
Sudah beberapa hari Andry menetap dikota ini, tidak satu haripun dia lewatkan untuk mengobrak-abrik isi kota untuk mencari sosok Fani. Namun sayang, hingga sampai saat ini dia belum menemukan sosok yang dia cari. Jangankan menemukan sosok, bahkan hanya sekedar mendapatkan petunjuk pun belum. Andry hanya bisa pasrah sembari terus berusaha, terus memutar isi kepala bagaimana cara untuk mencari kekasihnya. Bukan selalu bersemangat, kadang Andry pun merasa lelah, ingin mengalah dan putus asa. Namun selalu ada sesuatu disudut hatinya yang mengatakan jika dia harus tetap berusaha. Andaikata pun nanti dia gagal dalam pencarian cintanya, setidaknya semesta menjadi saksi perjuangannya.
Drrttttt…. Drrrrtttttt…..Drrrtttt
Ponsel Andry berdering, namun siempunya masih tergeletak lelah dibalik selimutnya, masih tenggelam jauh didalam mimpinya. Semalaman dia begadang, mengobrak-abrik sosial media, mencari petunjuk tentang kekasihnya, mencari teman-teman terdekat yang sempat dikenali dari namanya. Pernah sesekali melihat wajah Irma dari unggahan-unggahan Fani sebelumnya, sekilas juga pernah melihat wajah Endrico ketika mereka melakukan panggilan video. Namun sudah samar-samar dan hampir lupa.
Drttttt…. Drrrtttt… Drrrttttt
Lagi-lagi ponsel Andry berdering, getarnya sudah menjalar hingga ujung jari. Namun siempunya badan masih enggan untuk menatap cahaya matahari, masih menikmati mimpi.
Drrtttt….Drrrrttt…Drrrttttt…
“ Siapa sih yang nelfon pagi-pagi begini?.” Gerutu Andry kesal. Perlahan-lahan matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar. Masih pagi katanya? Matahari sudah hampir tenggelam begini masih pagi katanya.
“ Kenapa sih ni orang demen banget ganggu ketenangan hidup orang. Bisa gak sih beberapa saat menjauh dari gue, capek anj*r.” Lanjutnya terus menggerutu. Andry mengabaikan panggilan dari Sophia, tidak terlalu penting katanya.
“ Gak ada yang penting selain informasi tentang Fani saat ini. Aku gak akan angkat telepon yang gak penting buat aku.” Andry meletakkan kembali ponselnya diatas meja dan kembali menenggelam kan wajahnya kedalam selimut.
Ponsel terus berdering, nama Sophia terus muncul dilayar ponsel Andry bersamaan dengan getaran yang menggema diatas meja. Meskipun menolak tetap saja Andry tidak bisa, meskipun ingin menutup mata Andry tetap tidak tega.
“ Hallo,” Lirih suara Andry, menandakan jika dia masih belum sepenuhnya bangun dari ilusi.
“ Hallo kak Andry kemana aja? Lagi sibuk ya? Aku telepon berapa kali baru diangkat.” Sahut Sophia dari dalam telepon. Basa-basi adalah hal favoritenya sebelum masuk pada inti tujuannya.
“ Hem Cuma lagi gak enak badan aja Sop.” Lanjut Andry lirih. Menjawab panggilan dengan tubuh telungkup dan kedua mata ngantuk-ngantuk ayam.
“ Eh lagi sakit ni ceritanya? Kok malah sakit sih kak, bukannya keluar kota buat ketemu Fani ya. Harusnya walaupun sakit ya langsung sembuh gitu jadinya, katanya sih kekuatan cinta. Ya gak sih kak hehehhe.” Sophia terkekeh. Basa-basi yang membuat patah hati Andry ketika mendengarnya. Kata-kata yang biasa namun bagi sipenjelajah cinta itu cukup mengiris luka.
“ Hem. Gimana gak sakit, udah berapa hari disini aku masih belum ketemu orang yang aku cari.” Ucapnya ketus. Tanpa sadar dia telah mengatakan masalahnya kepada sibiang masalah, masalah ditambah masalah.
“ Loh kenapa? Emangnya Fani kemana?.” Sophia bertanya seolah-olah orang normal lainnya, padahal alasannya dia sudah tau mengapa.
__ADS_1
“ Jangan-jangan kak Andry gak tau alamatnya Fani ya?.” Sophia tergelak tawa.
Ternyata semua kecurigaannya benar, Andry masih belum bertemu dengan Fani. Entah karena memang belum mengetahui dimana alamat Fani atau karena Fani yang tidak ingin menemuinya, entah lah Sophia belum bisa menerka.
Entah karena kau belum punya alamatnya, atau karena dia yang enggan menemuimu. Ya kali aja karena foto-foto yang aku kirim melalui akun mama membuat hatinya semakin luluh lantak, semakin naik emosinya.
“ Iya aku belum tau alamatnya. Udah berapa hari disini, udah keliling-keliling tapi juga belum ketemu orangnya.” Andry semakin terbuka kepada Sophia, tanpa sadar jika sosok yang sedang berbicara bersamanya ini adalah dalang dari hancur hubungannya.
“ Sop, kamu tau gak alamat Fani dimana? Kan kamu sahabatnya. Barangkali kamu tau, bantu aku ya. Tolonglah, kali ini aja.” Lanjut Andry memohon kepada Sophia. Belum pernah sejarahnya sosok Andry memohon dan mengiba seperti ini, ini adalah kali pertamanya.
“ Aku mohon. Kali ini aja. Aku janji aku bakal turuti semua kemauan kamu Sop. Aku janji, tapi tolong beri aku alamat tempat tinggal Fani saat ini.” Suara Andry semakin lirih, terdengar seperti benar-benar mengiba dan menahan tangis.
“ Ha? Seorang Andry yang ganteng dan keren memohon mengiba pada sosok Sophia yang tidak punya apa-apa ini. Hahahahaha.” Sophia menjawab dengan cemoohan dan gelak tawa, kali ini dia benar-benar puasa tertawa.
“ Aku kira sosok tampan yang digilai banyak wanita termasuk aku si wanita buriq ini tidak akan pernah jatuh harga dirinya, tidak akan pernah memohon dan mengiba pada siapa-siapa.” Sophia terus menghina dan mencemooh Andry dengan kata-kata yang menyakitkan, sekalipun dia bubuhi dengan tawaan.
Sophia terus tertawa. Kata-kata permohonan Andry dan bagaimana cara dia mengiba benar-benar berhasil menggelitik Sophia. Sementara Andry hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk dan membukup dibalik kedua tangannya. Menahan kesal, ingin marah tapi tidak bisa. Dia yakin jika Sophia adalah satu-satunya orang yang bisa memberi tahu dimana alamat Fani saat ini, sekalipun mereka pernah bertengkar diawal hubungannya dengan Fani, namun Andry masih yakin jika Fani dan Sophia masih berhubungan baik.
“ Sop, udah puas ngetawain gue?.” Ucap Andry dengan nada datar. Sophia sudah keterlaluan, menertawai dirinya yang sedang kesusahan. Namun lagi-lagi Andry tidak bisa marah, meskipun dalam hatinya sudah bergejolak ingin mencaci maki balik Sophia. Tidak. Tidak, harus bisa menahan kata-kata.
“ Baiklah. Aku tau dimana alamat tempat tinggal Fani saat ini, aku tau dari Fani sendiri. Aku akan kasih tau kak Andry.” Sophia memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Sesal juga menggelayuti pikirannya, bagaimana bisa dia seceroboh itu. Menertawai lelaki yang dia cintai, bahkan sampai menghina dan mencemoohnya. Harusnya dia bersikap lebih anggun lagi, bisa menjaga image ini salah, sangat salah.
**** banget sih gue. Harusnya kan ketawa dalam hati aja, masa ketawa sampai jingkrak-jingkrak kayak tadi sih. Ya meskipun Andry gak lihat tapi dia kan pasti kesal juga, dih makin gak suka deh dia sama gue. Duh ****!
“ Tapi ada syaratnya.” Lanjut Sophia. Siapa juga yang ingin memberi tanpa pamrih, apalagi ini urusan hati. Kalau mau sesuatu ya harus balas dengan sesuatu juga, setidaknya impas, satu sama.
“ Apa? Apa syaratnya? Aku bakal penuhi semua keinginan kamu, asal kan kamu kasih tau aku dimana alamat Fani sekarang juga.” Andry menjawab dengan penuh semangat. Seketika kesal dan amarahnya teredamkan dengan kata-kata yang membuatnya merasa amat sangat bahagia, akhirnya bisa ketemu Fani juga tampa harus berkelana lebih lama lagi.
“ Kak Andry yakin mau penuhi semua syarat yang aku beri, apapun? Semuanya?.” Sophia ikut bahagia. Bagaimana tidak, ini adalah cara yang paling cepat untuk mendapatkan cintanya. Harusnya sudah sejak lama dia menemukan ide brilian ini.
“ Iya Sophia, aku bakal penuhi semua keinginan kamu. Semuanya. Asalkan kamu juga kasih aku alamat Fani, alamat dia yang sesungguhnya. Jangan takut rugi, aku akan balas setimpal dengan kebaikanmu.” Andry semakin bersemangat. Semakin merasa dekat dengan Fani.
__ADS_1
“ Baik, deal.” Sophia mengunci semua kata-kata yang keluar dari mulut Andry barusan. Senyumnya mekar merekah, membayangkan jika dia dan Andry sudah resmi menjadi pasangan, pacar, saling (cinta) walaupun nanti,
suatu saat dan entah kapan.
“ Kalau begitu apa syaratnya?.” Andry sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. semakin cepat dia mendapatkan alamat, semakin berkurang pula cemas yang menggunung dikepala.
“ Syaratnya adalah kak Andry harus jadi pacar aku.” Sophia mengatakan dengan suara lantang. Saking lantangnya membuat Andry terbelalak dan sesak nafas bak orang yang dicekik batang lehernya, penyiksaan.
“ Ha? Apa? Jadi pacar kamu?.” Ucap Andry setengah berteriak. Masih setengah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sophia, serasa mimpi, tidak yakin. Andry menampar kuat pipinya, meyakinkan jika dia tidak sedang mimpi atau menghayal, sangat sulit dipercaya, Sophia memeras perasaannya, mengguncang akal sehatnya, mengobrak-abrik emosionalnya.
“ Iya kak Andry harus jadi pacar aku. Setelah itu aku janji, aku akan kasih alamat tempat tinggal Fani, secara detail, secara terperinci.” Ucap Sophia masih penuh semangat dan rasa senang yang membludak.
“ Eh lo gila ya, gue minta alamat Fani pacar gue. Gue mau ketemu Fani, cinta gue. Lo malah minta gue jadi pacar lo. Lo gila ya?.” Ucap Andry dengan nada tinggi. Kaget bercampur kesal mendengar syarat Sophia yang diluar nalar.
“ Loh kenapa? Tadi katanya kak Andry bakal penuhi semua keinginan aku, kak Andry bakal terima apapun syarat yang aku kasih. Kenapa sekarang malah nolak sih? Pake marah-marah pula.” Sophia tidak terima dengan ucapan Andry barusan, kasar. Masih belum merasa jika apa yang dia lakukan akan membuat orang-orang yang diposisi sama dengan Andry mencaci makinya. Beruntung Andry hanya marah dengan tinggi suara, jika orang lain mungkin dirinya sudah dicaci maki merata dengan tanah, rendah.
“ Yang bener aja lo Sop. Lo mau mainin gue ya, gue salah apa sih sama lo? Gue Cuma minta tolong, gue udah mohon-mohon juga sama lo. Gue minta alamat Fani, alamat pacar gue. Karena yakin lo pasti tau dimana dia tinggal, dimana alamat lengkapnya. Tolong Sophia jangan peras perasaan gue, jangan hancur leburin harapan gue Sop. Gue Cuma minta alamat Fani, gue gak ganggu hidup lo kok.” Suara yang semula tinggi berubah menjadi lirih, terdengar seperti hampir akan menangis. Sisi lain Andry tampak jelas saat ini. Meski dibalut tampan dan keren, namun ternyata dia rapuh.
“ Salah lo apa? Salah lo dari awal adalah pacaran sama Fani. Harusnya lo pacaran sama gue. Gue yang dari awal cinta sama lo, gue yang punya perasaan tulus sama lo. Tapi lo malah milih Fani yang sama sekali gak cinta sama lo, yang Cuma deketin lo karena taruhan doang.” Sophia berbicara hanya dengan sekali nafas saja. Nafasnya terdengar memburu, terenguh-enguh.
“ Gue peras perasaan lo? Lo sadar gak sih kalau selama ini perasaan gue yang paling hancur. Pertama gue harus kehilangan orang yang gue cintai, kedua gue harus ikhlasin orang yang gue cintai bersama sahabat gue. Lo pikir perasaan gue senang? Lo gak tau kan kalau lo dan pacar lo udah mengobrak-abrik perasaan gue. Lo dan pacar lo yang jahat, gue yang hancur, gue yang ngebatin selama ini. Paham lo?.” Lanjut Sophia dengan nafas yang semakin memburu. Kemudian enguhan nafasnya berubah menjadi isak tangis, sudah tidak tahan lagi, Sophia terpaksa harus memecahkan kesedihannya.
Tiiittttt……
Suara telepon terputus, Andry sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Sophia. Bukan karena benci, tapi semua yang dikatakan Sophia hanya membuatnya terjebak dalam rasa bersalah. Padahal bukan sepenuhnya salah, cinta tidak bisa dipaksa. Harus saling timbal balik, harus ada feedback, bukan hanya sekedar menerima atau sekedar memberi.
Andry mondar mandir sembari menggigit jari. Rasa kantuknya menghilang bersamaan dengan celotehan Sophia. Perasaannya tidak tenang, merasa bersalah namun juga merasa kecewa. Jantung nya berdetak tak beraturan, deg deg deg. Perasaannya tidak karuan, apa yang harus dia lakukan?
“ Masa aku ingin minta alamat pacarku, terus dia meminta informasi ditukar dengan aku menjadi pacarnya. Hei apakah aku serendah itu dimatanya? Dia pikir aku lelaki apa? Ah gila saja dia!.” Andry menggerutu kesal, berulang kali tangannya menepis angin.
“ Lebih baik aku mencari sampai beratus-ratus hari dari pada harus memenuhi syarat wanita sinting itu. Malah bilang aku menyakiti perasaannya pula. Hei aku juga gak bisa melarang orang lain untuk suka sama aku. Itu kan masalah hidupmu, masalah hatimu. Ada-ada saja kelakuan wanita +62 ini.” Andry tersenyum ala smirk. Kemudian bergegas membersihkan diri, harapannya yang digantungkan pada Sophia sudah dia lepas paksa. Sekarang saatnya untuk mencari kembali, menjamah kota ini, berkelana, semoga tidak merana.
__ADS_1
“ Huh, jadi aku harus mencari secara manual lagi nih? Yaudah deh dari pada harus menukar dengan perasaan. Oh tidak, tidak bisa.” Lanjutnya.
“ Setimpal tu kalau seandainya dia minta dibeliin pakaian, tas, sepatu atau apa gitu. Itu baru seimbang. Kalau begini ceritanya kan aku yang rugi. Hah tawaran macam apa ini, gak ada ahlaq tu orang.” Andry terus menggerutu sembari membersihkan diri, membayangkan wajah Sophia saja sudah membuatnya naik pitam, mual.