Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pengganti Fani


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi, Sophia bergegas menuju kantin. Dengan senang hati menjajalkan kaki menyusuri koridor sekolah, hasrat hati menggebu-gebu ingin menemui sang lelaki yang dia yakini akan jadi miliknya suatu hari. Sophia mengedarkan pandangan menyusuri seluruh bagian kantin, sorot matanya behenti ketika menemukan sosok yang membuatnya terburu-buru menuju tempat ini. Dengan cepat Sophia melangkah mendekat dan duduk dihadapan Andry yang tampak sibuk dengan ponsel sambil mulutnya menyeruput segelas jus.


" Hei kak. Lagi ngapain?." Suaranya tegas dan raut wajahnya memancarkan senyuman kebahagiaan.


" Eh Sophia." Spontan mendongakkan kepala dan menatap sosok wanita yang ada dihadapannya. Mulutnya berhenti menyeruput jus dan menatap Sophia serius.


" Kenapa senyum-senyum gitu Sop? Ada yang aneh ya dari gue?." Matanya berkeliaran menatap bagian tubuhnya. Mencoba mencari alasan dibalik senyum-senyum sumringah Sophia.


" Enggak kok kak. Cuma senang aja hari ini. Oh iya sendirian aja nih kak?." Pura-pura bertanya padahal dia sudah tau jawabannya bahkan beserta alasan pun dia sudah tau.


" Iya." Menjawab seadanya, pertanyaan yang dilontarkan Sophia hanya menambah kesedihan dan menambah kerinduanya kepada sang kekasih. Wajahnya berubah menjadi murung, menatap layar ponsel dan berbinar-binar saat muncul wajah Fani dilayar.


Aku sangat merindukan mu hei gadis tengilku !


" Eh kak Andry kita foto bareng yuk nanti aku kirim ke Fani deh." Meraih ponsel dari saku dan beralih duduk disebelah Andry.. Mengangkat tangan dan mengambil gambar, Andry hanya tampak tersenyum paksa didepan layar.


Apa-apaan nih cewek !


" Kak senyum dong, nanti Fani malah gak senang lagi kalau aku kirim foto kak Andry yang datar begitu." Mencoba membujuk agar Andry tersenyum bahagia didepan kamera. Sophia semakin menggeser posisi duduknya mendekati Andry, kemudian mengangkat lagi ponselnya dan tersenyum bahagia didepan kamera. Beberapa kali menekan tombol foto, yang lebih menyebalkan dia berani menyenderkan kepala dibahu Andry dan mengambil gambar seolah mereka tengah berscandal.


" Gue ketoilet dulu ya Sop." Merasa risih dengan apa yang dilakukan Sophia barusan, sontak Andry menggeser tubuhnya menjauhi Sophia. Beranjak dan meninggalkan Sophia sendirian dimeja itu.

__ADS_1


Apa-apaan sih tu cewek. Gak ada cewek yang berani bersentuhan kulit dengan gue kecuali Fani. Dasar wanita gila.


Sophia tampak tersenyum sambil menggeser-geser layar ponslenya, menatap foto-foto yang diambilnya barusan. Berulang kali jarinya membesar dan mengecilkan foto yang menurutnya sangat cocok untuk dijadikan umpan kemarahan lawan. Foto dimana dia tengah bersandar dibahu sang umpan, senyumnya dan sang lelaki merekah lebar.


" Ternyata aku lebih cocok dengannya dari pada kau hei wanita pengkhianat !." Gumamnya menggerutu kesal.


" Ah aku tak sabar ingin membuat darahmu mendidih panas." Sambungnya sambil terkekeh, kemudian beranjak pergi setelah menimbang tanda-tanda Andry tidak akan kembali lagi.


Oke akan aku mulai permainan yang menyenangkan ini. Eh tunggu-tunggu, sepertinya jangan sekarang deh. Nanti seminggu lagi, mereka bersusah payah menumpuk rindu aku dengan mudah melempar batu. Roboh, sensi dan emosi hahahaha. 


*****


Fani tampak bingung, mengedarkan pandangannya menyusuri seisi sekolahnya yang baru. Sangat jauh berbeda dengan sekolahnya dulu, mulai dari suasana, udara dan kehidupan sosialnya. Fani berjalan sendirian, wajar saja karena ini adalah hari pertamanya. Belum punya teman apalagi sahabat. Langkah kakinya berhenti dibangku yang dikelilingi pepohonan rindang. Duduk dan meraih ponselnya, menatap layar yang terpampang foto dia dan kekasihnya. Matanya berbinar-binar, menatap lekat lelaki yang biasanya dengan mudah dan hampir setiap hari dia temui.


Pikirannya masih tentang rindu dan temu, matanya berbinar-binar sayu. Jari-jari tangannya mengelus perlahan layar ponsel yang menayangkan kebersamaan lalu, huru-hara rindu, berkelabut dan bersenabut. Tanpa sadar seorang lelaki telah duduk disebelahnya, sejak beberapa saat lalu sudah menatap dirinya yang tengah merindu.


" Hah." Spontan terperanjak kaget saat menatap ada orang lain disebelahnya. Kedua tangannya mencoba menutup mulutnya yang ternganga.


" Hei. Jangan kaget begitu." Terkekeh geli meliht ekspresi berlebihan gadis yang ada sisebelahnya. Senyuman tipis terukir diwajahnya, tangannya perlahan bergerak dan memperkenalkan diri dengan manusia yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


" Hai. Aku Endrico, aku kelas XII." Senyumnya semakin mekar, tangannya masih mengulur panjang menanti sambutan dari warga baru.

__ADS_1


" Hai. Aku Fani Almaera, siswi baru disini." Menjawab dengan rasa gugup dan gemetar, tangannya menyambut lembut uluran lelaki yang baru saja memperkenalkan diri itu.


" Oh ternyata siswi baru. Pantesan aku belum pernah lihat kamu disini, pindahan dari mana?." Tanyanya dengan senyuman yang belum luntur.


" Iya kak. Aku pindahan dari Jakarta, baru masuk sekolah hari ini. Tapi aku udah seminggu pindah kekota ini." Jawab Fani masih kaku, ini adalah orang kedua yang menyapanya setelah Arif teman sekelasnya.


" Semoga betah ya disini. Eh ngomong-ngomong kamu gak kekantin?." Ingin beranjak pergi namun masih enggan meninggalkan teman barunya, mencoba bertanya dan memberi penawaran kepada Fani.


" Ayuk ikut aku kekantin, biar kamu terbiasa dengan lingkungan sekolah ini." Tanpa menunggu jawaban langsung menarik tangan Fani pelan, mengikuti langkah kakinya menuju kantin sekolah. Fani hanya berjalan mengikuti lelaki yang membimbing tangannya, sesekali menatap orang-orang yang dilewatinya. Perasaannya semakin canggung ketika langkah kakinya menapaki kantin, melewati sekumpulan siswi yang menatapnya sinis. Bukan hanya tatapan sinis, namun sayup-sayup juga terdengar kutukan dan caci maki untuk dirinya.


Eh aku salah apa? Aku bahkan belum pernah bertemu mereka. Lalu kenapa mereka menatapku seolah aku mencuri barang miliknya, siapa mereka? Apa salahku? Apa-apaan ini. Ini hari pertamaku, baru dua orang temanku tapi sudah banyak yang mendaftar menjadi musuhku.


" Kamu mau pesan apa?." Langka kaki Endric berhenti, melepaskan genggaman tangannya dan menatap Fani penuh tanya.


" Aku pesan minum ajadeh kak." Jawabnya gugup, sesekali dia masih melirik sekumpulan siswi yang mengutuki dirinya tadi. Menerka-nerka apa kesalahannya.


" Yuk. Kita duduk disana." Lagi-lagi dia menarik tangan Fani agar berjalan mengikutinya. Membawa gadis itu kesudut kantin, kemudian meminta Fani untuk duduk.


" Duduk dulu, aku ambilin pesanannya ya." Sambungnya tersenyum manis, melangkah menjauhi Fani dan mengambil nampan berisi pesanannya tadi.


" Ini minuman kamu, ini punya aku." Menyodorkan segelas jus jeruk yang tampak segar dan menarik segelas capucino dingin dihadapannya. Tampak juga sepiring sosis bakar memenuhi meja mereka.

__ADS_1


" Wah suka sosis bakar juga ya?." Sontak tersenyum dan bertanya saat melihat sepiring sosis bakar yang menggiurkan.


" Iya, kamu mau? Ini buat kamu." Endric mengangguk dan mengambil setusuk sosis bakar dan menyodorkan kepada Fani. Dengan senang hati Fani menerima pemberian Endric dan segera menyantap jajanan kesukaaannya itu. Tanpa menyadari jika sekumpulan siswi tadi masih memperhatikan dan semakin mengutuki dirinya sejak menginjakkan kaki dikantin ini.


__ADS_2