Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Bingung


__ADS_3

“ Aaaaa apa yang harus aku katakan pada kak Endi? Eh kak kita putus aja ya, soalnya aku udah baikan lagi sama Andry lelaki yang sangat aku cintai. Begitu? Gila saja, kalau aku mengatakan begitu sama saja aku menyerahkan diri kepada singa yang sedang kelaparan.


“ Kalau kamu berani macam-macam, apa lagi sampai selingkuh, aku bunuh kamu.”


Ucapan Endi ketika dibandara selalu terngiang-ngiang ditelinga Fani. Tidak peduli situasi dan kondisi, saat sedang makan, mandi, tidur, bahkan saat sedang buang air besar pun kata-kata Endrico terngiang-ngiang ditelinganya. Entah karena rasa ketakutan Fani yang berlebihan, tentu saja. Apalagi bisa disebut dia selingkuh dengan mantan kekasihnya, selingkuh kan? Ya jelas, dia kan menerima kembali cinta Andry ketika dia sudah menjalin hubungan dengan Endrico. Fani benar-benar naif, dia membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri.


“ Aaaaaaaaa tidaaaakkkk.” Fani menyapu habis semua buku dan peralatan yang ada diatas meja belajar miliknya. Semua terjatuh kelantai, pecah dan berserakan.


“ Mending gue cekik leher sendiri deh daripada pusing begini.” Gumamnya sembari menarik rambutnya kuat. Matanya tidak bisa bohong karena menahan kantuk, Fani masih terjaga sejak mimpi buruk yang membuatnya kaget dan terjaga dari tidurnya. Katanya sih itu teguran, agar dia ingat betapa kejamnya ancaman yang pernah diucapkan oleh Endrico padanya. Entah itu serius atau hanya candaan semata, hanya Endrico dan tuhan sajalah yang tau.


Drtttt… Drrtttt.. Dering ponsel membuat Fani keluar dari kegelisahannya, dengan nafas yang memburu Fani meraih ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Endrico, lelaki yang mengacau pikiran dan isi hatinya semalaman. Fani menarik nafas panjang, mengatur nafasnya agar terdengar biasa saja.


“ Hallo sayang, sibuk banget sih akhir-akhir ini.” Sahut Endrico ketika Fani mengangkat telepon.


“ Hallo, iya nih lagisibuk dirumah sakit.” Fani berdalih, semakin lihai berbohong, semakin banyak kebohongan yang diucapkannya, menumpuk, menggunung, hanya demi sebuah kebenaran.


“ Oh gitu, kamu baik-baik aja kan? Oh iya aku minta alamat lengkap kamu yang di Jakarta ya.” Ucap Endrico penuh semangat, seperti sedang bahagia.


“ Hmm buat apa?.”


“ Ada sesuatu yang ingin aku kirimkan padamu, jangan lupa kirimkan sekarang.” Tukas Endrico.


“ Apaan kak?.” Fani masih penasaran, namun Endrico enggan mengatakan.


“ Udah, tunggu aja paketannya sampai. Oh iya alih kepanggilan video dong ya, kangen banget nih sama pacar aku. Udah berapa bulan ditinggal.” Endrico malah mengalihkan kepanggilan video, setelah beberapa hari dia tidak menghubungi Fani, tiba-tiba meminta panggilan Video.


“ Eh tunggu dulu,” Fani mencoba  menolak, mengingat wajahnya yang kusut masai akibat tidak tidur semalaman. Fani enggan menerima, tapi juga merasa tidak enak hati.


“ Haa..hallo.” Ucap Fani terbata-bata sembari mengusap-usap seluruh wajahnya. Tangannya berkeliaran memperbaiki rambutnya yang berantakan, tidak ingin terlihat jelek dihadapan Endrico.


“ Eh baru bangun? Kenapa muka kamu sembab gitu sih sayang? Atau kamu gak tidur?.” Endrico mengerutkan keningnya, menatap Fani dengan dekat, ingin melihat jelas.


“ Kamu habis nangis?.” Tanya Endrico lagi. Melayangkan beberapa pertanyaan yang juga merupakan pernyataan, kenapa dengan kekasihnya hari ini.


“ Eh engga kok kak, aku gapapa. Cuma agak capek aja, kepala pusing terus lagi flu. Mungkin kebanyakan bersin, mata berair makanya jadi sembab begini.” Lagi-lagi Fani menumpuk kebohongan.


“ Kamu yakin?.” Endrico memastikan, sepertinya curiga dengan pernyataan yang diberikan oleh Fani kekasihnya.


“ Iya kak, aku gapapa kok Cuma lagi gak enak badan aja. Nanti juga mendingan kok kalau istirahat.” Fani terus menyangkal, menutupi kebenaran demi menghilangkan kecurigaan Endrico.


“ Oh yaudah kalau gitu aku matiin dulu ya kak, udah jam 8 nih mau siap-siap kerumah sakit.” Lanjut Fani tergesa-gesa, sudah tidak tahan lagi ingin buru-buru mematikan teleponnya. Nafasnya tinggal satu persatu, sesak. Semakin lama dia menatap wajah Endrico, semakin menyeruak rasa takut dalam dirinya.


“ Yah, baru aja kangen-kangenan malah minta udahan. Masih kangen nih, ntar telfon lagi yah cintaku.” Ucap Endrico dengan wajah murung, kemudian terkekeh menggoda Fani.


“ Iya kak. Udah dulu ya, bye.” Dengan cepat Fani memutuskan sambungan telepon. Sudah tidak tahan lagi menahan bongkahan yang ingin meledak dari dalam dirinya.


“ Huffhh huffffh huffff.” Nafas Fani memburu, tangannya mengelus dada menenangkan.


Baru menatap wajahmu saja aku sudah menggigil ketakutan, membayangkan ancamanmu waktu itu. Meskipun mungkin saat itu hanya candaan, tapi jika kau tau bagaimana aku saat ini pasti ucapanmu segera kau kabulkan.

__ADS_1


 


Fani terduduk dikursi, tatapannya kosong memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sudah terlanjur basah, apa mungkin dia harus melompat keluar kolam. Sudah terlanjur bilang iya, memutuskan akan kembali dengan lelaki yang dicintanya. Sudah maju mana mungkin mundur lagi. Lebih tidak mungkin jika dia memakai kedua lelaki yang ada disisinya saat ini, ah fakgirl sekali.


**


Andry sibuk dengan tumpukan kertas yang ada dimeja belajarnya. Semua berkas-berkas yang akan dibawanya untuk melanjutkan studi ke Chicago. Tak terasa hitungan hari Andry akan segera meninggalkan kota padat penduduk dan macet yang luar biasa ini. Terlebih Andry harus meninggalkan kekasihnya dalam jangka waktu yang lama. Jika kemarin Fani meninggalkannya dalam hitungan bulan, sekarang dia yang akan meninggalkan Fani dalam hitungan tahun.


“ Huhhh. Kalau aku tau kau akan kembali, sudah pasti aku akan melanjutkan study disini saja. Tidak perlu menarik garis jarak hingga sejauh ini, kenapa sih kau kembali disaat yang tidak tepat. Gak mungkin juga kan aku batalin kuliah disana, kuliah di luar Negeri kan adalah salah satu keinginanku sejak dulu.” Batin Andry sembari memilah beberapa berkas yang benar-benar dia butuhkan selama study nanti.


“ Tapi kalau emang yakin aku bisa aja sih batalin kuliah disana dan pilih Universitas yang deket rumah aja. Tapi aku enggak yakin sama keputusan aku yang ini.” Lanjutnya semakin bingung. Seketika tangannya berhenti bekerja, tidak lagi fokus pada tumpukan kertas yang ada dihadapannya.


Andry mencoba mengambil keputusan dengan cara paling sederhana, menghitung dengan jarinya, mengulang dan berulang.


“ Pergi, enggak, pergi, enggak, pergi enggak, pergi, enggak, pergi, enggak.” Andry berhenti pada jarinya yang terakhir, menurut caranya ini keputusannya adalah tidak pergi.


“ Ahhh enggak, enggak ini salah.” Andry menyangkal jawaban dari cara klasiknya ini. Menghitung ulang, membuat keputusan ulang.


“ Jangan, pergi, jangan, pergi, jangan, pergi, jangan, pergi, jangan, pergi.” Kali ini Andry berhenti dijari kelingking dengan keputusannya adalah tetap pergi. Namun jawaban ini juga tidak memberi kepuasan bagi dirinya, entah jawaban bagaimana lagi yang dia inginkan.


“ Arrgghhh.” Andry mengacak-acak rambutnya frustasi. Kedua jawaban itu sama sekali tidak dia inginkan, namun dari kedua jawaban itu dia juga tidak bisa menentukan keputusan.


“ Ah tanya bunda ajadeh.” Andry beranjak, meninggalkan pena dan kertas-kertas yang menumpuk dihadapannya sejak tadi. Hajatnya ingin turun dan menemui bunda, barangkali bunda bisa membantu memberi nasihat hingga dia bisa menentukan keputusan dengan sebaik-baiknya.


Andry sudah melewati pintu kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ling lung seketika. Telunjuknya mencacar kesana-sini, tubuhnya maju mundur berputar-putar kebingungan.


“ Tapi.. aku tanya bunda aja deh.” Andry kembali melangkah keluar, perlahan meniti anak tangga hingga sudah sampai setengahnya.


“ Ah jangan deh, gak. Gak boleh tanya bunda, yang ada aku malah dimarah-marahin nantinya.” Andry berbalik dan berlari menuju kamarnya. Tangannya dengan lihai mengunci pintu kamar. Berlari dan menghamburkan tubuhnya diatas ranjang, bernaung dibawah bantal dan selimut, entah apa tujuannya.


“ Gak. Harus menahan diri disini. Aku gak boleh kecewain bunda, gak boleh kecewain diri sendiri. 4 tahun gak lama kok, lagian nanti kan sekali setahun juga pulang. Ini kan demi masa depan, demi kehidupan yang lebih layak.” Ucapnnya menguatkan diri sendiri, memeberi nasihat dan pemahaman pada diri sendiri.


“ Arrrggghhh jangan jangan, jangan sampai salah mengambil keputusan.” Andry menutup habis seluruh tubuhnya dengan selimut. Bernaung dibawah selimut lebih baik baginya.


“ Hem, tapi sebaiknya aku manfaatkan waktu yang ada. Aku habiskan waktu bersama orang-orang yang aku cinta, sampai nanti waktunya aku harus pergi, aku bisa membawa kenangan-kenangan untuk diingat disana. Ya setidaknya pengobat rindu.” Andry menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Beranjak dan kalang kabut mencari ponselnya, hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Fani. Ya meski setengah hari mereka harus duduk berjaga dirumah sakit. Bagi Andry tidak masalah, yang penting berdua dan bisa menatap wajah kekasihnya.


**


“ Hallo, dengan siapa?.” Fani mengerutkan keningnya, sudah tiga kali menerima telepon dari nomor yang sama, nomor yang tidak dikenalinya.


“ Hallo,” Ucapnya terus berharap ada jawaban dari sipenelepon.


“ Siapa sih iseng banget.” Gerutu Fani ketika telepon sudah terputus.


Drtttt… Drttttt… Nomor yang sama menelepon Fani, ini sudah kali keempat. Fani mengatup giginya dan mengepal tangannya, kali ini dia menjawab dengan penuh rasa geram.


“ Gak ada kerja lain apa selain gangguin gue.” Gerutunya, mengutuk sipenelepon yang sejak tadi tidak bersuara.


“ Hallo, siapa sih lo? Ngapain lo nelepon berulang kali, ganggu aja tau gak sih lo!.” Fani menjawab telepon dengan penuh kemarahan, suaranya lantang. Mungkin bisa membuat gendang telinga si penelepon pecah seketika.

__ADS_1


“ Hallo Fan,” Sahut seseorang dari dalam telepon. Dari suaranya sih kelihatannya wanita.


“ Hallo Fan, ini gue Irma. Kenapa sih lo marah-marah. Tadi gak ada suara, sekalinya ada suara malah memekakkan telinga.” Lanjutnya tidak mau kalah. Irma balik memarahi Fani yang menaikkan nada suaranya.


“ Eh lo ya bener-bener. Mentang-mentang lo balik ketempat lama lo jadi lupa sama gue. Eh songong amat lo.” Irma masih memarahi Fani, kesal karena sudah berapa hari Fani tidak menghubunginnya.


“ Lah gue udah telepon lo berkali-kali tapi nomor lo sibuk melulu.” Fani menyangkal, tidak ingin Irma sepenuhnya menyalahkan dirinya.


“ Oh iya lupa, gue kan nomor baru hahahahahahaa.” Irma tertawa terbaha-bahak, memarahi Fani karena enggan menghubunginnya. Bagaimana Fani bisa menghubungi jika Irma tiba-tiba mengganti nomor teleponnya.


“ **** lo! Mati aja deh. Berani-beraninya lo marahin gue, padahal sebenarnya lo yang salah.” Fani merasa menang, sama sekali dia tidak bersalah, jadi tidak masalah jika memaki Irma sedikit saja.


“ Hahahahhahaa.” Irma masih terbahak-bahak, benar-benar lucu baginya.


“ Diam lo! Jangan ketawa. Gue lagi pusing, gak usah bikin gue makin pusing deh.” Bentak Fani, suaranya terdengar serius hingga membuat Irma menghentikan tawanya seketika.


“ Fan? Lo baik-baik aja kan?.” Tanya Irma lirih, merasa ada yang gak beres dengan sahabatnya ini.


“ Fan.” Irma memanggil sekali lagi.


“ Lo tau gak sih gue pusing banget sekarang. Kadang gue ketakutan, kadang gelisah, kadang capek, pengen nangis, pengen teriak, arrghhh.” Fani mendengus kesal. Suaranya lirih seperti menahan tangis.


“ Kenapa Fan? Cerita dong sama gue. Walaupun kita jauh bukan berarti lo gak bisa cerita tentang apa yang bikin lo gundah saat ini.” Irma merayu Fani agar mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, khawatir bercampur rasa penasaran.


“ Fan, cerita dong. Mana tau gue bisa bantu lo dari kejauhan.” Lanjut Irma terus merayu Fani agar mau buka suara dan menceritakan apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya.


“ Hum. Ir, lo tau gak sih. Pada hari gue sampai disini, gue gak sengaja lihat Andry dirumah sakit yang sama tempat nenek gue dirawat.” Fani menarik nafas panjang, memberi jeda pada cerita panjang yang akan menghabiskan banyak tenaga ini.


“ Terus lo samperin dia? Atau dia yang samperin lo?.” Tanya Irma semakin penasaran.


“ Bukan. Awalnya gue pengen nyamperin dia, tapi setelah gue pikir-pikir sebaiknya jangan. Udah gak ada gunanya lagi. Terus gue mutusin buat pergi, makan siang. Gue datang kerumah makan favorite gue, udah kangen banget. Dipikiran gue udah menggayang kepiting saos padang, udang goreng dan sup kerang. Sepanjang jalan itu yang gue bayangin, benar-benar bikin gue ngiler sampai nelan ludah tau gak sih.” Fani menarik ludahnya, seolah mengatakan jika dirinya saat ini juga sedang membayangkan betapa enaknya makanan yang dia sebutkan tadi.


“ Eh Fan, lo mau curhat tentang masalah yang bikin lo jadi kesal atau masalah yang bikin lo jadi lapar sih. Masih jam segini lo udah ceritain makanan, gue jadi lapar tau!.” Protes Irma. Pasalnya dia sudah memasang kedua telinga untuk mendengarkan semua curhatan Fani, dia sudah memokuskan diri terhadap masalah yang dihadapi sahabatnya ini. Bukannya menyebutkan inti masalah, Fani malah mengajaknya membayangkan betapa enaknya makanan-makanan yang disebutkan.


“ Oh iya hehehehe. Kenapa gue jadi ceritain makanan sih, padahal kan itu bukan fokus utamannya.” Fani terkekeh geli mendengar protes Irma. Fani tersenyum malu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“ Terus gue mutusin buat makan ditempat langganan, dan lo tau gak apa yang terjadi disana?.” Fani membuat sedramatis mungkin, mengajak Irma untuk menerka-nerka.


“ Gak tau.” Jawab Irma ketus.


“ Dan disana gue nabrak seorang cowok dengan badan kekar dan wajah tampan.”


“ Ganteng gak?.” Tanya Irma menyela, tidak sabar. Benar-benar manusia dramatis, kebanyakan nonton sinetron sih.


“ Dan gueee…” Fani sengaja memotong permbicaraannya, membuat Irma semakin penasaran.


 


 

__ADS_1


__ADS_2