Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Menjenguk Fani


__ADS_3

“ Fani sakit apa ya?.” Gumam Irma sembari melangkah menuju parkiran.


“ Gue mampir aja deh kerumahnya, sepi juga seharian disekolah kalau gak ada dia.” Sambungnya sembari menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah.


Irma menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. Kemudian berhenti disebuah supermarket yang cukup besar. Turun dan masuk kedalam, melihat-lihat apa yang cocok untuk dibawa saat menjenguk Fani nanti. Tangannya meraih beberapa macam buah dan beberapa kotak susu. Berkeliling dan melihat-lihat apa lagi yang harus dia bawa untuk Fani sahabatnya. Irma meraih beberapa kotak coklat dan makanan ringan untuk cemilannya. Kemudian bergegas menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Kembali kemobil dengan sekantong plastik besar ditangannya. Duduk dibelakang kemudi dan melajukan mobil kesayangannya menuju rumah Fani.


“ Fani kemana sih? Apa dia sedang istirahat ya.” Gumamnya saat Fani tidak mengangkat teleponnya. Mencoba menelepon berkali-kali, takut jika Fani tidak dirumah atau dirawat dirumah sakit.


Irma memilih untuk pulang terlebih dulu kerumah, mandi dan mengganti pakaiannya. Hanya butuh waktu kurang lebih 20 menit saja, Irma sudah kembali kedalam mobil dengan mengenakan pakaian santai dan siap menuju rumah Fani yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Saat hendak keluar dari pekarangan rumahnya, Irma tidak sengaja berpapasan dengan Endrico yang tampak mengendarai sepeda motor.


“ Hei mau kemana Ma? Kok buru-buru banget sampai hampir nabrak.” Tanyannya berhenti dan berbalik mendekati mobil Irma yang hampir menabraknya.


“ Eh  sorry kak En, iya nih buru-buru mau kerumah Fani.” Sahutnya membuka kaca mobil saat Endrico mendekatinya.


“ Emang ada acara apa Ma?.” Tanyanya lagi, melihat sekantong plastik dikursi sebelah kemudi.


“ Engga ada acara apa-apa kok kak, Cuma mau jenguk Fani aja soalnya dia lagi sakit.” Jelasnya.


“ Fani sakit apa? Wah aku ikut dong Ma. Udah lama juga aku gak pernah ketemu  dia.” Pintanya. Bergegas menyalakan kembali mesin motornya dan meninggalkan Irma yang siap melajukan mobilnya.

__ADS_1


“ Aku ganti pakaian dulu ya, nanti aku nyusul. Bye.” Sambungnya. Tangannya menarik kuat gas, motornya melaju kencang diarea komplek perumahan.


Mau ikut aja deh urusan gue, heran.


Endrico bergegas masuk kedalam rumah, naik kelantai atas dan mengganti pakaiannya. Mengenakan jeans panjang dan kaos oblong disertai jaket bomber yang menambah ketampanannya. Meraih kunci mobil dan berlari menuruni anak tangga. Berjalan menuju parkiran dan duduk dibelakang kemudi. Kakinya menekan pedal dan siap meluncur menemui Fani yang sudah lama tidak dia temui.


“ Hem rindu ya Fan. Disekolah jarang ketemu, sekalinya ketemu eh lo nya malah sakit. Coba aja enggak, pasti gue ajak jalan-jalan deh keliling kota.” Ucapnya kemudian melajukan mobil nya. Padahal jarak rumah mereka terbilang dekat, karena Endrico harus pergi membeli sesuatu untuk dibawa kerumah Fani lah yang menyebabkan dia harus menggunakan mobil. Karena cuaca yang terik juga sih, takut tampannya luntur kalau naik sepeda motor keliling-keliling cari makanan.


“ Mau beli apa ya buat Fani.” Gumamnya. Pandangannya diedarkan sepanjang jalan, mobilnya berjalan pelan menyusuri jalanan yang cukup ramai. Melihat kiri dan kanan dan memikirkan apa yang harus dia bawa untuk Fani.


“ Buah? Makanan?.” Tanyanya. “ Ah itu sih udah biasa.” Gumamnya lagi.


Endrico berhenti disebuah supermarket terdekat, mencari sesuatu yang cocok untuk dibawa kerumah Fani. Melihat-lihat apa saja yang tidak biasa dibawa orang lain saat mengunjungi orang sakit.


“ Mungkin buku lebih cocok untuk orang yang sedang sakit hehehe.” Batinnya terkekeh.


Endrico sudah berada dalam toko buku, pandangannya menyapu seisi ruang. Mencari buku apa yang cocok untuk diberikan kepada Fani. Setelah cukup lama mencari, akhirnya Endrico menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat cocok diberikan kepada Fani. Sebuah buku yang berjudul ‘ Cinta dan Diam’, entah bagaimana alur ceritanya yang penting menurutnya ini sangat cocok untuk dibaca oleh Fani.


Cinta dan Diam, ini cocok sekali hehehe.

__ADS_1


Bergegas menuju kasir dan membayar buku pilihannya. Kemudian setengah berlari menuju mobilnya. Lanjut mencari sesuatu yang akan dibawanya. Kembali matanya menoleh kiri dan kanan, melihat-lihat apa yang unik sebagai buah tangan saat mengunjungi orang sakit. Lagi-lagi mobilnya berhenti ditempat yang tidak terduga, berhenti disebuah toko bunga. Senyumnya mendadak mekar ketika melihat bunga-bunga yang indah dan segar.


“ Mbak saya mau bunga yang ini ya.” Ucapnya mendekat dengan seorang karyawan toko.


“ Baik mas, saya bungkus dulu ya.” Ucap wanita itu mengangguk dan pergi meninggalkan.


Sudah ada buku dan bunga dikursi sebelahnya, sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah orang lain bawa ketika menjenguk orang sakit. Tidak langsung melajukan mobilnya, Endrico tampak masih berfkir tentang apa lagi yang harus dibawanya. Bukan lagi seperti akan menjenguk orang yang sedang sakit, malah seperti orang yang akan membujuk kekasih yang tengah merajuk.


“ Oke sudah ada bunga dan buku, sekarang aku beli buah-buahan dan makanan aja deh.” Batinnya tersenyum seolah sangat berbahagia karena akan berkunjung kerumah Fani.


Kembali lagi kesupermarket yang sempat dia datangi tadi, kali ini benar-benar membeli beberapa macam buah segar. Tidak lupa juga mengambil beberapa kotak salad untuk dirinya dan keluarga Fani. Belanjaannya banyak sekali, tampak seperti orang yang akan berkunjung kerumah mertua hahahaha.  Setelah memastikan semua akan


mendapat bagian, Endrico segera membayar semua barang dimeja kasir. Sesekali menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya, takut dia terlambat dan datang disaat Irma sudah pulang.


“ Duh kira-kira Irma masih disana gak ya?.” Gumamnya tampak cemas. Lagi-lagi pandangannya tertuju pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


“ Mbak tolong agak cepat ya.” Ucapnya kepada kasir yang bertugas. Hanya sebuah anggukan yang dia dapat sebagai jawaban.


Setelah semua dipastikan masuk kedalam hitungan, Endrico bergegas kembali kedalam mobil. Membawa dua kantong plastik yang berisikan buah dan cemilan. Langkahnya dipercepat menuju mobil, meletakkan semua barang

__ADS_1


dikursi sebelah kemudi. Kemudian segera melajukan mobilnya membelah jalanan menuju rumah Fani sembari berharap jika Irma masih disana dan belum pergi.  Pandangannya terfokus pada jalanan, sesekali menoleh kepada tumpukan barang yang akan dibawanya kerumah Fani. Terkekeh melihat banyak sekali barang yang dia beli, kepalanya menggeleng-geleng tidak mempercayai apa yang dilakukannya. Sudah seperti bukan lagi ingin menjenguk orang yang sakit, terlebih membawa buku dan bunga. Ah diluar dari biasanya.


Ini gue mau jenguk orang yang lagi sakit tapi malah jatuhnya kayak mau nyogok orang tuanya biar restui hubungan gue sama anaknya hahahahahaha.


__ADS_2