Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Pencarian Hari Kedua


__ADS_3

Hari ini Andry bangun lebih pagi, lebih tepatnya tidurnya yang terlalu tipis. Sepanjang malam ada saja yang mengganggu pikirannya, ada saja yang mengganggu tenangnya. Andry menatap langit yang masih gelap, perlahan-lahan matahari mulai tampak. Gelap berganti terang, tetap saja dia berdiri diam didepan jendela kamar. Kepalanya sedang memutar, jungkir balik memikirkan bagaimana jika nanti dia tidak berhasil menemukan Fani. Berapa lama waktu yang harus dia habiskan dalam pencarian cinta yang tidak jelas ini. Andry mengepalkan kedua tangannya, sorot matanya tajam menatap jalanan yang mulai ramai. Meskipun tidak seramai kota tempat tinggalnya. Lamunannya buyar ketika dering ponselnya menggema  memenuhi seisi ruangan. Sebuah panggilan  masuk yang entah dari siapa, belum tampak namanya. Andry bergegas mendekat, melihat layar ponsel dan seketika menghembuskan nafas keras.


“ Hallo.” Andry menjawab panggilan seperti orang yang tidak bersemangat. Tubuhnya dilemparkan keatas ranjang, kakinya terasa keram karena terlalu lama berdiri didepan jendela.


“ Hallo Andry, kamu dimana? Kamu pergi kemana sih? Siapa yang kamu cari disana? Siapa yang kamu temui disana?.” Sahut Alea dari dalam telepon. Tidak tentu titik koma, Alea terus saja menghujam Andry dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran.


“ Hallo Alea, bisakah kamu bertanya satu-persatu? Berbicaralah pelan-pelan.” Andry menghela nafas panjang. Mood nya sedang tidak baik pagi ini, ditambah pula Alea yang menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang enggan dia jawab.


Oh iya sebelumnya Alea tidak pernah tahu tentang Fani kekasihnya Andry. Alea bahkan mengira jika Andry adalah lelaki yang belum memiliki pasangan, apalagi Andry yang tidak pernah bercerita tentang hubungan pribadinya. Membuat Alea mengira jika Andry adalah lelaki yang bisa dia dekati, mumpung belum ada anji*gnya. Sekali berkencan dan sekali datang bersamaan kepesta ulang tahun teman sudah cukup untuk membuat Alea menjadi jatuh cinta dengan sosok Andry. Terlebih lagi dari segi wajah dan fisik sangat mendukung untuk Alea menaruh benih-benih cinta.


“ Kamu dimana? Kamu mau ketemu siapa?.” Lanjut Alea kali ini tidak lagi menyerang dengan banyak pertanyaan, juga lebih tenang.


“ Sekarang aku ada dikota X, aku datang kesini ingin menemui seseorang yang sudah lama tidak aku dengar kabarnya.” Andry kembali mengembusakan nafas panjang. Pikirannya campur aduk, khawatirnya semakin menumpuk.


“ Ha? Siapa? Keluargamu?.” Tanya Alea dengan nada yang bingung serta penasaran.


“ Kekasihku.” Jawab Andry singkat. Namun ternyata jawaban singkatnya ini mampu membombardir isi hati Alea, hancur dan melebur. Seketika Alea terdiam tanpa kata, senyap dan sepi. Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya, begitu pula dengan Andry yang sibuk melamun sembari menatap langit-langit kamar hotel, sampai tiba-tiba tidak sadar jika Alea sudah mematikan teleponnya. Entah sejak kapan, yang jelas lamunan panjangnya cukup banyak menyita waktu.


“ Hallo, Alea.” Ucap Andry seketika tersadar jika dia masih dalam panggilan.


“ Hallo Alea.” Lanjutnya terus memanggil.


“ Ha ternyata dia sudah mematikan panggilannya. Apa saja yang dia bicarakan, aku tidak mendengar, mungkin karena tenggelam dalam lamunan.” Batinnya. Andry berdiri dan menghembuskan nafas panjang, seketika semangatnya kembali datang. Penuh dengan rasa percaya diri dan sama sekali tidak khawatir tentang gagal.


“ Hufffhhhh. Sekarang aku harus mulai mencari, tidak boleh malas dan tidak boleh putus asa. Ini semua demi Fani, demi cinta dan demi bahagia.” Andry mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya keram dan merah padam seolah menggambarkan semangatnya yang membara.


**


“ Ini sekolah pertama yang aku datangi, tapi bagaimana caranya aku tau jika Fani sekolah disini atau tidaknya.” Andry menatap sekolah yang cukup besar itu, berdiri didepan pagar yang sudah tertutup rapat.


“ Pak pak.” Andry berteriak memanggil seorang satpam yang tampak berjalan memeriksa keadaan sekitar pekarangan sekolah.


“ Iya, ada apa?.” Sahut sang satpam sembari mendekati sosok yang ada diluar pagar.

__ADS_1


“ Pak, saya mau tanya pak. Apakah ada siswa disini yang bernama Fani Almaera? Hem tingkat dua pak.” Tanya Andry. Mungkin ini adalah cara yang paling mudah untuk mengetahui apakah Fani bersekolah disini atau tidak. Sebab tidak mungkin jika dia masuk dan mencari keseluruh bagian sekolah. Itu pasti akan memakan waktu yang lama. Meskipun satpam tidak mengenali semua siswa-siswi, setidaknya ada beberapa yang dia kenali. Dan Andry berharap salah satu siswa yang dikenali adalah kekasihnya Fani.


“ Fani Almaera? Wah sepertinya tidak ada nak. Disini hanya ada satu siswa yang bernama Fani, itupun Fani Dika Elvira, tingkat 3.” Jawab laki-laki yang bertubuh kekar itu.


“ Oh begitu ya pak. Jadi disini tidak ada yang namanya Fani Almaera? Kalau begitu terimakasih ya pak.” Andry menunduk seolah memberi hormat. Senyumnya mengiringi kepergiannya, senyum kaku yang ditabuhi bau-bau sendu.


Baru satu sekolah yang aku datangi, lalu aku gagal. Tapi sudah sebagian rasa kepercayaan diriku yang tertinggal. Bagaimana jika 10 sekolah yang aku list ini semuanya bukan sekolah Fani, apakah aku mati dalam keputus asaan? Padahal perjuanganku masih panjang. Inginku mengencah seluruh kota ini, namun baru hanya kotanya saja aku sebegini putus asa. Hei diri pengecut, masih banyak seluk beluk kota yang belum kita jelajah, mungkin sampai nanti masuk kuliah kupaku kaki ini untuk tetap berada dikota ini. Biar diri pengeecut ini berubah menjadi lelaki sejati.


Andry meneruskan perjalananya, menyusuri sisi jalanan kota yang menyajikan udara sejuk dan segar. Ditemani dengan hiruk pikuknya jalanan yang ramai. Andry berjalan terus menuju sekolah kedua yang ada dalam listnya. Jarak yang cukup jauh membuat Andry memutuskan untuk menggunakan transportasi ketempat tujuannya, ini juga termasuk salah satu cara yang mempercepat pencariannya. Meskipun dia tidak dapat menyapu pandangan diseluruh sisi jalanan, tapi sekolah-sekolah adalah tujuan pertama dan utama. Hanya selang beberapa menit, Andry sudah sampai disekolah yang kedua dalam daftar listnya. Lagi-lagi Andry berdiri didepan pagar sekolah yang cukup besar, tampaknya ini adalah sekolah bergengsi, ramai mobil siswa-siswa yang terparkir didalam. Andry menyapu pandangannya kesekeliling, hendak mencari seseorang yang bisa dijadikan tempat bertanya. Namun tidak tampak siapa-siapa, bahkan pos satpam pun kosong tak berpenghuni.


“ Kenapa gak ada satpamnya sih?.” Batinnya. Andry mengangkat lengan tangannya, menatap jam tangan yang melingkar, sudah pukul 9 pagi.


“ Duh, kalau gini caranya sih 10 sekolah  yang ada dalam daftar list gak bakalan terdatangi semua. Ujung-ujungnya bakal lanjutin besok juga, melar lagi deh waktunya.” Sambungnya penuh kekhawatiran. Pandangannya tak henti-henti menyapu seluruh pekarangan sekolah yang bisa dijangkau oleh matanya. Ingin melewatkan sekolah yang ini, namun rasa ragu juga terpaku dihati. Entah-entah bisa jadi ini adalah sekolahnya Fani. Akhirnya Andry memutuskan untuk menunggu hingga nanti bertemu seseorang yang bisa dia tanyai.


 Piitttttt… piiittttt… piiiittttttt


Sebuah suara klaskon mobil mengejutkan Andry yang tengah bersandar disebuah pohon rindang dekat pagar. Tampak sebuah mobil mewah hendak memasuki pekarangan sekolah. Dari arah berlawanan tampak pula seorang laki-laki dengan perut buncit berlari terbirit-birit mendekati pagar. Membuka dan kemudian mempersilahkan mobil


tersebut masuk kedalam.


“ Eh pak, pak. Tunggu sebentar pak.” Andry berlari mendekat sebelum lelaki itu menutup kembali pagar besi dan dia akan menghabiskan waktu yang lebih lama lagi didepan sekolah ini.


“ Iya ada apa?.” Sahutnya menatap dan berhenti menarik pagar besi itu.


“ Pak saya mau tanya sesuatu boleh?.” Andry berbicara dengan penuh keraguan. Kedua tangannya saling memelintir gugup, apalagi lelaki yang ada dihadapannya ini tampak sangar.


“ Apa? Jangan lama-lama. Saya harus kembali mengecek seluruh pekarangan sekolah.” Ucapnya ketus. Matanya melotot seperti ingin keluar. Membuat Andry semakin gugup dan pucat, terlebih lagi pucat karena menahan lapar hehehe.


“ Pak saya mau tanya. Apakah disini ada siswa yang namanya Fani Almaera? Dia tingkat dua pak. Barangkali bapak mengenali atau pernah melihatnya.” Garis bibirnya ditarik perlahan, Andry tersenyum paksa.


“ Gak ada. Disini gak ada siswa yang namanya Fani!.” Lagi-lagi satpam itu menjawab dengan ketus. Mimic wajahnya bahkan tampak seperti orang yang hendak  baku hantam. Padahal Andry hanya bertanya, bukan membuat kesalahan.


“ Beneran gak ada pak? Fani Almaera pak tingkat dua, coba bapak ingat-ingat dulu.” Andry menyanggah dengan nada yang lembut. Sebab lelaki itu menjawab dengan sangat cepat, bahkan mungkin tanpa berfikir dan mengingat dahulu.

__ADS_1


“ Sudah saya bilang gak ada ya gak ada. Malah ngotot! Kalau emang yang kamu cari ada disini ngapain pake tanya segala. Bikin saya emosi aja. Udah sana-sana gak usah ganggu kerja saya.” Teriaknya dengan penuh kekesalan. Mungkin memang bawaanya kasar. Wajahnya merah padam karena berteriak dan marah, mungkin tipe-tipe manusia darah tinggi.


“ Oh maaf mengganggu pak. Kalau emang gak ada saya permisi ya pak, terimakasih.” Andry menunduk dan kembali tersenyum paksa. Kemudian berjalan menjauhi sekolah mewah dengan satpam yang sangar itu. kembali menyusuri jalanan yang sejuk dan segar. Setidaknya kekesalannya memudar seiring pernafasannya yang lancer dengan udara yang segar.


Duh sangar banget sih tu orang. Kan aku Cuma nanya sih, bukan maling. Sekolahnya sih keren, mewah dan bersih. Tapi satpamnya rada-rada. Idih untung aja aku menghargai dia, kalau engga sih udah aku ajak baku hantam tu lelaki tua. Ah ternyata semakin kesini semakin rumit ya, ada-ada saja yang bikin putus asa. Lain tempat lain pula tabiat.


 Andry sudah sampai disekolah yang ketiga dalam daftar listnya. Sekolah kali ini tampak lebih sederhana, sebab sekolah Negeri. Dua sebelumnya adalah sekolah swasta. Andry dengan sisa-sisa asa yang dia punya berjalan mendekati pagar. Berjalan sembari berharap jika penjaga yang dia temui tidak segalak sekolah yang sebelumnya.


Andry tersenyum ketika melihat ramai siswa-siswi yang berkeliaran didalam pekarangan sekolah. Ternyata dia datang tepat saat jam istirahat. Andry berjalan setengah berlari mendekat, penuh semangat penuh harap.


“ Pak, pak. Permisi pak.” Andry berteriak kepada seorang lelaki yang duduk didalam pos jaga.


“ Pak, pak, permisi pak.” Andry semakin meninggikan suaranya sembari menggoyang-goyangkan pagar bak orang demo saja.


“ Eh iya tunggu sebentar.” Sahut lelaki yang sedari tadi dipanggil oleh Andry itu. Beranjak dan berlari mendekati sumber suara. Sosok kali ini tampak lebih ramah dan murah senyum, lagi-lagi tidak seperti sebelumnya.


“ Pak saya boleh tanya pak.” Andry menatap lelaki itu dengan penuh harap. Berharap jika lelaki yang ada dihadapannya ini benar-benar lelaki yang ramah dan tidak melunturkan asanya.


“ O tentu saja. Silahkan nak, apa yang bisa saya bantu?.” Jawabnya penuh dengan kehangatan, tampak lebih pandai menghargai orang lain, tidak pandang usia.


“ Pak, apa disini ada siswa yang namanya Fani Almaera? Barangkali bapak kenal, masih tingkat dua pak.” Andry tersenyum dan kemudian menyapu pandangan menatap banyaknya siswa-siswi yang berkeliaran.


“ Hem Fani ya? Ada sih namanya Fani, tapi bapak tidak tau nama lengkapnya Fani Almaera atau tidak. Kalau tidak salah memang tingkat dua.” Ujarnya sembari berfikir dan mengingat-ingat. Tapi siapa sangka jika jawabannya menumbuhkan harapan dan rasa senang yang amat besar bagi sosok pria muda yang ada dihadapannya. Andry tersenyum sembari menggenggam kedua tangannya, berharap jika sosok yang disebutkan lelaki tua dihadapannya ini adalah benar wanita yang dia cari.


“ Pak, apa saya boleh bertemu dengannya?.” Andry menatap dengan penuh harap, senyum merekah senantiasa terpancar dari wajahnya.


“ Oh tunggu sebentar ya nak. Coba saya cari dulu, barangkali ada dikantin. Silahkan masuk, tunggu saja dipos jaga ya.” Ucapnya dengan penuh kelembutan. Lelaki tua itu membuka pagar besi dan mempersilahkan Andry untuk masuk dan menunggu dipos jaga.


Andry terduduk diam dan terus saja menatap pekarangan sekolah yang dipenuhi dengan siswa-siswi. Ada yang hanya sekedar duduk dibangku taman, hingga ada yang bersorak sorai sembari menonton pertandingan basket antar kelas. Andry tersenyum mengingat masa-masa sekolah yang baru beberapa hari dia lepas. Baru berapa hari saja sudah rindu suasana sekolah, bagaimana nanti jika sudah kuliah atau bekerja, mau serindu apa? Tapi bukan sesuatu yang salah, ini adalah langkah awal dirinya untuk menuju masa depan yang lebih cerah, mengejar cita-cita dan cintanya.


“ Nak, ini dia yang namanya Fani.” Lelaki tua itu menepuk pundak Andry yang tengah tersenyum sembari melamun. Membuat Andry tersentak dan tersadar dari lamunannya, seketika berbalik dan melihat sosok Fani yang dibawa bersama lelaki yang menepuk pundaknya itu.


“ Eh iya pak.” Andry berbalik dan menatap kedua manusia yang ada dihadapannya. Senyumnya yang semula mekar mendadak padam dan hilang. Sosok yang datang bersama lelaki tua itu adalah orang yang berbeda, bukan Fani yang dicarinya.

__ADS_1


“ Ini nak yang namanya Fani. Benar kok, ternyata dia tingkat dua.” Lanjut lelaki tua itu mempersilahkan mereka untuk saling menyapa dan berbicara, kemudian menjauh dan duduk disudut pos jaga.


“ Eh, ini Fani ya.” Andry menyapa dengan terbata-bata. Senyumnya kaku, tangannya gemetar. Apa yang harus dia katakana kepada gadis yang ada dihadapannya ini. Hei hei kau bukanlah wanita yang aku cari, pergi sana!


__ADS_2