
Sejak pergantian jam tadi malam hingga siang ini Andry terus
mencoba menghubungi Fani. Dia juga mencoba menghubungi Joo, namun tidak ada
satupun yang bisa dihubungi. Yang satunya sibuk dan yang satunya tidak aktif. Bahkan
semalaman Andry tidak tidur karena memikirkan tentang Fani yang tengah berulang
tahun, ingin sekali mengucapkan namun nomor Fani tidak bisa dihubungi sama
sekali. Sudah tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari yang lalu.
“ Ah kemana kau! Aku tidak tidur semalaman karena ingin
menelepon dan megucapkan selamat atas bertambahnya usiamu. Aku ingin jadi yang
pertama sekali mengucapkan dihari spesialmu, namun kau menghilang, kau
menghilang tanpa jejak.” Gumamnya menggerutu kesal. Wajahnya tampak sangat
lelah, matanya yang sudah tidak sanggup menahan kantuk masih dipaksa untuk
terbelalak dan terjaga.
Andry terus mencoba menghubungi Fani dan Joo hingga sudah
hampir seratus kali. Namun tetap saja satupun dari mereka bisa dihubungi
olehnya. Andry terus mencoba dan menggerutu karena tidak bisa menghubungi
kekasihnya dan juga Joo abangnya Fani.
“ Arrrghhhhh sial ! kenapa kau menyiksaku seperti ini,
tolong jangan buat aku menjadi setengah gila begini.” Teriaknya sembari
menjambak rambutnya kesal. Wajahnya tampak sangat lelah dan tanpa sadar matanya
berkaca-kaca dan gugur buliran air dari sudut matanya. Andry tidak sanggup lagi
memikirkan bagaimana caranya agar bisa menghubungii Fani hingga tanpa sadar dia
menangis. Entah karena sangat lelah atau memang karena ulah Fani.
Andry meraih kembali ponselnya, kali ini dia mencoba
menanyakan kepada Sophia yang setaunya adalah sahabat dekat Fani, padahal itu
dulu sebelum dirinya dan Fani menyandang status sebagai sepasang kekasih. Mencoba
mencari tahu tentang Fani dari Sophia, mungkin saja ada sesuatu yang diketahui
Sophia. Misalnya nomor telepon baru Fani atau alamat rumahnya yang baru. Sehingga
jika memang Sophia mengetahui alamat tempat tinggal Fani yang baru, Andry akan
segera menyusul beso. Tidak peduli apapun pokoknya besok dia akan tetap pergi
menemui sang kekasih hati yang beberapa hari ini telah menghilang tnpa kabar
dan tanpa jejak.
“ Hallo Sophia.” Ucapnya saat Sophia mengangkat telepon.
“ Iya kak Andry ada apa? Kenapa taerdengar cemas begitu?.” Sahut
Sophia dari dalam telepon ketika mendengar suara Andry yang cemas. Ikut cemas
karena takut terjadi sesuatu dengan lelaki yang disukainya itu.
__ADS_1
“ Hallo Sophia,.” Ulangnya kembali. Kali ini terdengar lebih
cemas dan nafasnya terengah-engah. Dalam pikiran Sophia adalah Andry tengah
dirampok atau sebagainya karena suara Andry yang seperti orang kelelahan
berlari jauh.
“ Ada apa kak? Apa yang terjadi dengan kak Andry? Kak Andry
dimana? Aku akan ssegera menyusul? Kak Andry baik-baik saja kan?.” Ucap Sophia
melontarkan banyak sekali pertanyaan. Saking cemasnya sampai-sampai dia tidak
lagi memikirkan pakaian yang dikenakannya. Langsung bergegas keluar kamar dan
ingin menyusul Andry yang entah dimana. Sophia kalang kabut sendiri, tidak
jelas apa yang akan dilakukannya.
“ Aku dirumah kok Sophia. Ada sesuatu yang gawat dan harus
aku tanyakan padamu.” Ucapnya menghentikan kekhawatiran Sophia. Tidak ingin
lagi gadis itu menghujaninya dengan
pertanyaan-pertanyaan yang membuat pusing kepalanya.
“ Ada apa kak? Apa yang bisa aku bantu?.” Jawabnya kali ini
tidak lagi banyak tanya. Mendengar jika Andry sudah dirumah, Sophia cukup lega
dan kembali berjalan menuju kamarnya. Jika dirumah saja, berarti tidak ada
terjadi sesuatu yang menakutkan dengan Andry.
“ Apa kau tau kontak baru Fani? Atau kau tau informasi
tujuannya menghubungi Sophia, yaitu menanyakan informasi tentang Fani
kekasihnya.
“ Apa? Fani?.” Jawabnya tercengang. Ternyata Andry tidak
apa-apa, hanya saja sedang cemas memeikirkan Fani yang sudah jauh darinya. Padahal
Sophia dirumahnya mencemaskan Andry yang terlihat sedang dalam masalah. Eh ternyata
masalahnya adalah Fani.
Gila. Aku kira dia
sedang dirampok atau akan dibunuh. Hingga aku menjadi cemas dan kalang kabut. Eh
tau-taunya dia malah menanyakan tentang Fani padaku. Ternyata masalahnya adalah
Fani. Cih!.
“ Sophia? Apa kau tau sesuatu tentang Fani? Nomor telepon
barunya atau alamat rumahnya disana?.” Lanjutnya bertanya ketika Sophia cukup
lama terdiam dan tidak menjawab pertanyaan darinya.
“ Eh iya kak, aku gak tau. Soalnya beberapa hari ini aku
tidak ada menghubunginya. Apalagi masalah alamat rumahnya yang baru, aku sama
sekali tidak tahu kak. Aku belum pernah kesana, bahkan berniat pergi kerumahnya
__ADS_1
saja aku belum pernah.” Jawabnya menjelaskan jika dia tidak mengetahui apapun
tentang Fani saat ini. Bukan beberapa hari tidak pernah menghubungi Fani, tapi
sudah beberapa bulan semenjak Andry dan Fani resmi memiliki hubungan, sejak itu
pula dia resmi memutuskan pertemanan dengan Fani. Tidak mengambil pusing
tentang kehidupan Fani lagi.
“ Serius Sophia? Kau tidak menyembunyikan apapun dari ku
kan? Aku sangat butuh informasih tentang Fani dan keluarganya saat inii. Jika kau
tahu tolong bantulah aku yang sedang bingung ini.” Ucapnya kali ini terdengar
memohon dan meminta tolong. Sebelumnya Sophia tidak pernah mendengar Andry
meminta tolong apalagi hingga memohon-mohon seperti ini.
“ Sumpah kak, aku tidak tahu apa pun tentang Fani saat ini. Beberapa
hari ini aku sangat sibuk dan tidak pernah lagi menghubunginya. Bahkan sedekar
menanyakan kabar saja aku tidak sempat saking sibuknya.” Jawabnya berkilah,
mencoba mencari alasan agar Andry mempercayai kata-katanya. Entah apa yang
disibukkan, padahal beberapa hari ini dia hanya sibuk menonton dan bermain
bersama teman-temannya yang lain.
“ Baiklah kalau begitu Sophia. Maaf sudah mengganggu
waktumu.” Ucapnya mengakhiri pembicaraan dan akan segera mematikan telepon.
“ Oh iya jika kau punya informasi apapun tentang Fani,
tolong beri tahu aku segera. Aku minta tolong sekali padamu, kali ini saja. Tolong
beri tahu aku nanti jika kau punya informasi sesuatu tentangnya.” Sambungnya lagi.
kemudian langsung mematikan telepon.
Sophia yang masih kesal terus menggerutu dan menekan-nekan
layar ponselnya kesal. Mengingat betapa kalang kabutnya dia ketika mendengar
suara Andry yang terengah-engah hseperti dalam suatu malasah. Sudah hampir
pergi menyusul ketempat Andry dengan hanya mengenakan daster pendek saja, eh
ternyata bukan dalam masalah yang serius, hanya dalam masalah hubungannya saja.
Dan biang masalahnya ada musuhnya sendiri. Sophia menekuk wajahnya kesal, ingin
menggerutu dan mencaci maki Andry yang membuatnya jadi cemas tidak menentu,
namun dia sayang. Akhirnya dia menggerutu dan mencaci maki Fani saja. Karena kecemasan
Andry juga bersal dari Fani.
“ Bisa-bisanya kau menanyakan tentang Fani kepadaku. Kau yang
pacarnya saja tidak tahu, apalagi aku musuhnya. Sejak kapan aku menguntit
kekasihmu hingga aku harus tau dia dimana, apa yang dilakukannya, dimana dia
tinggal dan sebagainya. Gila aja. Harusnya kau yang paling tau tentang kehidupan
__ADS_1
kekasihmu.” Batinnya terus menggerutu.