Suami Ku Hasil Taruhan

Suami Ku Hasil Taruhan
Permintaan Sederhana (Part2)


__ADS_3

Endrico dan Fani duduk dibawah pohon yang besar dan rindang


sembari menikmati angina pantai dan sinar mentari yang cerah pagi ini. Endrico hanya


tersenyum simpul menatap Fani dan keinginannya yang sangat sederhana. Hanya


ingin bermain dipantai dan menikmati mentari pagi bersama riuhnya suara angin


dan gemercik ombak yang menghantam bibir pantai. Menatap sekeliling mereka,


tidak ada orang lain yang ada disana selain mereka berdua.


“ Sepi ya.” Ucap Endrico sambil berjalan dan menendang pasir


pantai.


“ Iya dong, ini kan masih pagi sekali.” Jawabnya juga ikut


menendang-nendang pasir pantai.


“ Kak Endi Fotoin aku dong.” Ucapnya sambil berdiri dibibir


pantai. Berdiri dibawah sinar matahari pagi.


“ Oke bos.” Sahutnya mendekat dan mengeluarkan ponsel dari


saku celananya. Mulai memotret gadis dengan permintaan sederhana ini, memotret


banyak, banyak sekali. Semua gaya dipotretnya, mulai dari foto yang bagus


hingga foto terburuk. Mulai dari Fani yang bepose model hingga dengan terpejam


goyang.


“ Ih jelek banget sih.” Protesnya melihat wajahnya yang


buruk. Matanya terpejam dan fotonya buram. Meminta Endrico untuk menghapusnya


namun sang pemilik ponsel menolak dan tidak mau menghapusnya.


“ Hapus ih ini jelek.” Lanjutnya memaksa Endrico menghapus


fotonya.


“ Gak ah fotonya mau aku cetak.” Jawab Endrico sambil


berlari menjauh dari Fani agar gadis itu tidak bisa merampas ponsel dari


tangannya.


“ Mau aku bikin penangkal tikus didapur hahaahaha.” Lanjutnya


mengejek Fani. Membuat gadis itu semakin kesal dan mengejarnya hingga dapat.


“ Nah ampun gak. Hapus sekarang juga atau aku akan


menggigitmu arrgghh.” Ucapnya ketika berhasil menangkap Endrico. Mengancam akan


menggigit dan membuat gerakan seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.


“ Ampun ampun hahahaha.” Jawab Endrico mengejek.


“ Akan kugigit kamu arggghhhh.” Sambungnya terus membuat


gerakan seperti harimau yang kelaparan.


“ Ampuni saya, ampuni saya.” Jawabnya mengatupkan kedua


tangan dan meminta ampun kepada harimau yang tampak ingin menerkamnya itu


Fani mencakar pelan tubuh Endrico berkali-kali, penuh drama


sekali. Bercanda tawa hingga nafasnya terengah-engah. Sudah cukup lelah bermain


hari ini, melihat tubuh mereka yang sudah sangat kotor. Basah dan dipenuhi

__ADS_1


pasir pantai. Ini adalah ulah mereka yang saling mendorong kedalam air dan


saling melempar pasir. Tidak lupa mereka juga mengabadikan moment, mengambil


foto selfie mereka berdua.


“ Huhfff udah ah capek lari-larian terus.” Ucap Fani


menyerah. Berhenti dan duduk kembali disebuah pohon bersar nan rindang. Duduk diakar


pohon yang besar dan menjalar panjang. Diikuti oleh Endrico yang juga merasa


lelah setelah berlarian disekitar pantai.


“ Kamu memang suka main kepantai ya Fan?.” Tanya Endrico


sembari duduk disebelah Fani.


“ Iya aku emang suka banget berbaur dengan alam, rasanya


nyaman dan tentram.” Jawabnya. Memejamkan mata dan merentangkan kedua


tangannya, menghirup udara pantai yang segar. Menjadikan ini terapi untuk


mengobati rasa lelah dan galaunya. Tidak ingin melewatkan Fani dengan pose yang


menggemaskan ini, Endrico segera meraih ponsel dan memotret gadis cantik itu.


“ Eh kak Endrico fotoin aku lagi ya. Ah aku gak suka, pasti


fotonya jelek.” Ucapnya tiba-tiba membuka mata dan mendekat dengan Endrico. Meminta


secara paksa dan ingin melihat hasil foto yang baru saja diambil oleh Endrico.


“ Ah gak kok bagus banget ini, aku ngambilnya pakai hati.” Jawabnya


terkekeh kemudian menyimpan ponselnya didalam baju agar Fani tidak berani


merampasnya lagi.


gaya-gayaan gitu.” Lanjutnya kemudian menjulurkan lidah kepada Endrico yang


sibuk menyembunyikan ponselnya. Ternyata reaksi Fani tidak seperti tadi, tidak


lagi berusaha merebut ponsel dari tangan Endrico.


Hei aku sedang berharap kau sentuh-sentuh seperti tadi, kenapa kau berhenti sih. Ayo sentuh aku, coba terkam aku lagi.


Fani melihat jam tangan yang melingkar ditangan kirinya,


sudah pukul 11 siang. Sudah lama sekali mereka bermukim dipantai, apalagi


cahaya matahari yang semakin menyengat dan angin yang semakin kencang membuat


tubuh Fani terasa panas dingin. Mungkin dikarenakan bajunya yang basah. Akhirnya


mereka memutuskan untuk pulang saja, mengingat baju mereka yang basah dan kotor


tidak mungkin membuat mereka memiliki tujuan lain selain pulang kerumah


masing-masing.


“ Kak Endi, pulang yuk. Dingin nih karena bajunya basah.” Ucapnya


mengajak Endrico yang tengah sibuk memotret alam, berlagak seperti fhotographer


handal.


“ Oh yaudah kita pulang aja.” Sahutnya dari kejauhan. Berjalan


mendekat dan menyimpan ponselnya disaku. Kemudian berjalan berdampingan menuju


mobil yang diparkirkan cukup jauh dari pantai sambil sesekali bercanda dan


saling mendorong tubuh yang ada disebelahnya.

__ADS_1


“ Makasih ya kak Endi udah ajak aku main kepantai. Udah kabulin


permintaan aku.” Ucapnya ketika sudah duduk disebelah kursi kemudi. Meletakkan bunga


mawar yang tadi diberikan Endi kepadanya saat dipantai.


“ Iya sama-sama. Ini sih gampang. Bisa dikatakan bukan


hadiah ulang tahun, hari-hari biasa kan juga bisa beginian.” Jawabnya sambil


melajukan mobil menuju jalanan.


“ Tapi aku merasa senang. Aku anggap ini hadiah ulang tahun


dari kak Endi hehehehe.” Lanjutnya terkekeh dan memperlihatkan wajah lucunya


kepada Endi yang sedang mengemudi. Endi hanya bisa tersenyum menatap gadis yang


ada bersamanya ini, setiap kali bersama Fani rasanya jiwa-jiwa playboy dan


kelihaiannya dalam bersilat lidah tidak berguna.


Kenapa kau lucu sekali sih? Hei lihat wajahmu yang lucu itu, aku jadi mati kutu. Aku bukan lagi Endrico yang playboy namun mendadak jadi Endrico yang pengecut, hanya bisa tersenyum dan berkata-kata dalam hati.


“ Sekali lagi terimakasih ya kak Endi udah diajak main


kepantai.” Lagi-lagi mengucapkan terimakasih untuk yang kesekian kalinya ketika


mobil Endrico sudah hampir sampai dirumahnya.


“ Duh dibawa kepantai aja terimakasihnya berulang-ulang. Gimana


kalau dibawa kepelaminan. Eh.” Ucapnya terkekeh kemudian menutup mulutnya. Sementara


Fani hanya tertawa mendengar omongan lelaki yang ada disebelahnya itu.


Benar-benar hanya menganggap itu sebuah candaan.


“ Oh iya Fan aku ada sesuatu untuk kamu.” Ucap Endi setelah


menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Fani. Mengambil sebuah bag yang


berisi kotak kecil dari kursi penumpang, kemudian menyerahkannya kepada Fani. Hadiah


ulang tahun yang sesungguhnya.


“ Apa ini kak?.” Tanya Fani sembari tangannya bergerak pelan


menerima bag berisi hadiah itu.


“ Udah ambil aja, ini hadiah ulang tahun dari  aku. Ini adalah hadiah yang nyata, kepantai


itu Cuma jalan-jalan biasa.” Lanjutnya terkekeh geli. Kemudian menarik tangan


Fani dan memaksa untuk menerima permberianya itu.


“ Aduh banyak banget. Terimakasih ya kak Endi, udah diajak


main kepantai, udah dikasih bunga, sekarang malah dikasih hadiah pula.” Ucapnya


terus berterimakasih dengan apa yang diberikan oleh Endi kepadanya.


“ Nanti buka kalau kamu udah mandi ya hahahaha.” Sambungnya mengejek


dan tertawa. Kemudian tiba-tiba sebuah pukulan mendarat dibahunya. Fani menatap


tajam dan seperti biasa selalu memanyunkan bibirnya.


“ Udah sana  masuk. Sekali


lagi selamat ulang tahun ya.” Lanjutnya.


“ Kak Endi juga, ngucapin selamat ulang tahunnya


berkali-kali. Atapi terimakasih loh ya.” Jawabnya juga menjulurkan lidah.

__ADS_1


Iya terus, teruslah menggemaskan sampai aku tidak lagi berdaya. Sampai nanti bibirmu sudah boleh aku cubit. Ah manis.


__ADS_2