Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Bernostalgia dipantai


__ADS_3

Fani terbelalak, seharusnya Andry yang panic tapi


malah dia yang panic. Fani seketika berhenti meringis mengerang, diam membeku


didalam pelukan Andry. Sangat menegangkan. Seluruh tubuh Fani terasa lemah


ingin pingsan, apalagi Andry memeluknya dengan sangat kencang. Mungkin karena


Andry terlalu khawatir melihat Fani yang berteriak kesakitan dari tadi.


Hei.


Kau memang licik ya! Aku yang ingin membuatmu panic, membalas kau yang


menyebalkan ini. Eh malah aku yang kau buat semakin panic, kau malah semakin


menyebalkan.


“ Fan, maafin aku ya becandanya kelewatan.” Ucap


Andry dengan nada lirih, jangan-jangan dia juga ikutan menangis karena terlalu


merasa bersalah.


“ Maafin aku.” Ulangnya sekali lagi, kemudian Andry


semakian mengeratkan pelukannya, semakin menarik Fani bersandar didadanya.


“ Huuhhhmmmm.” Fani meringis, nafasnya terasa sesak.


Andry memeluknya sangat kencang, bahkan untuk sekedar bernafas saja dia susah.


Namun karena terlalu erat pula lah Fani bisa mendengar kencangnya detak jantung


Andry, bisa mendengar nafasnya yang menderu-deru, bahkan ketika masih pacaran


pun Fani belum pernah mendengar sejelas ini. Apakah ini juga karena Andry yang


terlalu khawatir?.


“ Kak, beri renggang atau aku akan mati karena tidak


bisa bernafas.” Protes Fani lirih, tubuhnya menggeliat mencari celah agar bisa


melepaskan diri.


“ Kamu gapapa kan? Maaf ya.” Andry melepaskan tubuh


Fani dari pelukannya, dan ternyata Andry benar-benar sedih bahkan hampir


menangis. Matanya berkaca-kaca hanya karena Fani yang pura-pura.


Ya


tuhan, ternyata kau benar-benar ketakutan ya? Duh kenapa malah aku yang merasa


bersalah ya?.


“ Aku gapapa kok kak Andry.” Fani menggeleng kepala


dan kemudian tersenyum manis. Karena Andry benar-benar sedih, Fani juga harus


menyeimbangkan diri. Pikirannya bergelayut entah kemana, memutar kisah-kisah


sedih agar dia kembali memproduksi air mata, dan akhirnya Fani bisa menangis


kembali. Air matanya luruh sembari bibirnya tersenyum, kesannya sih seperti


wanita tegar. Padahal ini hanya bentuk persamaan peran.


Andry kembali menarik Fani kedalam pelukannya, jari


jemarinya dengan pelan mengelus rambut Fani yang mulai kusut masai. Untuk apa


lagi menahan diri jika ini sudah terjadi, Andry memilih untuk memanfaatkan


situasi ini sebaik mungkin untuk meluahkan rindu yang membuatnya selama ini


menjadi halu.


“ Kak,” Fani memanggilnya. Kedua tangan Fani mencoba


mendorong Andry agar melepaskan pelukannya. Namun bukannya melepaskan diri,


Andry malah semakin menarik Fani, memeluk erat.


Maaf


fan. Aku sudah tidak bisa lagi menahan diri. Aku terlalu rindu. Sekuat apapun


aku memaku diri sejak kemarin, hari ini aku luruh. Bahkan aku rela menentang


diri hanya untuk merasakan kembali hangatnya tubuhmu.


“ Kak.” Ulang Fani lagi.


“ Hum.” Andry hanya menjawab dengan berdehem.


“ Kita dimana sih? Masa pergi hanya untuk


peluk-pelukan doang sih.” Lanjutnya mencari alasan agar Andry segera melepaskan


pelukan.


“ Ada deh. Jangan bergerak, tunggu sebentar lagi.


Aku masih ingin seperti ini, masih kangen.” Saking menikmati suasana, Andry sampai


tidak sadar dengan apa yang dikatakannya. Kejujuran keluar dari mulut manisnya,


hahahaha rusak lah harga dirimu.


Fani tersipu malu mendengar ucapan Andry, kata-kata


yang sudah lama tidak menyapa telinganya. Hari ini Andry mengatakannya,


apakah  sebenarnya ini yang ingin Andry


katakana? Sebuah kata kerinduan?. Namun tiba-tiba Fani teringat jika mereka


berdua sudah tidak lagi memiliki hubungan, lalu untuk apalagi saling menghangat


dalam pelukan? Bayangan wajah Endrico seketika muncul menatapnya secara tajam,


membuat Fani benar-benar tersadar jika yang dilakukannya ini sama sekali tidak


benar. Sontak Fani mendorong tubuh Andry hingga terlepas dari pelukan, kuat


hingga kepala Andry terhantuk dipintu sebelahnya.


“ Aduhh.” Erang Andry sembari mengelus kepalanya.


Keningnya mengkerut kesakitan, sedangkan Fani sibuk merapikan diri dan


menggigil ketakutan.


“ Kenapa sih harus dorong-dorong begini.” Protes


Andry, tangannya terus mengelus kepalanya yang sakit. Wajahnya berubah menjadi


masam, menatap Fani dengan penuh keheranan. Kenapa dia tiba-tiba menjadi


kasar?.


“ Hmm maaf kak, soalnya aku sesak gabisa nafas.”


Jawab Fani berdalih. Tangannya saling mengelus karena merinding, bisa-bisanya


bayangan Endrico membuatnya setakut ini. Fani ketakutan bak melihat setan.


Fani mengedarkan pandangannya, sejak mobil berhenti


dia belum melihat dimana mereka. Dan taraaaaa ternyata Andry membawanya


ketempat yang paling dia suka, wajah takutnya seketika berubah menjadi senyum


bahagia. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan senyumnya sudah tidak bisa

__ADS_1


ditahan. Fani berteriak kesenangan, sedangkan Andry yang disebelahnya masih


sibuk dengan kepala yang terhantuk pintu mobil.


“ Aaaaa pantaaiiii..” Fani berteriak kesenangan,


bertepuk tangan bak anak kecil yang baru saja dibelikan mainan. Benar-benar


sesederhana ini untuk membuatnya bahagia.


“ Aaaaaaaaa pantaii. Aku kangen.” Teriaknya lagi.


Fani benar-benar tidak bisa menahan diri, tangannya mencekam kuat tangan Andry


seolah mengucapkan terimakasih. Wajah full senyumnya juga disodorkan pada


lelaki yang telah membawanya ketempat paling dia sukai ini.


Mendadak rasa sakit dikepala Andry hilang. Yang ada


hanya rasa bahagia melihat wanita yang dicintainya tersenyum bahagia. Fani


masih sama, masih suka dengan alam terbuka. Fani berlari menghambur keluar dari


mobil, menyapa pasir pantai dan nyiur yang melambai-lambai. Senyumnya tak


berhenti mekar, bahkan tidak ada tanda-tanda akan kuncup. Sebahagia itukah  dia? Andry tersenyum menatap gadis kecil yang


manja itu, kemudian menyusul Fani yang sudah jauh berlari menemui bibir pantai.


Andry mengambil kotak berwarna pink yang sudah menemani perjalanannya, hari ini


dia akan menuntaskan perasaannya. Hari ini juga Andry akan menyerahkan semua


yang sudah seharusnya. Perlahan Andry  berjalan, menikmati desiran angina pantai, menikmati indahnya deburan


ombak yang menerjang karang. Hari ini, Andry ingin mengulang kisahnya kembali.


Perkara bagaimana nanti, bagaimana akan berakhir tidak masalah. Yang penting


semua kecamuk-kecamuk hatinya tersampaikan, disini ditempat yang paling tenang


dan menenangkan.


“ Kakkkkkk.” Teriak Fani memanggilnya, jarinya


menjentik meminta Andry mendekat.


“ Kakkkkk sini.” Teriak Fani lagi. Andry tersenyum


sembari mempercepat langkah kakinya, mendekati gadis yang sudah menunggu


dirinya.


“ Terimakasih yaaa.” Fani tiba-tiba menghambur


memeluk Andry yang mendekatinya. Tadi menolak dipeluk, sekarang malah dia yang


memeluk. Memang mood wanita mudah berubah-ubah yaaa.


“ Makasih udah ajak aku balik lagi kesini, aaa aku


senang.” Lanjutnya. Fani tidak henti-hentinya tersenyum girang, matanya


menyipit tersapu angin. Sesekali jemarinya merapikan rambutnya yang diterbang


angin.


“ Iya sama-sama. Aku juga udah lama pengen ke


pantai. Jadi mumpung kamu disini yaudah sekalian.” Andry mengelus rambut Fani berulang


kali. Ngomong-ngomong Ini termasuk perselingkuhan gak sih?.


Andry menarik tangan Fani menuju pohon rindang yang


biasa mereka pakai untuk berteduh. Karena tujuan Andry kali ini adalah


memperjelas status dan ingin mengetahui bagaimana perasaan Fani terhadapnya


saat ini. Apakah masih sama atau sudah berubah seluruhnya. Meskipun mengorak


kekasih, namun Andry tidak peduli. Ini juga menyangkut perasaannya, ini


menyangkut kejelasan hubungannya. Jika Fani sudah tidak mencintainya dan


meninggalkannya hanya karena lelaki lain, maka Andry akan mengalah dan


merelakan. Terlebih Andry ingin mengetahui sejak kapan dia berhubungan dengan


Endrico, apakah ini adalah scandal?.


“ Sini duduk dulu.” Andry menyapu akar pohon dengan


telapak tangannya, memastikan benar-benar bersih untuk diduduki Fani.


“ Iya kak,” Fani hanya menurut. Senyumnya belum


kuncup, seolah belum berhenti mengatakan terimakasih sudah membawa saya


ketempat seindah ini.


“ Aku udah bilang kan, kalau aku pengen tanya


sesuatu sama kamu. Dan sekarang aku rasa ini adalah waktu yang tepat. Disini,


dibawah pohon rindang ini, disaksikan matahari dan ombak pantai. Aku mau kamu


jujur, seperti pertama kali kita kesini. Seperti pertama kali kita memadu


kasih, hari ini saksinya masih sama. Aku mau kamu mengatakan yang sejujurnya.”


Andry menggenggam erat kedua tangan Fani. Semua pikirannya tentang Fani kekasih


orang dia singkirkan sejauh-jauhnya. Tidak peduli lagi apakah dia akan dianggap


lelaki bejat yang tidak bermoral karena sembarangan menyentuh kekasih orang,


tidak peduli. Yang penting saat ini adalah mengulang kisah, memperjelas


semuanya. Ditempat yang sama dan dengan orang yang sama.


“ Kak, kenapa harus tegang begini sih. Tinggal


ngomong aja, jangan bikin aku jadi deg-degan dong.” Fani cengengesan. Padahal


sebenarnya dia memang deg-degan. Apalagi wajah Andry yang serius menatapanya.


Jangan


jangan, jangan jangan. Ah jangan jangan kau ingin menjebakku dalam masa lalu


ya? Aaaaaa gimana ini?


“ Fan, ini serius banget. Ini penting banget, aku


harus dengar jawaban langsung dari kamu.” Andry mengela nafas panjang,


tangannya perlahan-lahan melepaskan genggangamannya. Andry berubah posisi,


menatap kearah pantai yang berisik.


“ Hem,” Fani berdehem. Pandangannya seolah tidak


ingin lepas dari lelaki yang pernah mengisi ruang hatinya ini, eh bahkan sampai


saat ini. Menatap wajah putih Andry dan rambutnya yang terbang kesana sini


mengikuti arah angin.


“ Fan, sebenarnya kamu kenapa sih?.” Andry mulai


membuka kisah. Memperjelas semua yang mengganjal dihatinya. Pandangannya tidak


beralih dari pantai, tidak ingin menatap Fani sekalipun dia sedang memakai


kacamata hitam. Tangannya sibuk melempar beberapa batu kecil kedalam air,

__ADS_1


menimbulkan bunyi gemercik yang diiringi debur ombak.


“ Aku gapapa kok kak.” Jawab Fani polos. Jawaban


Fani juga gak ada salahnya, kan Andry nanya dia kenapa? Ya, dia gapapa kan.


Buktinya baik-baik aja, sehat wal’afiat.


“ Huffhhh.” Andry menghembuskan nafas keras.


Tangannya semakin cepat melempar bebatuan kearah pantai, sudah mulai kesal.


Tanyanya serius, tapi Fani menganggap becandaan.


“ Emangnya aku kenapa kak Andry? Kan aku memang


baik-baik aja sih.” Fani semakin menjadi-jadi. Seolah ingin membangunkan singa


dari tidurnya, dia menjawab seolah tidak terjadi apa-apa, entah tidak tau atau


pura-pura lupa.


“ Hufffhhhh.” Andry kembali menghembuskan nafasnya


kencang. Kali ini dia tidak bisa duduk diam, Andry beranjak dan berjalan


mendekat pantai. Melemparkan batu sekencang-kencangnya hingga jauh kedalam air.


“ Kamu sebenarnya masih cinta gak sih sama aku Fan?


Kamu masih ada rasa gak sih?.” Andry langsung saja pada inti pembicaraan.


Mencoba basa-basi tapi Fani pura-pura tidak mengerti, yasudah mungkin langsung


pada inti akan membuatnya mengerti.


Fani terperanjak mendengar pertanyaan yang


dilontarkan oleh Andry, tubuhnya menggigil panas dingin. Ternyata benar, Andry


mengajaknya kesini hanya untuk menilas balik kisah lama mereka, mencongkel


rahasia-rahasia yang sudah lama disimpannya. Lalu apa yang harus dijawab


olehnya?.


“ …” Fani hanya terdiam. Menunduk sembari


memelintirkan jari. Bingung harus menjawab apa, terlebih lagi ini adalah


rahasia lama yang sudah tidak bisa lagi dibukanya. Diam adalah satu-satunya


cara agar tidak membuat dirinya dan Andry terluka.


Cukup lama Fani terdiam, Andry pun sudah tidak


sabaran. Emosinya menyeruak membuatnya kembali mendekati Fani, menggenggam


kedua tangan Fani secara kasar dan memaksanya untuk berbicara. Entah apa yang


membuat Andry menjadi arogan, padahal sebelumnya hal seperti ini tidak pernah


dia lakukan.


“ Jawab Fan!.” Bentaknya kasar. Andry tidak sabar


mendengar jawaban dari mulut Fani. Tanpa sadar bulir air mata membasahi pipi


Fani. Ini kali pertamanya Andry membentak dan memarahinya, apalagi tangannya


digenggam kuat, sakit.


“ Jawab Fan, tolong jawab. Aku butuh jawabanmu


sekarang.” Lanjutnya. Suara Andry perlahan mulai pelan, rasa bersalah


menyelimuti dirinya. Karena dia yang tidak sabar dan arogan membuat Fani jadi


menangis ketakutan.


“ Maafin aku Fan, tapi aku butuh jawaban. Aku butuh


kejelasan. Kenapa kamu memutuskan hubungan kita secara sepihak, bahkan tanpa


mengajak aku untuk berbicara, mendiskusikan masalah. Kamu mengambil keputusan


sendiri, kamu mementingkan diri, kamu egois. Hingga aku berada dititik paling


sulit, kamu sudah tidak lagi bisa dihubungi, aku sedih aku sedih Fan.” Andry


tidak bisa mengendalikan diri. Amarahnya berubah menjadi tangis, sudah tidak


terbendung lagi. Andry meluahkan semua kekesalannya, semua unek-unek yang


selama ini dipendamnya.


Fani terdiam, mencerna perkataan Andry. Apa? Dia


mengatakan seolah Fani lah yang jahat, mengatakan seolah dia tidak melakukan


kesalahan.


“ Ha? Aku yang salah? Aku memutuskan sepihak? Iya


benar. Untuk apa lagi aku berdiskusi dengan kak Andry yang ternyata diam-diam


bermain dibelakang. Sudah cukup, aku sudah muak melihat kemesraan kalian


disosial media, apa karena aku pindah keluar kota? Apa karena kita sudah


berjarak makanya kak Andry memilih untuk bermain dibelakang? Kalau emang udah


gak sanggup harusnya bilang, jangan yang disini mau disana juga mau.” Fani tak


mau kalah. Tidak ingin sepenuhnya kesalahan diletakkan pada dirinya, padahal


dia merasa sama sekali tidak bersalah. Yang salah adalah Andry yang


berselingkuh dengan Sophia sahabatnya.


“ Kalian? Siapa kalian?.” Tanya Andry kebingungan.


“ Iya, kak Andry dan Sophia.” Ketus Fani sembari


menyeka air mata yang membasahi pipinya.


“ Sophia? Kenapa? Ada apa dengan aku dan Sophia?.”


Andry semakin bingung dengan ucapan Fani, benar-benar tidak mengerti kenapa dalam


masalah mereka ada nama Sophia.


“ Heleh jangan pura-pura gak tau deh. Aku juga gak


mungkin mutusin tanpa sebab. Karena kak Andry selingkuh dengan Sophia, aku


tidak bisa terima. Aku sudah memikirkannya berhari-hari, dan keputusanku adalah


menjauhi kak Andry. Bagaimana sekarang sudah bahagia kan?.” Fani tersenyum


cengengesan, wajahnya tampak sembab. Dengan penuh percaya diri dia memaparkan


semua kebusukan dan kesalahan Andry.


“ Aku selingkuh sama Sophia? Kamu jangan


mengada-ngada ya. Apa buktinya? Bukannya kamu meninggalkanku karena memilih


lelaki yang waktu itu kamu sebut hanya kakak kelasmu. Ternyata dugaanku benar


ya, kamu memang ada apa-apa dengannya.” Andry tidak mau kalah. Mereka saling


menyalahkan, saling membongkar sesuatu yang mereka anggap kebusukan pasangan.


“ Lihat ini!.” Fani menyodorkan ponselnya kehadapan


Andry.

__ADS_1


“ Ha?.” Ucap Andry sembari terbelalak kaget.


__ADS_2