
Fani masih sedih dan terbayang-bayang ucapan kasar Sophia tadi. Fani menatap layar ponselnya yang terpampang wajah Andry. Mencoba meresapi apa yang dikatakan oleh Sophia, apakah benar jika dia tak pantas untuk Andry. Mengingat betapa buruknya niat saat menerima cinta Andry. Dari yang awalnya taruhan hingga menjadikan Andry pelarian. Kalau dipikir-pikir memang keterlaluan sih, Fani mengorbankan perasaan orang yang tak bersalah. Sekalipun akhirnya dia mencintai Andry dengan sepenuh hati, namun tetap saja niatnya buruk bertubi-tubi. Saat asyik melamun dan mencerna kata-kata Sophia, ponsel Fani berdering. Ternyata sebuah panggilan dari ibunya, dengan cepat Fani menggeser layar ponselnya dan menrima panggilan.
“ Hallo Fan, kamu dimana?.” Sahut ibu saat telepon tersambung.
“ Hallo bu, aku lagi disekolah bu.” Jawab Fani.
“ Kemarilah ibu ada diruang majelis guru.” Sahut ibu lagi. Fani mengangkat alisnya bingung kenapa ibunya ada dimajelis guru sekarang.
“ Ha ngapain ibu disana?.” Tanya Fani heran.
“ Udah jangan banyak tanya. Cepetan kesini.” Tukas ibu mengakhiri telepon. Bergegas Fani kelluar dari kelas dan berjalan menuju majelis guru. Benar saja dia mendapati ibu dan ayahnya sedang duduk menghadap kepala sekolah.
“ Ada apa ini?.” Gumamnya dalam hati. Melangkah mendekati ayah dan ibunya itu. Wajahnya tampak kebingungan namun masih bisa dikendalikan.
“ Nah ini dia anaknya.” Ucap seorang wanita paru baya saat dirinya mendekat. Kepala sekolah itu meminta Fani duduk dikursi yang tersedia. Fani hanya mengangguk dan mengikuti perintah kepala sekolah. Sebenarnya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sembari mengingat apakah dia melakukan sebuah kesalahan hingga kedua orang tuanya dipanggil kesini. Tentu saja tidak ada, kan kemarin baru masuk sekolah.
“ Ayah ada apa ini?.” Fani mendekatkan wajahnya dengan telinga ayah dan berbisik ditelinga ayah.
" Ayah mau ngurusu surat pindah sekolah mu." Jawab ayah santai tanpa mengalihkan pandangannya dari kepala sekolah.
" Ha? Pindah sekolah?." Tanya Fani kaget. Matanya terbelalak mendengar ucapan ayah yang tiba-tiba mengatakan jika dia akan pidah sekolah.
“ Hussttt.” Ayah meletakkan jari telunjuknya dimulut Fani. Meminta anak gadisnya itu untuk diam dan jangan berbicara lagi. Fani menatap ayahnya kesal, kenapa mereka tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba sudah datang kesekolah dan mengurus surat pindah.
“ Tapi yah,” Sambung Fani. Namun belum selesai bicara ayah sudah menutup mulut Fani dengan tangannya. Ayah berbisik pelan ditelinga Fani dan mengatakan akan memberitahunya nanti setelah urusan ini selesai.
“ Diam lah nak. Nanti ayah jelaskan kenapa ini tiba-tiba mendadak. Ayah akan jelasin nanti dirumah.” Meminta Fani untuk diam dan jangan bertanya lagi.
Fani diam dan tidak bertanya apapun lagi. Hanya menatap dan mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya dengan kepala sekolah. Kesal juga dirasakannya, entah apa yang terjadi hingga dia harus pindah sekolah mendadak begini. Fani mengingat-ingat apakah dia melakukan kesalahan hingga ayah dan ibu ingin memindahkan sekolahnya. Fani benar-benar tidak bisa menebak apa alasan dibalik ini semua. Dia harus menunggu hingga nanti sepulang sekolah untuk mendengar alasan dari pemindahan sekolah dadakan ini.
“ Kalau begitu kami pamit dulu ya buk. Terimakasih.” Ibu Fani beranjak dan menyalami kepala sekolah, diikuti oleh ayah Fani.
__ADS_1
“ Sama-sama buk, pak. Semoga Fani betah disekolahnya yang baru ya.” Jawab kepala sekolah sambil tersenyum dan mengelus kepala Fani.
“ Saya pamit ya buk.” Ucap Fani berpamitan dan kemudian menyalami beberapa guru yang ditemuinya diruangan itu.
Fani tak menyangka jika ini adalah hari terakhirnya bersekolah di SMANSA. Besok dia akan pindah sekolah dan terpaksa harus beradaptasi lagi dengan lingkungan dan orang disekolah barunya nanti. Satu sisi Fani merasa
senang jika pindah sekolah, karena bisa terhindar dari Sophia yang selalu memusuhinya setiap hari. Tapi satu sisi lagi dia harus meninggalkan kekasih yang dicintainya, Andry.
“ Bu, kenapa mendadak gini sih?.” Tanya Fani saat mereka sudah keluar dari ruang majelis guru. Ibu hanya tersenyum dan memegang pundak Fani. “ Ambil barang-barangmu dan pulang bersama ibu dan ayah.” Ibu meminta
Fani mengambil barang-barangnya dan ikut pulang bersama.
“ Iya bu.” Fani tak bertanya lagi. Hanya mengikuti perintah ibu. Berjalan pelan menuju kelas, mengambil tas dan barang-barang yang lainnya. Kemudian kembali melangkah mendekati ibu dan ayah diparkiran.
“ Sudah bu. Ayok pulang yah.” Wajahnya lemas dan penuh tanya. Namun Fani tampak enggan bertanya alasan pemindahan ini. Hanya diam dikursi penumpang dan menatap jalanan tanpa berbicara sepatah katapun. Ayah
menyalakan mesin dan melajukan mobilnya memelah jalanan yang ramai. Bergegas kembali kerumah untuk membereskan semua barang-barang mereka.
memahami jika berita dadakan ini akan membuat Fani shock dan sedih, pasalnya mereka tak mengatakan apapun jauh-jauh hari.
“ Fan,” Panggil ayah menghentikan langkah kaki Fani.
“ Iya yah. Aku capek ni pengen istirahat. Kita bicara nanti aja ya.” Fani menghentikan langkah dan berbalik melihat ayah. Kemudian bergegas melangkah menuju kamar. Fani membanting pintu dan mengunci kamarnya. Entah apa
yang harus dilakukannya. Apa yang harus dikatakannya dengan Andry soal pemindahan mendadak ini.
Ayah dan ibu hanya terdiam tak bergeming. Menggeleng melihat tingkah putri satu-satunya itu. bergegas masuk
kerumah dan melanjutkan beres-beres. Menyusun dan memasukkan mbarang kedalam kotak-kotak besar. Sebenarnya mereka pun terkejut dengan kabar pemindahan tugas ayah ini. Namun apalah daya, hanya bisa mengikuti arahan dari perusahaan saja.
Joo masuk kedalam rumah. Didapatinya ibu dan ayah tengah memasukkan brang-barang kedalam
__ADS_1
kotak-kotak besar. Seperti orang mau pindahan, ya benar saja mereka akan pindah keluar kota. Joo mendekati ibu dan ayah yang tampak sibuk itu, bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
“ Ibu, ayah. Ada apa ini? Kenapa semua dimasukkan kedalam kotak-kotak besar? Udah kayak mau pindahan aja.” Tanya Joo mendekati kedua orang tua yang sibuk itu.
“ Iya nak. Kita memang akan pindah dalam dua hari ini. Kita akan pindah ke kota Pontianak.” Jawab ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari barang-barang yang bertumpuk dihadapannya itu.
“ Ha? Pindah? Kenapa mendadak begini yah?.” Tanya Joo seolah tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
“ Iya nak. Ayah dipindahkan keluar kota, jadi mau tidak mau ayah harus mengikuti perintah perusahaan.” Sambung ayah terus memasukkan barang.
“ Yah, aku pindahh sekolah dong?.” Tanya Joo mengingatkan tentang sekolahnya.
“ Iya besok ibu dan ayah akan kesekolah untuk memnegurus surat pindahmu.” Sahut ibu yang juga sibuk memasukkan barang kedalam kotak-kotak besar.
“ Sudah. Kamu bereskan barang-barang mu. Masukkan kedalam koper dan tas-tas ransel.” Ibu memberi perintah. Joo hanya mengangguk mengiyakan perintah yang diberikan ibu. Beranjak dan melangkah menuju kamarnya untuk mempersiapkan kepindahannya.
Fani keluar dari kamarnya, mendekati ayah dan ibu yang masih sibuk mengemasi barang-barang. Menanyakan kenapa ini semua mendadak dan tiba-tiba.
“ Yah, bu. Kita mau kemana sih sebenarnya?.” Tanya Fani sambil duduk disofa, melihat apa yang dilakukan kedua orang tuanya.
“ Ayah dipindah keluar kota, jadi mau tidak mau kalian harus ikut bersama ayah.” Jawab ayah tersenyum dan mendekati anak gadisnya.
“ Maaf ya kalau ini semua mendadak. Tapi ayah tidak bisa menolak, jadi kita akan pindah lusa.” Ayah tersenyum dan mengelus kepala Fani pelan.
“ Besok ayah antar kamu kesekolah yang lebih bagus disana.” Sambung ayah menenangkan.
“ Kita akan pindah kemana yah?.” Tanya Fani memastikan.
“ Ke kota Pontianak.” Jawab ayah beranjak dan kembali mengemasi barang-barang.
“ Sekarang bereskan semua barang-barangmu. Masukkan kedalam koper dan kotak-kotak besar.” Ibu memberikan perintah ke Fani. Mengangguk mengiyakan dan melangkah menuju kamar. Fani mulai berkemas dan membersihkan semuanya. Tak terkecuali foto-foto yang digantung didinding kamarnya, akan dibawa pergi bersama dirinya.
__ADS_1