semesta buat menghentikan gue. Tapi gue salah, ternyata ini cara semesta menunjukkan siapa sosok yang gue cari sebenarnya. Bagaimana dia yang sekarang, seberapa dia gak menginginkan gue lagi.” Lanjutnya terus membuka kesedihan. Sesekali Andry menyeka air mata yang menghalangi pandangannya.
“ Jadi lo udah ketemu Fani?.” Devi melanjutkan pertanyaan sembari mengelus pelan bahu sang adik. Hari ini adalah hari paling akur mereka berdua, biasanya selalu ribut bak anjing dan kucing.
“ Udah. Tadi pagi gue ketemu Fani dibandara. Cara semesta mempertemukan sangat unik, aku mencari orang lain dan ternyata orang itu ada bersama Fani. Kemarin aku mencari Fani, tadi pagi aku mencari lelaki itu dan dalam hitungan menit aku menemukan keduanya. Mereka yang saling menggengam erat, menatap penuh cinta. Aku hanya bisa menatap tanpa menghampiri, sebab kejelasan yang ingin aku cari hari ini sudah aku dapatkan bahkan tanpa dia berbicara sepatah katapun.” Andry tersenyum tipis mengingat betapa malang nasibnya.
" Terus kenapa lo gak datang dan minta penjelasan dari mereka berdua sih?." Devi mulai kesal mendengar jawaban adiknya yang membuatnya menggeram bergetar.
" Lo **** banget sih! Kesempatan udah depan mata tapi malah lo sia-siain." Devi sudah tidak bisa menahan kesalnya. Telunjuknya mencacar memukul pelan kening Andry yang masih fokus menatap jalanan.
Bersambung....
__ADS_1