
“ Hallo semuanya, lihat siapa yang datang mengunjungi kita.”
Ucap Joo setengah berteriak ketika memasuki rumahnya. Dibelakangnya sudah ada
Al yang mengikuti dengan membawa banyak sekali barang bawaanya, kurang ajarnya
Joo tidak membantunya sama sekali. Semua pandangan tertuju kepada Joo yang
berjalan mendekat, semua berusaha melihat sosok yang bersembunyi dibalik Joo itu.
“ Siapa bang?.” Sahut adik Joo yang paling kecil. Semua yang
ada diruang keluarga menatap dengan penuh rasa bingung dan penasaran. Mencoba
mengintip siapa yang bersembunyi dibelakang tubuh Joo itu.
“ Iya siapa itu Joo?.” Tanya ibu yang ternyata juga
penasaran dengan sosok yang ada dibalik anaknya itu.
“ Ini dia kita sambut tamu yang sudah lama menghilang.” Ucapnya
sembari mengelak hingga semua anggota keluarga bisa melihat sosok Al, sosok
yang ada dibelakangnya tadi.
“ Hallo tante, hallo om. Hallo semuanya.” Ucap Al tersenyum
lebar dan melambaikan tangan kepada semua yang ada dihadapannya.
“ Oh ternyata nak Al, wah kamu jauh-jauh datang kesini. Apa kabar?
Kemana aja kemarin tidak pernah lagi main kerumah.” Sahut ayah berdiri dan
mendekati Al yang masih berdiam diri. Merangkul Al dan mengajaknya untuk duduk
dan bergabung bersama keluarganya yang lain.
“ Hehehehe iya om soalnya kemarin aku pindah rumah.”
Jawabnya memberi alasan kenapa dia sudah tidak pernah lagi main kerumah.
“ Hei Al apa kabar? Sudah lama gak ketemu ya.” Sahut ibu
ikut nimbrung. Tersenyum dan meminta Al untuk duduk bersama mereka.
Al berbincang-bincang dengan semua anggota keluarga Joo
terkecuali Fani. Sudah banyak sekali yang mereka bicarakan namun Al masih belum
melihat sosok Fani sejak kedatangannya. Mengedarkan pandangan menyusuri seisi
rumah untuk menemukan sosok Fani. Namun sama sekali tidak terlihat, bahkan tanda-tanda
Fani ada dirumah itu pun tidak ada. Sepertinya Fani sedang tidak dirumah.
Fani kemana sih? Aku sudah
cukup lama disini tapi aku belum melihat batang hidungnya. Bahkan tanda-tanda
dia dirumah ini pun tidak ada. Atau dia sedang diluar dan pergi bersama
teman-temannya ya?
“ Oh iya tante, om aku bawain ole-ole buat kalian semua.” Ucapnya
sambil meraih dan kemudian menyodorkan sebuah kantong plastik besar yang berisi
kue dan sebagainya.
“ Eh kenapa repot-repot sih Al, kamu datang kesini aja kita
semua udah senang kok. Akhirnya ada juga yang mengunjungi kita ditempat yang
baru ini.” Jawabnya sembari meraih kantong plastik yang diberikan oleh Al
tersebut.
__ADS_1
“ Yaudah kamu istirahat dulu dikamar Joo, pasti capek kan
habis perjalanan jauh.” Lanjutnya meminta Al untuk beristirahat dikamar Joo. Al
hanya mengangguk dan kemudian Joo mengajaknya menuju kamar.
“ Oh iya tante, Fani ulang tahun kan hari ini? Aku tadi
sekalian beliin kue, tapi aku lihat Fani gak ada dirumah.” Ucapnya saat melihat
plastik yang didalamnya berisi kotak kue ulang tahun yang sengaja dia beli
untuk Fani. Namun sangat disayangkan Fani tidak terlihat saat dia datang.
“ Aduh banyak sekali ya bawaanmu. Sini tante masukin kedalam
lemari pendingin dulu, nanti kita rayakan setelah Fani pulang dari rumah
temannya ya.” Sahut ibu meminta plastik yang berisikan kue ulang tahun untuk
anaknya itu.
Jangan bilang anak ini sengaja datang karena Fani ulang tahun hari ini. Padahal sudah lama dia menghilang, semoga saja tidak ada lagi rasa saling suka diantara mereka. Kembali lagi kepada mulanya, bersahabat dan bersaudara.
**
“ Sekali lagi selamat ulang tahun ya Fan.” Ucap Endrico
sembari tersenyum dan menyerahkan setangkai bunga kepada Fani.
“ Iya terimakasih ya kak Endi udah ajak aku main-main
kepantai dan menikmati mentari pagi ini.” Jawabnya membalas senyuman dan
kemudian mengambil bunga pemberian Endi.
Sejak pagi-pagi sekali Endrico sudah menjemput Fani
kerumahnya, bukan tidak beralasan. Itu semua berawal dari Fani yang meminta
untuk diajak pergi kepantai dan menikmati mentari pagi dihari ulang tahunnya.
Flashback
dekat semenjak menjadi pasangan dansa diulang tahunnya Irma. Semenjak itu
Endrico juga merasa jika dirinya punya harapan dan peluang untuk mendekati Fani
hingga dia terus berusaha dan mencari cara untuk terus bersama Fani. Sore itu
mereka menyempatkan untuk makan disebuah rumah makan sederhana yang bernuansa
kekampung-kampungan. Makan digubuk-gubuk dan tempat yang lesehan.
“ Oh iya Fan gimana kabar kamu dengan pacarmu itu?.”
tiba-tiba Endrico memberanikan diri menanyakan hal ini kepada Fani. Sudah lama
sebenarnya dia ingin menanyakan namun belum berani.
“ Hem.” Hanya menjawab dengan deheman dan pandangan yang
tidak beralih dari ponsel yang dia genggam.
“ Kok hem sih, kan aku tanya gimana. Hem bukan jawaban.” Lanjutnya
semakin berani mengorek informasi pribadi Fani.
“ Udah putus kok, bahkan udah hampir dua minggu.” Ucapnya ketus.
Kali ini dia menjawab pertanyaan yang mengorek informasi pribadinya. Biasanya dia
tidak ingin sembarangan membicarakan masalah pribadi kepada orang lain. Mungkin
Endrico sudah termasuk orang yang dipercayainya dan menurutnya bisa untu
dijadikan teman cerita.
__ADS_1
“ Serius Fan? Kenapa kamu baru cerita sekarang?.” Lanjutnya terus
bertanya. Semakin berani bertanya dan ingin tahu lebih banyak lagi.
Kenapa baru bilang sekarang sih Fan? Harusnya kan gue udah pepetin lo sejak dua minggu yang lalu. Terus minggu ini gue udah bisa nembak lo, argghh. Tapi gapapa lah yang penting ada angin, ada peluang buat gue.
“ Lagian masa sih aku umbar-umbar kalau aku udah putus dan
lagi jomblo.” Ucapnya tetap ketus. Tangan dan pandangannya masih fokus menatap ponsel yang digenggamnya. Bermain game
sembari menunggu pesanan datang.
“ Ya kali aja kan kamu mau promosi, saya jomblo, saya
jomblo. Yang mau jadi pacar saya silahkan merapat, silahkan mendaftar.” Ucap Endrico
sembari terkekeh senang. Senang mendengar jika Fani sudah tidak punya pacar
lagi, dengan begitu dia bisa dengan mudah mendekati Fani.
“ Ih apaan sih. Emang nya aku barang harus dipromosiin
segala.” Jawabnya kesal smabil memukul-mukul dada Endrico yang duduk
disebelahnya. Kemudian meneruskan game diponselnya.
“ Aduh masa sih yang ulang tahun besok jomblo hahahaha.” Lagi-lagi
Endrico mengejek Fani. Mencoba memancing
dengan umpan yang ada.
“ Biarin.” Jawabnya ketus, tidak peduli dengan ejekan dan
cemoohan Endrico. Memilih mengabaikan dan tidak ingin melawan karena
ujung-ujungnya yang ada hanya emosi dan perdebatan.
“ Huuww kasihan deh yang ulang tahun tapi gak ada pasangan.”
Terus mengejek hingga Fani terpancing emosi.
“ Ah biarin, kan masih ada teman, sahabat dan juga masih ada
kak Endi. Jangan Cuma ngejek ya, besok harus ada kado untukku.” Ucapnya hampir
saja emosi. Namun sebisa mungkin dia mengendalikan emosinya.
“ Oke sekarang bilang kamu mau hadiah apa dari aku?.” Tanya Endrico
sambil menatap Fani dengan serius.
“ Mau diajak kepantai pagi-pagi dan ditemani menikmati
mentari pagi.” Jawabnya santai sembari sorot matanya terus terfokus pada
ponselnya.
Ha? Kusuruh minta hadiah malah minta kepantai. Aku kira dia bakal minta tas, sepatu atau make up. Aneh ya.
“ Kepantai doang?.” Tanya Endrico lagi. Kemudian Fani hanya
menjawab dengan anggukan tanda mengiyakan.
“ Gak mau yang lain?.” Lagi-lagi bertanya dan kemudian
dijawab Fani dengan menggeleng-geleng kepala.
“ Kapan kamu mau aku ajak kepantai?.” Tanya Endrico lagi. Cukup
bingung dengan permintaan Fani yang sangat sederhana ini.
“ Besok pagi pas dihari ulang tahunku.” Jawabnya sembari
tersenyum manis kepada Endrico, membuat Endrico langsung mengiyakan.
“ Oke besok aku jemput kamu pagi-pagi jam 6. Jangan bangun
__ADS_1
kesingan ya.” Ucapnya sembari terkekeh.
Flashback off