Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Ternyata Tetangga


__ADS_3

Bel pulang sudah berbunyi, dengan cepat Fani mencoba menghubungi ayahnya. Tangannya gemetaran sambil menatap sekeliling, takut jika sosok Endrico sudah ada disekitarnya. Sebelah tangannya menggenggam ponsel dan yang satunya mengemasi barang-barang diatas meja.


" Aku duluan ya Rif." Ucapnya sambil mempercepat langkah meninggalkan ruang kelas. Tangannya  masih mencoba menghubungi ayah berulang kali.


" Eh Fani, mau kemana? Kamu bawa kendaraan sendiri ya?" Teriaknya kemudian bergegas menyusul Fani.


Fani menunggu dipagar sekolah, masih mencoba menghubungi sang ayah. Sudah berulang kali namun masih belum ada jawaban. Disebelahnya berdiri Arif yang juga sedang menunggu angkutan umum untuk pulang.


" Fani, naik angkot aja bareng aku." Ucapnya menawarkan. Dengan cepat Fani menjawab dengan gelengan, menolak tawaran Arif.


" Mau berapa lama lagi kamu nunggu disini? Sekolah udah mulai sepi nih." Lanjutnya mencoba mengakali, kakinya sudah lelah berdiri.


" Aku masih nungguin ayah jemput, kamu duluan aja Rif." Sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, masih mencoba menghubungi sang ayah.


" Gapapa aku tinggal ni? Aku duluan ya Fan ada urusan soalnya." Bergegas menuju jalan dan melambaikan tangan menghentikan angkot yang lalu lalang.


" Bye." Membalas lambaian tangan Arif hingga sosok itu menghilang tak terlihat lagi.


Fani masih menunggu sembari terus mencoba menghubungi ayahnya, cemas dan gugup melihat sekitarnya yang sudah mulai sepi. Fani mencoba menelepon ibu dan mengatakan jika dia sudah menunggu cukup lama, menghubungi ayah pun tak kunjung dijawabnya. Ibu memintanya untuk menunggu beberapa saat lagi, mungkin ayahnya sedang diperjalanan menuju sekolah. Fani mengiyakan dan masih menunggu, berharap lelaki itu benar akan datang menjemputnya. Mondar-mandir sana sini namun tak kunjung terlihat juga, tiba-tiba suara ponsel membuyarkan kecemasannya.


" Hallo ayah, dimana?." Dengan cepat bertanya saat panggilan terhubung dengan sang ayah.


" Ayah jemput dong aku udah nunggu lama ni, aku takut yah kan gak tau jalan pulang." Sambungnya dengan suara yang terdengar cemas.


" Ayah lagi ada urusan penting dikantor, kamu naik ojek saja ya nak ayah kirimkan alamat rumah kita." Sahut lelaki itu dari telepon.

__ADS_1


" Aaa ayah, masa aku naik ojek sih. Kalau aku diculik gimana?." Matanya berkaca-kaca membayangkan betapa sulitnya kehidupannya sekarang.


" Hari ini aja ya, besok ayah pasti jemput kamu. Ayah tutup dulu ya ada rapat penting." Ucapnya mengakhiri telepon. Fani hanya menghela nafas panjang.


Dulu aku gak pernah bingung dan kocar kacir minta dijemput pulang. Andry selalu mengantarku pulang, sekarang aku harus menangis dihari pertama sekolah. Mungkin besok aku meraung. 


Ponselnya kembali berdenting, sebuah pesan dari ayah yang berisikan alamat barunya. Fani bergegas membuka aplikasi ojek online yang ada diponselnya, mencoba memasukkan alamat. Saat hendak memesan, sebuah mobil berwarna merah berhenti didekatnya. Mata Fani terbelalak saat melihat sosok Endrico dibalik kemudi.


Ah sial ! Aku buru-buru keluar kelas untuk menghindarinya, tapi aku tetap ketemu dia. Aaaa apa aku sudah termasuk dalam daftar target dia selanjutnya? Aaaa matilah aku.


" Hei Fan, kenapa nunggu disini sih. Panas tau, aku kan udah bilang tunggu dikelas aja tadi. Maaf ya kalau lama, aku ada urusan sama kepala sekolah soalnya." Ucapnya sambil melangkah mendekat dan menghalangi matahari dengan tangannya agar tak menyentuh kulit wajah Fani.


" Ayo masuk." Menarik Fani agar segera masuk kedalam mobil, kemudian berputar dan ikut masuk kedalam mobil. Dia sudah duduk dibelakang kemudi, disebelahnya juga ada seorang wanita manis yang tampak terdiam grogi.


Woi aku belum jadi target kau yang selanjutnya kan? Ah tolong, tolong turunkan aku. Aku harus melakukan apa hei hati yang berdebar sejak tadi. 


" Kok diam aja sih." Memberanikan diri bertanya apa yang menyebabkan gadis disebelahnya hanya terdiam tanpa kata. Fani hanya menjawab dengan beberapa kali gelengan, mulutnya masih terkunci rapat. Pandangannya tak beralih dari jalanan, tak berani menatap lelaki yang duduk dibelakang kemudi ini.


Hei gadis, kau kenapa? Aku bukan setan, kenapa kau ketakutan.


" Yaudah kita makan dulu ya, kamu pasti lapar kan?." Mungkin pikirnya gadis itu menggigil karena menahan rasa lapar. Menatap Fani dan tersenyum tipis.


" Eh gak usah kak, langsung pulang aja ya." Mulut yang sejak tadi hanya diam tak bergeming akhirnya berbicara juga. Nafasnya tampak tersengal-sengal dan sangat ketakutan.


Tolong antarkan aku pulang. Aku ketakutan sekali, aku takut jika mengingat omongan Arif tadi. 

__ADS_1


" Kamu kenapa? Sakit ya?." Tangannya bergerak dan menempel didahi Fani, mencoba merasakan suhu tubuh gadis yang menggigil sejak tadi.


" Gak kok kak, cuma gak enak badan aja." Spontan tangannya mengibaskan tangan Endrico yang menempel dikeningnya, hatinya semakin berkecamuk dan yakin jika dia adalah target Endrico yang selanjutnya.


" Yakin? Okedeh kita pulang ya, dimana rumah kamu?." Kembali menekan pedal gas dan menatap jalanan yang ramai.


" Disini." Tangan gemetaran dan dingin itu menyodorkan ponsel kepada Endrico. Semakin dingin ketika Endrico memegang tangannya agar ponsel itu tak bergerak-gerak.


" Oh, rumah kita deket ternyata." Melepaskan tangan Fani dan tersenyum.


Fani hanya menghela nafas dan mencoba menghilangkan ketakutannya. Menatap jalanan kota yang hingar bingar. Tangannya saling menggenggam dan menghangatkan. Dingin dan bergetar, ini pertama kalinya Fani merasakan ketakutan yang  amat sangat. Dering ponselnya memecahkan keheningan antara dia dan Endrico, dengan cepat tangannya meraih ponsel dan ternyata panggilan video dari Andry. Enggan menjawab namun Fani butuh sesuatu untuk memudarkan rasa takutnya, mungkin jika berbicara dengan Andry akan membuatnya sedikit lebih tenang. Tangannya menggeser layar ponsel dan panggilan berlangsung. Tampak lelaki tampan yang masih mengenakan pakaian sekolah dengan latar halaman sekolah.


" Hallo, kamu dimana? Udah pulang sekolah?." Sahut Andry tersenyum dan menatap dengan penuh kerinduan.


" Iya, ini aku udah dijalan mau pulang." Jawabnya terbata-bata, antara terharu dan masih ketakutan.


" Kamu pulang bareng siapa?." Tanya Andry tanpa rasa curiga.


" Siapa Fan?." Tiba-tiba Endrico bertanya dan membuat Andry semakin menatap penuh kebingungan. Keningnya mengkerut dan sorot matanya tajam seolah meminta pejelasan siapa lelaki yang ada bersama Fani saat ini.


" Aku pulang bareng teman sekolah aku, kebetulan rumah kita deketan." Jawabnya semakin gugup, alih-alih membuatnya lebih tenang malah membuatnya semakin dalam masalah. Fani mengedarkan kamera ponselnya menghadap Endrico, mungkin sebaiknya dia memperlihatkan siapa sosok Endrico sebelum Andry merajamnya dengan banyak pertanyaan.


" Hai salam kenal." Dengan santai Endrico tersenyum dan melambaikan tangan kepada Andry.


" Hai." Jawab Andry singkat, raut wajahnya tampak menunjukkan ketidaksukaannya akan keberadaan Endrico.

__ADS_1


" Yaudah nanti aku telepon lagi kalau udah sampai rumah ya. Bye." Jari tangannya segera menekan tombol merah dan mengakhiri telepon. Rasa takut dan cemas semakin menyelimuti hatinya, takut dengan rumor Endrico dan takut dengan kemarahan Andry. Fani haya bisa kembali diam dan menatap jalanan yang penuh dengan polusi.


__ADS_2