
Fani menyelesaikan sarapannya, membersihkan meja dan piring-piring yang berserakan. Kemudian kembali lagi kedalam kamar, memisahkan diri dari anggota keluarga lain yang tengah berkumpul sembari menonton televisi. Suasana hatinya kurang baik, minggu cerianya direnggut kecemburuan dan kecurigaan. Fani duduk dan bersandar ditepi ranjang, meraih laptop yang akhir-akhir ini sangat jarang disentuhnya. Menyalakan dan mulai menonton drama yang belum selesai. Tengkurap dengan kedua tangan menumpu wajahnya, menatap layar 16 inci tersebut.
“ Fani.” Samar-samar terdengar suara yang memanggil dari luar kamar. Seolah mengabaikan, Fani tak mengalihkan pandangannya dari laptop. Membiarkan suara panggilan dari luar itu berulang-ulang. Matanya hanya menatap layar yang menyuguhkan drama percintaan pasangan korea itu, berkaca-kaca dan sembab. Beberapa kali jari-jari tangannya sudah menyeka ujung matanya.
“ Fani.” Braaak.. Pintu kamar terbuka lebar, tampak sosok Irma berdiri didepan pintu. Pandangan Fani sontak beralih pada sosok yang menatap dengan sangat sinis itu.
“ Eh parah banget lo ya, dipanggilin berkali-kali gak nyahut.” Dengan wajah kesal langkah kakinya dipercepat mendekati Fani, tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada sosok yang pura-pura tuli itu.
“ Udah datang lo Ir?.” Ucapnya kembali menatap layar dihadapannya. Tidak menghiraukan kekesalan dan kemarahan sang sahabat.
“ Wah parah sih.” Memukul kuat bahu Fani dan menarik Fani untuk beranjak dari kasur. Tangannya juga dengan cepat meraih layar yang menyebabkan Fani mendadak tuli ini.
“ Bangun cepat. Ganti baju lo, katanya mau jalan-jalan. Gimana sih!.” Gerutunya sambil meletakkan laptop diatas meja belajar Fani.
“ Iya sabar dong Ir, buru-buru banget.” Sahutnya. Mendekat dengan lemari dan mengambil beberapa baju, mencoba ditubuhnya sambil berkaca.
“ Bagusan yang mana Ir?.” Tanyanya dengan memegang dua baju ditangan. Irma hanya menunjuk dengan bibirnya saja, jawaban yang amat sangat praktis.
Fani mengganti pakaian dan berdandan, sementara Irma hanya berbaring diranjang. Sibuk bermain game diponselnya, sesekali pandangannya tertuju pada Fani dimeja rias. Sangat lamban, mentang-mentang sudah lumayan pintar makeupan. Irma hanya bisa menunggu sembari berkali-kali menarik nafas panjang.
“ Udah siap nih, yuk.” Beranjak dan berputar-putar didepan kaca. Memastikan penampilannya sempurna. Tampil cantik dengan balutan dress berwarna cream selutut, dilengkapi dengan flat shoes yang senada dengan dress cantiknya.
“ Cantik banget deh anak ibu.” Ejek Irma diakhiri dengan tawa kecil. Beranjak dan mengikuti langkah Fani keluar kamar.
“ Bu, kita pergi dulu ya.” Ucapnya mendekati ruang keluarga.
“ Iya hati-hati ya, jangan pulang malam ya.” Sahut ibu melambaikan tangan. Namun Fani semakin mendekat, bukan hanya sekedar pamit tapi juga ada keinginan lain. Duduk diantara ibu dan ayah, kedua tangannya menampung meminta uang. Entah siapa yang akan memberi, yang penting minta pada keduanya.
“ Hem..” Ayah hanya berdehem sembari meraih dompet dari atas meja, mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Semerah warna uang, wajah Fani langsung berubah ketika melihat pemberian ayannya. Tersenyum girang dan melonjak senang.
__ADS_1
“ Aaa makasih ayah, dadaaa.” Mencium pipi ayah dan beralih kepada ibu, melangkah menjauh meninggalkan semua yang ada diruang keluarga. Berjalan keluar dan segera melaju bersama mobil merah Irma.
“ Oh iya mau kemana ni Fan?.” Tanya Irma ketika mobilnya sudah melaju dijalanan. Mengingat kepergian mereka belum ada tujuan.
“ Ke mall aja deh Ir, bosen nih.” Jawabnya sembari menatap jalanan yang dipadati kendaraan.
Irma melajukan mobilnya, ditemani dengan musik keras untuk menemani perjalanan mereka. Bernyanyi bersama, mengangkat kedua tangan dan menggoyangkan badan. Bersenang-senang tanpa ada beban. Suara musik yang keras mengalahkan dering telepon Fani, tak terdengar. Hanya ada suara musik dan nyanyian kedua wanita muda ini. Kurang dari setengah jam perjalanan, mobil berwarna merah milik Irma sudah memasuki area parkir sebuah mall yang terkenal dikota itu.
“ Markicus.” Ucap Fani sembari turun dari mobil. Meraih tas miliknya, merapikan rambut serta pakaiannya.
“ Apaan tu markicus?.” Tanya Irma mengikuti langkah sahabatnya.
“ Mari kita capsuss hahahaha.” Jawabnya diiringi tawa dan diikuti oleh sahabatnya Irma.
Masuk kesebuah toko yang menjual pakaian khusus wanita. Memilih dan mencoba beberapa pakaian yang ditaksirnya, begitu juga dengan Irma. Misi mereka hari ini adalah berbelanja pakaian senada, ingin seperti kembar katanya.
Ponsel Fani berdering ketika sedang asyik berbelanja, tampak sebuah panggilan dari sang kekasih Andry. Fani bergegas menerima dan menghubungkan teleponnya. Hening dari seberang sana, hanya terdengar suara berisik disekitarnya.
“ Hallo.” Fani membuka suara setelah cukup lama terdiam sejak telepon terhubung.
“ Hallo, kamu dimana? Kenapa pesan aku gak dibalas sama sekali sih?.” Bagaikan perang, Andry menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan.
“ Kan aku udah tidur tadi malam, aku baru baca pesannya tadi pagi.” Jawabnya mencoba tenang.
“ Tapi kan kamu bisa balas dengan topik yang lain, ucapan selamat pagi misalya.” Protesnya tidak terima karena Fani sama sekali tidak membalas pesannya. Suaranya agak tegas dan lugas. Harapannya Fani juga akan mengirim banyak pesan, disuguhkan dengan ucapan manis ketika bangun pagi ini.
“ Iya maaf ya, selamat pagi sayang.” Ucapnya tetap tenang. Minta maaf mungkin adalah cara paling tepat untuk menghindari perdebatan.
“ Pagi juga sayang.” Seketika luluh hanya dengan sebuah ucapan selamat pagi, benar-benar mudah mengobrak-abrik perasaannya.
__ADS_1
“ Baru bangun ya? Ada kegiatan apa hari ini?.” Terus bertanya untuk semakin membuat lelakinya tenang dan tidak emosi.
“ Belum ada agenda sih, gak tau deh nanti.” Jawabnya sudah tenang, suaranya pelan.
“ Kamu dimana? Kok ribut sih?.” Sambungnya. Baru sadar jika disekeliling kekasihnya banyak orang. Ditandai dengan suara-suara berisik dari dalam telepon.
“ Aku lagi dimall.” Jawabnya singkat.
“ Sama siapa? Sama kakak kelas kamu itu ya?.” Terus bertanya, tuduhan lebih tepatnya. Lagi-lagi suaranya meninggi dan tegas, makin lama hubungannya makin kelihatan sifat aslinya.
“ Enggak kok. Apaan sih kamu, aku kesini bareng Irma.” Protesnya tidak terima dengan pertanyaan yang sebenarnya adalah tudingan.
“ Jangan bohong deh, kemarin kamu gak angkat telepon aku, gak balas pesan aku karena kamu lagi dating sama kakak kelas kamu itu kan?.” Terus menerus menuduh tanpa bukti. Salah satu sifat buruk Andry yang tampak saat ini adalah suka menuding dan membenarkan asumsinya sendiri. Kecemburuan seolah membuat pikirannya mati.
“ Kamu kenapa sih suka banget nuduh-nuduh aku. Kan udah aku bilang kalau aku kesini bareng Irma
teman sekolah aku, kamu masih juga ngeyel. Minta dibenarkan asumsi mu.” Jawabnya tak kalah tegas. Kesal dengan tudingan-tudingan Andry yang selalu dilontarkan beberapa hari terakhir ini.
“ Emang kenyataannya kan? Kamu ada hubungan sama kakak kelas kamu. Siapa itu namanya? Endrico kan?.” Suasana semakin memanas, semakin gencar Andry menuduh Fani yang bukan-bukan.
“ Kamu juga ada main sama Sophia. Sok-sok ngebalikin Fakta seolah-olah aku yang main dibelakang.” Berbalik menuding Andry, sama-sama menuding ada main dibelakang. Perang batin dan kekesalan terjadi antara mereka
pagi ini, apalagi Andry ternyata adalah sosok yang pemarah dan curigaan. Lebih buruk lagi suka menuding dan minta dibenarkan asumsinya.
“ Kamu jujur deh, lagi berduaan sama kakak kelas kamu itu kan?.” Masih menyudutkan, mencoba menekan agar asumsinya dibenarkan.
“ Terserah kamu deh, masih pagi udah ngajak berantem. Capek tau gak sih.” Tanpa aba-aba Fani langsung memutuskan sambungan, wajah cerianya beberapa menit lalu hilang berganti tekuk kekesalan.
Makin kesini makin ngeselin ya tu orang, jadi capek, bosan. Emang bener ya kata orang, makin lama kenal makin jelas belangnya. Ngeselin. Dasar tukang tuding !
__ADS_1