Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Hari Pertama Unfriend


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Fani dan Sophia tak lagi menyandang status sahabat. Fani berjalan dengan bermuram muka menuju kelasnya. Pandangannya  terpaku pada langkah kakinya, tak memandang kekiri dan kanan. Saat didepan kelas Fani tak sengaja menabrak Sophia yang berdiri didepannya. Sontak Fani langsung mendongak dan ternyata dia menabrakSophia dari belakang. Sophia berbalik dan langsung mengalihkan pandangan saat melihat sosok yang menabraknya adalah Fani.


“ Sorry Sop.” Lirih suara Fani. Sophia tak menjawab dan hanya memalingkan muka menyatakan kebenciannya pada sosok Fani.


“ Sop.” Fani menarik pelan tangan Sophia, ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukannya. Namun lagi-lagi Sophia hanya mengibaskan tangan Fani hingga pegangannya terlepas.


“ Gak usah lo pegang-pegang gue. Najis disentuh sama pengkhianat kayak lo.” Sophia benar-benar terlihat emosi dan langsung pergi meninggalkan Fani didepan kelas.


Fani hanya tertunduk lesu dan kembali melangkah mendekati tempat duduknya. Hatinya berkecamuk melihat kebencian Sophia padanya. Batinnya menangis histeris, kini dia kehilangan sahabatnya hanya karena keputusan sesaatnya.


“ Kenapa gue bodoh sih. Harusnya gue berfikir lebih panjang waktu itu.” Gumamnya sambil menjambak rambutnya kesal.


“ Ini baru sehari gue menghadapi tatapan kebencian Sophia. Apa gue sanggp menghadapinya setiap hari?.” Batinnya menangis membayangkan hari-harinya dimusuhi oleh Sophia.


Sementara Sophia terlihat santai ditempat duduknya, bermain ponsel sambil sesekali tersenyum bahagia. Entah apa yang membuat Sophia senyum terkulum, tapi kelihatannya dia tak memiliki beban. Berbeda dengan Fani yang hatinya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan.


******


Bel istirahat sudah berbunyi, biasanya Fani dan Sophia kekantin bersama. Namun hari ini berbeda, Sophia terlihat terburu-buru keluar kelas tanpa menghiraukan Fani yang ada disudut kelas. Fani hanya memperhatikan gerak gerik Sophia hingga tak lagi terlihat. Hari ini dia harus kekantin sendirian.


“ Huffhhh harus biasain diri nih tanpa Sophia.” Fani menarik nafas panjang. Bergegas mengemasi barang-barang yang ada diatas meja.


“ Fan, ada yang nyariin lo nih.” Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil didepan kelas. Fani hanya mengerutkan kening dan melangkah mendekati. Namun Fani kaget saat mendapati Andry sedang berbincang dengan teman sekelasnya.


“ Loh kok ada kak Andry?.” Tanya Fani mendekat.


“ Nih lo dicariin cowok ganteng Fan.” Ucap seorang wanita yang merupakan teman sekelas Fani.


“ Iya. Aku mau ajak kamu kekantin bareng.” Andry mengangguk dan tersenyum.


“ Yuk.” Andry menarik tangan Fani agar mengikuti langkahnya.


“ Eh, eh tapi kak..” Fani hendak menolak namun dengan cepat Andry menyela pembicaraan.


“ Udah gak usah tapi tapi. Mulai sekarang kekantin bareng aku ya. Kan kita pacaran.” Andry menghentikan langkah dan menatap manik mata Fani hingga membuat gadis itu jadi salah tingkah. Fani tak menjawab dan hanya memalingkan mukanya malu.


“ Udah yok buruan.” Andry melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Fani.


Andry dan Fani memesan makanan dan duduk dimeja paling ujung. Sambil menunggu pesanan datang mereka bersenda gurau, sesekali suara tawanya menggema. Ternyata dari kejauhan ada sosok yang memperhatikan mereka, sepasang mata yang menatap penuh kebencian. Sophia, duduk bersama beberapa temannya. Sambil menyeruput juice ditangannya, Sophia memandangi sepasang manusia dengan penuh kemarahan. Dalam hatinya mengutuki sepasang manusia yang terlihat menjijikkan baginya itu.


“ Cih ! Menjijikkan !” Sophia berdiri dan menghentakkan gelas keatas meja.


“ Lo kenapa?.” Teman satu meja dengannya bertanya karena kaget saat Sophia menghentakkan gelas keatas meja.

__ADS_1


 “ Mau cabut ajadeh. Mual gue lama-lama disini.” Sophia meninggikan suaranya hingga terdengar oleh seluruh penghuni kantin, termasuk Andry dan Fani.


“ Ada apa sih?.” Tanya teman Sophia lagi.


“ Gak liat lo ada sampah disini?.” Sophia menghentikan pandangannya tepat pada Fani. Lalu


 cepat memalingkan mukanya sinis. Sophia melangkah meninggalkan teman-temannya yang bingung dengan ucapannya.


“ Tunggu dong.” Kedua teman Sophia berlari mengejar Sophia.


Saat melewati meja Andy dan Fani, Sophia kembali menatap penuh kebencian. Beberapa saat menatap marah, giginya menggeram dan kembali melangkah berlalu meninggalkan sepasang manusia yang masuk ke daftar orang yang dibencinya.


Fani hanya diam menerima kemarahan Sophia. Jantungnya berdetak kencang sejak Sophia sudah menghentakkan meja dan berbicara demikian. Rasa takut dan cemas menyelimuti seluruh hatinya. Takut jika Sophia akan melakukan hal yang lebih dari ini. Jangankan untuk menyapa, berbagi nafas dalam satu lingkup saja Sophia enggan.


“ Kenapa tuh temen kamu?.” Tanya Andry kebingungan dengan sikap Sophia barusan.


“ Dia marah sama siapa?.” Sambungnya. Fani tak menjawab apapun, hanya menunduk dan sebisa mungkin menahan sedihnya.


Andai kau tau Sophia marah padaku karena mu, apa kau punya solusi untukku?. Kau hanyalah korban dipermainanku ini, sementara aku sang pemilik masalah.


Tak lama kemudian  dua mangkuk mie ayam dan dua gelas juice sudah memenuhi meja mereka. Andry menyantap bak orang yang kelaparan, sementara Fani hanya mengaduk-aduk dan tertunduk lesu. Masih memikirkan sikap Sophia tadi, takut jika Sophia akan mempermalukannya dihadapan semua siswa. Berkali-kali Fani memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Menangis sejadi-jadinya dalam hati, menyesali semua kesalahan ini. Saat ini baru satu tatapan kebencian yang dia hadapi, bagaimana jika Al dan Andry juga akan melakukan hal yang sama dengan Sophia. Haruskah dia menghadapi tatapan kebencian dan kemarahan dari ketiga korbannya ini?


“ Loh kok gak dimakan sih?.” Andry bertanya saat melirik mangkuk Fani yang masiih penuh.


“ Iya kak, aku masih kenyang soalnya.” Fani berhenti mengaduk dan memilih untuk menyeruput juicenya.


“ Aku ke toilet dulu ya kak.” Fani beranjak dan dengan cepat melangkah menjauhi Andry.


“ Jangan lama-lama ya.” Andry setengah berteriak. Masih menikmati mie ayam miliknya, sambil menyeruput juice yang sudah hampir habis.


“ Ah lama banget sih tu cewek tengil.” Gumamnya sambil menedarkan pandangan, mencari sosok Fani yang tak kunjung kembali.


“ Udah mau masuk dia masih belum balik juga. Gue tunggu depan toilet ajadeh.” Andry beranjak dan melangkah menuju meja kasir untuk membayar. Kemudian memutuskan untuk menunggu Fani didepan toilet.


“ Eh ini dia nih yang gue cari.” Seorang lelaki memukul pelan pundak Andry.


“ Susah banget nih dicari kalau jam istirahat, gak ngajak-ngajak gue lagi.” Sambung Ardi sambil menekuk mukanya masam.


“ Karena lapar gue jadi buru-buru kekantin.” Andry mencoba berdalih.


“ Ah lo kalau lagi senang lupa sama gue.” Ardi menendang ujung sepatu Andry.


Saat asyik mengobrol dengan Ardi, sosok Fani terlihat berjalan menuju kekantin. Lalu dengan cepat Andry memanggil agar sosok itu mempercepat langkahnya.

__ADS_1


“ Fan. Sini buruan.” Andry menjentikan jarinya agar Fani segera mendekat.


“ Eh..i.iya kak.” Fani menjawab terbata-bata saat mendapati sosok Ardi bersama Andry.


“ Eh eh ada apa ini?.” Ardi memukul pundak Andry dan terkekeh.


“ Udah jatuh cinta lo sama si Fani ya?.” Sambung Ardi sambil terus terkekeh.


“ Malah kita udah jadian.” Andry mendekatkan wajahnya ketelinga Ardi dan berbisik pelan.


“ Ha? Sumpah lo?.” Ardi membelalak kan matanya kaget.


“ Shutttt.” Andry menempelkan jari telunjuknya kemulut Ardi. Meminta Ardi untuk diam dan mengecilkan volume suaranya.


“ Wah parah, lo mau main-mainin si Fani ya. Gue gak suka ya.” Protes Ardi.


“ Ah diam lo. Siapa bilang gue mau nyakitin dia.” Jawab Andry dengan nada santai.


“ Gak usah bohong deh lo. Gue gak bakal biarin lo nyakitin Fani.” Ardi menggenggam kerah baju Andry. Namun langsung melepaskannya lagi saat Fani sudah berdiri diantara mereka.


“ Ada apa ini?.” Tanya Fani heran melihat Ardi yang mengangkat kerah baju Andry.


“ Eh Fan. Gapapa kok kita Cuma becanda aja.” Andry berdali.


“ Udah selesai? Yuk balik kekelas.” Andry menarik tangan Fani dan melangkah menjauhi Ardi.


“ Eh eh, kita duluan ya kak.” Fani melambaikan tangan pada Ardi yang masih belum beranjak.


“ Udah sampai. Aku balik ke kelas dulu ya.” Ucap Andry saat sampai didepan kelas Fani.


“ Oke kak. Makasih ya.” Jawab Fani.


“ Oh iya nanti pulang bareng aku ya. Jangan kemana-mana, tunggu disini. Bye.” Andry melangkah dan melambaikan tangan pada Fani.


Fani melangkah memasuki ruang kelas, ternyata Sophia sudah memperhatikannya sejak didepan kelas tadi. Kemarahan Sophia sudah tak dapat dibendung lagi. Saat Fani berjalan memasuki ruang kelas, Sophia langsung berteriak dan membuat seisi kelas menatapnya.


“ Enak banget ya hasil curian. Jilat ludah sendiri juga enak ternyata.” Sophia berteriak, membuat semua penghuni kelas terdiam dan menatapnya penuuh keheranan. Fani yang menyadari maksud dari Sophia pun segera berlari mendekati mejanya.


“ Apa ini? Apa dia mencoba mempermalukan ku dihadapan teman  sekelas?.” Batin Fani kesal.


Semua siswa dikelas tampak berbisik-bisik dan saling bertanya maksud dari Sophia tadi. Ada yang mencurigai orang yang disindir itu adalah Fani, ada juga yang mengira orang lain. Semua berbisik-bisik membuat Fani semakin malu dan merasa tak enak hati.


“ Aaaa baru hari pertama setelah pertengkaran saja aku segini malunya. Gimana kedepannya? Apa Sophia akan mengumumkan pengkhianatan ku dihadapan semua warga sekolah? Aaa andai waktu bisa kuputar kembali.” Batinnya sambil menundukan kepala dan menyeka ujung matanya.

__ADS_1


__ADS_2