
Ibu mengetuk pintu kamar Fani berulang kali. Fani tak menjawab sama sekali, ibu menekan gagang pintu dan mendapati anak gadisnya itu tengah tertidur dengan telinga yang disumbat menggunakan headset.
" Pantas aja gak nyahut, rupanya telinganya disumbat benda ini." Ibu bergumam sambil mendekati Fani.
" Fan, bangun nak. Ada temanmu datang tu." Menepuk pundak Fani pelan. Seperti biasa, Fani hanya menggeliat jika dibangunkan oleh ibu.
" Ah bangun, jangan malas gitu. Gak enak tamunya nunggu lama." Ibu memaksa Fani untuk bangun dan duduk.
" Sana ganti bajumu, udah sore juga." Ibu mendorong Fani untuk melangkah menuju kamar mandi.
" Iya bu, iya." Fani melangkah dengan pelan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan berganti pakaian. Keluar dari kamar mandi dan menuju dapur, mengambil segelas air dan menegukknya hingga habis. Mungkin habis main kejar-kejaran dalam tidurnya, jadi haus banget hehehe.
Fani melangkah menuju ruang tamu untuk melihat siapa teman yang datang bertamu itu. Sudah pasti bukan Sophia, karena Sophia tak mungkin bertamu dirumah sendiri. Mungkin karena Sophia yang sudah sering kerumah Fani, jadi wajar saja Sophia menganggap rumah Fani sebagai rumahnya sendiri.
" Siapa yang bertamu? Kalau Sophia gak mungkin seformal ini." Gumamnya sambil terus melangkah. Ibu berjalan melewati Fani dengan membawa sepiring kue dan air minum.
" Cepat Fan, kasihan temanmu nunggunya lama." Ibu bergegas meninggalkan Fani yang berjalan pelan.
" Tu kan. Sampai segitunya. Pasti bukan Sophia sih ini. Terus siapa dong?." Gumamnya lagi.
" Ah mending liat langsung deh siapa orangnya." Fani mempercepat langkah kakinya menuju ruang tamu. Betapa kagetnya Fani saat melihat sosok yang bertamu itu. Matanya terbelalak dan tubuhnya terperanjak melihat Andry ada dirumahnya. Kedua tangan Fani mendekap didada, jantungnya berdetak kencang seperti habis lari marathon.
Benar-benar diluar dugaan, Fani memegang kepalanya seolah pusing melihat ini semua. Diruang tamu didapatinya Andry yang sedang besenda gurau dengan Joo abangnya. Sekali-kali ibu ikut nimbrung meski hanya sekedar tertawa.
Aaaa kusebut apa kau Andry? Nikmat atau Bala? Kenapa kau muncul disini. Aku baru saja berniat mengabaikan dan menjauhimu, tapi kau malah semakin mendekat. Aaaaa lelaki sialan. Lelaki gila !
" Eh dek, kok bengong sih. Sini dong." Joo menjentikkan jarinya mengisyaratkan Fani agar segera mendekat.
" Hai Fan." Andry tersenyum tipis dan melambai kepada Fani yang masih diam tak bergeming itu.
__ADS_1
" Eh hai kak." Fani tersenyum paksa dan melambaikan tangan pelan.
" Ngapain masih berdiri disitu. Sini duduk." Ibu meminta Fani mendekat dengannya.
" Iya bu." Fani melangkah mendekat dan duduk persis disebelah ibu. Ibu langsung mendekat kewajah Fani dann berbisik pelan.
" Siapa Fan? Pacarmu ya? Ganteng hehehe." Ibu terkekeh geli.
Pacar ? Cih. Mau muntah gue dengernnya.
" Kenalin bu, ini kak Andry yang bantu angkatin aku waktu pingsan kemaren. Dia kakak kelas ku bu." Fani menjelaskan.
" Eh iya, terimakasih ya nak Andry." Ibu tersenyum lebar,
" Wah lo angkat ni gentong An, Gak berat apa main tunggal gitu. Pasti tulang lo sakit semua kan?." Joo mengejek dan tertawa terbahak-bahak.
" Ih enak aja. Gue ringan tau. Lo yang gentong." Protesnya memenuhi ruang tamu.
" Yudah deh gue tinggal dulu ya, gerah ni mau mandi dulu." Pamit Joo dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
" Ibu juga kedapur dulu ya, mau masak untuk makan malam. Kamu makan disini ya nak Andry." Ibu beranjak dan ingin melangkah pergi, namun suara Andry menghentikan langkahnya.
" Eh ga usah bu, aku cuma mampir bentar kok." Andry menolak.
" Jangan menolak. Anggap aja ini ucapan terimakasih karena udah bantuin Fani kemarin." Ibu berlalu meninggalkan Fani dan Andry berdua diruang tamu.
Udara disekeliling terasa sangat mencekam, Andry dan Fani duduk hanya bebatasan tepian sofa. Hening tak bersuara, Fani sibuk dengan muka kesalnya sementara Andry sibuk menyusun kalimat didalam hatinya. Entah apa yang menyebabkan Fani menekuk mukanya, entah karena candaan tadi atau karena kedatangan Andry. Fani semakin menekuk wajahnya, melipat kedua tangan didada. Atmosfer disekeliling mereka berdua benar-benar berubah, waktu seolah berhenti berputar. Saling diam seribu bahasa.
" Kamu kenapa? Gak suka ya kalau aku datang kesini?." Andry beranjak dan duduk persis disebelah Fani.
__ADS_1
" Maaf ya kalau aku datang tiba-tiba. Gak ngabarin kamu dulu. Lagian kamu juga gak pernah nangkat telfon aku. Gak pernah balas pesan aku." Andry tersenyum tipis.
" Bukan gitu kak, cuma kaget aja kalau kakak tiba-tiba kesini." Fani berkilah. Sebenarnya didalam hati Fani merasa bersalah dengan ucapannya pada Andry kemarin. Ditambah lagi gaya bicara Andry barusan menambah rasa bersalah dalam hatinya.
" Gimana kabarmu? Udah mendingan?." Andry meletakkan punggung tangannya dan merasakan suhu tubuh Fani. Sontak Fani langsung mundur menjauhi Andry dengan punggung tangan Andry yang masih menempel didahinya.
" Eh, a..a..ku gapapa kok kak." Jawab Fani terbata-bata. Andry melepaskan tangannya dari dahi Fani dan duduk sedikit menjauh.
" Aku udah sembuh kok kak. Tapi ibu masih belum bolehin aku kesekolah. Disuruh istirahat dulu kak." Jawab Fani lirih.
" Oh baguslah. Kapan kamu masuk sekolah lagi?."
" Besok aku udah sekolah lagi kok kak hehehe." Fani menyeringai tipis.
Andry dan Fani meneruskan pembicaraan mereka. Beberapa pertanyaan dari Andry dan sebaliknya membuat mereka mulai akrab. Meski masih canggung, namun sudah tak secanggung dulu. Tiba-tiba Andry teringat dengan dua kantong plastik berisikan makanan yang dibelinya tadi. Segera Andry beranja dan meraih dua kantong makanan itu.
" Apaan tu kak?." Tanya Fani heran saat Andry mendekat dengan membawa dua kantong plastik berwarna putih itu.
" Maaf ya cuma bisa bawain ini." Andry menyodorkan plastik dan disambut Fani.
" Eh ngapain repot-repot sih kak." Jawabnya sembari meletakkan kantong plastik diatas meja.
" Santai aja Fan. Oh iya buka dong, ntar gak enak lagi deh makanannya." Andry menunjuk tumpukan makanan itu dengan bibirnya. Fani segera memmbuka dan mendapati banyak makanan.
" Eh kok tau sih aku suka salad." Ucapnya kegirangan sambil mengeluarkan dua kotak salad.
" Aku nebak-nebak ajasih tadi. Yaudah makan dong." Sahut Andry.
" Nih buat kak Andry. Makannya bareng aja ya." Fani menyodorkan sekotak salad dan diterima oleh Andry.
__ADS_1
Saladnya sih nikmat. Gak tau deh lo nya nikmat atau bala. Fani terus bergumam dalam hati. Kadang memuji kebaikan Andry, kadang juga mengutuk tingkah laku Andry yang aneh akhir-akhir ini.