Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Isi Kepala Irma


__ADS_3

Irma


mengotak atik beberapa akun miliknya, masih berusaha keras mencari akun sosial


media milik Andry. Sembari mencari akun milik Andry, sesekali Irma memutar


ulang rekaman video yang diambilnya waktu itu. Terpampang nyata Endrico dan


Fani tengah berpelukan mesra, bahkan Endrico mendaratkan beberapa ciuman penuh


cinta dikening Fani. Senyum Irma redup terang, entah apa yang dipikirnya, entah


apa yang tengah direncanakannya. Yang jelas sejak kemarin Irma sibuk mencari


akun milik Andry, namun hingga saat ini masih belum ketemu. Malah yang ketemu


hanya akun lama milik Andry, bahkan postingan terakhirnya saja beberapa tahun


yang lalu.



Hem, apa diam-diam gue ambil kontak Andry dari ponselnya si Fani ya.” Gumam


Irma sembari menggigit jarinya.



Tapi gimana caranya ya? kan Fani selalu aja pegang ponselnya, gimana cara gue


ambil kontak Andry dari ponselnya.” Lanjutnya terus memikirkan strategi.



Apa kayak kemar in ya, gue tungguin dia mandi terus gue ambil deh kontak Andry


dari ponselnya. Atau gue pinjam aja tuh ponsel pakai alasan apa kek, terus


secepat kilat gue curi tuh kontak Andry.


Irma


mnelepon Fani, tanpa janji apapun tiba-tiba dia mengatakan ingin berkunjung.


Fani sempat menolak karena dia akan segera kembali ke Jakarta, namun Irma tidak


peduli. Dia malah menawarkan diri untuk mengantarkan Fani sampai ke bandara


nanti.


**


Irma


memelintir jemarinya, bibirnya digigit secara bergantian. Ingin melancarkan


aksinya namun Irma sangat gugup. Sejak kedatangan Irma, Fani tampak sibuk


mengepak barang-barang. Meskipun tidak banyak, tapi Fani memastikan


berulang-ulang jika tidak ada barang yang tertinggal.



Duh gimana ya?.” Batin Irma sembari melirik ponsel Fani yang ada diatas


ranjang, tepat disebelahnya.



Apa alasan gue pinjem ponselnya Fani ya. seumur-umur belum pernah gue pinjam


ponsel ni anak.” Lanjutnya beralih menatap Fani yang masih sibuk dengan koper


mini dan barang-barang lainnya.



Ayo dong berpikir, harus cepat-cepat nih. Mumpung ni anak masih sibuk sama


barang bawaannya.” Irma memejamkan mata, menjentik-jentik kepalanya pelan


menggunakan telunjuk kirinya. Seolah menjentik agar otaknya mencair dan segera


mendapatkan ide brilian.



Eh Ir, tolong lempar ponsel gue dong. Mau ngabarin ibu dulu, bentar lagi mau


berangkat.” ucap Fani mengagetkan Irma yang tengah asyik menyusun rencana.



Eh iya Fan, ponsel ya? Dimana ponsel lo?.” Sahut Irma kaget, tangannya


meraba-raba mencari dimana ponse Fani. Padahal ponsel Fani ada disebelahnya,


tapi karena kaget dan gugup Irma jadi kalang kabut.



Nih Fan.” Irma gemetaran menyerahkan ponsel Fani.


Duh malah diambil sama pemiliknya


lagi. Gimana caranya gue mau ambil tuh kontak Andry ya, aahh bentar lagi kan


dia mau berangkat. Pokoknya harus dapat kontak Andry sebelum Fani berangkat,


pokoknya  harus! Harus banget. Harus!.


Sejak


sang nenek sakit, ibu Fani kembali menetap di Jakarta bersama sang abang.


Sementara Fani, ayah dan adiknya tetap tinggal di Pontianak. Mengingat jika


Fani dan adiknya bersekolah disini. Sekolah akan libur selama 2 minggu, jadi


Fani dan adiknya memutuskan untuk ke Jakarta saja. Bertemu dengan ibu dan


neneknya.



Oh iya Ir, lo kalau ada waktu dan diizinin bokap nyokap mending ikut gue deh ke


Jakarta. Ntar gue ajak lo jalan-jalan deh, seriusan. Libur sekolah kan juga


masih lama, masih bisa lah berleha-leha, bersenang-senang.” Sahut Fani sembari


mengumpulkan barang-barang didekat pintu.



Huffhhh akhirnya selesai juga.” Gumamnya riang sembari bertepuk tangan.



Hem, pengen sih. Tapi lo nya pergi mendadak gini. Kalau lo bilang dari beberapa


hari yang lalu kan gue bisa izin sama mama papa, kali aja diizinin. Kan bisa


berangkat bareng. Huh.” Irma memasang wajah sedih.



Heheheh iya nih, gue perginya mendadak banget. Sorry ya Ir, tapi kalau lo mau


nyusul gue janji deh gue yang jemput lo dibandara. Serius.” Fani mengangkat dua


jarinya, seolah meyakinkan Irma dengan ucapannya barusan.



Iya gue tanya bokap nyokap dulu deh ntar. Semoga aja diizinin, biar gue bisa


nyusul lo.” Gumam Irma lirih.



Waduh udah jam segini, yaudah gue mandi dulu deh. Harus buru-buru nih, takutnya


telat deh.” Fani menatap jam yang ada diatas meja belajarnya, kemudian beranjak


dan meraih handuk miliknya. Fani juga melempar ponselnya kuat diatas ranjang,


bergegas menuju kamar mandi.


Irma


hanya terdiam sembari menatap ponsel Fani yang kembali dilemparkan didekat


tubuhnya. Ini adalah kesempatan bagi Irma, namun dalam hatinya masih merasa

__ADS_1


ragu untuk membuka ponsel Fani. Takut jika tiba-tiba Fani muncul dan melihatnya


sedang membuka ponsel tanpa seizin pemiliknya. Tapi keinginannya juga mendorong


kuat dirinya, memaksanya untuk segera meraih ponsel itu, membuka dan menyalin


kontak yang dia inginkan. Irma benar-benar gugup, seolah seperti pencuri yang


ragu-ragu ingin masuk kedalam rumah yang sudah ditargetkannya. Takut jika


ketahuan sang pemilik rumah. Tangan Irma berkeringat dingin, ingin sekali


rasanya meraih ponsel itu.



Ayolah Ir, hanya satu menit doang. Setelah itu lo dapet deh kontak yang lo


inginkan.” Batin Irma meronta-ronta ingin melancarkan aksinya.



Ayolah Ir, ini kesempatan emas buat lo. Ingat tujuan yang membawa lo kesini.


Ingat kontak Andry, harus lo dapetin hari ini juga. Atau lo harus nunggu


seminggu lagi baru bisa melanjutkan misi.” Batin Fani terus mendorong Fani


untuk segera melancarkan aksinya.


Irma


menghela nafas panjang, tanpa berpikir lagi Irma langsung meraih ponsel Fani.


kemudian mencoba membuka kunci, tidak bisa. Irma kembali mengulang, sesekali


melirik pintu kamar mandi dan memastikan jika Fani masih betah didalam. Dengan


ditemani rasa takut dan gugup, Irma mencoba membuka kunci ponsel Fani. Tidak


tau sandinya, Irma mencoba mengarang, tetap saja tidak bisa. Sampai berulang


kali, hingga akhirnya terdengar cetekan pintu terbuka. Fani telah selesai


bersemedi didalam kamar mandi. Dengan cepat tangan Irma melempar kembali ponsel


Fani menjauh dari tubuhnya, bibirnya pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Hampir


saja Fani mengetahui aksinya, benar-benar tidak sopan.



Hei kenapa lo? Kok tegang begitu sih? Abis lihat setan?.” Ketus Fani sembari


terkekeh geli mengejek Irma yang  bersandar diranjang.



Engga kok.” Sahutnya berusaha tenang.



Oh iya Ir, lo beneran kan may anterin gue ke bandara?.”



I..iiyaa Fan. Gue anterin lo.” Jawab Irma gelagapan.


Irma


masih melirik ponsel Fani yang ada didekatnya, tidak peduli dengan apa yang


Fani bicarakan. Sejak tadi Fani komat-kamit, sementara Irma hanya mengangguk


mengiyakan. Pikirannya hanya tertuju pada ponsel Fani dan bagaimana caranya


agar segera mendapatkan kontak Andry. Irma berencana untuk meminjam ponsel Fani


secara terang-terangan, namun dia masih ragu apakah cara ini akan berhasil atau


tidaknya.



Hem, Fan. Gue boleh pinjam ponsel lo gak? Tiba-tiba pulsa gue habis nih, pengen


ngabarin mama kalau gue pulangnya agak telat. Mau ngabarin mama kalau gue mau


anterin lo dulu ke bandara.” Irma memasang wajah serius, berusaha meyakinkan



Oh iya boleh-boleh. Tuh ponsel gue, pinjam aja Ir.” Sahut Fani dengan senang


hati. Dia malah kegirangan, tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


Dengan


cepat Irma mengambil ponsel milik Fani, sudah mendapat lampu hijau dari sang


pemilik untuk apa pikir-pikir lagi.



Berapa passwordnya Fan, lo yang buka apa gue aja nih?.” Tanya Irma basa-basi.



Lo aja, gue sibuk dandan nih ahahhaha.” Sahutnya sambil terkekeh geli didepan


kaa.



050100 passwordnya Ir, buka deh tu.” Lanjutnya dengan senang hati memberikan


password ponselnya.


Irma


tersenyum dalam hati, akhirnya dia akan segera mendapatkan yang dia inginkan.


Harusnya seperti ini saja dari tadi, jadi dia tidak perlu bersusah payak


menguras otaknya hanya untuk memikirkan cara mendapatkan kontak Andry dari


ponselnya Fani. Ternyata cukup dengan alasan sedarhana saja Irma bisa


mendapatkan apa yang dia inginkan.



Huh, kalau tau semudah ini sih ngapain gue susah-susah mikirin cara buat


dapetin kontak Andry dari tadi. Gak perlu deh gue nguras-nguras otak gue Cuma


buat mikirin hal yang sesederhana ini.” Batin Irma menyesali.


Dengan


cepat Irma menyalin nomor milik sang mama, hanya sebagain formalitas saja agar


Fani percaya dengan alasannya tadi. Kemudian seolah berbicara serius, Irma


melipir keluar dari kamar, menjauh perlahan-lahan hingga sampai ketempat yang


menurutnya aman. Kemudian dengan cepat Irma menghentikan sandiwaranya, beralih


pada tujuan utamanya. Dengan sangat lihai Irma menyalin kontak Andry, kemudian


tertawa girang dalam hati.



Hahahahaha akhirnya aku bisa juga mendapatkan kontak Andry, tanpa perlu pusing


dan banyak berfikir lagi hahahaha. Ah gak sabar pengen dengan suara Andry


langsung menyapa telingaku, menghubungi dengan nomor pribadiku.” Batin Irma


tertawa bahagia.



Eh iya ma, aku pulangnya agak telat ya ma. Soalnya mau anterin Fani kebandara


dulu.” Irma melangkah kembali mendekati Fani, berbicara seiolah-olah dia benar


sedang menelfon sang mama. Irma ternyata juga pintar berakting.



Ha iya ma, Fani dadakan banget ma berangkatnya. Padahal kan aku pengen ikut ma,


pengen liburan. Udah teriak-teriak nih tulang pengen liburan, pengen dapat

__ADS_1


asupan energy baru, suasana baru.” Lanjut Irma, seolah benar-benar menelepon


dengan sang mama.



Dah ah ma, nanti lanjut ngomong kalau udah sampai rumah ya. Segan nih pake


ponsel Fani soalnya. Dah ya ma, bye sampai jumpa dirumah.” Irma mengakhiri


pembicaraan dan mengembalikan ponsel pada pemiliknya.



Nih Fan, makasih ya.” Irma menyerahkan ponsel milik Fani.



Ih santai aja kali Ir, kayak orang lain aja deh.” Ketus Fani kemudian meraih


ponsel miliknya.


Dalam


hati Irma ingin berteriak rasanya, akhirnya dia sudah berhasil menjalankan misi


pertamanya. Isi dalam tubuhnya seolah-olah sedang berjoget, jungkir balik


gembira. Ingin segera pulang rasanya, kemudian melanjutkan misinya.



Yuk berangkat Fan. Ntar malah telat lagi.” Irma menatap jam yang melingkar


dipergelangan tangannya dan mengajak Fani untuk segera menuju bandara. Padahal


bukan takut Fani telat, hanya saja dia ingin segera pulang dan menemui


ranjangnya. Ingin merebahkan tubuh dan segera melancarkan aksinya.



Yuk.” Sahutnya sembari menenteng barang-barang yang akan dibawanya.


**


Irma


mengemudi dengan cepat, sudah tidak sabar ingin merebahkan tubuhnya dan


bergerumul dengan ponselnya. Sepanjang jalan yang ada dipikirannya hanya


bagamaina reaksi Andry ketika mengetahui jika Fani kekasih yang sangat


dicintainya masih berhubungan dengan Endrico. Senyumnya mekar, seolah-olah


sudah bisa merasakan bagamaina sensasi dari permainan yang dibuat oleh Fani


ini.



Huuffhhh akhirnya sampai juga hihihihi.” Irma mendorong kuat daun pintu


kamarnya, kemudian menghambur menghempaskan tubuh keatas ranjang empuk


miliknya.



Huhhuhu senang banget akhirnya gue punya juga nih kontak Andry, aaaah gak sabar


pengen tau reaksinya.” Irma senyum-senyum sendiri membayangkan sesuatu yang dia


harapkan.


Irma


meraih ponselnya, sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ingin rasanya menghubungi


Andry dan langsung mengatakan yang sesungguhnya. Namun itu hanya hasratnya yang


menggebu-gebu, namun belum yakin dengan apa yang akan dikatakannya.



Tapi gue harus bilang apa sama Andry?.” Batin Irma bertanya-tanya. Irma menatap


layar ponselnya, terpampang nomor telepon milik Andry. Jarinya juga sudah tidak


sabar ingin menekan tombol panggil.



Masa sih gue langsung bilang, ‘ eh Andry lo tau  gak sih kalau cewek lo selama ini selingkuh, dia udah ngehianatin lo.


Tau gak sih?.’.” Lanjutnya.



Eh gak, gak boleh langsung pada intinya. Gue harus basa-basi dulu dong, masa


langsung kasih kabar yang mengagetkan sih. Bisa-bisa Andry serangan jantung


deh, ah gak mau gue.” Irma menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak setuju


dengan ide yang barusan dicetuskan oleh kepalanya.



Gue telfon apa gue chat aja ya. Basa-basi dulu deh. Kayak ‘ Hallo kak Andry,


selamat malam. Ini gue Irma sahabatnya Fani. Maaf kak mengganggu waktunya.’.”


Gumam Irma. Kemudian tiba-tiba dia meluat geli membayangkan ucapannya barusan.



Ah gila formal banget sih. Yaudah gue chat dulu deh tapi jangan formal, udah


kayak chat guru aja.” Lanjutnya. Irma mulai menulis pesan. Tulis kemudian


hapus, tulis kemudian hapus. Begitu terus, berulang-ulang.



Ah gak ah. Masih formal sih ini. Gue harus bisa santai tapi tetap sopan gitu.


Harus terlihat asyik biar Andry juga gak sekali doang respon chat gue, kalau


bisa dia langsung deh ngerasa nyaman. Biar gue gampang tembak langsung pada


intinya.” Gumamnya sembari tersenyum-senyum riang.


Irma


kembali menulis pesan. Tidak terlalu formal sih, tapi jatuhnya malah sok kenal


sok dekat gitu. Ah bodo amat pikirnya, yang penting tujuannya sekarang adalah


saling punya kontak satu sama lain. Gapapa perlahan, yang penting pasti.


Takutnya kalay tembak langsung pada intinya nanti yang ada Andry malah jadi


ilfeel, eh terus malah tiba-tiba ngejauhin Irma. Setelah menuliskan dan membaca


berulang-ulang, akhirnya dengan penuh keberanian Irma mengirimkan pesan kepada


Andry. Hanya beberapa kata saja, namun menghabiskan waktunya cukup lama. Pesan


singkat, namun penuh drama.


Hallo selamat malam kak, ini gue


Irma sahabatnya Fani. Masih ingat kan? Hehehe jangan lupa save kontak gue ya.


piece!



Ah akhirnya, gue berani juga ya mengirim pesan yang penuh kepercayaan diri ini.


Huh meskipun menghabiskan waktu yang cukup lama, Cuma buat ngetik beberapa kata


doang. Gilaaaa, 20 menit buat ginian doang hahaahhaa.” Irma menatap jam yang


terpampang dilayar ponselnya, kemudian terkekeh karena kelakuannya.



20 kata 20 menit waktunya, hahahaha gila sih kikuk banget gue. Udah gak punya


bakat ngolah laki lagi nih. Huh.” Irma menghela nafas panjang. Sesekali


tersenyum sembari menatap layar ponselnya, menunggu balasan dari Andry. Mungkin

__ADS_1


saja dia akan menerima pesan yang sama formalnya hehehehehe.


__ADS_2