Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Persiapan Ulang tahun ( part 3)


__ADS_3

Seperti hari-hari minggu yang sebelumnya. Fani bangun pagi dan mengerjakan pekerjaa. Mulai dari mencuci pakaian, membersihkan rumah sampai dengan menyiram tanaman. Hari minggu biasanya ibu, ayah dan adik-adik pergi lari pagi dan bersantai ditaman. Fani jarang sekali ikut, sehingga pekerjaan rumah dilimpahkan padanya setiap hari minggu. Fani bergegas mengerjakan semua pekerjaannya karena ingin pergi mencari hadiah ulang tahun Andry.


“ Akhirnya beres juga semua tugasku.” Gumamnya menepuk tangan dan meneguk segelas air.


“ Aku mandi ajadeh. Harus buru-buru beli hadiah buat Andry.” Fani melangkah menuju kamarnya dan bergegas mandi.


Hanya butuh waktu 20 menit Fani sudah selesai mandi dan mengenakan baju berwarna merah jambu dipadu dengan celana jeans rawis. Fani meraih tas mininya dan bergegas pergi untuk membeli hadiah. Karena satu-satunya kendaraan yang tersisa adalah mobil, Fani terpaksa menggunakan mobil itu untuk mempercepat langkahnya. Meraih kunci dan segera menyalakan mesin. Mobil berwarna putih itu melaju membelah jalanan yang sepi menuju pusat kota.


“ Beli hadiah disini ajadeh.” Fani memarkikan mobilnya disebuah toko yang menjual keperluan lelaki.


“ Biar cepat juga. Kalau ke pusat perbelanjaan pasti ramai dan makan waktu lama.” Sambungnya sambil melangkah turun. Masuk kedalam toko yang besar itu untuk mencari sesuatu.


Fani mengedarkan pandangannya, melihat-lihat semua barang yang ada ditoko itu. Jatuh hati saat melihat sepatu berwarna merah hitam. Fani mendekat dan mengambil sepatu itu, menimbang-nimbang apakah cocok dikaki Andry karena Fani tak tahu ukuran sepatu yang biasa dipakai oleh Andry.


“ Kira-kira berapa ya ukuran sepatunya.” Fani memutar-mutar sepatu yang dipegangnya itu.


“ Hmmm ini kayaknya cocok deh.” Putusnya setelah mengira-ngira.


“ Mas saya mau yang ini ya.” Menyerahkan pada karyawan lelaki yang tak jauh darinya.


“ Baik mbak.” Sahut sang karyawan.


Fani kembali mengedarkan pandangannya, menyusuri seisi toko. Berhenti tepat dibagian baju dan jaket, Membolak-balikkan dan melihat jaket yang bagus. Fani mengambil satu jaket berwarna denim dan mencoba ditubuhnya.


“ Saya juga mau yang ini ya mas.” Fani menyerahkan jaket itu kepada karyawan toko.


“ Baik mbak.” Meraih jaket dari tangan Fani dan meminta Fani untuk langsung kekasir.

__ADS_1


 Fani membayar dan bergegas meningalkan toko. Dua kantong palstik berisi hadiah yang akan diberikan kepada kekasihnya Andry. Meskipun masih ada ragu dihatinya, Fani tak lagi menyebutkan jika Andry adalah pelarian dan kekasih terpaksanya. Fani menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Fani teringat jika dia tak punya heels yang senada dengan gaun yang diberikan Andry kemarin. Memutuskan untuk membeli heels yang senada dengan gaunnya. Bahkan Fani tak berfikir panjang untuk merogoh koceknya demi kekasihnnya itu.


“ Hem beli heels dimana ya.” Fani mengurangi kecepatan mobilnya dan melihat-lihat kiri kanan. Mencari toko yang khusus menjual sepatu dan heels wanita. Fani membelokkan mobilnya dan berhenti disebuah toko sepatu ditengah kota.


“ Coba cari disini ajadeh.” Mematikan mesin mobil dan segera turun.


“ Selamat siang mbak ada yang bisa saya bantu?.” Seorang karyawan wanita menyambut kedatangannya.


“ Saya mau cari heels yang cocok untuk dipadu dengan gaun berwarna emas mbak.” Fani berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling.


“ Oh ada kok mbak.” Sahut karyawati dan melangkah menjauhi Fani. Mengambil sebuah heels yang berwarna kuning keemasan dilengkapi dengan pernak pernik hingga terkesan mewah.


“ Kalau yang ini gimana mbak?.” Ucap karyawati itu sambil mendekati Fani. Menyodorkan kepada Fani agar bisa melihat lebih detail.


“ Hem.” Berdehem dan mencoba heels itu dikakinya yang berwarna terang itu.


“ Bagus kok mbak. Cocok dikaki mbak yang putih.” Ucap karyawati saat Fani mengenakan heels dikakinya.


“ Saya bungkus dulu ya mbak. Silahkan bayar dikasir.” Melangkah menjauhi Fani.


Fani segera kekasir dan membayar heels yang dipilihnya. Melangkah keluar dari toko dan tersenyum geli melihat tingkahnya hari ini. Penuh semangat membeli hadiah untuk kekasihnya dan bahkan sampai membeli heels agar tampilannya sempurna dipesta.


“ Bahkan aku membuang uang banyak untuknya.” Fani tersenyum dan segera melajukan mobilnya.


“ Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?.” Gumamnya sambil terus tersenyum membayangkan wajah Andry.


“ Ah aku sudah gila.” Sambungnya memukul pelan kepalanya.

__ADS_1


Mobil Fani melaju membelah jalanan yang ramai. Sepanjang jalan dia tak henti-hentinya tersenyum seperti orang yang sedang kasmaran. Berulang kali memukul setir saat menyadari kegilaan dirinya. Ponselnya bordering dan sebuah panggilan dari Al. Sudah lama sejak penolakan itu Al tak pernah lagi menghubunginya. Bahkan juga jarang main kerumah. Fani sebenarnya enggan menjawab panggilan, namun takut ada sesuatu yang sangat penting. Akhirnya Fani menjawab panggilan tersebut dan menekan tombol speaker agar tak mengganggunya saat mengemudi.


“ Hallo kak.” Fani membuka suara.


“ Wah parah lo ya Fan. Lo jadiin ibu lo alasan buat nolak gue.” Sahut Al terdengar kesal.


“ Maksudanya apa kak?.” Tanya Fani kebingungan.


“ Kenapa sih lo harus bohong sama gue. Pakai bawa-bawa nama ibu lo sebagai alasan lagi. Gak punya akal banget sih lo.” Sambungnya membentak.


“ Ini maksudnya apa sih kak aku beneran gak ngerti.” Tanya Fani masih bingung.


“ Alah gak usah sok-sok gak ngerti deh lo. Lo kira gue bisa lo bodoh-bodohin?.” Al benar-benar terdengar kesal. Fani hanya diam tak bergeming, tangannya tetat memegang setir dan Fokus kejalanan.


“ Lo kira gue gak tau kalau alasan lo nolak gue sebenernya adalah cowo itu !.” Sambung Al semakin kesal.


“ Lo udah jadian kan sama Andry ! Cowok yang ngerebut lo dari gue. Tapi gue benci saat lo jadiin ibu lo alasan buat nolak gue. Kenapa lo gak jujur kalau lo udah punya pacar !.” Suara Al semakin meninggi. Membentak Fani drai kejauhan.


Fani hanya terdiam saat Al membentak dan memarahinya. Mencerna semua kata-kata yang dilontarkan oleh Al. Bagaimana mungkin Al bisa menganggap dirinya berbohong, padahal memang ibu adalah alasannya menolak Al. Sementara Andry hanya korban dari rencana yang tak matang.


“ Maaf ya kak. Aku tutup dulu.” Fani memutuskan sambungan telfon dan menyeka ujung matanya. Fani mengemudi dengan mata yang berkaca-kaca, sedih ketika Al yang selama ini lembut dan memanjakannya malah berubah menjadi seorang yang kasar dan pemarah.”


“ Udah ah ngapain juga sedih.” Fani menarik nafanya dalam dan menyeka kembali ujung matanya.


Menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai kerumah. Hanya sekitar 10 menit berselang, Fani sudah sampai dirumah dan segera menuju kamar. Melewati sekumpulan manusia yang selalu ingin tahu tentang dirinya, siapa lagi jika bukan ayah dan ibunya.


“ Eh anak ibu dari mana?.” Tanya ibu saat Fani hanya berlalu melewati mereka.

__ADS_1


“ Abis beli hadiah untuk dibawa kepesta ulang tahun Andry bu.” Fani melanjutkan langkah dan masuk kedalam kamar.


“ Oh Andry ulang tahun ya? Yang ke berapa Fan?.” Sayup terdengar suara ibu yang sibuk bertanya dari luar. Namun Fani tak menghiraukan dan merebahkan tubuhnya. Memilih untuk tertidur sore iniagar nanti tidak mengantuk saat dipesta.


__ADS_2