Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Belajar Catur


__ADS_3

Fani mengambil papan catur dan mendekat dengan Andry. Memperlihatkan pada Andry bagaimana cara menyusun anak catur sesuai pada tempatnya. Sedangkan Andry memperhatikan semua yang dijelaskan Fani dengan baik.


“ Ini liat posisinya masing-masing. Jangan sampai salah letak.” Fani menjelaskan.


“ Ooh.” Jawabnya diikuti anggukan tanda mengerti.


“ Nah kalau cara menyusun anak catur udah paham belum?.” Tanya Fani sambil menatap manik mata Andry.


“ Udah dong.” Menepuk dada sombong. Sementara Fani hanya bergidik jijik mendengar jawaban Andry.


“ Sekarang aku ajarin cara jalannya ya.” Fani memegang pion.


“ Kalau yang kecil-kecil ini namanya pion, cuma boleh jalan lurus kedepan. Gak boleh mundur.” Fani memajukan pion satu langkah. Lagi-lagi Andry hanya menjawab dengan anggukan.


“ Kalau yang ini gimana?.” Andry menunjuk kuda.


“ Nah kalau yang ini jalannya berbentuk huruf L. Boleh kesemua arah yang penting berbentuk L.” Jelasnya lagi.


“ Oh gitu.” Diikuti dengan anggukan dan mencoba melakukan apa yang dilakukan Fani.


Fani mengajari dengan pelan bagaimana cara memainkan catur. Andry memperhatikan dan mencoba melakukan agar lebih cepat paham.  Sudah hampir setengah jam Fani mengajari Andry bermain catur. Fani ingin menguji coba Andry apakah yang diangguk-anggukkan nya sejak tadi benar mengerti atau hanya sekedar anggukan.


“ Sekarang kita coba main ya.” Fani menyusun ulang anak catur.


“ Oke.” Jawab Andry menyodorkan jari jempol.


“ Aku mau lihat yang kak Andry anggukin dari tadi tu emang ngerti atau cuma angguk-angguk doang.” Fani terkekeh seperti meremehkan Andry.


“ Oke. Lihat aja.” Andry menatap sinis karena kesal diremehkan oleh gadis dihadapannya itu.


“ Hahahaha mari kita buktikan.” Fani menjulurkan lidahnya mengejek.


“ Awas aja kamu ya.” Andry menoyor pelah dahi Fani pelan.


Fani dan Andry memulai permainan sambil bersenda gurau. Sesekali mereka saling meraih dan menoyor dahi satu sama lain. Suara tawa mereka memenuhi seisi ruangan. Tertawa dengan lepas seolah tak ada beban dipundak mereka. Canggung yang mulanya dulu telah berangsur berubah menjadi sifat manja dan saling sayang. Tampak dihati mereka tak ada lagi kebencian dan keksalan. Tumpah ruah dalam candaan dan tatapan penuh kasih sayang. Semesta benar-benar menjalankan hokum alam dengan sebaik-baiknya. Niat buruk pada masing-masing merek dipelintir menjadi kebalikannya.


“ Oke skak.” Fani melipat kedua tangan didada dan menatap penuh kesombongan.


“ Eh gak bisa nih. Kamu curang ih.” Andry membantah jika dia tak kalah.


 “ Kok curang sih. Kan dah jelas-jelas aku menang telak.” Fani terkekeh melihat muka cemas Andry yang tak terima kekalahan itu.


“ Aaaa engga. Kamu curang ni.” Sahut Andry. Sebelah tangannya dijadikan tumpuan dagu. Menaikkan alisnya sambil berfikir bagaimana caranya agar rajanya bisa lolos dan menggagalkan kemenangan Fani.


“ Tunggu aku fikir dulu ya. Aku pasti bisa lolos ni.” Sambungnya tanpa mengalihkan pandangan.

__ADS_1


“ Hahahaha coba aja fikir sampai besok. Aku ambil hp dulu ya.” Fani terkekeh dan melangkah menjauhi Andry. Berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsle miliknya.


“ Tapi jangan curang ya.” Teriak Fani tetap terus melangkah tanpa berbalik.


“ Iye.” Sahut Andry setengah berteriak. Andry masih sibuk berfikir bagaimana caranya agar lolos dari beberapa anak catur Fani. Tak lama kemudian Fani kembali muncul dengan ponsel dan setoples cemilan ditangannya.


“ Udah selesai mikirnya?.” Fani duduk dan meletakkan toples diatas meja. Mulutnya sibuk mengunyah cemilan yang dia bawa. Sementara Andry diam tak bergeming, tak menjawab apapun. Pandangannya juga tak beralih dari papan catur.


“ Udah deh ngaku kalah aja.” Fani mendekatkan wajahnya dengan wajah Andry dan tersenyum jahat.


“ Gak akan bisa lolos juga sih.” Fani terdengar sombong.


Saat Andry sibuk berfikir dan Fani sibuk mengunyah cemilan, ayah datang dengan wangi semerbak khas baru mandi. Kali ini ayah benar-benar menyelamatkan Andry dari kekalahan.


“ Nah udah belajar kan gimana cara main catur? Sekarang ayo lawan oom.” Ayah Fani mendekat dan duduk disebelah Fani.


“ Udah om. Ayok siapa takut. ” Andry tersenyum senang karena kedatangan ayah Fani benar-benar


menyelamatkannya dari kekalahan dan ejekan Fani.


“ Aaa ayah, kan belum selesai main. Dia masih mikir buat cari jalan biar lolos tu.” Fani menunjuk papan catur.


“ Ah udah. Lagian kan dia anak didik kamu.” Ayah menysusun kembali anak catur pada tempatnya.


“ Ayo ayah kalahin si Andry.” Fani duduk dibantalan kursi sambil tangannya memegang toples kue. Mulutnya yang penuh dengan kue membuat suaranya terdengar kurang jelas.


“ Eh enak aja. Kan Andry anak didik kamu. Jadi sana kamu sekubu dengan dia.” Ayah mendorong pelan tubuh Fani agar berpindah kesebelah Andry.


“ Aaa gak mau. Kan aku Cuma ngajarin dia cara main yah.” Fani menolak dengan nada yang sangat manja.


“ Kalau Andry kalah berarti kamu yang gagal.” Jawab ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur.


“ Ishh.” Fani mendengus kesal. Beranjak dan berjalan menghentakkan kakinya kesal. Duduk disebelah Andry dengan tangan masih memegang toples kue.


“ Udah siap?.” Tanya ayah saat semua anak catur sudah berada ditempatnya masing-masing.


“ Udah om.” Andry tersenyum menampakkan giginya yang rapi.


“ Awas kalau kamu kalah ya.” Fani mendekatkan wajahnya ketelinga Andry dan berbisik pelan.


“ Aman.” Andry tersenyum dan memberi jempol kepada Fani.


Pertarungan yang cukup sengit antara ayah dan Andry. Pasalnya Andry dibantu oleh Fani yang memang jago dalam permianan ini. Mungkin kalau Andry tidak dibantu oleh Fani, baru jalan dua langkah sudah di skak mati oleh ayah. Ayah tampak berfikir serius, menjalankan anak catur langkah demi langkah. Sangat hati-hati sekali.


“ Ayo sekarang giliran kamu.” Ayah tersenyum setelah berhasil menemukan titik lemah Andry.

__ADS_1


“ Aduh aku harus jalan kemana lagi? Kalau aku jalan yang ini pasti ayah kamu makan yang ini. Kan sayang.” Andry berbisik ke telinga Fani. Fani tak menjawab apapun hanya mengerutkan keningnya dan berfikir cukkup lama. Lalu menemukan celah untuk menyelamatkan diri.


“ Oke. Sekarang giliram ayah.” Fani bertepuk tangan dan tersenyum sombong.


“ Hmm lumayan bagus permainan kamu.” Ayah setengah memuji anak gadisnya.


“ Wah jelas dong. Siapa dulu.” Fani berdiri dan menepuk dadanya sombong.


“ Ishhhh.” Andry hanya mendengus melihat kesombongan kekasih dadakannya itu.


Sudah hampir setengah dari penghuni papan catur pergi. Kedua pemain tampak sangat-sangat fokus dan berfikir dengan seksama. Pandangan mereka tak beralih dari papan catur dan beberapa penghuni yang tersisa. Saling menumpu dagu ditelapak tangan kiri mereka. Sementara Fani hanya duduk santai dan mengunyah cemilan favoritenya.


“ Ya elah lama banget sih ayah mikirnya.” Fani memecahkan keheningan antara kedua pemain itu.


“ Kan harus mikir dulu. Mau melangkah juga harus hati-hati.” Jawab ayah tak mengalihkan pandangannya. Sementara Andry masih menghayati papan catur dan beberapa pasukannya yang tersisa.


“ Oke ayah jalan yang ini.” Ayah menggerakkan satu pasukannya.


“ Yakin yah?.” Tanya Fani sambil terkekeh. Mendekatkan wajahnya pada wajah ayah dan menurun naikkan alisnya. Senyum jahat terukir diwajahnya yang bersih tanpa jerawat itu.


“ Oke skak.” Fani menggerakkan anak catur dan langsung membuat ayah dalam bahaya.


“ Loh kok bisa sih. Wah ayah gak lihat kalau ini di intai dari tadi.” Ayah tampak mengerutkan kening dan memutar otak untuk berfikir dengan cepat.


“ Hahahaha.” Fani hanya tertawa sambil tangannya meraih kue dari toples.


“ Wah jago juga ya anak gadis om.” Andry bertepuk tangan dan tersenyum menatap Fani yang tertawa menyombongkan diri.


“ Oom khilaf aja nih makanya kalah. Lagipula om yang ajarin dia main ini.” Ayah Fani beralasan karena enggan mengakui kekalahan.


“ Iya dong jago. Kan anak ibu.” Tiba-tiba muncul ditengah-tengah pertarungan sengit itu.


“ Hahaha iya anak ibu.” Fani tertawa lagi dan mengejek ayah yang enggan mengaku kalah itu.


“ Hmm iyadeh iya.” Ayah melemah.


Mereka semua berbincang dan bersenda gurau. Kadangkala menertawai Fani, kadang  menertawai ayah. Saling menunggu giliran ditertawai. Andry menatap jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sudah pukul 5 sore, sudah hampir dua jam dia dirumah Fani. Dengan berat hati Andry harus berpamitan untuk pulang dan meninggalkan canda tawa diruangan itu. Keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang dan canda tawa kebahagiaan.


“ Om, tante. Aku pamit pulang dulu ya.” Andry beranjak dan mendekati ayah ibu Fani.


“ Iya kamu hati-hati ya. Jangan lupa sering-sering main kesini ya.” Ibu mengelus kepala Andry.


“ Besok-besok harus kamu sendiri yang ngalahn om. Jangan dibantu Fani lagi ya.” Ayah Fani terkekeh kecil.


“ Siap om.” ANdry memberikan gerakan hormat dan segera melangkah meninggalkan keluarga ceria itu. Melajukan mobil berwarna hitam dan membelah jalanan yang cukup ramai. Kembali kerumah untuk mempersiapkan acaranya besok malam. Pesta ulang tahun ke 17 nya. Entah akan jadi hari yang membahagiakan atau hari yang membosankan.

__ADS_1


__ADS_2