
Diteras rumah tampak Fani sedang asyik berbincang dengan Devi kakak perempuan Andry. Sesekali mereka tampak tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas senyum bahagia terukir diwajah Andry saat melihat pemandangan itu. Andry hendak mendekati kekasih dan kakak perempuannya itu, namun langkahnya terhenti saat ada yang memanggil namanya. Ternyata Sophia yang memanggil dan berjalan mendekati dirinya.
“ Kak Andry, aku pulang dulu ya. Selamat ulang tahun ya kak.” Sophia meraih tangan Andry dan menggenggamnya dengan erat.
“ Eh iya, thanks ya Sophia.” Andry tersenyum sekenanya, dengan cepat menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Sophia. Sama sekali tidak suka jika ada wanita yang menyentuhnya, kecuali Fani.
“ Sekali lagi selamat ulang tahun ya kak. Aku pulang dulu. Bye kak.” Sophia merasa malu atas penolakan secara tidak langsung itu. Melangkah menjauh dan meninggalkan Andry.
Sophia melangkah dengan penuh rasa malu dan kesal. Berani-beraninya Andry menolak sentuhan darinya, meski hanya sebatas menggenggam tangan. Dengan cepat Sophia melangkah dan meninggalkan rumah Andry. Hatinya benar-benar dipenuhi amarah malam ini, menyebalkan.
“ Bukan cuma ceweknya yang bikin kesal, tapi cowoknya juga.” Gumamnya saat telah keluar dari rumah Andry.
“ Ah, menjijikkan.” Gumamnya lagi.
Andry berjalan mendekati kekasihnya yang tampak tertawa lepas itu. Andry tersenyum sepanjang langkahnya, merasa benar-benar bahagia malam ini. Meskipun dia terpaksa membuat pesta ini, namun dia juga bahagia karena bisa semakin dekat dengan Fani. Bahkan hampir tak berjarak.
“ Hai lagi ngapain ni. Kok asyik banget keliatannya.” Andry duduk diantara Fani dan Devi kakaknya.
“ Yah, orangnya udah datang. Kita lanjut lain kali ya.” Devi tertawa dan beranjak meninggalkan sepasang kekasih itu.
" Kita sambung besok ditelepon ya Fan, biar lebih enak ngomonginnya." Devi menghentikan langkahnya dan kembali tertawa.
Seolah merasa ada yang tidak beres dengan pembicaraan Fani dan kakaknya, Andry segera bertanya pada Fani yang tampak senyum-senyum melihat kepergian Devi. Semakin merasa jika namanya terbawa-bawa dalam pembicaraan dua wanita itu.
“ Ada apasih?.” Tanya Andry kebingungan. Fani hanya menjawab dengan gidikan bahu seolah mengatakan tidak tahu. " Habis ngomongin aku ya." Andry mengerutkan dahinya.
" Ih engga kok. Sembarangan aja. Siapa yang ngomongin kamu." Protesnya sambil mengejek Andry.
" Yaudah deh iya." Ucapnya.
“ Ayo ikut aku.” Andry beranjak dan menarik lembut tangan kekasihnya itu.
“ Mau kemana?.” Tanya Fani mengikuti langkah Andry.
__ADS_1
“ Duduk disana.” Andry menunjuk pendopo yang berada disudut rumahnya.
“ Kenapa kesana sih?.” Tanya Fani lagi saat melihat tempat yang agak gelap itu.
“ Mau pacaran.” Andry terkekeh sambil mempercepat langkahnya.
Andry dan Fani duduk dipendopo yang cukup luas itu. Tempat yang biasanya digunakan keluarga Andry untuk bersantai dan menikmati udara segar. Fani tampak gugup, tangannya dingin dan mukanya pucat pasi. Takut Andry melakukan hal yang tak diinginkan. Namun suara Ardi memecahkan kecemasan yang dirasakan Fani.
“ Eh disini lo ternyata. Pacaran terus lo.” Ardi tekekeh diikuti yang lain.
“ Kita pamit pulang dulu ya, udah larut nih. Besok harus sekolah.” Ucap Ardi.
“ Oke thanks ya udah datang.” Andry berdiri dan bersalaman dengan semua temannya.
“ Bye. Hati-hati lo Fan di jahatin sama cowo mesum.” Ardi terkekeh dan melambaikan tangan meninggalkan Andry dan Fani.
Andry kembali duduk disebelah Fani dan menatap penuh cinta gadis yang menaklukan hatinya itu. Hatinya menggebu-gebu ingin mengngkapkan betapa dia mencintai gadis tengilnya itu. Sementara Fani kembali gugup dan cemas memikirkan apa yang akan dilakukan Andry padanya. Setiap Andry melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia, dadanya terasa sesak dan nafasnya terhenti seketika.
“ Kenapa kamu diam?.” Satu tangannya menggenggam tangan Fani dan satunya lagi memainkan rambut Fani yang bergulung.
“ Kamu takut sama yang dikatakan Ardi tadi?.” Andry menatap Fani dengan sangat dekat. Fani menarik kepalanya menjauh.
“ Enggak kok.” Jawabnya lebih gugup. Andry mundur hingga sedikit berjarak dengan Fani.
Halaman belakang rumah Andry tampak sunyi, hanya tersisa kerlap-kerlip lampu dan hembusan angin malam. Semua tamu sudah pulang sejak tadi, benar-benar hanya tersisa dirinya dan Fani disana.
“ Aku pulang dulu ya. Udah malam nih.” Fani membuka suara.
“ Bentar lagi ya. Aku masih pengen bareng kamu.” Andry bergelayut manja dibahu Fani. Menumpu kepalanya dan bersandar dibahu Fani.
“ Tapi ini udah malam, udah sepi juga kan.” Fani mencoba melarikan diri.
“ 10 menit lagi ya sayang. Aku belum siap menabung rindu.” Andry memonyongkan bibirnya seolah memohon Fani untuk tetap tinggal disana sebentar lagi.
__ADS_1
“ Yaudah.” Fani mengelus pelan kepala Andry yang bersandar dibahunya.
“ Aku ingin malam ini lebih panjang. Aku mau tetap disini.” Andry memeluk lengan kecil Fani. Sifatnya benar-benar berbanding terbalik dengan yang dilihat Fani selama ini.
Kenapa kau manja begini? Aku bahkan tak bisa menolak, kau menggemaskan sekali saat ini.
Yang Fani tahu selama ini Andry adalah sosok pria yang dingin dan cuek. Namun siapa sangka saat bersama orang yang disayanginya dia berubah menjadi lelaki manja dan seperti anak-anak. Fani hanya tersenyum melihat sikap manja Andry, lelaki yang tak pernah dia sangka akan menjadi orang yang dicintainya saat ini.
“ Udah malam sayang, aku pulang dulu ya.” Fani mengelus kepala Andry.
“ Iya sayang.” Andry mengangkat kepalanya dan menggenggam kedua tangan Fani.
“ Terimakasih gadis tengil, aku bahagia mala mini.” Andry tersenyum dan menggenggam tangan Fani lebih erat.
“ Iya, kamu istirahat ya.” Fani beranjak berdiri namun tangannya ditarik oleh Andry hingga dia kembali duduk.
“ 10 detik lagi.” Andry kembali memohon. Fani hanya tersenyum melihat pria manjanya itu.
“ Aku sayang kamu.” Andry menarik Fani dalam pelukannya.
“ Aku juga, tapi aku harus pulang sekarang.” Ujar Fani.
“ Kamu hati-hati ya. Telfon aku kalau sudah sampai dirumah.” Andry melepaskan pelukannya dan tiba-tiba mengecup kening Fani.
Mata Fani terbelalak kaget saat Andry mengecup keningnya, nafasnya seolah berhenti mendapat kecupan hangat dari kekasihnya itu. Perasaannya bahagia bercampur malu, Fani hanya menunduk dan tak berani menatap Andry.
“ Kenapa kamu malu?.” Andry menyentuh dagu Fani dan mengangkatnya agar menatap dirinya.
“ Aku sayang kamu.” Entah berapa kali Andry mengatakan hal ini. Benar-benar dimabuk cinta.
“ Aku pulang dulu ya.” Fani tersenyum dan mengelus kepala Andry.
Andry mengantarkan Fani hingga keparkiran mobil. Tak lupa Fani juga berpamitan dengan kedua orang tua Andry. Malam yang benar-benar penuh dengan kejutan dan cinta yang bertebaran.
__ADS_1
Aku juga mencintaimu Andry. Kau membuatku merasa sangat dicintai. Aku bahagia malam ini.
Fani menyalakn mesin mobilnya dan segera melaju membelah jalanan yang tampak mulai sepi. Meninggalkan Andry dengan berat hati, membawa rasa bahagia dan rindu untuk menemaninya menghabiskan malam iini.