Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Camping


__ADS_3

“ Eh engga kok, gak bicarain apa-apa.” Sahut Irma terbata-bata karena kaget dengan kedatangan Endrico ditengah-tengah keseriusan mereka dalam membahas masalalu Fani.


“ Mau tau aja deh kak Endrico.” Lanjutnya menekuk wajah. Dalam hatinya kesal dan juga gemetar. Tapi lebih banyak rasa penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya.


“ Hem. Oh iya udah mau sampai ni, jangan lupa periksa barang-barang kalian ya. Jangan sampai ada yang ketinggalan.” Endrico menatap kedua sahabat yang saling berbisik itu.


“ Fan, barang-barang kamu ada dibelakang atau engga? Nanti bisa sekalian aku bawain.” Lanjutnya menyentuh pundak Fani yang tampak masih kaget karena kedatangannya.


“ Ada kak, tas warna pink bunga-bunga.” Ucapnya terbata-bata. Menatap sosok Endrico yang tersenyum manis padanya.


“ Oke, bentar lagi sampai. Paling 5 menit lagi.” Endrico berbalik dan kembali ketempat duduknya yang ada dibelakang, disebelah tumpukan-tumpukan tas milik peserta kemah.


“ Kak Endi sekalian bawain tas aku yang warna merah ya.” Teriak Irma pada Endrico yang berlalu pergi.


“ Ah males.” Jawabnya sembari menjulurkan lidah kepada Irma.


“ Ih gak adil banget sih, masa Fani dibawain tapi aku engga.” Ketusnya kesal.


“ Hehehehe karena kamu gak spesial week.” Sahut Endrico terus mengejek Irma yang kesal kepanasan.


Hiruk pikuk sudah menggema didalam bus, suasana yang semula sunyi senyap tak berpenghuni mendadak ramai dan ribut. Semua bersiap-siap karena sudah hampir sampai ditempat tujuan, termasuk Fani dan Irma. Semua siswa yang mengikuti kegiatan ini satu persatu keluar dari bus dan berkumpul dilapangan, sembari menunggu yang lain mengangkut barang.


“ Ini barang-barang kamu Fan. Mau diletak dimana Fan? Kamu tenda yang mana?.” Endrico mendekati Fani dan beberapa temannya yang lain.


“ Hem sini kak Endi, biar aku pegang aja.” Fani mengulurkan tangan dan meminta barang-barang miliknya yang dibawakan oleh Endrico.


“ Eh engga apa-apa, aku aja yang bawa. Ini berat, nanti kamu capek.” Endrico menarik kembali tas-tas yang dibawanya. Kemudian berjalan menjauhi kerumunan, mendekati sebuah tenda yang dia pilihkan untuk Fani yang katanya spesial bagi dirinya.


“ Fan, kamu ditenda ini aja ya. Ditengah-tengah, biar mudah dipantau.” Endrico meletakkan barang-barang milik Fani ditenda berukuran kecil, hanya bisa ditumpangi dua atau tiga orang saja.


“ Ah gak mau kak, itu kecil. Aku pengen yang gede, pengen rame-rame sama temen yang lain.” Fani berjalan menghentak hentakkan kakinya. Tidak ingin berada ditenda yang dipilihkan oleh Endrico. Berjalan dengan wajah yang ditekuk kesal.


“ Udah disini aja Fan. Kalau ditenda yang gede nanti rame pula yang tidur disana, sempit. Bisa-bisa kamu kepanasann nantinya. Udah ya disini aja, jangan nolak, jangan ngeyel dan jangan bandel. Kalau bandel aku bilangin ibu kamu biar dijemput paksa hehehe.” Endrico terdengar mengancam namun juga mengakhiri dengan tawa. Apalagi dirinya merasa besar kepala karena dirinya yang meminta izin kepada kedua orang tua Fani hingga Fani diizinkan pergi dan bergabung bersama teman-temannya disini.


“ Tenda aku disana. Jadi aku bisa pantau kamu terus-terusan. Aku kan bertanggung jawab atas diri kamu Fan. Kalau terjadi apa-apa sama kamu aku yang nantinya gak enak sama kedua orang tua kamu. Jangan ngeyel ya, kamu disini aja bareng irma.” Lanjutnya. Endrico hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Fani, gadis yang dia rasa saat ini adalah tanggung jawabnya.

__ADS_1


“ Hem.” Fani hanya berdehem, kemudian berjalan sambil terus menghentakkan kakinya kesal. Meletakkan barang-barangnya didalam tenda yang sudah dipilihkan Endrico untuknya. Kemudian kembali menuju kerumunan teman-teman yang dia tinggal tadi, berlalu pergi tanpa menghiraukan Endrico yang berada tepat didepan tendanya.


Cih ! Ternyata meminta bantuan dia ada pamrihnya. Ini juga kan demi suksesnya acara yang dia buat, aku minta tolong izinin ke ayah ibu. Tapi dia malah ngelunjak, malah ngerasa aku ini berada dibawah  naungannya. Seolah memaksa aku untuk mengingat jasanya, Endrico yang baik. Cih.


**


Angin malam berhembus pelan, menyapu kelopak mata yang masih belum terpejam, menyengat kulit tubuh hingga sang empunya menggigil kedinginan. Seluruh siswa dan guru pendamping berkumpul ditengah-tengah tenda. Membuat unggukan api untuk menghangatkan mereka semua. Dengan wajah sedikit muram Fani membiarkan Endrico duduk disebelahnya. Memilih untuk tidak peduli dan mengabaikan, masih kesal. Sementara disebelah kirinya ada Irma yang sibuk menyantap segelas mie instan sambil sesekali menggesek-gesekkan kedua tangannya. Benar-benar dingin, seperti ingin hujan.


“ Aku buatin mie instan ya. Tunggu disini, jangan kemana-mana, oke?.” Endrico beranjak dan tersenyum kepada Fani, kemudian mengelus pelan rambut gadis yang menekukkan wajahnya itu. Tampak menggelikan namun juga lucu.


“ Hem.” Fani hanya berdehem. Pandangannya tidak beralih dari kedua telapak tangannya yang saling beradu. Meski sudah mengenakan pakaian tebal tetap saja dinginnya malam menyengat, keram.


“ Ni, makan yang anget-anget dulu biar dinginnya berkurang.” Endrico menyodorkan sebuah mie dalam kemasan, tepat didepan wajah Fani yang ditekuk kesal.


“ Hahahaha kenapa sih wajahnya ditekuk terus dari tadi. Kamu marah karena aku paksa ditenda yang itu?.” Endrico terkekeh geli dan kemudian menunjuk kearah tenda milik Fani dan teman-temannya.


“ Ini ambil. Jangan murung gitu, nanti aku makin suka.” Endrico menyodorkan sekali lagi.


“ Hem terimakasih.” Fani dengan penuh keterpaksaan menerima pemberian Endrico. Kemudian kembali lagi seperti awal, menyantap mie yang hangat dan mengabaikan lelaki yang ada disebelah kanannya.


Fani dan Endrico menyantap mie yang ada ditangan mereka dengan penuh khidmat. Sudah semakin larut, beberapa guru pendamping sudah kembali ketenda. Dilapangan hanya tinggal beberapa orang saja, ada yang bersenda gurau, bermain gitar, menyanyi dan berbincang-bincang. Mungkin hanya bagian Fani dan Endrico yang rumpang, senyap sepi dan hening. Tidak ada pembicaraan, apalagi Irma yang sudah pergi keperkumpulan lain, semakin sepi.


“ Eh iya kak.” Fani terperanjak kaget ketika menerima perlakuan Endrico barusan. Dia berani menyentuh sembarangan, ah gila saja dia.


“ Hem.” Endrico berdehem. Kemudian terkekeh geli dan mencubit kecil hidung Fani. Benar-benar membuat Fani menjadi gerah dengan tingkahnya.


Fani bergidik geli, sontak beranjak dan memilih berlalu pergi. Merasa geli melihat tingkah Endrico yang semakin kesini semakin tidak memiliki batasan diri. Bukan pacar tapi menyentuh sesuka hati, waah tidak bisa dibiarkan.


“ Kak aku duluan ya. Diluar dingin banget, aku juga udah ngantuk nih. Besok kan harus bangun pagi dan lanjutin acara kita.” Fani melambaikan tangan dan berulang kali menguap secara paksa. Padahal dia belum merasa ngantuk sama sekali. Ingin bergabung dengan Irma yang sedang asyik bernyanyi bersama beberapa orang diujung sana. Namun Fani mengurungkan niatnya, sebaiknya kembali ketenda sebelum Endrico menggodanya lagi.


Dih biarin ajadeh bengong bengong **** didalam tenda sendirian, tidur secara paksa pun tak apa. Daripada harus tetap disini dan membiarkan lelaki itu menggoda. Duh tiba-tiba merinding ngebayangin gimana fakboynya tu orang. Jangan sampai Fani yang polos dan lucu ini jadi korban kebrengsekannya. No! sebelum kau memasang tinjak, aku sudah berlari jauh keujung dunia. Maaf, tidak kena.


**


Sudah sejak tadi siang Andry terbaring lemah dikamar hotelnya. Badannya panas dingin, wajahnya pucat pasi, tubuhnya lemah gemulai. Sejak kejadian tadi siang Andry mendadak tidak enak badan dan memutuskan untuk pulang. Ternyata benar saja, sesampainya dihotel Andry mendapati dirinya sudah demam tinggi. Matanya merah dan terasa berat. Mungkin karena terlalu lelah. Atau kemungkinan lainnya adalah kesambet setan yang ada disekolah angker itu. Apalagi itu adalah tempat yang belum pernah didatangi Andry, datang-datang gak permisi pula. Andry meringis kesakitan, kepalanya terasa seperti akan pecah. Ini adalah pertama kalinya Andry sakit dan jauh dari orang tua.

__ADS_1


“ Bener kan kecurigaanku. Kakek-kakek yang datang menghampiriku bukanlah manusi, tapi setan.” Andry menggumam lirih. Kedua tangannya menjambak rambut klimisnya.


“ Tapi kan aku gak ngelakuin kesalahan apapun. Aku Cuma datang dengan tujuan ingin mencari seseorang. Tapi memang sial badan, aku malah dapat sekolahan bekas pelecehan yang angker pula. Dari auranya saja udah ketara sih kalau disana tempat berkumpulnya makhlluk tak kasat mata, panas dingin soalnya.” Lanjut Andry seketika mendadak menjadi paranormal yang bisa merasakan sesuatu hal yang berbau gaib.


“ Tapi kenapa mereka sampai marah padaku. Hei lihatlah aku bahkan kehilanngan waktu berharga ku setengah hari. Andai saja aku tidak kalian panggil-panggil tadi, mungkin saat ini aku sudah terbaring santai dan tersenyum senang karena menemukan Fani kekasihku yang cantik.” gumamnya menggerutu kesal. Padahal rencananya hari ini harus selesai, harus mendatangi semua sekolah yang termasuk dalam daftar listnya kemarin.


Drrtttt…… Drrrtttttt,,, Drrrttt


Ponsel Andry berdering, membuat kaget pemiliknya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Andry meraih ponselnya dan melihat sebuah panggilan masuk dari Alea. Lagi-lagi Alea mengganggu ketenangan hidupnya. Padahal ini sudah larut malam, namun Alea tetap menelepon hingga berulang-ulang.


“ Kenapa lagi sih Alea? Aku lagi gak mood bicara sama siapa-siapa.” Gumamnya sembari meletakkan kembali ponselnya diatas meja. Namun tetap saja Alea menelepon hingga berulang-ulang.


“ Hallo.” Ucap Andry lirih ketika telepon sudah tersambung.


“Andry kamu kemana aja sih? Aku telepon berkali-kali tapi kamu gak jawab.” Alea meninggikan nada suaranya, terdengar sendu diakhir bicara. Lebih tepatnya seperti habis menangis.


“ Aku lagi sibuk Alea.” Andry hanya menjawab sekenanya.


“ Kamu beneran keluar kota demi ketemu pacar kamu? Kamu udah punya pacar? Kenapa kamu gak pernah bilang sih sebelumnya.” Alea sudha tidak tahan lagi. Menyerang Andry dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menangis tersedu-sedu.


“ Iya Alea. Aku sudah punya pacar. Bahkan sudah lebih dari setengah tahun. Kamu kenapa nangis sih? Kamu gak apa-apa kan?.” Andry berterus terang, namun masih tidak mengerti apa yang menyebabkan Alea menangis hingga tersedu-sedu begini.


“ Kenapa kamu gak pernah bilang sih sebelumnya. Kamu deketin aku, kamu ajak kencan. Kamu baik sama aku, kamu kepesta bersamaku. Tapi ternyata kamu udah punya pacar, kamu mainin perasaanku, memang kau baji*gan !.” Alea semakin tersulut emosi. Kata-kata yang tidak menyenangkan pun lepas landas dari mulutnya. Tangisnya semakin pecah, cintanya bertepuk sebelah tangan.


“ Aku gak suka mengumbar masalah pribadiku Alea. Aku gak pernah mainin perasaan kamu. Dari awal aku sudah bilang kan kalau kencan itu hanya untuk menyelesaikan tantangan dari teman-temanku. Kepesta bareng? Itu juga kamu yang minta, kamu bilang kita harus saling membantu.” Andry menepis ketidakbenaran yang diucapkan oleh Alea. Apalagi kata-kata yang menyebutkan dirinya baj*ngan itu.


“ Aku suka kamu Andry. Tapi ternyata ini balasan kamu. Memang lelaki an*ing! Baj*ngan kau! Enyah saja kau dari muka bumi ini.” Alea mencaci maki Andry bersama dengan tangisnya yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Merasa jika dia adalah korban perasaan\, hanya dibuat cinta tapi tidak dibalas cinta. Hanya dibuat sayang namun tidak berbalas sayang.


“ Alea, Alea. Tunggu dulu,, aa ” Tiitttttttttt…. Alea sudah memutuskan panggilan. Andry hanya menghela nafas panjang, lagi-lagi dirinya disebut lelaki baj*ngan. Bukan hanya Alea, sebelumnya juga ada beberapa wanita yang menyebut dia dengan sebutan yang sama. Merasa jadi korban dari kejahatan. Padahal dia hanya memperlakukan wanita-wanita itu sebagai teman. Semenjak itulah Andry memutuskan untuk menjadi lelaki dingin dan seram, agar wanita-wanita tidak menganggapnya lelaki yang suka tebar pesona, lelaki nelayan.


“ Hufffhh lagi-lagi. Baik sama orang juga gak semua bisa memaknainya. Ampun dah ampun nih. Gak lagi deh yang beginian. Bisa dicaci terus ni, disebut baj*ngan. Nanti ada gelar baru pula, Andry si fakboy hehehhe.” Andry tersenyum tipis. Tidak ingin mengambil pusing masalah ini. memilih untuk memejamkan mata dan melupakan masalah-masalah yang ada. Besok harus bangun pagi dan melanjutkan misinya yang tadi sempat tertunda, semakin cepat semakin baik. Tidak boleh berleha-leha, demi kebahagiaan bersama.


****


Hallo pembaca setia Suamiku Hasil Taruhan. Bagaimana kabarnya? Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap dirumah aja ya. Novel Suamiku Hasil Taruhan bakal nemenin kalian biar gak bosan selama dirumah aja hehehe.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment dan vote ya untuk mendukung karya aku.


Loveyou guys :*


__ADS_2