Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Cemburu


__ADS_3

Sophia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap layar ponselnya dengan wajah yang riang. Mulutnya berkali-kali mengumbar senyuman, menampakkan giginya yang tersusun rapi. Terpampang wajah manjanya bersandar dibahu kekar Andry, kemudian beralih menatap kontak Fani. Pikirannya sudah melayang, membayangkan jika Fani tersulut emosi dan memutuskan hubungan dengan Andry. Inginnya memberitahu Fani seminggu lagi, namun jari-jemarinya sudah tak tahan lagi. Ingin melontarkan kata-kata yang mengundang kemarahan Fani. Terlebih tak sabar menanti berakhinya hubungan Fani dan Andry, ingin menggantikan posisi Fani direlung hati Andry.


Hei pengkhianat, seberapa luas tempat kau dihati Andry? Nanti perlahan-lahan kau akan pergi tanpa harus aku usir. Lalu aku sikorban dzolim akan berjalan melenggang menuju singgasana hati Andry. Hahahaha aku tak sabar lagi. 


Sophia membuka instagram, mencari akun Fani yang sudah berhenti dia ikuti sejak masalah pengkkhianatan kemarin. Tapi meskipun dia telah berhenti mengikuti, Sophia masih sering mengeluarkan bakatnya menjadi stalker handal. Lebih-lebih dia sanggup membuat akun khusus untuk menguntit kehidupan sosial media Fani. Terniat benget sih.


" Hei kenapa akhir-akhir ini kau jarang sekali update, aku kan jadi gak tau bagaimana kehidupan barumu." Gumamnya saat mendapati akun Fani yang masih sama seperti minggu lalu, tak ada postingan dan tak ada cerita.


" Eh tunggu-tunggu apa kau menderita disana? Sampai-sampai hanya untuk sekedar membuat cerita saja kau enggan. Hah menyedihkan." Sambungnya terkekeh senang. Membayangkan jika Fani sedang bersedih hati dengan kehidupan dan lingkungan barunya.


" Pasti kau tidak punya teman, aku lihat pengikutmu masih sama banyak seperti kemarin. Eh atau kau tak mau sekolah karena menangis sepanjang hari?" Lagi-lagi dia terkekeh, beberapa kali dia menggelindingkan badannya kesana-sini sambil tertawa.


" Hah aku jadi kasihan denganmu Fani. Gak jadi deh aku kirim foto ini, nanti bukan hanya menangi sepanjang hari tapi juga mogok makan dan mengurungkan diri." Berhenti tertawa dan mulai mengatur pernafasannya yang terdengar sesak karena tak hentinya tergelak tawa.


 


****


Andry segera menyelesaikan makan malamnya, tak sabar ingin cepat-cepat menghubungi kekasih hatinya. Makanan yang masuk kedalam mulutnya hanya butuh dua kali kunyahan, kiri kanan dan gol. Makan terburu-buru seperti mengikuti ospek mahasiswa baru. Bergegas menuju kamar dan berseluncur diranjang. Meraih ponsel dan mulai melakukan panggilan video.


" Hallo sayang." Sahut Fani saat panggilan terhubung. Mukanya memenuhi layar ponsel Andry.

__ADS_1


" Hai, lagi apa? Aku rindu nih." Ucapnya sambil tersenyum gemas menatap wajah kekasih jauhnya.


" Aku baru aja beres-beres nih, huffhh capek." Mendengus dan menyeka buliran keringat yang memenuhi keningnya.


" Yaudah mandi dulu sana." Ucapnya.


" Oh iya tadi cowok yang pulang bareng kamu siapa?." Wajahnya langsung berubah datar, semula ingin mengakhiri telepon tapi kembali membuka topik pembicaraan. Tercium aroma-aroma kecemburuan.


" Itu teman sekolah aku, tadi ayah gak bisa jemput terus aku disuruh pulang naik ojek. Eh kebetulan kak Endrico mampir dan nawarin aku pulang bareng." Berusaha menjawab dengan santai, karena jika dia menjawab gugup tentu saja Andry akan semakin curiga meskipun dia dan Endrico tidak punya hubungan apa-apa


" Beneran? Itu bukan pacar baru kamu kan?."


Tanpa basa-basi Andry langsung pada inti pertanyaan. Duar ! Jantung Fani seolah ingin meledak keluar, hal yang paling ditakutinya sepanjang jalan tadi. Kesalahpahaman pun telah terjadi.


" Kamu gak bohong kan? Kamu gak selingkuh kan?." Semakin menggila dan merajam Fani dengan pertanyaan-pertanyaan. Sisi lain dari seorang Andry yang berdarah dingin, posesif dan pencemburu.


" Iya dia bukan siapa-siapa, cuma teman sekolah aku. Aku gak bohong kok." Jawabnya tak mau dituduh oleh Andry, mencoba membela diri dan meyakinkan jika dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Endrico.


" Kamu gak bohong kan? Aku masih belum sepenuhnya percaya." Lanjutnya masih menatap dengan tatapan yang tajam. Wajah marahnya memenuhi layar ponsel Fani, seolah ingin menerkam Fani dari dalam ponsel.


" Aku beneran kok. Dia cuma teman sekolah aku, serius." Masih mencoba meyakinkan silelaki posesif ini, mengangkat dua jarinya mengikuti kata seriusnya tadi.

__ADS_1


" Minggu depan aku bakal nyusul kamu kesana, aku harus ketemu kamu sebelum sibuk persiapan Ujian Nasional." Aamarahnya mulai mereda, tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Wajah murungnya sudah mulai memudar dan perlahan berganti menjadi senyuman. Memang mood swing banget deh si Andry.


" Aku gak sabar pengen ketemu kamu, aku rindu." Sambungnya membuat wajah gemas seolah ingin menggigit dan mencuubit Fani dari kejauhan.


" Iya, aku tunggu disini ya. Kata ayah ada pantai yang letaknya gak jauh dari rumah, besok kita bakal main kesana." Senyumnya kembali merekah, rasa takutnya perlahan hilang berganti senyuman dan rasa aman.


" Oke jangan lupa jemput aku dibandara ya, ah aku gak sabar menunggu akhir pekan. Aku bakal bawain kamu banyak sekali kejutan." Dengan penuh semangat mengatakan, tangannya diangat dan membuat setengah lingkaran yang besar. Senyumnya enggan pudar dari wajah tampannya.


" Hehehehe dasar raja kejutan." Fani terkekeh mengingat Andry yang mempunyai hobby aneh, yaitu memberi kejutan. Baru beberapa bulan mereka menjalin hubungan tapi sudah tak terhitung berapa kali Andry memberi kejutan.


" Oh iya, kalung dan cincin yang aku kasih masih kamu pakai kan?." Tiba-tiba teringat tentang kalung bergambar hati dan cincin yang diberikannya saat pertama kali menyatakan cinta kepada Fani. Matanya menyipit memperhatikan leher Fani, mencoba melihat apakah kalung darinya masih melekat dileher mulus Fani.


" Masih kok, ini." Mengangkat tangannya dan menunjukkan jari-jarinya. Tampak sebuah cincin berwarna silver melingkar dijari manisnya. Kemudian beralih mendongakkan kepalanya, memegang kalung bergambar hati dan mendekatkan kearah kamera.


" Bagus deh aku pikir udah kamu lepas." Senyumnya merekah lebar, gigi-giginya tampak tersusun rapi.


" Gak lah, ini kan kejutan pertama kamu. Meskipun kencan dan pernyataan cintamu dadakan, tapi cintaku gak dadakan." Menjawab dengan candaan, lidahnya menjulur mengejek Andry yang tampak tersenyum senang. Kemudian mereka tergelak tawa bersama.


" Ya udah kamu mandi dulu sana, udah keringetan parah sih." Ucap Andry mengakhiri obrolan.


" Oke, by." Jarinya dengan cepat menekan tombol merah dan panggilan pun berakhir.

__ADS_1


Fani melemparkan ponselnya diatas ranjang, kembali menata foto-fotonya bersama Andry. Menata sebagus mungkin agar ketika dia melihat hatinya langsung merasakan sensasi kebahagiaan seperti pertama kali jatuh hati. Sesekali senyumnya merekah saat menatap lembar demi lembar foto yang digantungnya.


Gak nyangka ya kalau aku secinta ini, dari sini aku belajar gak boleh mengatakan benci sebelum mengenali. Dari sekian banyaknya karma dan hukum alam, aku paling suka bagian ini. 


__ADS_2