Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Fani kembali ke kota.


__ADS_3

Sudah satu minggu Fani berlibur dirumah nenek, saatnya untuk kembali kerumah dan riuhnya kota. Fani dan yang lainnya sibuk berkemas dan memasukkan semua barang kedalam mobil. Ibu tampak sibuk menyiapkan sarapan sebelum mereka pulang. Sebenarnya Fani enggan meninggalkan udara segar dan suasana tenang pedesaan. Namun karena kerinduannya kepada Andry memaksanya untuk kembali menghadap kemacetan dan keriuhan kota.


“ Fan, ayok buruan sarapan.” Teriak ibu saat Fani sedang sibuk menatap indahnya persawahan. Dengan cepat ia beranjak dan mendekati sumber suara.


Meja makan yang dipenuhi orang-orang pagi ini akan sepi lagi siang nanti. Tinggal lah nenek sendirian dirumah, hanya bertemankan riuh angin dan kicau burung disawah. Fani dan seluruh anggota keluarganya sibuk menyantap makanan yang ada dipiringnya masing-masing. Begitupun dengan Fani, menyantap sarapan yang dibuatkan ibu tercintanya. Senyap sepi suasana dimeja itu.


“ Nek, ikut ke rumah yuk.” Fani membuka suara melenyapkan keheningan diantara mereka.


“ Gak usah, nenek harus jaga sawah.” Sahut nenek menolak tawaran cucunya.


“ Kamu aja yang sering-sering kesini temenin nenek.” Sambungnya sambil menyudahi makan.


“ Iya nek, mending ikut kerumah aja biar gak bosen dirumah. Lagian kan ada paman yang bisa jagain sawah.” Sahut Joo ikut menawari neneknya itu. Mengingat neneknya hanya sendirian, tentu saja merasa sepi dan bosan.


“ Ya nek ya. Ayok lah ikut kita ke kota.” Sambungnya masih membujuk.


“ Nanti kalau udah panen nenek main kerumah mu.” Sahutnya sambil mengangkat piring-piring yang sudah kosong.


“ Oke nek ditunggu ya. Nanti kita ajak nenek jalan-jalan keliling kota.” Sahut Fani ikut mengangkat piring-piring kotor.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan Fani dan ibu membersihkan meja makan dan piring-piring yang kotor. Membersihkan bagian rumah yang kotor sebelum meninggalkan. Kemudian mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Berpamitan dan bersalaman dengan nenek, tak lupa juga mencium nenek kesayangannya itu. Satu persatu anggota keluarga mulai memenuhi kursi penumpang. Ayah menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya. Mereka melambaikan tangan meninggalkan nenek dirumah sendirian. Ayah menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan kampung yang sunyi. Menikmati udara yang menerpa tubuh mereka sembari menikmati pemandangan yang menyejukkan mata sebelum berganti gedung-gedung dan polusi dimana-mana.


“ Bu, besok aku mau pergi ke pulau ya bareng teman-teman.” Ucap Joo memecahkan keheningan dalam mobil.


“ Gue ikut dong bang.” Sahut Fani saat mendengar Joo akan berlibur ke pulau.


“ Ah malas. Gue kan pergi bareng temen-temen. Masa gue bawa anak kecil sih.” Ketusnya menolak permintaan Fani.


“ Aaa ibu, aku mau ikut bang Joo bu.” Fani merengek kepada ibu. Berharap ibu akan mengiyakan dan memaksa Joo untuk mengajaknya.


“ Pergi berapa hari Joo?.” Tanya ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang lengang.


“ Boleh kan bu?.” Tanya Joo lagi.


“  Boleh sih tapi harus ajak adek kamu ya.” Ucap ibu yang membuat Joo mendengus kesal.


“ Yeaaayy horee aku boleh ikut.” Teriak Fani karena senang mendapat izin untuk ikut ke pulau. Tempat yang sudah lama ingin dia datangi namun belum bisa terealisasi.


“ Ah gak mau bu. Aku kan bareng temen-temen kelas. Kok malah bawa adik sih.” Gumamnya menolak tawaran ibu. Wajahnya ditekuk kesal dan menggerutu pelan.

__ADS_1


“ Yeay ikut aku ikut hore.” Fani masih berjoget-joget senang disebelah Joo. Menambah kekesalan lelaki yang ada disebelahnya itu. Joo hanya menatap sinis dan gadis rusuh itu, kemudian membuang muka dan menatap kembali hamparan sawah yang terbentang luas.


“ Ayah.” Tiba-tiba Joo memanggil ayah. Seolah ingin mengatakan jika dia enggan membawa Fani ikut bersamanya. Berharap dapat pembelaan dan bisa pergi tanpa membawa beban.


“ Kalau gak mau bawa adik mu yaudah berarti kamu gak usah pergi.” Jawab lelaki paru baya itu.


Joo kaget mendengar jawaban menohok dari ayahnya itu. Berharap mendapat pembelaan malah mendapat beban karena harus membawa adiknya. Joo mendengus dan menekuk wajahnya kesal, sementara manusia yang ada disampingnya asyik menertawakan. Joo menatap pemandangan sambil memikirkan cara untuk pergi ke pulau tanpa membawa kurcaci nakal ini. Cukup lama Joo melamun dan berfikir, saat melihat kearah lain ternyata sudah tertidur. Hanya tinggal dia dan ayah yang masih terjaga. Joo menatap Fani dengan kesal, seolah ingin mencubit adiknya yang suka menggagalkan rencananya. Tapi dibenak nya juga ada rasa kasihan, sebab mereka hanya liburan dirumah nenek.


Tadi kau sibuk terlonjak-lonjak, sekarang mulutmu malah menganga. Baiklah kau boleh ikut denganku, tapi aku harus melihatmu menangis dulu.


Sudah hampir 3 jam ayah melajukan mobilnya, akhirnya mereka sampai dirumah. Kembali lagi ke rutinitas semula, menatap gedung-gedung raksasa dan berteman dengan polusi udara. Ayah menghentikan mobil didepan rumah mereka yang berukuran cukup besar. Membangunkan semua penumpang yang tertidur hampir disepanjang jalan.


“ Ayo bangun kita sudah sampai. Ayo ayo.” Teriak ayah berulang hingga semuanya terbangun.


“ Aaaa kita udah sampai yah?.” Sahut Fani sambil merenggangkan kedua tangannya. Fani dan yang lain mulai turun satu persatu. Mengeluarkan semua barang-barang dari dalam mobil. Fani tampak lemas dan masih mengantuk, matanya sayu dan langkahnya tergopoh-gopoh.


“ Udah semua nih, istirahat dulu ya bu masih ngantuk.” Ucap Fani sambil melangkah menuju kamar yang sudah seminggu tak ditempatinya. Langsung menghempaskan tubuhnya keatas ranjang berukuran king size miliknya


itu. Ingin melanjutkan tidurnya namun teringat jika dia harus memberi tahu Andry kalau dia sudah tiba dikota. Fani meraih ponsel dan segera menelfon Andry, mengatakan jika dia sudah tiba dirumah. Fani juga mengingatkan Andry tentang janjinya yang akan langsung menemuinya ketika dia sudah sampai dirumah.  Fani hanya berbicara yang penting-penting saja, rasa kantuk yang luar biasa memaksanya untuk memutuskan sambungan telepon dengan segera. Kemudian melanjutkan tidurnya yang terjeda.

__ADS_1


__ADS_2