
Irma
mengotak atik beberapa akun miliknya, masih berusaha keras mencari akun sosial
media milik Andry. Sembari mencari akun milik Andry, sesekali Irma memutar
ulang rekaman video yang diambilnya waktu itu. Terpampang nyata Endrico dan
Fani tengah berpelukan mesra, bahkan Endrico mendaratkan beberapa ciuman penuh
cinta dikening Fani. Senyum Irma redup terang, entah apa yang dipikirnya, entah
apa yang tengah direncanakannya. Yang jelas sejak kemarin Irma sibuk mencari
akun milik Andry, namun hingga saat ini masih belum ketemu. Malah yang ketemu
hanya akun lama milik Andry, bahkan postingan terakhirnya saja beberapa tahun
yang lalu.
“
Hem, apa diam-diam gue ambil kontak Andry dari ponselnya si Fani ya.” Gumam
Irma sembari menggigit jarinya.
“
Tapi gimana caranya ya? kan Fani selalu aja pegang ponselnya, gimana cara gue
ambil kontak Andry dari ponselnya.” Lanjutnya terus memikirkan strategi.
“
Apa kayak kemar in ya, gue tungguin dia mandi terus gue ambil deh kontak Andry
dari ponselnya. Atau gue pinjam aja tuh ponsel pakai alasan apa kek, terus
secepat kilat gue curi tuh kontak Andry.
Irma
mnelepon Fani, tanpa janji apapun tiba-tiba dia mengatakan ingin berkunjung.
Fani sempat menolak karena dia akan segera kembali ke Jakarta, namun Irma tidak
peduli. Dia malah menawarkan diri untuk mengantarkan Fani sampai ke bandara
nanti.
**
Irma
memelintir jemarinya, bibirnya digigit secara bergantian. Ingin melancarkan
aksinya namun Irma sangat gugup. Sejak kedatangan Irma, Fani tampak sibuk
mengepak barang-barang. Meskipun tidak banyak, tapi Fani memastikan
berulang-ulang jika tidak ada barang yang tertinggal.
“
Duh gimana ya?.” Batin Irma sembari melirik ponsel Fani yang ada diatas
ranjang, tepat disebelahnya.
“
Apa alasan gue pinjem ponselnya Fani ya. seumur-umur belum pernah gue pinjam
ponsel ni anak.” Lanjutnya beralih menatap Fani yang masih sibuk dengan koper
mini dan barang-barang lainnya.
“
Ayo dong berpikir, harus cepat-cepat nih. Mumpung ni anak masih sibuk sama
barang bawaannya.” Irma memejamkan mata, menjentik-jentik kepalanya pelan
menggunakan telunjuk kirinya. Seolah menjentik agar otaknya mencair dan segera
mendapatkan ide brilian.
“
Eh Ir, tolong lempar ponsel gue dong. Mau ngabarin ibu dulu, bentar lagi mau
berangkat.” ucap Fani mengagetkan Irma yang tengah asyik menyusun rencana.
“
Eh iya Fan, ponsel ya? Dimana ponsel lo?.” Sahut Irma kaget, tangannya
meraba-raba mencari dimana ponse Fani. Padahal ponsel Fani ada disebelahnya,
tapi karena kaget dan gugup Irma jadi kalang kabut.
“
Nih Fan.” Irma gemetaran menyerahkan ponsel Fani.
Duh malah diambil sama pemiliknya
lagi. Gimana caranya gue mau ambil tuh kontak Andry ya, aahh bentar lagi kan
dia mau berangkat. Pokoknya harus dapat kontak Andry sebelum Fani berangkat,
pokoknya harus! Harus banget. Harus!.
Sejak
sang nenek sakit, ibu Fani kembali menetap di Jakarta bersama sang abang.
Sementara Fani, ayah dan adiknya tetap tinggal di Pontianak. Mengingat jika
Fani dan adiknya bersekolah disini. Sekolah akan libur selama 2 minggu, jadi
Fani dan adiknya memutuskan untuk ke Jakarta saja. Bertemu dengan ibu dan
neneknya.
“
Oh iya Ir, lo kalau ada waktu dan diizinin bokap nyokap mending ikut gue deh ke
Jakarta. Ntar gue ajak lo jalan-jalan deh, seriusan. Libur sekolah kan juga
masih lama, masih bisa lah berleha-leha, bersenang-senang.” Sahut Fani sembari
mengumpulkan barang-barang didekat pintu.
“
Huffhhh akhirnya selesai juga.” Gumamnya riang sembari bertepuk tangan.
“
Hem, pengen sih. Tapi lo nya pergi mendadak gini. Kalau lo bilang dari beberapa
hari yang lalu kan gue bisa izin sama mama papa, kali aja diizinin. Kan bisa
berangkat bareng. Huh.” Irma memasang wajah sedih.
“
Heheheh iya nih, gue perginya mendadak banget. Sorry ya Ir, tapi kalau lo mau
nyusul gue janji deh gue yang jemput lo dibandara. Serius.” Fani mengangkat dua
jarinya, seolah meyakinkan Irma dengan ucapannya barusan.
“
Iya gue tanya bokap nyokap dulu deh ntar. Semoga aja diizinin, biar gue bisa
nyusul lo.” Gumam Irma lirih.
“
Waduh udah jam segini, yaudah gue mandi dulu deh. Harus buru-buru nih, takutnya
telat deh.” Fani menatap jam yang ada diatas meja belajarnya, kemudian beranjak
dan meraih handuk miliknya. Fani juga melempar ponselnya kuat diatas ranjang,
bergegas menuju kamar mandi.
Irma
hanya terdiam sembari menatap ponsel Fani yang kembali dilemparkan didekat
tubuhnya. Ini adalah kesempatan bagi Irma, namun dalam hatinya masih merasa
__ADS_1
ragu untuk membuka ponsel Fani. Takut jika tiba-tiba Fani muncul dan melihatnya
sedang membuka ponsel tanpa seizin pemiliknya. Tapi keinginannya juga mendorong
kuat dirinya, memaksanya untuk segera meraih ponsel itu, membuka dan menyalin
kontak yang dia inginkan. Irma benar-benar gugup, seolah seperti pencuri yang
ragu-ragu ingin masuk kedalam rumah yang sudah ditargetkannya. Takut jika
ketahuan sang pemilik rumah. Tangan Irma berkeringat dingin, ingin sekali
rasanya meraih ponsel itu.
“
Ayolah Ir, hanya satu menit doang. Setelah itu lo dapet deh kontak yang lo
inginkan.” Batin Irma meronta-ronta ingin melancarkan aksinya.
“
Ayolah Ir, ini kesempatan emas buat lo. Ingat tujuan yang membawa lo kesini.
Ingat kontak Andry, harus lo dapetin hari ini juga. Atau lo harus nunggu
seminggu lagi baru bisa melanjutkan misi.” Batin Fani terus mendorong Fani
untuk segera melancarkan aksinya.
Irma
menghela nafas panjang, tanpa berpikir lagi Irma langsung meraih ponsel Fani.
kemudian mencoba membuka kunci, tidak bisa. Irma kembali mengulang, sesekali
melirik pintu kamar mandi dan memastikan jika Fani masih betah didalam. Dengan
ditemani rasa takut dan gugup, Irma mencoba membuka kunci ponsel Fani. Tidak
tau sandinya, Irma mencoba mengarang, tetap saja tidak bisa. Sampai berulang
kali, hingga akhirnya terdengar cetekan pintu terbuka. Fani telah selesai
bersemedi didalam kamar mandi. Dengan cepat tangan Irma melempar kembali ponsel
Fani menjauh dari tubuhnya, bibirnya pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Hampir
saja Fani mengetahui aksinya, benar-benar tidak sopan.
“
Hei kenapa lo? Kok tegang begitu sih? Abis lihat setan?.” Ketus Fani sembari
terkekeh geli mengejek Irma yang bersandar diranjang.
“
Engga kok.” Sahutnya berusaha tenang.
“
Oh iya Ir, lo beneran kan may anterin gue ke bandara?.”
“
I..iiyaa Fan. Gue anterin lo.” Jawab Irma gelagapan.
Irma
masih melirik ponsel Fani yang ada didekatnya, tidak peduli dengan apa yang
Fani bicarakan. Sejak tadi Fani komat-kamit, sementara Irma hanya mengangguk
mengiyakan. Pikirannya hanya tertuju pada ponsel Fani dan bagaimana caranya
agar segera mendapatkan kontak Andry. Irma berencana untuk meminjam ponsel Fani
secara terang-terangan, namun dia masih ragu apakah cara ini akan berhasil atau
tidaknya.
“
Hem, Fan. Gue boleh pinjam ponsel lo gak? Tiba-tiba pulsa gue habis nih, pengen
ngabarin mama kalau gue pulangnya agak telat. Mau ngabarin mama kalau gue mau
anterin lo dulu ke bandara.” Irma memasang wajah serius, berusaha meyakinkan
“
Oh iya boleh-boleh. Tuh ponsel gue, pinjam aja Ir.” Sahut Fani dengan senang
hati. Dia malah kegirangan, tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Dengan
cepat Irma mengambil ponsel milik Fani, sudah mendapat lampu hijau dari sang
pemilik untuk apa pikir-pikir lagi.
“
Berapa passwordnya Fan, lo yang buka apa gue aja nih?.” Tanya Irma basa-basi.
“
Lo aja, gue sibuk dandan nih ahahhaha.” Sahutnya sambil terkekeh geli didepan
kaa.
“
050100 passwordnya Ir, buka deh tu.” Lanjutnya dengan senang hati memberikan
password ponselnya.
Irma
tersenyum dalam hati, akhirnya dia akan segera mendapatkan yang dia inginkan.
Harusnya seperti ini saja dari tadi, jadi dia tidak perlu bersusah payak
menguras otaknya hanya untuk memikirkan cara mendapatkan kontak Andry dari
ponselnya Fani. Ternyata cukup dengan alasan sedarhana saja Irma bisa
mendapatkan apa yang dia inginkan.
“
Huh, kalau tau semudah ini sih ngapain gue susah-susah mikirin cara buat
dapetin kontak Andry dari tadi. Gak perlu deh gue nguras-nguras otak gue Cuma
buat mikirin hal yang sesederhana ini.” Batin Irma menyesali.
Dengan
cepat Irma menyalin nomor milik sang mama, hanya sebagain formalitas saja agar
Fani percaya dengan alasannya tadi. Kemudian seolah berbicara serius, Irma
melipir keluar dari kamar, menjauh perlahan-lahan hingga sampai ketempat yang
menurutnya aman. Kemudian dengan cepat Irma menghentikan sandiwaranya, beralih
pada tujuan utamanya. Dengan sangat lihai Irma menyalin kontak Andry, kemudian
tertawa girang dalam hati.
“
Hahahahaha akhirnya aku bisa juga mendapatkan kontak Andry, tanpa perlu pusing
dan banyak berfikir lagi hahahaha. Ah gak sabar pengen dengan suara Andry
langsung menyapa telingaku, menghubungi dengan nomor pribadiku.” Batin Irma
tertawa bahagia.
“
Eh iya ma, aku pulangnya agak telat ya ma. Soalnya mau anterin Fani kebandara
dulu.” Irma melangkah kembali mendekati Fani, berbicara seiolah-olah dia benar
sedang menelfon sang mama. Irma ternyata juga pintar berakting.
“
Ha iya ma, Fani dadakan banget ma berangkatnya. Padahal kan aku pengen ikut ma,
pengen liburan. Udah teriak-teriak nih tulang pengen liburan, pengen dapat
__ADS_1
asupan energy baru, suasana baru.” Lanjut Irma, seolah benar-benar menelepon
dengan sang mama.
“
Dah ah ma, nanti lanjut ngomong kalau udah sampai rumah ya. Segan nih pake
ponsel Fani soalnya. Dah ya ma, bye sampai jumpa dirumah.” Irma mengakhiri
pembicaraan dan mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
“
Nih Fan, makasih ya.” Irma menyerahkan ponsel milik Fani.
“
Ih santai aja kali Ir, kayak orang lain aja deh.” Ketus Fani kemudian meraih
ponsel miliknya.
Dalam
hati Irma ingin berteriak rasanya, akhirnya dia sudah berhasil menjalankan misi
pertamanya. Isi dalam tubuhnya seolah-olah sedang berjoget, jungkir balik
gembira. Ingin segera pulang rasanya, kemudian melanjutkan misinya.
“
Yuk berangkat Fan. Ntar malah telat lagi.” Irma menatap jam yang melingkar
dipergelangan tangannya dan mengajak Fani untuk segera menuju bandara. Padahal
bukan takut Fani telat, hanya saja dia ingin segera pulang dan menemui
ranjangnya. Ingin merebahkan tubuh dan segera melancarkan aksinya.
“
Yuk.” Sahutnya sembari menenteng barang-barang yang akan dibawanya.
**
Irma
mengemudi dengan cepat, sudah tidak sabar ingin merebahkan tubuhnya dan
bergerumul dengan ponselnya. Sepanjang jalan yang ada dipikirannya hanya
bagamaina reaksi Andry ketika mengetahui jika Fani kekasih yang sangat
dicintainya masih berhubungan dengan Endrico. Senyumnya mekar, seolah-olah
sudah bisa merasakan bagamaina sensasi dari permainan yang dibuat oleh Fani
ini.
“
Huuffhhh akhirnya sampai juga hihihihi.” Irma mendorong kuat daun pintu
kamarnya, kemudian menghambur menghempaskan tubuh keatas ranjang empuk
miliknya.
“
Huhhuhu senang banget akhirnya gue punya juga nih kontak Andry, aaaah gak sabar
pengen tau reaksinya.” Irma senyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu yang dia
harapkan.
Irma
meraih ponselnya, sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ingin rasanya menghubungi
Andry dan langsung mengatakan yang sesungguhnya. Namun itu hanya hasratnya yang
menggebu-gebu, namun belum yakin dengan apa yang akan dikatakannya.
“
Tapi gue harus bilang apa sama Andry?.” Batin Irma bertanya-tanya. Irma menatap
layar ponselnya, terpampang nomor telepon milik Andry. Jarinya juga sudah tidak
sabar ingin menekan tombol panggil.
“
Masa sih gue langsung bilang, ‘ eh Andry lo tau gak sih kalau cewek lo selama ini selingkuh, dia udah ngehianatin lo.
Tau gak sih?.’.” Lanjutnya.
“
Eh gak, gak boleh langsung pada intinya. Gue harus basa-basi dulu dong, masa
langsung kasih kabar yang mengagetkan sih. Bisa-bisa Andry serangan jantung
deh, ah gak mau gue.” Irma menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak setuju
dengan ide yang barusan dicetuskan oleh kepalanya.
“
Gue telfon apa gue chat aja ya. Basa-basi dulu deh. Kayak ‘ Hallo kak Andry,
selamat malam. Ini gue Irma sahabatnya Fani. Maaf kak mengganggu waktunya.’.”
Gumam Irma. Kemudian tiba-tiba dia meluat geli membayangkan ucapannya barusan.
“
Ah gila formal banget sih. Yaudah gue chat dulu deh tapi jangan formal, udah
kayak chat guru aja.” Lanjutnya. Irma mulai menulis pesan. Tulis kemudian
hapus, tulis kemudian hapus. Begitu terus, berulang-ulang.
“
Ah gak ah. Masih formal sih ini. Gue harus bisa santai tapi tetap sopan gitu.
Harus terlihat asyik biar Andry juga gak sekali doang respon chat gue, kalau
bisa dia langsung deh ngerasa nyaman. Biar gue gampang tembak langsung pada
intinya.” Gumamnya sembari tersenyum-senyum riang.
Irma
kembali menulis pesan. Tidak terlalu formal sih, tapi jatuhnya malah sok kenal
sok dekat gitu. Ah bodo amat pikirnya, yang penting tujuannya sekarang adalah
saling punya kontak satu sama lain. Gapapa perlahan, yang penting pasti.
Takutnya kalay tembak langsung pada intinya nanti yang ada Andry malah jadi
ilfeel, eh terus malah tiba-tiba ngejauhin Irma. Setelah menuliskan dan membaca
berulang-ulang, akhirnya dengan penuh keberanian Irma mengirimkan pesan kepada
Andry. Hanya beberapa kata saja, namun menghabiskan waktunya cukup lama. Pesan
singkat, namun penuh drama.
Hallo selamat malam kak, ini gue
Irma sahabatnya Fani. Masih ingat kan? Hehehe jangan lupa save kontak gue ya.
piece!
“
Ah akhirnya, gue berani juga ya mengirim pesan yang penuh kepercayaan diri ini.
Huh meskipun menghabiskan waktu yang cukup lama, Cuma buat ngetik beberapa kata
doang. Gilaaaa, 20 menit buat ginian doang hahaahhaa.” Irma menatap jam yang
terpampang dilayar ponselnya, kemudian terkekeh karena kelakuannya.
“
20 kata 20 menit waktunya, hahahaha gila sih kikuk banget gue. Udah gak punya
bakat ngolah laki lagi nih. Huh.” Irma menghela nafas panjang. Sesekali
tersenyum sembari menatap layar ponselnya, menunggu balasan dari Andry. Mungkin
__ADS_1
saja dia akan menerima pesan yang sama formalnya hehehehehe.