Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Permintaan Maaf


__ADS_3

Fani masih bergelayut dalam mimpinya, padahal mentari sudah bersinar terang. Namun karena hari ini masih belum diizinkan sekolah, akhirnya Fani memilih bergerumul dengan kasur, bantal dan selimut. Harap-harap ketika bangun nanti sudah sore hehehe.


" Fan, bangun nak. Sarapan dulu, habis itu langsung minum obat mu." Ibu menepuk-nepuk pundak Fani agar anak gadisnya itu bangun.


" Hem,," Fani hanya berdehem.


Joo dan adik-adik sudah berangkat sekolah sejak tadi. Ayah pun sudah berangkat kerja. Hanya tinggal Fani dan ibu dirumah yang sepi ini. Itupun kalau ibu tidak ada kegiatan diluar, jika ada ya terpaksa Fani harus melewati hari dengan penuh rasa bosan lagi.


****


Sejak memasuki pekarangan sekolah Andry terus memperhatikan kelas Fani. Melihat siapa yang datang dan pergi dari kelas itu. Sudah banyak yang keluar masuk, namun sosok yang dicarinya masih belum terlihat. Fani pun tak membalas pesannya kemarin. Ada perasaan cemas dihatinya, cemas dengan keadaan Fani dan cemas jika Fani benar-benar marah padanya. Andry terus saja bergumam dalam hati, tapi sorot matanya tak beralih dari kelas itu.


" Apa cewe tengil itu belum masuk sekolah?." Tanya nya dalam hati.


" Gue jenguk aja deh. Mungkin sakitnya cukup parah." Andry melangkah masuk ke kelas. Niat hatinya ingin mengajak Ardi menjenguk Fani sepulang sekolah nanti. Kakinya melangkah pelan mendekati Andry. Hatinya berkecamuk dan meronta. Pikiran nya entah kemana-mana.

__ADS_1


Eh gimana gimana? Ini kenapa gue malah jadi cemas gak ketulungan sih.


Ardi menatap setiap langkah Andry. Pandangannya yang kosong tertuju pada lantai berwarna putih itu. Jari tangannya saling memilin satu sama lain. Dahi Ardi berkerut melihat tingkah lelaki dihadapnnya itu.


" Woi kenapa lo hahaha. Gak kesambet setan kan?." Ardi terkekeh.


" Eh Di, nanti pulang sekolah jenguk Fani yuk. Udah tiga hari dia gak masuk sekolah." Andry tampak tak menghiraukan ejekan Ardi dan langsung mengatakan ingin nya.


" Lah kok jadi gini sih? Malah jadi kahwatir. Udah jatuh cinta ya." Ardi kembali terkekeh.


" Hehehe syukur deh kalau lo udah gak punya niat jahat lagi sama Fani. Tapi beneran deh gue gak bisa nemenin lo An, soalnya nanti ada eskul sampai malam."


" Lo sendiri aja ya. Nanti gue kirimin alamat rumahnya." Sambung Ardi.


" Ah payah lu. Yaudah deh gue sendirian aja." Andry melangkah menjauhi Ardi.

__ADS_1


" Eh eh jangan lupa bawa sesuatu ya. Bunga contohnya hahahaha." Ardi kembali terkekeh.


" Diam lo. Gak usah ngomong." Andry berbalik dan menatap dengan sinis. Kemudian kembali melangkah dan duduk dikursinya.


Bunga? Hem, bukan ide buruk sih. Kaget karena kedatangan gue lalu kaget gue bawa bunga. Hahaha double kill sih ini. Ardi terkekeh.


" Nanti kalau tu cewe nanyain gue kenapa kerumahnya gue harus jawab apa?." Batinnya bertanya. Wajahnya tampak memikirkan jawaban yang tepat jika disodorkan pertanyaan itu.


" Yudah deh gue bilang aja mau jenguk sekalian bawa bunga sebagai permintaan maaf karena sering ganggu dia." Gumamnya. " Pasti setengah hati ngeras bersalah deh tu cewe karena ngomong kasar sama gue kemaren hehehe. Fani, aku datang hehehe." Andry terkekeh dalam hati.


 


Di tempat lain, Sophia duduk termenung dengan dagu bertumpu tangan. Merasa kesepian tanpa kehadiran sahabatnya Fani. Tidak ada canda tawa beberapa hari ini. Perasaannya pun cemas, karena sudah tiga hari Fani tak masuk sekolah. Kemarin dia mampir hanya sekedar memberikan sekotak salad dan nasi goreng pesanan Fani.


" Kenapa lo belum masuk sekolah sih Fan? Gue kan jadi cemas nih." Gerutunya dalam hati.

__ADS_1


" Nanti gue mampir ajadeh, mau cek fisik dulu. Tu anak gak masuk sekolah karena sakit apa karena malas." Sambungnya. " Kalau tu anak gak sekolah karena malas, waah parah sih. Gue sleding aja tuh palanya." Gumamnya mulai kesal.


__ADS_2