
Endrico dan Fani duduk dibawah pohon yang besar dan rindang
sembari menikmati angina pantai dan sinar mentari yang cerah pagi ini. Endrico hanya
tersenyum simpul menatap Fani dan keinginannya yang sangat sederhana. Hanya
ingin bermain dipantai dan menikmati mentari pagi bersama riuhnya suara angin
dan gemercik ombak yang menghantam bibir pantai. Menatap sekeliling mereka,
tidak ada orang lain yang ada disana selain mereka berdua.
“ Sepi ya.” Ucap Endrico sambil berjalan dan menendang pasir
pantai.
“ Iya dong, ini kan masih pagi sekali.” Jawabnya juga ikut
menendang-nendang pasir pantai.
“ Kak Endi Fotoin aku dong.” Ucapnya sambil berdiri dibibir
pantai. Berdiri dibawah sinar matahari pagi.
“ Oke bos.” Sahutnya mendekat dan mengeluarkan ponsel dari
saku celananya. Mulai memotret gadis dengan permintaan sederhana ini, memotret
banyak, banyak sekali. Semua gaya dipotretnya, mulai dari foto yang bagus
hingga foto terburuk. Mulai dari Fani yang bepose model hingga dengan terpejam
goyang.
“ Ih jelek banget sih.” Protesnya melihat wajahnya yang
buruk. Matanya terpejam dan fotonya buram. Meminta Endrico untuk menghapusnya
namun sang pemilik ponsel menolak dan tidak mau menghapusnya.
“ Hapus ih ini jelek.” Lanjutnya memaksa Endrico menghapus
fotonya.
“ Gak ah fotonya mau aku cetak.” Jawab Endrico sambil
berlari menjauh dari Fani agar gadis itu tidak bisa merampas ponsel dari
tangannya.
“ Mau aku bikin penangkal tikus didapur hahaahaha.” Lanjutnya
mengejek Fani. Membuat gadis itu semakin kesal dan mengejarnya hingga dapat.
“ Nah ampun gak. Hapus sekarang juga atau aku akan
menggigitmu arrgghh.” Ucapnya ketika berhasil menangkap Endrico. Mengancam akan
menggigit dan membuat gerakan seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.
“ Ampun ampun hahahaha.” Jawab Endrico mengejek.
“ Akan kugigit kamu arggghhhh.” Sambungnya terus membuat
gerakan seperti harimau yang kelaparan.
“ Ampuni saya, ampuni saya.” Jawabnya mengatupkan kedua
tangan dan meminta ampun kepada harimau yang tampak ingin menerkamnya itu
Fani mencakar pelan tubuh Endrico berkali-kali, penuh drama
sekali. Bercanda tawa hingga nafasnya terengah-engah. Sudah cukup lelah bermain
hari ini, melihat tubuh mereka yang sudah sangat kotor. Basah dan dipenuhi
__ADS_1
pasir pantai. Ini adalah ulah mereka yang saling mendorong kedalam air dan
saling melempar pasir. Tidak lupa mereka juga mengabadikan moment, mengambil
foto selfie mereka berdua.
“ Huhfff udah ah capek lari-larian terus.” Ucap Fani
menyerah. Berhenti dan duduk kembali disebuah pohon bersar nan rindang. Duduk diakar
pohon yang besar dan menjalar panjang. Diikuti oleh Endrico yang juga merasa
lelah setelah berlarian disekitar pantai.
“ Kamu memang suka main kepantai ya Fan?.” Tanya Endrico
sembari duduk disebelah Fani.
“ Iya aku emang suka banget berbaur dengan alam, rasanya
nyaman dan tentram.” Jawabnya. Memejamkan mata dan merentangkan kedua
tangannya, menghirup udara pantai yang segar. Menjadikan ini terapi untuk
mengobati rasa lelah dan galaunya. Tidak ingin melewatkan Fani dengan pose yang
menggemaskan ini, Endrico segera meraih ponsel dan memotret gadis cantik itu.
“ Eh kak Endrico fotoin aku lagi ya. Ah aku gak suka, pasti
fotonya jelek.” Ucapnya tiba-tiba membuka mata dan mendekat dengan Endrico. Meminta
secara paksa dan ingin melihat hasil foto yang baru saja diambil oleh Endrico.
“ Ah gak kok bagus banget ini, aku ngambilnya pakai hati.” Jawabnya
terkekeh kemudian menyimpan ponselnya didalam baju agar Fani tidak berani
merampasnya lagi.
gaya-gayaan gitu.” Lanjutnya kemudian menjulurkan lidah kepada Endrico yang
sibuk menyembunyikan ponselnya. Ternyata reaksi Fani tidak seperti tadi, tidak
lagi berusaha merebut ponsel dari tangan Endrico.
Hei aku sedang berharap kau sentuh-sentuh seperti tadi, kenapa kau berhenti sih. Ayo sentuh aku, coba terkam aku lagi.
Fani melihat jam tangan yang melingkar ditangan kirinya,
sudah pukul 11 siang. Sudah lama sekali mereka bermukim dipantai, apalagi
cahaya matahari yang semakin menyengat dan angin yang semakin kencang membuat
tubuh Fani terasa panas dingin. Mungkin dikarenakan bajunya yang basah. Akhirnya
mereka memutuskan untuk pulang saja, mengingat baju mereka yang basah dan kotor
tidak mungkin membuat mereka memiliki tujuan lain selain pulang kerumah
masing-masing.
“ Kak Endi, pulang yuk. Dingin nih karena bajunya basah.” Ucapnya
mengajak Endrico yang tengah sibuk memotret alam, berlagak seperti fhotographer
handal.
“ Oh yaudah kita pulang aja.” Sahutnya dari kejauhan. Berjalan
mendekat dan menyimpan ponselnya disaku. Kemudian berjalan berdampingan menuju
mobil yang diparkirkan cukup jauh dari pantai sambil sesekali bercanda dan
saling mendorong tubuh yang ada disebelahnya.
__ADS_1
“ Makasih ya kak Endi udah ajak aku main kepantai. Udah kabulin
permintaan aku.” Ucapnya ketika sudah duduk disebelah kursi kemudi. Meletakkan bunga
mawar yang tadi diberikan Endi kepadanya saat dipantai.
“ Iya sama-sama. Ini sih gampang. Bisa dikatakan bukan
hadiah ulang tahun, hari-hari biasa kan juga bisa beginian.” Jawabnya sambil
melajukan mobil menuju jalanan.
“ Tapi aku merasa senang. Aku anggap ini hadiah ulang tahun
dari kak Endi hehehehe.” Lanjutnya terkekeh dan memperlihatkan wajah lucunya
kepada Endi yang sedang mengemudi. Endi hanya bisa tersenyum menatap gadis yang
ada bersamanya ini, setiap kali bersama Fani rasanya jiwa-jiwa playboy dan
kelihaiannya dalam bersilat lidah tidak berguna.
Kenapa kau lucu sekali sih? Hei lihat wajahmu yang lucu itu, aku jadi mati kutu. Aku bukan lagi Endrico yang playboy namun mendadak jadi Endrico yang pengecut, hanya bisa tersenyum dan berkata-kata dalam hati.
“ Sekali lagi terimakasih ya kak Endi udah diajak main
kepantai.” Lagi-lagi mengucapkan terimakasih untuk yang kesekian kalinya ketika
mobil Endrico sudah hampir sampai dirumahnya.
“ Duh dibawa kepantai aja terimakasihnya berulang-ulang. Gimana
kalau dibawa kepelaminan. Eh.” Ucapnya terkekeh kemudian menutup mulutnya. Sementara
Fani hanya tertawa mendengar omongan lelaki yang ada disebelahnya itu.
Benar-benar hanya menganggap itu sebuah candaan.
“ Oh iya Fan aku ada sesuatu untuk kamu.” Ucap Endi setelah
menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Fani. Mengambil sebuah bag yang
berisi kotak kecil dari kursi penumpang, kemudian menyerahkannya kepada Fani. Hadiah
ulang tahun yang sesungguhnya.
“ Apa ini kak?.” Tanya Fani sembari tangannya bergerak pelan
menerima bag berisi hadiah itu.
“ Udah ambil aja, ini hadiah ulang tahun dari aku. Ini adalah hadiah yang nyata, kepantai
itu Cuma jalan-jalan biasa.” Lanjutnya terkekeh geli. Kemudian menarik tangan
Fani dan memaksa untuk menerima permberianya itu.
“ Aduh banyak banget. Terimakasih ya kak Endi, udah diajak
main kepantai, udah dikasih bunga, sekarang malah dikasih hadiah pula.” Ucapnya
terus berterimakasih dengan apa yang diberikan oleh Endi kepadanya.
“ Nanti buka kalau kamu udah mandi ya hahahaha.” Sambungnya mengejek
dan tertawa. Kemudian tiba-tiba sebuah pukulan mendarat dibahunya. Fani menatap
tajam dan seperti biasa selalu memanyunkan bibirnya.
“ Udah sana masuk. Sekali
lagi selamat ulang tahun ya.” Lanjutnya.
“ Kak Endi juga, ngucapin selamat ulang tahunnya
berkali-kali. Atapi terimakasih loh ya.” Jawabnya juga menjulurkan lidah.
__ADS_1
Iya terus, teruslah menggemaskan sampai aku tidak lagi berdaya. Sampai nanti bibirmu sudah boleh aku cubit. Ah manis.