Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Gimana? Balikan


__ADS_3

“ Kok malah ngambek sih.” Fani duduk disebelah


Andry.


“ Hehehehe.” Fani tertawa ketika menatap wajah Andry


yang berkerut seribu.


Fani mencoba menggoda Andry yang sejak beberapa


waktu lalu diam. Tadi dia sangat banyak bicara, lalu tiba-tiba diam seribu


bahasa. Masih sama ya, misterius. Fani menyentuh pelan daun telinga Andry,


berharap siempunya merasa geli. Namun tidak ada respon apapun dari Andry, dia


tetap diam sembari menatap langit. Tiduran dipasir berbantalkan akar pepohonan,


ditemani debur ombak dan riuh angin. Meskipun panas terik namun terasa seimbang


karena angin bertiup kencang. Andry tidak memperdulikan Fani, hanya sibuk


dengan perasaannya yang sudah mulai lega. Meskipun dia juga tidak tau bagaimana


kelanjutan hubungannya. Apakah bisa bisa dilanjutkan atau tetap berhenti sampai


disini.


“ Kak, kok diam sih. Aku salah apa?.” Fani


menggoyang-goyangkan kaki Andry. Semua cara sudah dia lakukan untuk menggoda


Andry, namun laki-laki itu tidak memperdulikan.


“ Yaudah ah kita datang buat diem-dieman doang.”


Ketusnya juga ikutan memasamkan muka. Fani menjauh, duduk diakar yang berbeda.


Kemudian mengeluarkan layar ponselnya, memainkan dengan kasar, mengetuk-ngetuk


layar.


“ Dari pada mengetuk layar sekuat itu lebih baik


buang saja ponselnya kepantai. Cara cepat untuk merusaknya.” Setelah sekian


lama akhirnya Andry buka suara. Sekalinya buka suara malah membuat Fani semakin


kesal.


“ Ihhh diam.” Teriak Fani kesal. Mulutnya mengatup


menggeram, ingin sekali rasanya memukul lelaki yang menyebalkan ini.


Fani menatap Andry dengan tajam, sudah bak singa


yang siap menerkam. Belum hilang kesalnya tadi sewaktu pergi sudah ditambah


lagi kesal saat ini. Seberat itukah ditinggal Fani hingga membuat Andry menjadi


menyebalkan begini. Andry mengintip dari sudut matanya, gadis yang menggemaskan


diujung sana. Wajah memerah, sorot matanya tajam, bibirnya jingkrak-jingkar


kedepan. Hahahaha dua pemandangan indah yang dapat dinikmati bersamaan. Nikmat


tuhan mana lagi yang kau dustakan?.


“ Cuittt.” Andry menggoda Fani dengan bersiul, tapi


Fani tidak memperdulikan padahal dia sadar jika dia yang sedang disiul-siulkan.


“ Cuittt cuuiittt.” Ulang Andry sembari terkekeh


geli. Sekuat apapun dia mencoba untuk mendiami Fani, sekuat apapun dia mencoba


menahan diri. Dia tidak bisa, sama sekali tidak bisa. Ujung-ujungnya dia yang


merasa bersalah, meskipun dia menikmati setiap perubahan mood Fani.


Andry mengambil kotak pink yang dia letakkan


disebalik pohon, membawanya mendekat dengan Fani. Diamnya tadi ternyata hanya


untuk memilih kosa kata yang tepat untuk sin berikutnya. Kosa kata yang


membuatnya terkesan dramatis dihadapan wanita yang membuatnya setengah gila


ini.


“ Huh.” Fani membuang pandangnya ketika melihat


sosok Andry berjalan mendekatinya. Kedua tangannya dilipat didada, benar-benar


angkuh gayanya.


“ Berhenti membuat wajah seperti itu atau kamu akan


habis aku gigit.” Ucap Andry terdengar mengancam. Meskipun itu hanya candaan tapi


terdengar menyeramkan juga.


Apa?


Kau ingin menggigitku? Apa selama aku tinggal kau berubah menjadi manusia


pemakan segalanya, sampai-sampai aku saja ingin kau gigit.


“ Berhentilah atau,,” Belum sempat Andry


menyelesaikan ucapannya tapi sudah disela oleh Fani.


“ Apaan sih gak jelas.” Ucap Fani dengan ketus dan


judes. Bukannya membuat Andry berhenti menggoda, ini malah membuat Andry


semakin gemas. Ingin sekali bermain-main dengan gadisnya.


“ Jangan mendekat!.” Teriak Fani sembari mengangkat


tangannya, memberi tanda agar Andry berhenti dan tidak mendekatinya.


“ Loh kenapa? Takut aku gigit hahahaha.” Hari ini


Andry terlalu banyak tertawa. Terus saja mengganggu Fani yang sudah ada


bersamanya. Kalau ada diganggu, kalau udah gak ada rindu.


“ Hem gak kok.” Ketusnya membantah, padahal dia


takut jika Andry akan benar-benar menggigitnya.


“ Yaudah aku duduk ya.” Andry tersenyum terkulum,


duduk persis disebelah Fani dengan sebuah kotak ditangannya.


“ Jangan gemes gemes dong. Masa aku harus cinta sama


pacar orang sih.” Andry mulai menggodanya, terus menggoda. Gak malu sama langit


apa?.


“ Apa sih ganggu-ganggu terus.” Fani mendorong tubuh


Andry agar menjauh darinya. Wajahnya masih sama, bermuram durja.


“ Sana jauh-jauh, gausah ganggu aku lagi. Sana balik


lagi kesana, tiduran aja sampai besok.” Lanjutnya ketus. Fani beranjak ingin

__ADS_1


pergi, tapi Andry dengan cepat menahan tangannya.


“ Eittss tunggu dulu dong. Sini dulu, ada yang


pengen aku omongin lagi.” Andry menarik tangan Fani aga dia duduk kembali, kali


ini duduknya menjadi lebih dekat dengan Andry, tanpa berjarak.


“ Apa lagi sih? Udah ngomong sepanjang tali monyet


masih ada lagi yang pengen diomongin. Bukannya menabung rindu ya, kamu malah


menabung omongan selama ini.” Ucap Fani menatap Andry sinis. Ternyata Fani


judes juga ya, kalau lagi marah bawaannya seperti orang yang ingin berkelahi.


Tapi itu tidak begitu berarti bagi Andry, kemarahan Fani sama sekali tidak


menggoyahkan keberanian Andry. Alih-alih takut, Andry malah makin senang


melihat Fani yang marah-marah apalagi merajuk, pemandangan indah katanya.


Andry tidak menjawab apapun, hanya tersenyum menatap


Fani yang masih kesal dengan dirinya. Andai Fani adalah binatang buas, sudah


pasti habis dirinya sejak tadi. Ekspektasinya setelah lama tidak berjumpa


mereka akan sayang-sayangan, mesra-mesraan eh ternyata masih sama. Yang satu


usil yang satu ngambekan. Cocoklah.


“ Jangan murung gitu dong. Sekarang kita ngomong


serius ya.” Andry mencubit kedua pipi Fani, ah sudah tidak setembam dulu sih.


“ Oh jadi dari tadi gak serius gitu?.” Ketusnya


makin judes. Bukannya makin tenang, Fani malah makin bar-bar.


“ Bukan, bukan gitu maksudnya. Jangan merajuk dong,


sekarang kita ngomong serius dulu ya. Becandanya nanti, merajuknya nanti. Nanti


aku beliin ice cream.” Pujuk Andry seperti anak kecil, modalnya ya Cuma ice


cream.


“ Hum,” Dehem Fani. Kedua tangannya dilipat didada,


sorot matanya tetap tajam pada Andry.


Andry menghela nafas panjang, ya sudah nikmati


sajalah pemandangan ini pikirnya. Andry mengambil kotak pink yang berisi barang-barang


dan beberapa hadiah yang belum sempat diberikannya kepada Fani. Membuka


perlahan dan melihat isinya yang sudah tidak tertata rapi lagi. Mungkin karena


dibawa kesana kesini hingga isinya pontang panting.


“ Apa ini?.” Tanya Fani ketika melihat kotak yang


tidak asing baginya. Ini adalah kotak yang dikirimkannya pada Andry waktu itu.


“ Ini kan,,” Lanjut Fani sembari menunjuk kotak yang


dipegang Andry, tampak sudah lusuh dan tidak layak lagi. Walaupun begitu isinya


sangat penting bagi Andry.


“ Iya, ini kotak yang waktu itu kamu kirimkan. Ini


adalah kotak yang membuatku berhari-hari tidak ingin makan, apalagi surat yang


kamu kirimkan. Hampir gila aku membacanya. Kotak ini juga yang membuat aku


karena terlalu banyak berbicara.


Fani merampas kotak pink yang dia isi dengan


kenangan-kenangannya dengan Andry. Memeluk dengan erat, meminta maaf dalam


hatinya berulang kali karena telah melupakan barang-barang ini. karena


terpaksa, bukannya sengaja. Itu juga karena kekesalannya, bukan karena niatnya.


“ Terus ini mau diapain?.” Tanya Fani dengan mata


yang berkaca-kaca. Menyesal telah melupakan barang-barang yang dulu menjadi


kesayangannya. Terlebih lagi Fani sangat terharu karena Andry masih sudi


menyimpannya, walaupun dia mengatakan dia sangat kesal saat menerima kembali


barang-barang ini.


“ Tentu saja mengembalikannya denganmu.” Jawab Andry


tersenyum dan mengelus kepala Fani.


“ Sekarang kamu tau kan kalau kita hanya salah


paham. Harusnya kalau kamu mencurigai sesuatu kamu tanyakan saja padaku. Dari


awal juga aku gak suka sama Sophia, yang aku suka Cuma kamu. Lain kali jangan


mudah terpengaruh dengan orang lain ya, kamu harus percaya sama pasangan


sendiri.” Lanjut Andry.


Fani menghambur memeluk Andry. Selama ini dia merasa


terdzolimi, merasa jika dia adalah korban dari permainan Andry. Padahal


kenyataannya mereka berdua adalah korban dari ketidakpuasan seseorang. Ini


adalah salah Fani yang langsung mengambil kesimpulan sendiri tanpa meminta penjelasan


Andry. Kesalahan fatalnya adalah mengambil keputusan sendiri tanpa mengajak


Andry berdiskusi. Akhirnya dia kehilangan cintanya, dia yang merana. Yang


paling tersiksa adalah Andry, korban yang sesungguhnya adalah Andry. Apalagi


mendengar perjuangannya yang pahit hanya demi mencari Fani. Belum tentu lelaki


lain ingin membuang waktunya hanya demi mencari seorang wanita yang telah


membuangnya. Namun Andry, rela menghabiskan waktunya, melelahkan tubuhnya hanya


demi sebuah penjelasan, demi kejelasan cintanya. Lelaki terbaik yang pernah


ada.


“ Terimakasih sudah rela menghabiskan hari demi hari


hanya untuk menunggu aku yang kejam ini.” Ucap Fani sambil menangis


tersedu-sedu. Dia mengakui semua kesalahannya.


“ Terimakasih sudah sudi menunggu wanita kejam ini,


sampai hari ini. Terimakasih sudah sudi senantiasa menerima siwanita yang tidak


bisa menjaga perasaannya ini. Kamu terbaik, kamu lelaki terbaik yang pernah


ada.” Lanjut Fani. Tangisnya semakin kencang, sesalnya semakin terluahkan.

__ADS_1


Andry hanya bisa mendengarkan, senangnya bukan main.


Hari ini dia telah berhasil merebut kembali cintanya. Matanya berkaca-kaca,


ikut sedih mendengarkan sesal Fani yang telah menyakiti dirinya. Namun meskipun


Fani salah, Andry tetap tidak ingin menyalahkan. Yang dia ingin hanya kembali


membangun hubungan yang dilandaskan dengan kepercayaan.


“ Aku mohon kedepannya kalau ada masalah bicarakan


saja dari hati kehati. Jangan hanya karena emosi mengambil keputusan sendiri,”


Andry memohon setulus hati.


“ Iya kak, maafin aku ya.” Fani memeluk Andry


semakin erat.


“ Jadi gimana hubungan kak Andry sama Sophia?.”


Lanjut Fani malah menggoda Andry. Terkekeh geli hingga tubuhnya gemetar menahan


tawa.


“ Hem jangan mulai lagi deh.” Andry mencubit pipi


Fani gemas.


“ Udahan dong pelukannya. Kamu kan sekarang sudah


pacar orang lain. Aku gak mau ya dituduh sebagai perebut nantinya.” Andry


berbalik menggoda Fani. Sebenarnya ini adalah sindiran, inginnya Fani segera


melepaskan Endrico dan kembali pada dirinya.


“ Ih apaan sih.” Ketus Fani. Tangannya memukul kuat


dada Andry hingga siempunya terdorong dan meringis kesakitan.


“ Aduh kenapa sih malah dipukul, kan emang bener.”


Andry meringis kesakitan.


“ Makanya jangan menggoda aku lagi.” Fani


menjulurkan lidahnya, mengejek Andry yang masih meringis kesakitan.


“ Fan,” Andry memasang wajah serius, kembali


mendekati Fani dan memintanya untuk kembali berbicara dari hati ke hati.


“ Sebenarnya kamu cinta gak sih sama pacar kamu yang


sekarang?.” Tanya Andry.


“…” Fani tidak menjawab apapun, hanya menggidikkan


bahu tidak tahu. Padahal itu pacarnya, itu perasaannya. Tapi bisa-bisanya dia


mengatakan tidak tau.


“ Sebenarnya kamu masih punya perasaan gak sih sama


aku?.” Andry mengalihkan pertanyaan, masih sama yaitu tentang rasa yang Fani


punya.


“…” lagi-lagi Fani hanya menjawab dengan


menggidikkan bahu dan mengerutkan kening.


“ Gimana sih? Itu kan perasaan kamu, masa sih kamu


gak tau.” Ketus Andry mulai kesal melihat jawaban Fani. Padahal dia berharap


jika Fani mengatakan dengan lantang bahwa Fani mencintai dirinya.


“ Aku bingung kalau ditanya soal perasaan, emang


benar-benar gak tau.” Jawab Fani dengan wajah polosnya.


“ Huffhhh. Fan, apakah kamu masih punya rasa padaku


walaupun hanya secuil saja?.” Andry mengulangi pertanyaannya dengan tegas dan


pelan.


“ Hem.” Fani menggigit jarinya bingung. Apa yang


harus dikatakannya?.


“ Baiklah singkatnya begini, apakah kamu pilih aku


atau lelaki itu?.” Andry memberikan dua pilihan.


“ Ha?.” Sahutnya terbelalak kemudian diikuti senyum


cengengesan.


“ Apa yang harus aku jawab? Aku mencintai kalian


berdua.” Jawabnya Fani santai tanpa rasa bersalah. Berani-beraninya dia memilih


sekali dua bahkan didepan pilihannya.


Plak! Sebuah tamparan seolah mendarat dipipi Andry,


menyakitkan. Ternyata Fani menginginkan keduanya. Menyesal telah memberi pilihan


yang akhirnya tidak mendapat jawaban yang menyenangkan. Andry mengepalkan


tangannya, jari-jemarinya tidak lagi bergayang mengelus rambut Fani.


Hei


kau yang tamak. Berani-beraninya kau ingin pasang dua. Aku memberi pilihan agar


kau memilih salah satunya, bukan memilih keduanya.


“ Huffhhhh,” Andry menghela nafas panjang. Ternyata


berbicara serius dengan Fani membutuhkan banyak energy, apalagi lawan bicaranya


saat ini sangat menyebalkan, tapi juga menggemaskan.


“ Kenapa kak?.” Fani melepaskan pelukannya, menatap


wajah Andry seolah penuh tanda tanya. Ada apa dengan dirinya.


“ Gapapa kok.” Ucap Andry datar. Padahal saking


kesalnya, Andry serasa ingin menoyor kepala Fani agar sadar.


“ Hum,” Fani berdehem. Kemudian kembali menghambur


memeluk Andry. Mendadak dipeluk dan memeluk adalah favoritenya. Tanpa menyadari


jika yang dipeluknya adalah lelaki yang sudah tidak memiliki hubungan


dengannya.


“ Jadi, bagaimana sekarang? Apa kamu mau kita


kembali bersama? Apa kamu setuju kalau kita balikan? Apa kamu mau kalau kita


bersama-sama membangun hubungan, bersama-sama menjalaninya dan menikmati jalan

__ADS_1


ceritanya. Apa kamu mau?.” Tanya Andry langsung pada intinya.


__ADS_2