
“ Kok malah ngambek sih.” Fani duduk disebelah
Andry.
“ Hehehehe.” Fani tertawa ketika menatap wajah Andry
yang berkerut seribu.
Fani mencoba menggoda Andry yang sejak beberapa
waktu lalu diam. Tadi dia sangat banyak bicara, lalu tiba-tiba diam seribu
bahasa. Masih sama ya, misterius. Fani menyentuh pelan daun telinga Andry,
berharap siempunya merasa geli. Namun tidak ada respon apapun dari Andry, dia
tetap diam sembari menatap langit. Tiduran dipasir berbantalkan akar pepohonan,
ditemani debur ombak dan riuh angin. Meskipun panas terik namun terasa seimbang
karena angin bertiup kencang. Andry tidak memperdulikan Fani, hanya sibuk
dengan perasaannya yang sudah mulai lega. Meskipun dia juga tidak tau bagaimana
kelanjutan hubungannya. Apakah bisa bisa dilanjutkan atau tetap berhenti sampai
disini.
“ Kak, kok diam sih. Aku salah apa?.” Fani
menggoyang-goyangkan kaki Andry. Semua cara sudah dia lakukan untuk menggoda
Andry, namun laki-laki itu tidak memperdulikan.
“ Yaudah ah kita datang buat diem-dieman doang.”
Ketusnya juga ikutan memasamkan muka. Fani menjauh, duduk diakar yang berbeda.
Kemudian mengeluarkan layar ponselnya, memainkan dengan kasar, mengetuk-ngetuk
layar.
“ Dari pada mengetuk layar sekuat itu lebih baik
buang saja ponselnya kepantai. Cara cepat untuk merusaknya.” Setelah sekian
lama akhirnya Andry buka suara. Sekalinya buka suara malah membuat Fani semakin
kesal.
“ Ihhh diam.” Teriak Fani kesal. Mulutnya mengatup
menggeram, ingin sekali rasanya memukul lelaki yang menyebalkan ini.
Fani menatap Andry dengan tajam, sudah bak singa
yang siap menerkam. Belum hilang kesalnya tadi sewaktu pergi sudah ditambah
lagi kesal saat ini. Seberat itukah ditinggal Fani hingga membuat Andry menjadi
menyebalkan begini. Andry mengintip dari sudut matanya, gadis yang menggemaskan
diujung sana. Wajah memerah, sorot matanya tajam, bibirnya jingkrak-jingkar
kedepan. Hahahaha dua pemandangan indah yang dapat dinikmati bersamaan. Nikmat
tuhan mana lagi yang kau dustakan?.
“ Cuittt.” Andry menggoda Fani dengan bersiul, tapi
Fani tidak memperdulikan padahal dia sadar jika dia yang sedang disiul-siulkan.
“ Cuittt cuuiittt.” Ulang Andry sembari terkekeh
geli. Sekuat apapun dia mencoba untuk mendiami Fani, sekuat apapun dia mencoba
menahan diri. Dia tidak bisa, sama sekali tidak bisa. Ujung-ujungnya dia yang
merasa bersalah, meskipun dia menikmati setiap perubahan mood Fani.
Andry mengambil kotak pink yang dia letakkan
disebalik pohon, membawanya mendekat dengan Fani. Diamnya tadi ternyata hanya
untuk memilih kosa kata yang tepat untuk sin berikutnya. Kosa kata yang
membuatnya terkesan dramatis dihadapan wanita yang membuatnya setengah gila
ini.
“ Huh.” Fani membuang pandangnya ketika melihat
sosok Andry berjalan mendekatinya. Kedua tangannya dilipat didada, benar-benar
angkuh gayanya.
“ Berhenti membuat wajah seperti itu atau kamu akan
habis aku gigit.” Ucap Andry terdengar mengancam. Meskipun itu hanya candaan tapi
terdengar menyeramkan juga.
Apa?
Kau ingin menggigitku? Apa selama aku tinggal kau berubah menjadi manusia
pemakan segalanya, sampai-sampai aku saja ingin kau gigit.
“ Berhentilah atau,,” Belum sempat Andry
menyelesaikan ucapannya tapi sudah disela oleh Fani.
“ Apaan sih gak jelas.” Ucap Fani dengan ketus dan
judes. Bukannya membuat Andry berhenti menggoda, ini malah membuat Andry
semakin gemas. Ingin sekali bermain-main dengan gadisnya.
“ Jangan mendekat!.” Teriak Fani sembari mengangkat
tangannya, memberi tanda agar Andry berhenti dan tidak mendekatinya.
“ Loh kenapa? Takut aku gigit hahahaha.” Hari ini
Andry terlalu banyak tertawa. Terus saja mengganggu Fani yang sudah ada
bersamanya. Kalau ada diganggu, kalau udah gak ada rindu.
“ Hem gak kok.” Ketusnya membantah, padahal dia
takut jika Andry akan benar-benar menggigitnya.
“ Yaudah aku duduk ya.” Andry tersenyum terkulum,
duduk persis disebelah Fani dengan sebuah kotak ditangannya.
“ Jangan gemes gemes dong. Masa aku harus cinta sama
pacar orang sih.” Andry mulai menggodanya, terus menggoda. Gak malu sama langit
apa?.
“ Apa sih ganggu-ganggu terus.” Fani mendorong tubuh
Andry agar menjauh darinya. Wajahnya masih sama, bermuram durja.
“ Sana jauh-jauh, gausah ganggu aku lagi. Sana balik
lagi kesana, tiduran aja sampai besok.” Lanjutnya ketus. Fani beranjak ingin
__ADS_1
pergi, tapi Andry dengan cepat menahan tangannya.
“ Eittss tunggu dulu dong. Sini dulu, ada yang
pengen aku omongin lagi.” Andry menarik tangan Fani aga dia duduk kembali, kali
ini duduknya menjadi lebih dekat dengan Andry, tanpa berjarak.
“ Apa lagi sih? Udah ngomong sepanjang tali monyet
masih ada lagi yang pengen diomongin. Bukannya menabung rindu ya, kamu malah
menabung omongan selama ini.” Ucap Fani menatap Andry sinis. Ternyata Fani
judes juga ya, kalau lagi marah bawaannya seperti orang yang ingin berkelahi.
Tapi itu tidak begitu berarti bagi Andry, kemarahan Fani sama sekali tidak
menggoyahkan keberanian Andry. Alih-alih takut, Andry malah makin senang
melihat Fani yang marah-marah apalagi merajuk, pemandangan indah katanya.
Andry tidak menjawab apapun, hanya tersenyum menatap
Fani yang masih kesal dengan dirinya. Andai Fani adalah binatang buas, sudah
pasti habis dirinya sejak tadi. Ekspektasinya setelah lama tidak berjumpa
mereka akan sayang-sayangan, mesra-mesraan eh ternyata masih sama. Yang satu
usil yang satu ngambekan. Cocoklah.
“ Jangan murung gitu dong. Sekarang kita ngomong
serius ya.” Andry mencubit kedua pipi Fani, ah sudah tidak setembam dulu sih.
“ Oh jadi dari tadi gak serius gitu?.” Ketusnya
makin judes. Bukannya makin tenang, Fani malah makin bar-bar.
“ Bukan, bukan gitu maksudnya. Jangan merajuk dong,
sekarang kita ngomong serius dulu ya. Becandanya nanti, merajuknya nanti. Nanti
aku beliin ice cream.” Pujuk Andry seperti anak kecil, modalnya ya Cuma ice
cream.
“ Hum,” Dehem Fani. Kedua tangannya dilipat didada,
sorot matanya tetap tajam pada Andry.
Andry menghela nafas panjang, ya sudah nikmati
sajalah pemandangan ini pikirnya. Andry mengambil kotak pink yang berisi barang-barang
dan beberapa hadiah yang belum sempat diberikannya kepada Fani. Membuka
perlahan dan melihat isinya yang sudah tidak tertata rapi lagi. Mungkin karena
dibawa kesana kesini hingga isinya pontang panting.
“ Apa ini?.” Tanya Fani ketika melihat kotak yang
tidak asing baginya. Ini adalah kotak yang dikirimkannya pada Andry waktu itu.
“ Ini kan,,” Lanjut Fani sembari menunjuk kotak yang
dipegang Andry, tampak sudah lusuh dan tidak layak lagi. Walaupun begitu isinya
sangat penting bagi Andry.
“ Iya, ini kotak yang waktu itu kamu kirimkan. Ini
adalah kotak yang membuatku berhari-hari tidak ingin makan, apalagi surat yang
kamu kirimkan. Hampir gila aku membacanya. Kotak ini juga yang membuat aku
karena terlalu banyak berbicara.
Fani merampas kotak pink yang dia isi dengan
kenangan-kenangannya dengan Andry. Memeluk dengan erat, meminta maaf dalam
hatinya berulang kali karena telah melupakan barang-barang ini. karena
terpaksa, bukannya sengaja. Itu juga karena kekesalannya, bukan karena niatnya.
“ Terus ini mau diapain?.” Tanya Fani dengan mata
yang berkaca-kaca. Menyesal telah melupakan barang-barang yang dulu menjadi
kesayangannya. Terlebih lagi Fani sangat terharu karena Andry masih sudi
menyimpannya, walaupun dia mengatakan dia sangat kesal saat menerima kembali
barang-barang ini.
“ Tentu saja mengembalikannya denganmu.” Jawab Andry
tersenyum dan mengelus kepala Fani.
“ Sekarang kamu tau kan kalau kita hanya salah
paham. Harusnya kalau kamu mencurigai sesuatu kamu tanyakan saja padaku. Dari
awal juga aku gak suka sama Sophia, yang aku suka Cuma kamu. Lain kali jangan
mudah terpengaruh dengan orang lain ya, kamu harus percaya sama pasangan
sendiri.” Lanjut Andry.
Fani menghambur memeluk Andry. Selama ini dia merasa
terdzolimi, merasa jika dia adalah korban dari permainan Andry. Padahal
kenyataannya mereka berdua adalah korban dari ketidakpuasan seseorang. Ini
adalah salah Fani yang langsung mengambil kesimpulan sendiri tanpa meminta penjelasan
Andry. Kesalahan fatalnya adalah mengambil keputusan sendiri tanpa mengajak
Andry berdiskusi. Akhirnya dia kehilangan cintanya, dia yang merana. Yang
paling tersiksa adalah Andry, korban yang sesungguhnya adalah Andry. Apalagi
mendengar perjuangannya yang pahit hanya demi mencari Fani. Belum tentu lelaki
lain ingin membuang waktunya hanya demi mencari seorang wanita yang telah
membuangnya. Namun Andry, rela menghabiskan waktunya, melelahkan tubuhnya hanya
demi sebuah penjelasan, demi kejelasan cintanya. Lelaki terbaik yang pernah
ada.
“ Terimakasih sudah rela menghabiskan hari demi hari
hanya untuk menunggu aku yang kejam ini.” Ucap Fani sambil menangis
tersedu-sedu. Dia mengakui semua kesalahannya.
“ Terimakasih sudah sudi menunggu wanita kejam ini,
sampai hari ini. Terimakasih sudah sudi senantiasa menerima siwanita yang tidak
bisa menjaga perasaannya ini. Kamu terbaik, kamu lelaki terbaik yang pernah
ada.” Lanjut Fani. Tangisnya semakin kencang, sesalnya semakin terluahkan.
__ADS_1
Andry hanya bisa mendengarkan, senangnya bukan main.
Hari ini dia telah berhasil merebut kembali cintanya. Matanya berkaca-kaca,
ikut sedih mendengarkan sesal Fani yang telah menyakiti dirinya. Namun meskipun
Fani salah, Andry tetap tidak ingin menyalahkan. Yang dia ingin hanya kembali
membangun hubungan yang dilandaskan dengan kepercayaan.
“ Aku mohon kedepannya kalau ada masalah bicarakan
saja dari hati kehati. Jangan hanya karena emosi mengambil keputusan sendiri,”
Andry memohon setulus hati.
“ Iya kak, maafin aku ya.” Fani memeluk Andry
semakin erat.
“ Jadi gimana hubungan kak Andry sama Sophia?.”
Lanjut Fani malah menggoda Andry. Terkekeh geli hingga tubuhnya gemetar menahan
tawa.
“ Hem jangan mulai lagi deh.” Andry mencubit pipi
Fani gemas.
“ Udahan dong pelukannya. Kamu kan sekarang sudah
pacar orang lain. Aku gak mau ya dituduh sebagai perebut nantinya.” Andry
berbalik menggoda Fani. Sebenarnya ini adalah sindiran, inginnya Fani segera
melepaskan Endrico dan kembali pada dirinya.
“ Ih apaan sih.” Ketus Fani. Tangannya memukul kuat
dada Andry hingga siempunya terdorong dan meringis kesakitan.
“ Aduh kenapa sih malah dipukul, kan emang bener.”
Andry meringis kesakitan.
“ Makanya jangan menggoda aku lagi.” Fani
menjulurkan lidahnya, mengejek Andry yang masih meringis kesakitan.
“ Fan,” Andry memasang wajah serius, kembali
mendekati Fani dan memintanya untuk kembali berbicara dari hati ke hati.
“ Sebenarnya kamu cinta gak sih sama pacar kamu yang
sekarang?.” Tanya Andry.
“…” Fani tidak menjawab apapun, hanya menggidikkan
bahu tidak tahu. Padahal itu pacarnya, itu perasaannya. Tapi bisa-bisanya dia
mengatakan tidak tau.
“ Sebenarnya kamu masih punya perasaan gak sih sama
aku?.” Andry mengalihkan pertanyaan, masih sama yaitu tentang rasa yang Fani
punya.
“…” lagi-lagi Fani hanya menjawab dengan
menggidikkan bahu dan mengerutkan kening.
“ Gimana sih? Itu kan perasaan kamu, masa sih kamu
gak tau.” Ketus Andry mulai kesal melihat jawaban Fani. Padahal dia berharap
jika Fani mengatakan dengan lantang bahwa Fani mencintai dirinya.
“ Aku bingung kalau ditanya soal perasaan, emang
benar-benar gak tau.” Jawab Fani dengan wajah polosnya.
“ Huffhhh. Fan, apakah kamu masih punya rasa padaku
walaupun hanya secuil saja?.” Andry mengulangi pertanyaannya dengan tegas dan
pelan.
“ Hem.” Fani menggigit jarinya bingung. Apa yang
harus dikatakannya?.
“ Baiklah singkatnya begini, apakah kamu pilih aku
atau lelaki itu?.” Andry memberikan dua pilihan.
“ Ha?.” Sahutnya terbelalak kemudian diikuti senyum
cengengesan.
“ Apa yang harus aku jawab? Aku mencintai kalian
berdua.” Jawabnya Fani santai tanpa rasa bersalah. Berani-beraninya dia memilih
sekali dua bahkan didepan pilihannya.
Plak! Sebuah tamparan seolah mendarat dipipi Andry,
menyakitkan. Ternyata Fani menginginkan keduanya. Menyesal telah memberi pilihan
yang akhirnya tidak mendapat jawaban yang menyenangkan. Andry mengepalkan
tangannya, jari-jemarinya tidak lagi bergayang mengelus rambut Fani.
Hei
kau yang tamak. Berani-beraninya kau ingin pasang dua. Aku memberi pilihan agar
kau memilih salah satunya, bukan memilih keduanya.
“ Huffhhhh,” Andry menghela nafas panjang. Ternyata
berbicara serius dengan Fani membutuhkan banyak energy, apalagi lawan bicaranya
saat ini sangat menyebalkan, tapi juga menggemaskan.
“ Kenapa kak?.” Fani melepaskan pelukannya, menatap
wajah Andry seolah penuh tanda tanya. Ada apa dengan dirinya.
“ Gapapa kok.” Ucap Andry datar. Padahal saking
kesalnya, Andry serasa ingin menoyor kepala Fani agar sadar.
“ Hum,” Fani berdehem. Kemudian kembali menghambur
memeluk Andry. Mendadak dipeluk dan memeluk adalah favoritenya. Tanpa menyadari
jika yang dipeluknya adalah lelaki yang sudah tidak memiliki hubungan
dengannya.
“ Jadi, bagaimana sekarang? Apa kamu mau kita
kembali bersama? Apa kamu setuju kalau kita balikan? Apa kamu mau kalau kita
bersama-sama membangun hubungan, bersama-sama menjalaninya dan menikmati jalan
__ADS_1
ceritanya. Apa kamu mau?.” Tanya Andry langsung pada intinya.