
Fani terbelalak, seharusnya Andry yang panic tapi
malah dia yang panic. Fani seketika berhenti meringis mengerang, diam membeku
didalam pelukan Andry. Sangat menegangkan. Seluruh tubuh Fani terasa lemah
ingin pingsan, apalagi Andry memeluknya dengan sangat kencang. Mungkin karena
Andry terlalu khawatir melihat Fani yang berteriak kesakitan dari tadi.
Hei.
Kau memang licik ya! Aku yang ingin membuatmu panic, membalas kau yang
menyebalkan ini. Eh malah aku yang kau buat semakin panic, kau malah semakin
menyebalkan.
“ Fan, maafin aku ya becandanya kelewatan.” Ucap
Andry dengan nada lirih, jangan-jangan dia juga ikutan menangis karena terlalu
merasa bersalah.
“ Maafin aku.” Ulangnya sekali lagi, kemudian Andry
semakian mengeratkan pelukannya, semakin menarik Fani bersandar didadanya.
“ Huuhhhmmmm.” Fani meringis, nafasnya terasa sesak.
Andry memeluknya sangat kencang, bahkan untuk sekedar bernafas saja dia susah.
Namun karena terlalu erat pula lah Fani bisa mendengar kencangnya detak jantung
Andry, bisa mendengar nafasnya yang menderu-deru, bahkan ketika masih pacaran
pun Fani belum pernah mendengar sejelas ini. Apakah ini juga karena Andry yang
terlalu khawatir?.
“ Kak, beri renggang atau aku akan mati karena tidak
bisa bernafas.” Protes Fani lirih, tubuhnya menggeliat mencari celah agar bisa
melepaskan diri.
“ Kamu gapapa kan? Maaf ya.” Andry melepaskan tubuh
Fani dari pelukannya, dan ternyata Andry benar-benar sedih bahkan hampir
menangis. Matanya berkaca-kaca hanya karena Fani yang pura-pura.
Ya
tuhan, ternyata kau benar-benar ketakutan ya? Duh kenapa malah aku yang merasa
bersalah ya?.
“ Aku gapapa kok kak Andry.” Fani menggeleng kepala
dan kemudian tersenyum manis. Karena Andry benar-benar sedih, Fani juga harus
menyeimbangkan diri. Pikirannya bergelayut entah kemana, memutar kisah-kisah
sedih agar dia kembali memproduksi air mata, dan akhirnya Fani bisa menangis
kembali. Air matanya luruh sembari bibirnya tersenyum, kesannya sih seperti
wanita tegar. Padahal ini hanya bentuk persamaan peran.
Andry kembali menarik Fani kedalam pelukannya, jari
jemarinya dengan pelan mengelus rambut Fani yang mulai kusut masai. Untuk apa
lagi menahan diri jika ini sudah terjadi, Andry memilih untuk memanfaatkan
situasi ini sebaik mungkin untuk meluahkan rindu yang membuatnya selama ini
menjadi halu.
“ Kak,” Fani memanggilnya. Kedua tangan Fani mencoba
mendorong Andry agar melepaskan pelukannya. Namun bukannya melepaskan diri,
Andry malah semakin menarik Fani, memeluk erat.
Maaf
fan. Aku sudah tidak bisa lagi menahan diri. Aku terlalu rindu. Sekuat apapun
aku memaku diri sejak kemarin, hari ini aku luruh. Bahkan aku rela menentang
diri hanya untuk merasakan kembali hangatnya tubuhmu.
“ Kak.” Ulang Fani lagi.
“ Hum.” Andry hanya menjawab dengan berdehem.
“ Kita dimana sih? Masa pergi hanya untuk
peluk-pelukan doang sih.” Lanjutnya mencari alasan agar Andry segera melepaskan
pelukan.
“ Ada deh. Jangan bergerak, tunggu sebentar lagi.
Aku masih ingin seperti ini, masih kangen.” Saking menikmati suasana, Andry sampai
tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Kejujuran keluar dari mulut manisnya,
hahahaha rusak lah harga dirimu.
Fani tersipu malu mendengar ucapan Andry, kata-kata
yang sudah lama tidak menyapa telinganya. Hari ini Andry mengatakannya,
apakah sebenarnya ini yang ingin Andry
katakana? Sebuah kata kerinduan?. Namun tiba-tiba Fani teringat jika mereka
berdua sudah tidak lagi memiliki hubungan, lalu untuk apalagi saling menghangat
dalam pelukan? Bayangan wajah Endrico seketika muncul menatapnya secara tajam,
membuat Fani benar-benar tersadar jika yang dilakukannya ini sama sekali tidak
benar. Sontak Fani mendorong tubuh Andry hingga terlepas dari pelukan, kuat
hingga kepala Andry terhantuk dipintu sebelahnya.
“ Aduhh.” Erang Andry sembari mengelus kepalanya.
Keningnya mengkerut kesakitan, sedangkan Fani sibuk merapikan diri dan
menggigil ketakutan.
“ Kenapa sih harus dorong-dorong begini.” Protes
Andry, tangannya terus mengelus kepalanya yang sakit. Wajahnya berubah menjadi
masam, menatap Fani dengan penuh keheranan. Kenapa dia tiba-tiba menjadi
kasar?.
“ Hmm maaf kak, soalnya aku sesak gabisa nafas.”
Jawab Fani berdalih. Tangannya saling mengelus karena merinding, bisa-bisanya
bayangan Endrico membuatnya setakut ini. Fani ketakutan bak melihat setan.
Fani mengedarkan pandangannya, sejak mobil berhenti
dia belum melihat dimana mereka. Dan taraaaaa ternyata Andry membawanya
ketempat yang paling dia suka, wajah takutnya seketika berubah menjadi senyum
bahagia. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan senyumnya sudah tidak bisa
__ADS_1
ditahan. Fani berteriak kesenangan, sedangkan Andry yang disebelahnya masih
sibuk dengan kepala yang terhantuk pintu mobil.
“ Aaaaa pantaaiiii..” Fani berteriak kesenangan,
bertepuk tangan bak anak kecil yang baru saja dibelikan mainan. Benar-benar
sesederhana ini untuk membuatnya bahagia.
“ Aaaaaaaaa pantaii. Aku kangen.” Teriaknya lagi.
Fani benar-benar tidak bisa menahan diri, tangannya mencekam kuat tangan Andry
seolah mengucapkan terimakasih. Wajah full senyumnya juga disodorkan pada
lelaki yang telah membawanya ketempat paling dia sukai ini.
Mendadak rasa sakit dikepala Andry hilang. Yang ada
hanya rasa bahagia melihat wanita yang dicintainya tersenyum bahagia. Fani
masih sama, masih suka dengan alam terbuka. Fani berlari menghambur keluar dari
mobil, menyapa pasir pantai dan nyiur yang melambai-lambai. Senyumnya tak
berhenti mekar, bahkan tidak ada tanda-tanda akan kuncup. Sebahagia itukah dia? Andry tersenyum menatap gadis kecil yang
manja itu, kemudian menyusul Fani yang sudah jauh berlari menemui bibir pantai.
Andry mengambil kotak berwarna pink yang sudah menemani perjalanannya, hari ini
dia akan menuntaskan perasaannya. Hari ini juga Andry akan menyerahkan semua
yang sudah seharusnya. Perlahan Andry berjalan, menikmati desiran angina pantai, menikmati indahnya deburan
ombak yang menerjang karang. Hari ini, Andry ingin mengulang kisahnya kembali.
Perkara bagaimana nanti, bagaimana akan berakhir tidak masalah. Yang penting
semua kecamuk-kecamuk hatinya tersampaikan, disini ditempat yang paling tenang
dan menenangkan.
“ Kakkkkkk.” Teriak Fani memanggilnya, jarinya
menjentik meminta Andry mendekat.
“ Kakkkkk sini.” Teriak Fani lagi. Andry tersenyum
sembari mempercepat langkah kakinya, mendekati gadis yang sudah menunggu
dirinya.
“ Terimakasih yaaa.” Fani tiba-tiba menghambur
memeluk Andry yang mendekatinya. Tadi menolak dipeluk, sekarang malah dia yang
memeluk. Memang mood wanita mudah berubah-ubah yaaa.
“ Makasih udah ajak aku balik lagi kesini, aaa aku
senang.” Lanjutnya. Fani tidak henti-hentinya tersenyum girang, matanya
menyipit tersapu angin. Sesekali jemarinya merapikan rambutnya yang diterbang
angin.
“ Iya sama-sama. Aku juga udah lama pengen ke
pantai. Jadi mumpung kamu disini yaudah sekalian.” Andry mengelus rambut Fani berulang
kali. Ngomong-ngomong Ini termasuk perselingkuhan gak sih?.
Andry menarik tangan Fani menuju pohon rindang yang
biasa mereka pakai untuk berteduh. Karena tujuan Andry kali ini adalah
memperjelas status dan ingin mengetahui bagaimana perasaan Fani terhadapnya
saat ini. Apakah masih sama atau sudah berubah seluruhnya. Meskipun mengorak
kekasih, namun Andry tidak peduli. Ini juga menyangkut perasaannya, ini
menyangkut kejelasan hubungannya. Jika Fani sudah tidak mencintainya dan
meninggalkannya hanya karena lelaki lain, maka Andry akan mengalah dan
merelakan. Terlebih Andry ingin mengetahui sejak kapan dia berhubungan dengan
Endrico, apakah ini adalah scandal?.
“ Sini duduk dulu.” Andry menyapu akar pohon dengan
telapak tangannya, memastikan benar-benar bersih untuk diduduki Fani.
“ Iya kak,” Fani hanya menurut. Senyumnya belum
kuncup, seolah belum berhenti mengatakan terimakasih sudah membawa saya
ketempat seindah ini.
“ Aku udah bilang kan, kalau aku pengen tanya
sesuatu sama kamu. Dan sekarang aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Disini,
dibawah pohon rindang ini, disaksikan matahari dan ombak pantai. Aku mau kamu
jujur, seperti pertama kali kita kesini. Seperti pertama kali kita memadu
kasih, hari ini saksinya masih sama. Aku mau kamu mengatakan yang sejujurnya.”
Andry menggenggam erat kedua tangan Fani. Semua pikirannya tentang Fani kekasih
orang dia singkirkan sejauh-jauhnya. Tidak peduli lagi apakah dia akan dianggap
lelaki bejat yang tidak bermoral karena sembarangan menyentuh kekasih orang,
tidak peduli. Yang penting saat ini adalah mengulang kisah, memperjelas
semuanya. Ditempat yang sama dan dengan orang yang sama.
“ Kak, kenapa harus tegang begini sih. Tinggal
ngomong aja, jangan bikin aku jadi deg-degan dong.” Fani cengengesan. Padahal
sebenarnya dia memang deg-degan. Apalagi wajah Andry yang serius menatapanya.
Jangan
jangan, jangan jangan. Ah jangan jangan kau ingin menjebakku dalam masa lalu
ya? Aaaaaa gimana ini?
“ Fan, ini serius banget. Ini penting banget, aku
harus dengar jawaban langsung dari kamu.” Andry mengela nafas panjang,
tangannya perlahan-lahan melepaskan genggangamannya. Andry berubah posisi,
menatap kearah pantai yang berisik.
“ Hem,” Fani berdehem. Pandangannya seolah tidak
ingin lepas dari lelaki yang pernah mengisi ruang hatinya ini, eh bahkan sampai
saat ini. Menatap wajah putih Andry dan rambutnya yang terbang kesana sini
mengikuti arah angin.
“ Fan, sebenarnya kamu kenapa sih?.” Andry mulai
membuka kisah. Memperjelas semua yang mengganjal dihatinya. Pandangannya tidak
beralih dari pantai, tidak ingin menatap Fani sekalipun dia sedang memakai
kacamata hitam. Tangannya sibuk melempar beberapa batu kecil kedalam air,
__ADS_1
menimbulkan bunyi gemercik yang diiringi debur ombak.
“ Aku gapapa kok kak.” Jawab Fani polos. Jawaban
Fani juga gak ada salahnya, kan Andry nanya dia kenapa? Ya, dia gapapa kan.
Buktinya baik-baik aja, sehat wal’afiat.
“ Huffhhh.” Andry menghembuskan nafas keras.
Tangannya semakin cepat melempar bebatuan kearah pantai, sudah mulai kesal.
Tanyanya serius, tapi Fani menganggap becandaan.
“ Emangnya aku kenapa kak Andry? Kan aku memang
baik-baik aja sih.” Fani semakin menjadi-jadi. Seolah ingin membangunkan singa
dari tidurnya, dia menjawab seolah tidak terjadi apa-apa, entah tidak tau atau
pura-pura lupa.
“ Hufffhhhh.” Andry kembali menghembuskan nafasnya
kencang. Kali ini dia tidak bisa duduk diam, Andry beranjak dan berjalan
mendekat pantai. Melemparkan batu sekencang-kencangnya hingga jauh kedalam air.
“ Kamu sebenarnya masih cinta gak sih sama aku Fan?
Kamu masih ada rasa gak sih?.” Andry langsung saja pada inti pembicaraan.
Mencoba basa-basi tapi Fani pura-pura tidak mengerti, yasudah mungkin langsung
pada inti akan membuatnya mengerti.
Fani terperanjak mendengar pertanyaan yang
dilontarkan oleh Andry, tubuhnya menggigil panas dingin. Ternyata benar, Andry
mengajaknya kesini hanya untuk menilas balik kisah lama mereka, mencongkel
rahasia-rahasia yang sudah lama disimpannya. Lalu apa yang harus dijawab
olehnya?.
“ …” Fani hanya terdiam. Menunduk sembari
memelintirkan jari. Bingung harus menjawab apa, terlebih lagi ini adalah
rahasia lama yang sudah tidak bisa lagi dibukanya. Diam adalah satu-satunya
cara agar tidak membuat dirinya dan Andry terluka.
Cukup lama Fani terdiam, Andry pun sudah tidak
sabaran. Emosinya menyeruak membuatnya kembali mendekati Fani, menggenggam
kedua tangan Fani secara kasar dan memaksanya untuk berbicara. Entah apa yang
membuat Andry menjadi arogan, padahal sebelumnya hal seperti ini tidak pernah
dia lakukan.
“ Jawab Fan!.” Bentaknya kasar. Andry tidak sabar
mendengar jawaban dari mulut Fani. Tanpa sadar bulir air mata membasahi pipi
Fani. Ini kali pertamanya Andry membentak dan memarahinya, apalagi tangannya
digenggam kuat, sakit.
“ Jawab Fan, tolong jawab. Aku butuh jawabanmu
sekarang.” Lanjutnya. Suara Andry perlahan mulai pelan, rasa bersalah
menyelimuti dirinya. Karena dia yang tidak sabar dan arogan membuat Fani jadi
menangis ketakutan.
“ Maafin aku Fan, tapi aku butuh jawaban. Aku butuh
kejelasan. Kenapa kamu memutuskan hubungan kita secara sepihak, bahkan tanpa
mengajak aku untuk berbicara, mendiskusikan masalah. Kamu mengambil keputusan
sendiri, kamu mementingkan diri, kamu egois. Hingga aku berada dititik paling
sulit, kamu sudah tidak lagi bisa dihubungi, aku sedih aku sedih Fan.” Andry
tidak bisa mengendalikan diri. Amarahnya berubah menjadi tangis, sudah tidak
terbendung lagi. Andry meluahkan semua kekesalannya, semua unek-unek yang
selama ini dipendamnya.
Fani terdiam, mencerna perkataan Andry. Apa? Dia
mengatakan seolah Fani lah yang jahat, mengatakan seolah dia tidak melakukan
kesalahan.
“ Ha? Aku yang salah? Aku memutuskan sepihak? Iya
benar. Untuk apa lagi aku berdiskusi dengan kak Andry yang ternyata diam-diam
bermain dibelakang. Sudah cukup, aku sudah muak melihat kemesraan kalian
disosial media, apa karena aku pindah keluar kota? Apa karena kita sudah
berjarak makanya kak Andry memilih untuk bermain dibelakang? Kalau emang udah
gak sanggup harusnya bilang, jangan yang disini mau disana juga mau.” Fani tak
mau kalah. Tidak ingin sepenuhnya kesalahan diletakkan pada dirinya, padahal
dia merasa sama sekali tidak bersalah. Yang salah adalah Andry yang
berselingkuh dengan Sophia sahabatnya.
“ Kalian? Siapa kalian?.” Tanya Andry kebingungan.
“ Iya, kak Andry dan Sophia.” Ketus Fani sembari
menyeka air mata yang membasahi pipinya.
“ Sophia? Kenapa? Ada apa dengan aku dan Sophia?.”
Andry semakin bingung dengan ucapan Fani, benar-benar tidak mengerti kenapa dalam
masalah mereka ada nama Sophia.
“ Heleh jangan pura-pura gak tau deh. Aku juga gak
mungkin mutusin tanpa sebab. Karena kak Andry selingkuh dengan Sophia, aku
tidak bisa terima. Aku sudah memikirkannya berhari-hari, dan keputusanku adalah
menjauhi kak Andry. Bagaimana sekarang sudah bahagia kan?.” Fani tersenyum
cengengesan, wajahnya tampak sembab. Dengan penuh percaya diri dia memaparkan
semua kebusukan dan kesalahan Andry.
“ Aku selingkuh sama Sophia? Kamu jangan
mengada-ngada ya. Apa buktinya? Bukannya kamu meninggalkanku karena memilih
lelaki yang waktu itu kamu sebut hanya kakak kelasmu. Ternyata dugaanku benar
ya, kamu memang ada apa-apa dengannya.” Andry tidak mau kalah. Mereka saling
menyalahkan, saling membongkar sesuatu yang mereka anggap kebusukan pasangan.
“ Lihat ini!.” Fani menyodorkan ponselnya kehadapan
Andry.
__ADS_1
“ Ha?.” Ucap Andry sembari terbelalak kaget.