Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Kata-kata Dusta


__ADS_3

Endrico dan Fani sedang berkencan, sudah lama sekali mereka tidak pernah berkencan menghabiskan waktu berdua. Hari ini, setelah sekian lama menanggung rasa rindu, akhirnya mereka bisa kembali berjalan bergandengan tangan berdua sembari menatap sekeliling. Fani dan Endrico memutuskan untuk pergi menonton bisoskop, menghabiskan waktu dimall, cari tempat yang dingin dan nyaman saja pikir mereka. Sejak turun dari mobil hingga saat ini, Endrico enggan melepaskan genggaman tangannya. Sementara Fani, dengan riang gembira dan tanpa sedikitpun rasa bersalah, tanpa rasa takut dalam hatinya, takut dilihat orang lain. Untuk apa takut pikirnya. Takut jika ada yang melihat dan melaporkan kepada Andry bahwa dia sedang bermesraan dengan lelaki lain? Hah ini kan bukan tempat Andry, gak ada siapa-siapa yang kenal dirinya dan dikenalnya. Mana mungkin ada mata-mata dia disini, dikota ini. Mungkin hanya Fani saja yang dia kenali dikota ini. Jadi dengan tenang Fani bisa melenggang bergandengan tangan dengan Endrico, kemanapun, dimanapun, tanpa ada rasa bersalah tanpa ada rasa takut. Benar ternyata, sekali sudah mengenyam nikmatnya berkhianat, semua cara akan dilakukan demi kepuasan hatinya.


“ Sayang, kita makan dulu apa nonton dulu?.” Tanya Endrico sembari terus berjalan.


“ Hem terserah sih, yang mana duluan gak masalah kok kak, aku ngikut aja.” Sahutnya sembari mengeratkan gengaman tangannya.


“ Yaudah kalau gitu kita belanja dulu deh.” Endrico menarik paksa Fani kesebuah toko yang menjual khusus pakaian wanita.


“ Eh mau kemana kak?.” Fani tunggang langgang mengikuti langkah kaki Endrico.


“ Udah lama kan aku gak jajanin kamu, sekarang aku mau jajanin pacar aku. Anggap aja hadiah 8 bulanan kita besok.” Endrico semakin mempercepat langkahnya,


diikuti Fani yang tergopoh-gopoh berusaha menyeiringkan langkah.


“Sekarang kamu pilih maunya yang mana.” Endrico merentangkan tangannya, seolah


mempersilahkan kekasih hatinya untuk masuk dan mengambil apa saja yang dia inginkan dari toko ini.


“ Eh gak perlu kak, kenapa malah jadi beli pakaian sih. Mending kita makan aja deh, aku lapar.” Fani berbalik, sekarang malah dia yang menarik dan menyeret Endrico agar segera menjauh dari toko tempat tersebut.


“Eh tunggu dulu, mau kemana sih? Kan belum jadi belanja.” Endrico tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Fani.


“Mau makan, tiba-tiba lapar banget nih.” Jawabnya semakin mempercepat langkah, membawa Endrico menuju tempat makan yang ada disana.


“Huh, tadi ditanya mau makan apa nonton dulu malah jawabnya terserah. Kenapa sekarang mendadak lapar.” Gerutu Endrico dengan nafas yang tersengal-sengal.


**


Sejak tadi Andry hanya termenung dibalcon, menatap kendaraan yang lalu lalang didepan  rumahnya. Dengan kaos longgar dan celana pendek yang membuat Andry semakin santai. Sejak tadi, bahkan sejak kemarin Andry tidak bisa mengendalikan pikirannya. Rasa rindu dan sedih bercampur menjadi satu. Andry beranjak, mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja, kotak kecil yang diberikan Fani waktu itu, ketika mereka harus berpisah dibandara. Seketika ingatannya kembali tertarik, Andry masih bisa mengingat dengan jelas seperti apa perpisahan mereka saat itu. Bahkan Andry masih bisa mengingat seperti apa detail gerak gerik Fani, apa saja yang dia sampaikan pada Andry sebelum dia pergi.


“Kangen banget.” Gumamnya sembari menatap kotak kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kalau kak Andry kangen, kak Andry buka saja kenang-kenangan dari aku ini.”


Masih terngiang jelas ditelinga Andry, masih terbayang jelas yang disampaikan Fani waktu itu. Bagaimana senyumnya, wajahnya, bahkan Andry masih bisa merasakan hangatnya kecupan perpisahan yang didaratkan Fani dikeningnya.


“Kalau kak Andry kangen, kak Andry buka saja kenang-kenangan dari aku ini.”


“Kalau kak Andry kangen, kak Andry buka saja kenang-kenangan dari aku ini.”


“Kalau kak Andry kangen, kak Andry buka saja kenang-kenangan dari aku ini.”


Kata-kata Fani terngiang-ngiang diingatan Andry, tangannya hanya membolak-balikkan kotak kecil dari kekasihnya ini. Namun Andry enggan membukanya. Biasanya, setiap kali dia merasa rindu, Andry selalu mengingat kata-kata Fani dan segera membuka kotak kecil itu. Bahkan Andry membaca surat yang turut serta diselipkan Fani dikotak


ini.

__ADS_1


“Dimana surat itu?.” Batin Andry sembari mengingat-ingat dimana dia meletakkan selembar kertas berharga dari kekasihnya itu.


Andry membongkar seisi laci lemarinya, mengingat-ingat dimana dia meletakkan suratnya. Akhirnya Andry menemukan, didalam dompet dia letakkan. Selain foto Fani berukuran 3x4 yang nangkring didompetnya, ternyata juga ada selembar kertas yang dilipat-lipat paksa agar bisa nangkring juga didompetnya. Andry bersandar diranjang, membuka surat usang itu perlahan-lahan. Entah karena terlalu sering membukanya, bahkan sudah ada garis-garis robek pada lipatan kertas itu. Surat yang berharga, penuh cinta, sepertinya.


“Kangen sih, tapi lagi gak mood buat bersedih hati.” Gumamnya. Belum habis membuka lipatan surat itu, Andry kembali menutupnya, enggan membaca. Kemudian meletakkannya diatas meja bersama dengan kotak kecil yang diberikan secara bersama.


“Arggghhhhhhhh.” Gerutunya sembari memukul ranjang dengan keras.


Andry tidak bisa menahan diri, akhirnya dia memutuskan untuk membaca kembali surat itu, untuk yang kesekian puluh kali mungkin. Andry membuka kotak kecil berwarna hitam tersebut, perlahan-lahan terdengar suara alunan music. Ternyata hadiah kecil yang diberikan Fani ketika perpisahan itu adalah kotak music. Ketika dibuka, sepasang miniatur akan berputar sembari bergandengan tangan. Ditutup kotak juga diletakkan foto dirinya dan Fani, saling berpelukan, hampir berciuman. Setiap kali Andry menatap foto itu, ada sesuatu yang membuat dadanya pengap. Setiap kali Andry menatap foto itu, selalu saja dengan cepat waktu membawanya kembali pada masa itu, menegaskan kenangan, mengulang kisah.


Kepada: Andry Tercinta


Bersama surat ini, aku kirimkan setengah hatiku untuk menemani kesunyianmu. Bersama surat ini, aku kirimkan perasaan-perasaan yang akan mengobati kerinduanmu. Bersama surat ini pula aku kirimkan setengah jiwaku, agar kau tidak merasa sunyi dan sepi.


Kepadamu, sang pemilik hati. Kepadamu sang pemilik rasa, aku hadiahkan segenap perasaan cinta, aku tambahh lagi sedemikian rupa agar kau pergi dalam perasaan bahagia dan tidak sedikitpun merasakan gundah gulana. kepadamu sang lelaki yang paling aku cintai, jangan pernah berpikir kau sendiri. Aku, meskipun disini, meskipun jarak ber mil-mil, meskipun butuh waktu berjam-jam untuk mengudara baru bertemu, aku tetap milikmu, aku tetap kekasihmu, aku tetap wanita yang bernaung dihatimu. Jangan takut hal-hal buruk aku lakukan disini, aku berjanji, dengan sepenuh hati bahwa aku akan tetap teguh setia menjaga cinta kita, sampai nanti setelah waktunya kau kembali dengan membawa kerinduan yang tidak dapat aku tamping lagi. Aku, dengan seluruh hatiku, mencintaimu. Sampai bertemu, jangan lupa bawa serpihan-serpihan rindumu untuk aku utuhkan kembali. Jangan lupa, jika rindu tatap saja hadiah kecil yang aku berikan ini, bayangkan yang berputar dan bergandengan itu adalah kita. Ukir senyum termanis dibibirmu ketika menatapnya, sebab saat itu juga aku akan merasa lega jika kau bahagia.


Salam sayang, salam cinta.


Fani Almaera.


Mata Andry berkaca-kaca ketika membaca surat cinta dari wanita yang dicintainya, tanpa sadar bulir air hangat itu sudah mendarat dipipinya. Dengan cepat Andry menyeka, kemudian menarik nafas panjang. Jantungnya mendadak tidak berdetak beraturan, rasanya ada yang menggumpal dalam hatinya. Namun Andry tidak tau apa yang diinginkan dirinya, apa yang sebenarnya dia inginkan.


“Setiap baca surat dari lo gue selalu luluh Fan, tapi gue gak tau gimana perasaan lo yang sebenarnya. Apakah yang lo tuangkan dikertas ini adalah yang sebenar-benarnya, atau ini hanya kumpulan kata-kata dusta.” Gumam Andry lirih. Pandangannya masih terpaku pada kotak music dan patung yang berputar.


“Gue kangen banget, tapi…” Belum sempat Andry menyelesaikan ucapnnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Ardi, sahabatnya.


“Hallo boy.” Sahut Andry dari dalam telepon.


“Hallo boy, ada apa?.” Sahut Andry datar. Biasanya dia selalu semangat jika berbicara dengan Ardy, tapi kali ini beda, dia tampak tidak tertarik.


“Widiwwww songong amat lo boy, mentang-mentang udah jadi orang bule sekarang. Hahahah yaudah basa basi dulu deh. Gimana kabar lo boy? Kapan rencana meninggal?.” Tanya Ardy berbuntut canda. Kemudian disusul tawa terbahak-bahak.


“Gila lo ya anak se*an! Dah ah malas gue ngomong sama lo.” Ketus Andry kesal. Sudahlah kesal karena kerinduan, sekarang kesal karena becandaan.


“Eh tunggu dulu dong. Kan gue becanda doang boy. Ah sensi amat lo. Bule-bule disana pada gak bisa becanda ya boy makanya lo jadi seriusan gini hahaha.” Lanjut Ardy. Masih asik menertawakan Andry yang sudah kepalang kesal ini.


“Tau ah!.” Ketusnya. Andry hanya menjawab datar dan seadanya saja, membuktikan jika dia benar-benar sedang marah dan tidak ingin becanda.


“Iye-iye sorry ih becanda doang gue.” Ucap Ardy mengalah.


“Oh iya, sebenarnya ada yang mau gue kasih tau sama lo boy. Tapi lo jangan kaget ya.” Lanjut Ardy malah membuat Andry jadi parno sendiri.


“Ada apaan boy?.” Tanya Andry tidakk sabaran, padahal dikepalanya sudah berkeliaran beberapa opsi kecurigaan.


Apa yang ingin disampaikan Ardy? Jangan kaget? Apa ini ada hubungannya sama Fani? atau apa? Ah apalagi yang paling penting dan mengagetkan selain Fani. Apa dia tau sesuatu?.

__ADS_1


“Janji dulu nih, lo gak bakalan kaget sama berita yang gue sampaikan ini.” Ardy memaksa Andry untuk berjanji, seperti anak kecil.


“Apa dulu nih beritanya.” Andry tidak ingin sembarangan berjanji, kekeh ingin tahu beritanya dulu baru bisa memastikan dia kaget atau tidaknya, itu sih spontan.


“Hem gak bisa boy, lo harus janji dulu dong.” Ardy terus saja memaksa Andry bak anak kecil.


“Yaudah gue janji, gak bakalan kaget deh sama berita yang lo sampaikan. Sekalipun berita tentang dunia akan segera kiamat.” Sahutnya kesal, mengalah adalah yang paling baik saat ini.


“Boy, lo tau gak sih?.” Ardy malah bertanya, sudah pasti Andry tidak tau.


“Gak!.” Ketusnya.


“Boy lo tau gak, gue bakal nikah minggu depan hiaa hiaa hiaaaa.” Ardy terkekeh sejadi-jadinya.


“Jangan becanda dulu dong, apa sih berita yang lo bilang penting?.” Andry tidak menanggapi ucapan Ardy, ingin mendengar dulu berita yang penting sebagaimana diucapkan oleh Ardy tadi.


“Iya itu beritanya boy.” Ardy berusaha meyakinkan Andry.


“Yang mana?.” Tanya Andry tidak mengerti.


“Gue bakal nikah minggu depan boy. Itu berita penting yang pengen gue sampaikan sama lo.” Ardy mengucapkan dengan pelan, tegas dan lugas.


“Ha? Itu beritanya? Sumpah lo?.” Masih tidak percaya, pasti ini hanya candaan Ardy saja.


“Iya, gue bakal nikah minggu depan. yasshhhh kaget kan lo?.” Ardy terkekeh geli, seolah-olah puas karena berhasil membuat Andry kaget mendengar berita ini.


“Gak sih. Gue lebih kaget kok ada yang mau sama lo ahahahahha.” Giliran Andry yang terkekeh, malah mencemooh Ardy.


“Anjay lo ya An, gini-gini banyak juga yang ngantri buat jadi pacar gue. Ya gue nya aja yang gak mau, makanya kemarin-kemarin gue masih betah jomblo. Soalnya gue lebih suka yang begini, mau diajak serius, gak banyak cincong.” Tukasnya berdalih dari kenyataan yang sebenarnya.


“Kasian gue sama istri lo boy, kacamatanya minus berapa boy? Pasti dia gak bisa lihat lo dengan jelas. lo beruntung karena dia gak tau wujud lo yang sebenarnya.” Andry tertawa terbaha-bahak, puas sekali mencemooh Ardy hari ini.


“Boy, gue mau ajak istri lo periksa ke dokter mata, beneran deh. Kasian gue, ntar suram hidupnya.” Lanjutnya masih terus mencemooh Ardy.


“Emang wujud gue begimana boy?.” Tanya Ardy dengan polosnya.


“Kayak An*ing! Hahahahahahahaha.” Andry benar-benar tidak canggung melepaskan ucapannya, tidak memikirkan apakah lawan bicara akan sakit hati atau tidak.


“Se*an lo ya! Dah ah malas gue, gue Cuma mau bilang aja kalau lo sempat datang ya ke nikahan gue. Soalnya gue Cuma ngundang teman-teman dekat doang. Dah bye.” Ucap Ardy, tanpa menunggu jawaban Andry langsung memutuskan sambungan telepon.


Gila ya, kemarin gak laku.Tiba-tiba udah mau nikah aja. Lah gue yang lumayan gini masa kalah sih sama Ardy. Miris banget nasib gue. Hahahaha tapi syukur deh berita yang mengejutkan itu gakk datang dari Fani.


***


Hallo pembaca setia suamiku hasil taruhan, gimana kabarnya? semoga sehat selalu ya. Terimakasih sampai saat ini masih mendukung penulis dengan tetap membaca karya penulis. Semoga semuanya tetap terhibur dengan tulisan-tulisan penulis ya, maaf jika ada kekurangan. Penulis berharap semua tetap mendukung karya penulis. Jangan lupa dukung karya penulis dengan like, koment, vote dan kasih bintang 5 ya. Terimakasih. Salam sayang dari penulis untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2