Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Tak Tepat Waktu


__ADS_3

Al melajukan kuda besinya menyusuri jalanan. Dengan cepat Al menuju rumah Fani, perasaannya campur aduk antara sedih dan khawatir. Padahal hari ini ia berniat membuka semua isi hatinya kepada Fani. Kalimat-kalimat yang diingat nya dari tadi seolah gugur satu persatu dijalanan. Al memasuki pekarangan rumah Fani, motornya berhenti persis dihalaman depan. Dengan bergegas Al mengetuk pintu dan masuk tanpa menunggu jawaban dari siempunya  rumah.


" Al? Dari mana kamu? Kok buru-buru gitu." Ayah Fani menatap heran.


" Om Fani ada?." Sambil mengedarkan pandangan keseluruh bagian rumah.


" Oh, ada kok Al. Fani lagi istirahat dikamarnya. Masuklah, ada tante mu didalam." Ucap ayah Fani.


" Tante... Tantee ..." Al setengah berteriak dan kini ia sudah sampai keruangan tengah.


" Iya, tante ada didapur Al." Ibu Fani juga setengah berteriak.


" Hai tante. Fani dimana tan? Kata Sophia dia sakit." Tanya Al dengan rasa cemas.


" Iya maagnya kambuh. Sekarang lagi istirahat dikamar." Ibu menunjuk dengan pandangan matanya.


 


Ibu sudah menganggap Al seperti anaknya sendiri. Karena sudah lama Al berteman dengan Joo dan akrab sekali dengan keluarga mereka. Sama sekali tak punya kecurigaan antara kedekatan Al dan Fani. Hanya sekedar kedekatan antara abang dan adik, sama seperti Joo dan Fani. Begitulah yang ibu pikirkan.

__ADS_1


" Tan, aku boleh lihat Fani gak?." Al tampak memohon. Ibu hanya mengangguk seolah mengatakan iya pergilah temui adikmu.


Al melangkah menuju kamar Fani, dibuka pelan pintu kamar gadis kecil itu. Benar saja, Al mendapati Fani tengah terbaring dibawah naungan selimut tebal. Al mendekat dan meletak kan punggung tangan ke dahi Fani. Suhu tubuh Fani masih sangat panas.


" Aw panas banget nih." Al meringis.


" Fan, kamu gapapa kan?." Al memijat pelan kepala Fani sambil membasahi  kembali kompres yang sudah mengering itu. Fani perlahan membuka matanya,merasa ada yang menyentuh kepalanya.


" Udah bangun? Lo kenapa? Mana yang sakit?." Pertanyaan Al merudal.


" Gapapa kok. Perut gue cuma sakit aja." Lirih Fani sambil mengelus perutnya.


" Lah ngapain didepan gerbang sekolah?." Tanya Fani.


" Mau ngajakin lo pulang bareng. Untung gue ketemu Sophia dan dia bilang lo sakit. Gue buru-buru kesini, gue khawatir sama lo Fan tau gak sih."


" Gue gak mau terjadi apa-apa sama orang yang gue sayang, sama orang yang gue suka. Tau gak sih." Gerutu Al kesal sambil menekan kedua bahu Fani.


 

__ADS_1


Degg...... Degg..


Jantung Fani seolah berdetak sangat kencang. Sebuah kata sayang dari mulut Al serasa membombardir semua isi perutnya. Sebuah pengakuan yang tak tepat waktu sebenarnya, Fani merasa perutnya semakin sakit melilit. Dengan sisa tenaga yang ada Fani beranjak untuk kekamar mandi.


" Aduh perut gue sakit. Gue kekamar mandi dulu ya kak." Fani berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya.


" Mau aku anterin?." Tawar Al. Fani hanya menjawab dengan beberapa kali gelengan lalu melanagkah pelan meninggalkan Andry dan pernyataannya itu.


Ah damn ! Andai dia bukan sahabat baik abangku, sudah kupastikan dia jadi pacarku.


Dari sebalik pintu ternyata ibu mendengarkan semua obrolan Fani dan Al, betapa terkejut saat mendengar kata sayang dan suka yang keluar dari mulut Al.


Aku kira mereka hanya sebatas saudara, ternyata diam-diam menyimpan rasa. 


Fani mendapati ibu yang masih berdiri disebalik pintu. Seolah mengetahui jika akan ditanya oleh Fani, dengan cepat ibu langsung menggeleng. Entah mennggeleng untuk apa, Fani pun tak memngerti. Namun Fani melangkah menjauhi ibu dan masuk kedalam kamar mandi. Berdiam diri merenungi kata-kata yang keluar dari mulut Al tadi.


Lalu? Bisa Apa? 


Dikamar Fani, Al duduk terdiam ditepi ranjang. Mengingat kembali kata-kata yang spontan keluar dari mulutnya tadi. Mengutuki dirinya didalam hati, bagaimana bisa seceroboh ini.

__ADS_1


Padahal sudah ku pilih kalimat paling baik diantara yang baik. Tapi malah mulut bodoh ini meracau tak sesuai situasi. Ah terkutuk lah diri ini.


__ADS_2