Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Dimaafkan


__ADS_3

Andry dan Fani duduk bersebelahan dibawah rindangnya pepohonan. Senyap dan sepi antara mereka berdua, hanya terdengar suara burung dan serangga-serangga hutan. Cukup lama mereka saling diam menatap pemandangan, akhirnya Andry membuka suara dan memulai obrolan.


“ Sekarang jelaskan lah.” Ucap Andry memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Berbicara tanpa mengalihkan pandangan yang masih tetap menatap perkotaan dari kejauhan.


“ Aa..a.aku minta maaf.” Ucap Fani terbata-bata. Kaki tangannya menggigil karena ketakutan. Wajahnya masih pucat dan dipenuhi keringat.


“ Jelaskanlah. Kau tak perlu takut, aku tak akan memukulimu.” Sahutnya mencoba mengatakan jika dia hanya butuh penjelasan.


“ Maafin aku. Aku menyesal sudah menerima tantangan itu, awalnya karena aku memang kesal saat mendengar rumor yang beredar tentangmu. Aku penasaran.” Ucapnya lirih dengan wajah yang tertuduk takut.


“ Yang lebih buruk adalah aku menerima cintamu karena terpaksa. Aku menjadikan mu pelarian untuk menolak cinta seseorang.” Sambungnya. Sudah tak dapat membendung tangis, akhirnya pecah dan berurai air mata.


“ Aku terpaksa menolak cinta lelaki yang aku cintai dan terpaksa menerima cinta pria yang sama sekali tidak aku sukai.” Lanjutnya tersedu-sedu dan berlinang air mata.


“ Memang aku manusia yang hina. Karena ego ku, aku menyakiti banyak hati.” Tangisnya semakin keras, bicaranya pun terdengar kurang jelas. Semua pipinya dibasahi oleh air mata.

__ADS_1


“ Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui. Awalnya aku berencana ingin memutuskan hubungan ini beberapa minggu setelah jadian. Namun semakin aku jalani aku semakin merasa nyaman, aku mencintaimu.” Tangisnya sudah tak dapat dibendung lagi, tersedu-sedu. Matanya memerah bengkak, semua sudah dijelaskan olehnya.


“ Lalu apa kau puas sekarang?.” Sahut Andry menatap Fani wajah Fani yang kusut karena menangis.


“ Apa kau mencintaiku?.” Tanya Andry lagi. Namun Fani tak memberikan jawaban apapun, hanya diam dan terus menagis tersedu-sedu.


Andry merasa jika Fani benar-benar menyesali semua perbuatannya, kesal dan amarahnya hilang seketika. Terlebih lagi saat mengingat jika dirinya juga memulai dengan niat yang kurang baik. Mungkin dengan cara ini lah semesta mempertemukan mereka berdua. Jalan yang tak terduga-duga, memulai dari benci kemudian berubah menjadi cinta. Andry mendekat dan menarik Fani yang tersedu-sedu kedalam pelukannya. Menghela nafas dan menghembuskan bersama kekesalan yang ada dalam dirinya. Mencoba menenangkan Fani yang terisak-isak dan menyeka berulang kali air mata yang tak henti-hentinya. Rasa cinta dan sayangnya kepada Fani memudarkan semua caci maki yang dipendamnya sejak tadi.


“ Sudahlah jangan menangis. Aku sudah memaafkanmu.” Ucapnya lirih. Sedih saat melihat wanita yang dicintainya begitu terisak-isak menangis dan menyesali kesalahannya.


“ Apa kau masih mencintaiku hei gadis nakal?.” Tanya Andry lagi. Berharap Fani menjawab dan berhenti menangis tersedu-sedu. Namun masih sama, Fani hanya diam dan tenggelam dalam pelukannya.


“ Hei apa kau baik-baik saja?.” Tanya Andry cemas saat Fani terdengar seperti ingin memuntahkan sesuatu.


Andry memegang kedua pipi Fani dengan penuh kasih sayang, memaksa gasi itu menatap bola matanya. Andry tersenyum dan menghujani wajah Fani dengan ciuman. Kemudian kembali menarik Fani kedalam pelukannya. Tak ingin lagi menyiksa kekasihnya, Andry meminta Fani untuk berhenti menangis. Seolah semua dilupakan dalam waktu sekejap saja.

__ADS_1


“ Berhentilah menangis, aku mencintaimu.” Ucapnya sambil terus menghujanji kening Fani dengan ciuman sayang.


“ Apa kau benar-benar mencintaiku?.” Tanya Andry sambil memaksa Fani menatap kedua bola matanya. Fani hanya mengangguk mengiyakan, nafasnya masih tersengal-sengal. Dengan cepat Andry kembali memeluk kekasihnya itu.


“ Apakah ini karma untuk ku?.” Sudah lama menangis tersedu-sedu. Akhirnya Fani berbicara. Matanya menatap Andry penuh penyesalan. Namun Andry membalas dengan senyuman dan gelengan.


“ Tidak sayang. Mungkin ini adalah cara semesta memepertemukan kita, awal yang buruk untuk menjadi bumbu-bumbu cinta. Agar ada kenangan unik yang bisa kita ceritakan dimasa depan tentang seperti apa dan bagaimana pertemuan kita.” Jawab Andry bijak. Enggan mengakhiri hubungan yang sudah susah payah dibangunnya. Mengubah bencinya menjadi cinta, bukan suatu hal yang  mudah.


“ Tapi aku sama sekali tak pantas untukmu.” Lagi-lagi tangisnya pecah dan Fani menangis terisak-isak. Masih belum bisa memaafkan kesalahan dirinya.


“ Kau yang paling pantas untuk ku. Sudahlah jangan menangis lagi hei gadisku tercinta.” Andry menenangkan Fani. Menyeka wajah yang dipenuhi air mata itu.


Andry bersyukur jika Fani benar-benar mencintainya, karena dia pun sama. Sangat mencintai sigadis tengil ini. Andry tersenyum dan memeluk erat tubuh Fani, berharap mereka bisa memulai semuanya dari awal. Meskipun ada luka yang mereka ciptakan untuk sesama.


Apa kau tau aku sangat bersyukur semesta mempertemukan kita. Meskipun dengan awal yang buruk dan menyebalkan. Namun lihatlah kita saling mencintai dan menyayangi. Aku bersyukur, semoga kau pun demikian. Harap ku hubungan ini bisa lebih baik kedepannya, sesuai janji yang kita ikrarkan kemarin. Disaksikan air pantai dan lautan pasir yang menyeruai. Aku tetap mencintaimu, meski aku tahu jika aku adalah bahan taruhanmu. Kepadamu Fani, seluruh cinta ini. Dari aku, Andry.

__ADS_1


Fani sudah tampak lebih tenang dan tidak tersedu-sedu lagi. Hembusan nafasnya sudah kembali normal. Memeluk erat tubuh Andry yang nyaman, menyandarkan kepala dan semua beban didada Andry. Perasaannya senang, pikirnya hubungan ini akan hancur berurai. Ternyata semesta masih memberi kesempatan, memperbaiki hubungan yang malang ini. Sesekali Fani mendongak dan menatap Andry yang sudah tak marah dan kesal lagi. Sebanyak Apa Fani mendongak sebanyak itu pula Andry menghujani keningnya dengan kecupan. Rambutnya yang kusut masai seketika berubah menjadi rapi karena terus-terusan dielus oleh Andry.


Aku kira kita akan selesai, ternyata semesta masih memberi kesempatan. Seolah meminta kita untuk membangun semua dari awal tanpa niat lain selain ikhlas mencintai dan berkasih sayang. Terima kasih sang pemilik kehidupan.


__ADS_2