
Sophia sudah bagun dari tidurnya dan langsung menyalakan ponsel. Melihat kembali akun sosial media Fani, ternyata masih ada foto-foto mesra Andry dan Fani. Seharusnya jika benar mereka berdua bertengkar hebat dan
putus, pasti foto-foto ini sudah dihapus oleh Fani. Untuk apa lagi membagikan moment kebersamaan mereka jika sudah tidak ada lagi hubungan.
“ Loh kenapa belum dihapus sih?.” Gumamnya bertanya dalam hati. Kesal saat melihat foto-foto itu belum juga dihapus oleh Fani.
“ Atau saking sedihnya hingga Fnai tak sanggup memainkan ponselnya. Sedih sekali.” Guamamnya berasumsi agar menenangkan pikirannya yang tak sabar.
“ Aku tunggu ajadeh. Pantau terus.” Sambungnya sambil melemparkan ponsel keatas ranjang. Beranjak dan meraih handuk, berjalan kekamar mandi dan membersihkan diri.
Hanya beberapa menit saja Sophia kembali dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Berputar-putar didepan kaca dan merapikan rambutnya. Memuji betapa cantiknya dia, kemuda bergegas mengenakan baju tidur lengan panjang
bergambar unicorn kesukaannya.
“ Cantik banget deh gue.” Gumamnya sambil terus berputar-putar. Kemudian meraih baju tidur dilemari sebelahnya.
“ Udah jelas gue lebih catik dari Fani, masih aja milih tu cewek. Tuh kan lo jadi sakiti dan dibohongi.” Sambungnya sambil mengenakan baju tidurnya.
“ Coba aja lo milih gue Andry, pasti lo bakal bahagia. Gue jamin deh.” Ucapnya percaya diri. Kemudian tergelak tawa dengan sendirinya, Sophia terkesan seperti orang gangguan jiwa.
Sophia keluar dari kamarnya dan bergegas menuju dapur, mengambil bebrapa makanan didalam piring. Sejak pagi dia hanya makan sosis bakar, itu pun saat dikantin dan mengungkapkan kebenaran dihadapan Andry tadi. Perutnya
__ADS_1
yang keroncongan sudah berbunyi seolah meminta makan. Bergegas Sophia menyantap makanan dengan tergeasa-gesa. Sangat lapar.
“ Ahh bahkan keasikan melihat drama aku jadi lupa makan.” Gumamnya terkekeh geli. Menyantap makanan yang ada dimulutnya dengan sangat cepat.
“ Gak sabar mau lihat Fani yang frustasi besok disekolahan.” Sambungnya membayangkan Fani duduk termenung dengan pandangan yang kosong. Rambut yang kusut masai dan mata yang sembab sehabis menangis.
“ Hahahahah pasti lucu.” Sophia tiba-tiba tertawa. Kemudian dengan cepat menyelesaikan makan siang dan malam yang dirangkapnya ini. Sesekali terukir senyum diwajahnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Padahal dia membayangkan Fani yang gila karena putus cinta.
Hari ini Sophia pergi kesekolah pagi-pagi sekali. Tak sabar ingin menemui Fani yang patah hati dang galau karena diputusin Andry. Dengan cepat dia sarapan dan bergegas menuju sepeda motornya. Menyalakan dan melaju membelah jalanan yang cukup ramai. Sepanjang jalan Sophia tak henti-hentinya membayangkan betapa lucunya wajah Fani yang galau karena putus cinta.
“ Akan aku abadikan moment kegalauan mu hai mantan sahabatku.” Gumamnya dalam hati. Terus menambah kecepatan agar sepeda motornya itu melaju lebih kencang. Hanya beberapa menit berselang Sophia sudah memasuki pekarangan sekolah dan segera memarkirkan sepeda motornya. Berjalan setengah berlari menuju kelas dan siap menangkap semua moment kesedihan dan kegaluan Fani yang diputuskan oleh Andry.
“ Hehehehe aku akan menjadi paparazzi hari ini. Tenang lah Fani aku akan mengabadikan semua moment kesedihanmu beberapa hari ini.” Ucapnya sambil duduk didepan kelas. Menunggu Fani yang berjalan gontai dan tertunduk malu karena mataya sembab habis menangis. Pikirnya akan lebih mudah mengambil foto Fani jika dia duduk diepan kelas.
Bagaimana mungkin Andry dan Fani pergi kesekolah satu mobil setelah kemarin bertengkar hebat. Sophia menatap dengan jelas, memastikan jika wanita itu benar adalah Fani si pengkhianat. Sophia menekuk wajahnya kesal saat melihat dengan jelas wanita itu adalah Fani, si pengkhianat yang sangat dibencinya. Kedua tangannya di lipat didada, wajahnya bermuram durja. Meratapi semua bayangannya yang hanya sekedar bayangan saja, tak ada yang menjadi kenyataan. Semakin kesal saat melihat senyum Fani yang merekah melambaikan tangan kepada Andry.
“ Apa-apaan ini. Gak mungkin mereka masih baik-baik saja. Harusnya kan mereka bertengkar dan sudah putus sekarang.” Gumamnya tak terima dengan apa yang dilihatnya. Sophia melangkah kedalam kesal, wajahnya masih
ditekuk.
“ Capek-capek dong gue buka forum kemaren. Gue udah nunggu sekian lama untuk balas dendam, udah ngumpulin keberanian buat mengungkapkan. Tapi semuanya gagal. Ah sial.” Sophia menggerutu didalam hati. Berkali-kali tangannya memukul meja yang ada dihadapannya itu. Sophia merasa semua usahanya sia-sia.
__ADS_1
Fani terlihat berjalan menuju kelas, sama sekali tidak ada tanda-tanda kesedihan dari dirinya. Berjalan pelan menyapa semua orang yang dilewatinya. Fani masuk dan duduk dikursi miliknya, melirik Sophia yang menatapnya penuh kesal. Fani hanya membalas tatapan kekesalan itu dengan senyuman yang ikhlas. Malas memperpanjang masalah dengan sahabatnya itu. Fani memilih memainkan ponsel dan membaca komik romantis sambil menunggu bel berbunyi.
Apa lagi yang kau kesalkan Sophia? Bukankah kau sudah puas mengatakan semuanya kepada Andry kemarin. Atau kau sengaja ingin menghancurkan hubungan kami berdua?
“ Cih, najis deh.” Ucap Sophia tiba-tiba. Tidak ada siapa-siapa didalam kelas selain mereka berdua. Sudah tentu perkataan Sophia itu tertuju pada Fani disudut sana. Fani hanya melirik Sophia dengan wajah datar, paham sebenarnya jika Sophia mengatakan itu untuknya. Fani enggan tersulut emosi, jadi dia hanya diam dan tak menanggapi.
“ Eh lo sadar gak sih.” Sambung Sophia beranjak mendekati Fani yang cukup jauh darinya. Wajahnya tampak lebih kesal dari tadi, memerah dan tegang. Mendek dan berdiri dihadapan Fani. Kedua tangannya dilipat didepan dadanya.
“ Sadar gak sih lo pengkhianat.” Lagi-lagi Sophia tersulut emosi dan langsung memukul meja Fani hingga berbunyi keras.
“ Lo kenapa sih Sop? Kenapa lo kayaknya pegen banget gue menedrita.” Tanya Fani sudah tak tahan lagi dengan perlakuan Sophia sejak kemarin.
“ Kemarin lo sengaja bermuka dua, terus lo bilang semua rahasia tentang taruhan kita. Lagian lo yang maksa gue buat terima tantangan lo.” Sambungnya kesal. Mencari tahu alasan kenapa Sophia melakukan ini semua padanya.
“ Apa lo bilang? Gue pengen bikin lo menderita? Bukannya lo yang bikin gue menderita selama ini.” Jawabnya tak kalah kesal.
“ Asal lo tau ya, gue selalu ngerasa sakit hati setiap kali lihat foto-foto mesra lo bareng Andry. Lo yang bikin gue menderita. Pengkhianat lo.” Sambungnya semakin kesal.
“ Gue emang salah dari awal, tapi gue saling cinta sama Andry sekarang.” Jawab Fani semakin memanas. Mendengar kata saling cinta itupun membuat Sophia makin membara.
“ Eh asal lo tau ya, lo itu sama sekali gak pantas buat lelaki kayak Andry. Dia terlalu baik buat pengkhianat kayak lo ban*sat.” Sophia berteriak kesal sambil memukul meja Fani. Membuat Fani terdiam dan tak menjawab lagi. Batinnya merasa sedih ketika Sophia melontarkan kata-kata sekasar ini. Sophia segera beranjak pergi meninggalkan Fani yang menunduk diam. Matanya berkaca-kaca dan tak dapat membendung tangis. Untuk pertama kalinya ada yang berkata sekasar ini padanya.
__ADS_1
Hallo guys, Terimakasih masih setia membaca karya saya ini. Mohon beri dukungan agar saya lebih rajin dan bersemangat lagi dalam menulis novel ini.
Jangan lupa like dan koment ya. Thankyou guys.