
Semenjak pertemuan dengan Fani kemarin, Sophia menjadi tampak lebih bersemangat. Mungkin karena perasaan benci dan kesal yang menghantui dirinya sudah lenyap bersamaan dengan ikatan kelingking dan janji persahabatan yang dia ucapkan bersama Fani. Hari ini, dengan senang hati Sophia akan mengajak Fani berbelanja, bermain dan menghabiskan waktu bersama. Hitung-hitung sebagai permintaan maafnya.
“ Hallo Fan, sibuk gak hari ini? Keluar yuk.” Ajak Sophia ketika telepon tersambung.
“ Mau kemana Sop? Gak sibuk sih.”
“ Jalan-jalan, belanja, makan. Semua gue yang traktir hehehe hitung-hitung sebagai permintaan maaf gue.” Ucap Sophia sembari terkekeh.
“ Dih permintaan maaf lo Cuma sebatas traktiran doang? Parah sih hahahaha.” Sahut Fani ikut terkekeh.
“ Sekalian deh cari baju samaan buat ke acara pestanya kak Ardi. Kan lo gak ada partner hahahaha. Jadi kita kembaran aja ya kan biar orang-orang tau kalau kita itu partner.”
“ Duh iya bener juga ya, gue gak punya partner. Tapi kan gue punya lo hummm.” Ucapnya dengan nada yang manja, terdengar menjijikkan sebenarnya.
“ Dih jijik. Yaudah lo siap-siap deh. Satu jam lagi gue jemput. Bye.”
Telepon sudah terputus, namun Fani masih tersenyum kelinyum mengingat obrolannya dengan Sophia barusan. Mengalahkan bahagianya ketika kasmaran, ternyata begini rasanya bahagia ketika akur kembali dengan sahabat lama.
“ Sebenarnya kita berdua saling sayang, Cuma karena hati yang kurang bersih dan pikiran yang agak sempit aja yang bikin lo sampai memutuskan persahabatan antara kita. Gue bener-bener senang Sop. Setiap gue balik lagi ke kota ini, ada aja kejutan dari tuhan yang bikin gue sedih, haru dan juga bahagia.” Gumamnya sembari tersenyum menatap luar jendela.
“ Kemarin gue kesini, gak sengaja tuhan pertemukan gue sama Andry. Meskipun kesan pertama yang gue dapatin adalah kesal dan rasa bersalah. Namun ujung-ujungnya juga gue dapatin rasa bahagia, sekalipun sampai saat ini gue masih bingung harus gimana. Masih ada janji yang belum gue tepati, masih belum bisa seutuhnya menetapkan hati.” Lanjutnya sudah mulai berkaca-kaca.
“ Sekarang gue balik lagi kesini, gue seneng melebihi apapun. Ternyata undangan pernikahan kak Ardi Cuma jadi perantara untuk kita kembali menyapa, saling membuka hati dan pikiran untuk menyelesaikan permasalahan. Jujur gue seneng banget Sop, lo sahabat gue yang paling berharga.” Tanpa sadar air mata Fani sudah menggenang dan siap meluncur dipipinya.
**
Sophia dan Fani memutuskan untuk langsung ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Seperti yang diusulkan Sophia tadi, membeli gaun kembar untuk mereka pakai besok ke pesta pernikahan Ardi.
“ Mau yang modelan gimana nih Fan?.” Tanya Sophia sembari membolak-balik baju yang dihanger.
“ Yang simple aja Sop, tapi kelihatan elegan gitu.” Sahutnya tanpa menatap Sophia, pandangannya hanya fokus pada gantungan baju yang ada dihadapannya.
“ Kalau yang ini gimana Fan? Cakep gak?.” Sophia mengangkat sebuah baju dan mencocok kan dengan tubuhnya.
“ Hem cakep sih, Cuma warnanya aja yang agak kurang. Untuk merayakan kebahagiaan kita berdua, gimana kalau kita pakai dress yang warnanya paling ngejreng, merah atau kuning gitu hahahaha.” Usul Fani diakhiri dengan tawa cekikian.
“ Merah? wah boleh juga tu. Gak merah gak raya katanya, hahahha.” Sahut Sophia ikut tertawa.
“ Jadi fix nih ya warna merah? Duh duh pasti cakep banget nih kita berdua. Pasti jadi pusat perhatian, apalagi warna baju yang terang banget.” Fani meraih sebuah dress berwarna merah darah, benar-benar terang warnanya. Meskipun begitu, warna merah yang dipilihnya cocok dengan warna kulitnya.
“ Woah pasti dong, sudah pasti kita berdua yang paling cantik besok.” Mereka berdua tak henti-hetinya memuji diri sendiri.
“ Ini kan Fan?.” Sophia meraih dress yang dipegang oleh Fani kemudian tanpa mengatakan apapun Sophia melangkah menuju kasir dengan membawa 2 helai dress merah ditangannya.
“ Eh Sop tunggu dulu, mau kemana?.”
“ Mau bayar dulu bentar, tunggu aja disitu.” Sahutnya tanpa membalikkan badan.
“ Ah, ternyata beneran ya kata-kata ‘ Gue yang traktir’ hahahahaha.” Batin Fani terkekeh melihat tingkah Sophia.
“ Terimakasih tuhan, akhirnya engkau kembalikan kesadaran sahabatku yang udah jauh tersesat dalam kedengkian.”
Sembari menunggu Sophia dan antrian yang cukup panjang, Fani duduk dikursi yang telah disediakan. Memainkan ponselnya yang sejak tadi diabaikan karena sibuk dengan sahabatnya. Sangat membosankan, membuka sosial media, keluar, buka lagi yang lainnya. Ponselnya benar-benar sepi sejak kemarin malam.
“ Sepi banget ya tuhan, ini manusia dikontak gue pada kemana sih?.” Gumamnya sembari melihat-lihat kontak yang ada diponselnya.
__ADS_1
“ Ha, Endrico kemana? Eh udah udah Fan. Ingat janji lo, perlahan-lahan lo harus bikin dia bosan dan mutusin lo. Ingat Fan janji lo sama Andry, jangan serakah Fan. Tobat Fan tobat.” Bisik hati kecil Fani.
“ Andry juga kemana sih? Udah berapa hari dia gak kasih kabar, menghilang begitu aja. Aneh banget ya, sekalinya datang eh kedua-duanya nih datang sayang-sayangan. Lah sekalinya hilang malah dua-duanya ngilang, bingung gue.” Wajahnya sudah berubah menjadi masam, sangat kesal.
“ Huffhh terserah kalian aja deh, yang penting sekarang gue lagi have fun sama sahabat gue. Gue mau quality time dulu sama kesayangan gue. Bener ya kata orang-orang, jangan ninggalin sahabat karena pacar sebab pacar bisa aja pergi ninggalin lo tapi sahabat gak akan pernah ninggalin lo. Ahh sayang banget ni sama sahabat gue.”
“ Heh ngapain lo melamun?.” Kejut Sophia sembari memukul pundak Fani hingga siempunya terperanjak.
“ Eh baru aja gue bilang udah datang aja nih orangnya.” Fani terkekeh geli.
“ Ngapain lo ha? Lo jelek-jelekin gue ya?.” Sophia mencacar telunjuknya kepada Fani yang cengengesan gak jelas.
“ Dih gue jelek-jelekin lo sama siapa? Emang dasarnya lo jelek kok, ga perlu gue jelekin lagi juga udah jelek hahahaha.” Bukan Fani namanya kalau tidak bikin orang lain kesal dengan ucapannya.
“ Sama hati lo! Lo jelek-jelekin gue sama hati lo kan? Ngaku deh lo, dih parah banget ya lo Fan.” Telunjuknya semakin mencacar, kali ini ditambah dengan pukulan dan cubitan pelan dilengan Fani.
“ Kenapa sampai mikir kesana? Ngerasa bersalah kan lo sama gue? Makanya jangan jahat lo sama temen sendiri, entar kualat baru tau rasa lo.” Ucapnya tanpa canggung.
“ Engga kok, pede banget sih lo.” Sophia berkilah, wajahnya berubah jadi masam. Langkahnya dipercepat hingga membuat Fani tertinggal dibelakang.
“ Hahahha jangan marah dong, gue becanda doang. Ah apapun itu gue gak peduli, yang penting sekarang lo adalah sahabat terbaik gue. Aaaa gue sayang sahabat gue.” Fani mengahambur memeluk Sophia dari belakang, menggelayut-layut manja tanpa ada rasa malu dilihat orang-orang sekitarnya.
**
Sophia melajukan mobilnya dijalanan yang cukup ramai, kali ini tujuan mereka adalah pantai. Tempat yang paling sering mereka kunjungi, tempat dimana mereka bisa meluahkan emosi, bersantai dan melepaskan beban-beban serta masalah yang sedang mereka hadapi.
“ Ahh akhirnya setelah sekian lama aku ketemu pantai juga ya, aaaaaaaaaaaaa.” Sophia berlari menuju bibir pantai, tangannya melentang dan berteriak sekuat-kuatnya.
“ Hhahahaha alay banget sih lo Sop.” Sahut Fani yang masih berjalan pelan dibelakang, ditangannya membawa sekantong penuh berisikan snack dan makanan yang sempat mereka beli sebelum meluncur ke pantai.
“ Hahahaha silahkan menikmati segarnya udara pantai wahai Sophia yang kampungan.” Fani malah mengejek Sophia yang kegirangan seperti tidak pernah ke pantai.
“ Dih sok kota banget sih lo.” Jawabnya ketus.
Sophia sibuk bermain di bibir pantai, bermain dengan pasir yang basah akibat debur ombak. Sementara Fani sibuk membentang kain persegi dan meletakkan barang-barang yang dibawanya. Biasanya dia yang paling bersemangat jika ketemu pantai, namun hari ini tampak biasa saja.
“ Sop, sini duduk santai.” Panggil Fani. Semua sudah terbentang dan makanan sudah tertata rapi, sudah seperti piknik keluarga saja.
Sophia melangkah perlahan sembari terus memegang rambutnya yang kusut masai diterbang angin yang kencang.
“ Udah berapa lama lo gak ke pantai? Norak banget lo.” Ejek Fani pada Sophia yang masih menyunggingkan bibirnya riang.
“ Udah lumayan lama sih.” Sahutnya dengan santai, tidak tersinggung dengan ejekean Fani.
“ Cakep banget dah, udah mirip piknik keluarga.” Sophia menunjuk tempat duduk yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Fani dengan bibirnya.
“ Woo iya dong, siapa dulu dong, Fani.” Jawabnya dengan dan mimik wajah yang menyombongkan dirinya.
“ Fotoin gue dong Sop, mumpung cakep nih view nya.” 8i690\Fani mengulurkan ponselnya kepada Sophia yang sudah berjalan mendekatinya.
“ Dih malas banget gue.” Jawabnya ketus.
“ Dih minta fotoin doang kagak mau, belum gue minta yang lain. Parah sih.”
“ Hahahaha becanda doang kali Fan, sini gue fotoin biar lo bisa posting di feed instagram lo.” Sophia mendekat dan mengambil paksa ponsel yang sudah dimasukkan Fani kembali kedalam tas mininya.
__ADS_1
“ Nah gitu dong, itu baru temen gue.” Seketika langsung sumringah.
Fani berfoto ala-ala dengan seluruh gaya yang dia punya, sudah seperti model professional saja. Bahkan sampai kehabisan gaya saking terlalu banyaknya. Begitu juga dengan Sophia si gila foto, seluruh pose dikeluarkannya demi feed Instagram yang bagus. Jika kelihatan gendut dia memaksa Fani untuk memfotokan ulang, begitu terus kejadiannya sampai dia merasa benar-benar puas dengan hasil jepretan tangan Fani.
“ Gila sih panas banget, foto-foto doang capeknya minta ampun.” Keluh Sophia sembari merebahkan tubuhnya diatas kain yang dibentangkan oleh Fani.
“ Lihat keringat gue Fan, sampai-sampai luntur nih make up gue.” Lanjutnya menunjuk wajahnya yang dipenuhi keringat.
“ Hahahaha siapa suruh banyak gaya. Lah gue sih gak capek, soalnya gue kan berdiri ditempat yang teduh.” Sahutnya diringin tawa.
“ Gapapa sih, demi feed Instagram. Makin cantik foto yang gue post makin banyak likenya.” Sophia cengengesan.
“ Dasar pengejar like.” Fani mendorong kening Sophia dengan telunjuknya.
Setelah sangat lama, akhirnya mereka berdua bisa menikmati kembali indahnya persahabatan. Suasana hening, matahari bersinar terang dan langit biru tanpa awan menambah keindahan pemandangan. Hanya terdengar suara
angin yang menderu kencang, sesekali di sanding dengan suara debur ombak yang menghantam bibir pantai. Sementara Fani dan Sophia menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas mereka.
“ Akhirnya ya bisa main berdua lagi, bisa quality time bareng sahabat gue lagi. Gue kira kita gak akan bisa balik kayak dulu lagi Sop.” Ucap Fani memecahkan keheningan antara mereka berdua.
“ Gue juga gak nyangka kalau kita bisa baikan dan sahabatan lagi Fan. Kemarin waktu kesal dan benci menyelimuti diri gue, gue pikir kita bakal jadi enemy selamanya. Gue terlalu menuruti emosi dan benci, padahal ada banyak kenangan manis dalam persahabatan kita yang bisa gue jadiin penawar emosi gue.” Sahut Sophia tanpa
membuka matanya. Tubuhnya merebah lurus, kedua tangannya disilang dan diletak dibawah kepala, dijadikan bantalan.
“ Oh iya gimana hubungan lo sama Andry? Kamarin, gue lihat dia posting foto kalian berdua. Itu yang waktu lo balik kemarin ya?.” Lanjutnya.
“ Baik kok Sop. Kemarin sempat break sih, gue putusin dia sepihak. Gue pikir lo sama dia emang benar-benar udah jadian. Gue pikir dia ngehianatin gue Sop, jadi gue putusin dia tanpa penjelasan apa-apa. Terus gue ngilang gitu aja.” Jelas Fani panjang lebar.
“ Hehehehe maafin gue ya Fan, karena gue hubungan kalian berdua jadi gak sehat. Tapi sekarang gue bener-bener nyesal kok, maafin gue ya Fan. Kedepannya gue gak akan nurutin emosi gue lagi.” Sambung Sophia dengan nada lemah, seperti menyesali kesalahannya.
“ Udah gapapa Sop, gue udah lupain masalah itu. yang penting sekarang kita udah baik lagi, udah gak ada lagi iri dengki lagi antara kita berdua.” Fani bergerak duduk, kemudian mengambil gelas berisi air soda.
“ Mari kita bersulang untuk kita yang sudah tidak saling benci ini.” Fani mengangkat gelas dan tersenyum riang.
Sophia yang mendengar ucapan Fani itu pun langsung membuka mata dan sontak ikut duduk, mengambil gelas dan bersulang.
“ Bersulang untuk persahabatan yang tidak akan pernah mati, persahabatan yang akan tetap hidup sekalipun kita telah mati.” Sahut Sophia sembari bersulan.
“ Bersulang..” Teriak Fani dan kemudian diikuti tawa gembira mereka berdua.
“ Sop, sebenarnya gue pengen cerita sama lo. Gue gak tau lagi harus gimana, mungkin lo bisa kasih solusi buat gue.” Saat tengah asyik tertawa, Fani mengatakan sesuatu yang membuat suasana menjadi tegang seketika.
“ Ha? Cerita apa Fan?.” Sophia menghentikan tawanya, kemudian menatap lekat wajah Fani yang tengah kebingungan.
“ Gue gak tau lagi harus gimana Sop, please bantuin gue ya. Cuma lo yang bisa bantuin gue, please Sop.” Fani menarik paksa tangan Sophia dan menggenggamnya kuat. Wajahnya benar-benar mengiba, meminta
pertolongan Sophia.
“ Kenapa Fan? Jangan bikin gue panik dong. Coba pelan-pelan ceritain, gue pasti bantu kok.” Sophia ikutan cemas melihat Fani yang mengiba.
“ Sebenarnya sekarang gue lagi pasang 2, gue punya dua pacar Sop.” Fani menunduk dan menghela nafas panjang.
“ Hah! Apa?.” Sophia membelalak kaget.
**
__ADS_1
Hallo pembaca setia suamiku hasil taruhan, apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Maaf banget ya hiatusnya lama. Mulai hari ini aku bakal aktif dan sering update lagi, semoga kalian tetap setia membaca ya. Stay safe ya semua, jangan lupa gunakan masker dan bepergian bila berkepentingan saja. Salam sayang, author.