
Andry sudah bangun dari tidur panjangnya, sudah bisa bernafas dengan lega. Tidak sefrustasi tadi waktu dia telat berangkat kebandara. Mungkin dalam mimpinya dia bertemu seseorang yang memberinya nasihat baik. Andry menggeliat sana sini seperti bangun tidur dihari-hari sebelumnya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang keram karena tidur terlalu lama. Bagaimana tidak, tidur sejak subuh, lalu bangun dan tidur lagi. Andry menatap jam diatas meja sebelah ranjang, jam yang tadi dia lemparkan sudah kembali lagi ditempatnya semula. sudah sangat sore, sudha pukul 6. Andry beranjak dan berdiri menghadap jendela, menatap langit merah muda dan langit yang sudah mulai gelap. Ternyata sudah hampir 12 jam dia tertidur, sudah melebihi waktu yang dianjurkan.
“ Haaaahhh nikmat sekali tidurku hari ini.” Gumamnya terus meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa keram.
" Mau ngapain ya hari ini? Aku harus menikmati hari liburku semaksimal mungki, tidak boleh menyai-nyiakannya." Ucapnya sambil terus melakukan gerakan meregangkan oto-otot tangan dan kakinya.
“ Huffhhh mandi dulu deh terus gue ajak Ardi dan yang lain nongkrong, kan ini malam minggu. Pasti ramai. Ucapnya. Seolah tidak ada beban dan masalah dikepalanya, dengan santai ingin keluar dan nongkrong bersama teman-temannya menikmati malam minggu. Tadi bingung dan kalang kabut memikirkan keterlambatan dan penerbangannya yang gagal. Tapi sekarang malah bersantai dan tidak lagi memikirkan masalah yang menyebabkannya tidur sepanjang hari. Tidak sedang lupa ingatan kan?
Andry bermalas-malasan menuju kamar mandi, ingin buru-buru namun langkah kakinya terasa sangat berat. sebelum mandi Andry memutuskan untuk menghubungi Ardi dan teman-temannya yang lain. Membuat janji dimana dan pukul berapa mereka akan bertemu agar semua datang tepat waktu. Kemudian setelah menghubungi semua teman-temannya, Andry bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap menyengangkan diri.
“ Brrrr dingin..” Gumamnya saat keluar dari kamar mandi. Tangannya mengepal dan giginya mengatup kedinginan. Rambutnya yang basah meneteskan air-air kelantai. Berjalan pelan dengan handuk yang melilit tubuhnya dari pinggang hingga betisnya. Andry mengenakan celana jeans panjang dan kaos polos berwarna hitam. Ditambah dengan jaket jeans yang seiras dengan warna celana yang dia pakai. Merapikan rambut dan lainnya. Kemudian bergegas keluar untuk menjemput sahabatnya Ardi. Andry berlari menyusuri anak tangga dan bergegas keluar dari rumahnya.
“ Bun, ayah aku pergi dulu ya. Mau ketemu Ardi dan teman-teman yang lain.” Sahutnya saat melewati ruang keluarga yang disana tampak hanya ada ayah dan ibunya. Mungkin Devi kakaknya juga sudah keluar bersama kekasihnya.
__ADS_1
“ Eh kok buru-buru sih, sini dulu dong ada yang mau bunda tanya.” Sahut bunda sambil menjentikkan tangannya meminta Andry mendekat. Namun Andry menolak dan meneruskan langkahnya keluar dari rumah, sudah tau pasti bunda akan bertanya kenapa dia masih dirumah dan kenapa tidak jadi pergi menemui Fani hari ini.
“ Aduh aku buru-buru bun, udah ditungguin sama teman-teman yang lain. Besok kita ngobrol-ngobrol ya bunda.
Dadaaaaahhh bun, yah.” Ucapnya sambil terus melangkah dan melambaikan tangan. Meninggalkan bunda yang masih saja berteriak memintanya untuk berhenti dan kembali mendekat.
Andry mengambil mobilnya dibagasi, kemudian segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan menuju rumah Ardi temannya. Menyusuri jalanan yang ramai, apalagi malam ini adalah malam yang biasa diagung-agungkan oleh pasangan kekasih. Malam minggu, bertemu pacar dan orang-orang terkasih. Biasanya Andry paling malas keluar malam minggu, karena malas melihat orang yang berpasang-pasangan disepanjang jalan. Membuatnya kesal dan iri hati karena tidak bisa seperti mereka. Namun kali ini dia benar-benar merasa tidak cemburu dan biasa saja. Andry terus melajukan mobilnya menuju rumah Ardi dan beberapa saat kemudian mobilnya sudah berhenti tepat didepan rumah Ardi.
“ Heh bro gue udah didepan nih, buruan.” Ucapnya dari dalam telepon. Menunggu Ardi keluar dan segera melajukan kembali mobilnya menyusuri jalanan yang semakin ramai menuju tempat yang sudah mereka tentukan.
“ Udah seharian sih gue video call terus bareng Fani, jadi sekarang gilirannya main bareng teman-teman dong yak kan.” Ucapnya berkilah, entah kapan dia video call dengan Fani. Padahal sejak pagi dia hanya tertidur dan meratapi diri, menyesal dan menumpuk kesal.
“ Wah pantes aja lo ngajak kita nongkrong ya, ternyata lo udah puas pacaran dari tadi hahahaha.” Sahut Ardi
__ADS_1
sambil terkekeh.
“ Oh iya Fani apa kabar? Gue udah lama gak pernah komunikasi lagi sama dia, apalagi semenjak dia pindah keluar
kota.” Sambungnya bertanya. Mengingat sudah berapa bulan sejak Fani pindah keluar kota dia tidak pernah mendengar kabar tentang Fani.
“ Baik kok, ya awalnya sih dulu sering ngeluh sama tempat tinggal barunya. Tapi sekarang udah nyaman kok, buktinya dia sudah terbiasa dengan lingkungan barunya. Cuma butuh waktu aja.” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, tidak ingin menatap Ardi yang terus menanyakan tentang Fani.
“ Lo gak ada niat buat nyusul dia? Udahh berapa bulan sih dia pindah? Lo gak kangen bro?.” lagi-lagi bertanya tentang sesuatu yang sensitive. Ardi seolah mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini, mencoba mengorek informasi dari mulut Andry. Membuat Andry terjebak dalam suasana dan menceritakan semua yang membuatnya kesal dua hari ini.
“ Ada sih, tapi nanti setelah Ujian Nasional, biar bisa agak lama ketemu dia, terus sambil cari-cari informasi untuk masuk perguruan tinggi dikota tempat Fani tinggal sekarang. Jadi kalau gue kuliah disana kan gampang ketemunya.” Jawabnya dengan santai, seperti sudah mempersiapkan jawaban. Apalagi tentang kuliah, ya memang Ujian Nasional hanya tinggal 3 minggu lagi.
“ Oh iya ya, kan kita sebentar lagi Ujian Nasiona, kenapa gue lupa ya hahahaha. Gue do’ain deh lo lulus di Perguruan Tinggi yang dekat dengan rumah Fani, biar tiap hari deh lo bisa ketemu tu cewe yang dulunya lo benci hahahahaha.” Ucap Ardi tertawa. Teringat awalnya Andry sangat membenci Fani, namun siapa sangka jika sekarang Fani adalah wanita yang sangat dicintainya.
__ADS_1
“ Hem.” Andry hanya menjawab dengan berdehem, pandangannya tetap fokus menatap jalanan yang ramai. Seketika hening tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Hanya ada suara music pelan yang menemani mereka ditengah-tengah macetnya kota.