Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Sakit Rindu


__ADS_3

" Hallo Fan, aku jemput ya. Kita kesekolah bareng hari ini." Ucap Endrico dari dalam telepon. Pagi-pagi sekali sudah menelpon dan meminta Fani untuk ke sekolah bersamanya.


" Eh gapapa kok kak Endi, aku kesekolah bareng bang Joo aja. Jangan repot-repot kak, nanti kita ketemu disekolah aja." Jawab Fani terdengar menolak. Teringat tentang hadiah yang diberikan Endrico kepadanya, hadiah yang sama sekali tidak ingin dia pakai, bahkan sudah dia lemparkan kesudut kamar.


" Ah gapapa, gak ngerepotin kok. Kamu siap-siap ya sebentar lagi aku jemput, oke? Bye." Lanjutnya. Tidak ingin mendengar jawaban Fani mau atau tidaknya dan mematikan telepon dengan tiba-tiba.


" Eh, hallo hallo." Ucap Fani masih mencoba menolak namun sayangnya panggilan sudah diakhiri.


Hei aku tidak ingin bertemu denganmu saat ini. Aku tidak ingin kau mengungkit masalah hadiah yang kau beri, ah hadiah dari mu benar-benar  membuatku kesal sepanjang malam. 


Dengan tubuh lemah gontai dan mulut yang maju beberapa centi, Fani melangkah menuju kamar mandi. Menyegerakan diri untuk bersiap sebelum Endi datang menjemput. Meskipun tidak ingin namun Fani tetap terpaksa, mau tidak mau dia harus kesekolah bersama Endi. Fani sudah siap dengan seragam sekolah yang membalut tubuhnya, ditangan kiri sudah ada tas yang berisikan buku-buku dan peralatan tulis lainnya. Tidak lupa Fani meraih jam yang diberikan Al, melingkarkan dipergelangan tangannya sembari merekahkan senyuman. Kemudian bergegas keluar rumah dan menemui Endrico yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu.


" Hei selamat pagi." Ucapnya menyapa gadis yang tampak riang tersebut.


" Hai pagi kak, yuk jalan. Aku ada tugas yang belum selesai nih." Jawabnya memberi alasan, tidak ingin berlama-lama dengan Endrico. Takut jika tiba-tiba Endrico menanyakan atau mengungkit masalah hadiah yang dibeirkannya.


Endrico hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian bergegas melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai padat. Pandangannya menatap jalanan dengan fokus, sementara disebelahkanya Fani hanya bisa menatap kaca, menggigit jari sembari berharap semoga Endrico tidak menanyakan masalah hadiah yang diberikannya. Sekalipun hanya menanyakan apakah suka dengan pemberiannya atau tidak.


Ha sebaiknya aku pura-pura tidur, anggap saja aku masih mengantuk, masih ingin menikmati mimpi.


Fani bersandar dan mulai memejamkan matanya, sesekali terdengar deru nafasnya. Pintar sekali dia bersandiwara. Meskipun matanya terpejam, telinganya siap mendengar apapun yang dikatakan Endrico nantinya. Sesekali Fani juga mengintip lewat sudut matanya, mengintai apakah Endrico memperhatikannya atau tetap sibuk dengan setir dan jalanan yang ramai.


" Hei ternyata kau tertidur. Pantas hening." Ucapnya ketika melihat Fani yang tertidur pulas layaknya orang yang sangat kelelahan.


" Apa kau begadang semalaman hingga pagi ini masih mengantuk. Apa yang kau lakukan? Apa kau sibuk membaca dan membalas semua ucapan dari teman-temanmu?." Lanjutnya bertanya sambil tersenyum menatap gadis yang tengah bersandiwara itu. Kemudian kembali menatap jalanan, melajukan mobil agar segera sampai ketujuan.

__ADS_1


" Hei bangun sudah sampai. Ingin sekolah atau tetap tertidur disini." Ucapnya sembari mencubit pelan hidung Fani, membangunkan gadis itu dengan sangat hati-hati.


" Huaaaaa." Mengangkat kedua tangan dan meregangkan otot-otonya, persis seperti orang yang bangun dari tidur panjangnya. Benar-benar pintar bersandiwara.


" Udah sampai ya, duh ngantuk deh." Lanjutnya sembari meraih tas dan segera membuka pintu. Ingin cepat-cepat pergi dan menghindari Endi.


" Kak aku duluan ya, ada tugas yang belum selesai nih. Bye, terimakasih ya." Lanjutnya terus menghindar. Mempercepat langkahnya dan berlari menuju kelas. Meninggalkan Endrico yang tampak masih bingung dengan sikapnya.


Huffh akhirnya aku bisa lolos. Tapi kenapa aku jadi takut gini sih, kan belum tentu juga dia menanyakan tentang hadiah yang dia beri. Duh kenapa sih makin hari jiwa-jiwa percaya diri aku makin makin hehehehe.


****


Andry setengah sadar, pandangannya berkunang-kunang ketika membuka mata. Mendadak badannya dan kepalanya terasa sangat berat. Andry mencoba bangkit dan menyegerakan diri bersiap-siap untuk kesekolah. Namun baru  saja berdiri tubuhnya ambruk kembali.


" Bunda." Teriaknya pelan, mungkin tidak terdengar sampai kelantai bawah. Mencoba meminta pertolongan karena benar-benar merasa lemah dan tidak berdaya.


" Bunda." Teriaknya lebih keras, namun tetap sama, tidak ada jawaban apapun dari lantai bawah.


" Bunda." Teriaknya keras, menggunakan semua sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dikepalanya. Badannya panas dingin, nafasnya terasa sesak dan terdengar memburu. Mencekam rambutnya dengan erat, berharap bisa mengurangi rasa sakit dikepalanya.


" Andry, kenapa nak?." Teriak ibunya panik, berlari dan segera menghambur mendekati Andry. Memeriksa apakah yang terjadi dengan anak laki-lakinya.


" Badan kamu panas nak, kita ke dokter sekarang ya." Lajutnya semakin panik setelah memeriksa suhu tubuh Andry. Terasa panas sekali, namun diujung-ujung jari kaki tangannya terasa sangat dingin. Wajah yang kering dan pucat semakin membuatnya khawatir. Belum lagi mendengar erangan Andry yang menahan sakit.


Andry dilarikan kerumah sakit terdekat, ditemani ayah dan bundanya. Entah sejak kapan dia mulai sakit, tidak tahu pasti. Padahal dia tampak baik-baik saja tadi malam. Setelah diperiksa, ternyata Andry terkena Demam Berdarah. Pernyataan dokter itu cukup membuat kedua orang tuanya syok, mengingat Andry masih sangat baik-baik saja tadi malam. Andry akan dirawat inap dirumah sakit, ini adalah pertama kalinya Andry kerumah sakit bahkan sampai harus dirawat inap.

__ADS_1


" Bun aku kenapa sih?." Tanya Andry ketika melihat tubuhnya yang terbaring diranjang.


" Gapapa kok, kamu cuma kelelahan aja. Jadi tubuhmu kurang sehat, disini dulu ya kamu dirawat." Jawabnya mendekat, mencoba berkilah. Tidak ingin membuat Andry ikut khawatir dengan kondisinya saat ini. Andry hanya mengangguk lemah, mengiyakan semua yang dikatakan oleh ibunya. Kemudian kembali terlelap dalam tidurnya.


Drttt.....Drttttttt...Drttttttt


Berulang kali ponsel Andry berbunyi, membuat sang empunya terbangun dari tidurnya yang lelap. Dengan tangan yang lemah Andry mencoba meraih ponsel yang ada diatas meja sebelah, ponsel yang sejak tadi berbunyi seperti ada sesuatu yang sangat penting saja. Ternyata panggilan berulang itu dari Alea.


 " Hallo Andry dimana?." Ucapnya ketika telepon tersambung, terdengar sangat khawatir.


 " Hallo Alea." Jawabnya lirih.


" Kamu jadi kan temenin aku ke pesta temanku? Ini udah sore loh, kamu kemana aja sih aku


baru bisa hubungi kamu sekarang." Lanjutnya terdengar marah.


 Andry menatap jam yang ada diponselnya, benar saja sudah hampir pukul 5 sore. Tubuh lemahnya benar-benar menghanyutkannya kealam bawah sadar, tertidur lama sekali.


" Maaf Alea, aku gak bisa temenin kamu." Ucapnya sangat lirih.


 " Loh kenapa? Kamu kan udah janji temenin aku kepesta." Sambungnya mengingatkan jika Andry telah berjanji kepadanya kemarin.


 " Aku lagi gak enak badan, aku lagi sakit." Lanjutnya terpaksa menyebutkan keadaan yang sebenarnya, sesuatu yang membuatnya terpaksa mengingkari janji kepada Alea.


 " Hah kamu sakit?." Ucapnya kaget, seakan tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Andry. Bisa saja itu hanya alasan karena tidak ingin menemaninya, namun dalam hatinya juga tersimpan rasa cemas ketika membayangkan jika Andry benar-benar sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2